Tidak Mudah Mendapatkan Hati Generasi Millenials

 

Senior Advisor iPol Indonesia, Maman Suherman


SURABAYAPAGI.com - Posisi Generasi Millenials, saat ini disebut-sebut menjadi kunci kemenagan pada Pilkada Serentak. Namun, di sisi lain, apakah menarik hati dari para Generasi Muda tersebut menjadi persoalan yang mudah?

Menurut senior advisor iPol Indonesia Maman Suherman, menarik perhatian dari Generasi Millenials merupakan perkara yang mudah. Ia berpendapat bahwa hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan mereka harapan untuk kelanjutan pembangunan dan masa depan mereka. 

"Karena mereka ini adalah generasi yang hidup untuk hari ini dan masa depan. Jadi, para Generasi Muda itu akan bisa diamankan suaranya selama mampu memberikan visi untuk menjamin masa depan mereka," jelas Maman ketika ditemui, Selasa malam(21/11).

Lebih lanjut, Maman menggarisbawahi bahwa hal yang ia jelaskan tersebut juga tidak akan mudah dilakukan. "Karena dalam mereka ini juga generasi yang cerdas. Memang daya ingat mereka pendek, tetapi jejak digital ini kan bisa dicari. Mereka akan berpegang pada jejak digital itu. Jadi kepada mereka ini juga di sisi lain jangan asal menjanjikan juga, nanti malah bisa jadi boomerang," tegasnya.

Sementara itu, pada kesempatan berbeda,  Direktur iPol Indonesia Petrus Haroyanto, menjelaskan bahwa ada sekitar 17,1 juta kelompok usia produktif yang masuk kategori pemilih rasional. Dari Jumlah tersebut, Generasi Y atau yang biasa disebut millenialls mencapai 37,68 persen jumlah penduduk adalah kaum millenialls 

"Jumlahnya mencapai 14.506.800. Sebutan millenialls merujuk pada individu yang lahir pada tahun 1981 – 1994. Mereka ini masuk dalam kategori pemilih rasional," kata Petrus.

Secara umum, Petrus menjelaskan bahwa dengan jumlah yang signifikan, generasi ini menjadi target kampanye kandidat dalam penyampaikan pesan. "Karakteristik pemilih milenial antara lain lebih percaya user generated content (UGC) artinya konten yang di publish oleh timses, relawan kandidat melalui media massa tidak serta merta mempengaruhi keputusan memilih," jelasnya.

Sebagai pemilih rasional, menurut Petrus, kelompok milenial cenderung lebih cerdas dengan melakukan analisa dengan berdasarkan pertimbangan komentar publik. Mereka bersosialisasi secara word of mouth (getok tular), dalam bersosialisasi membicarakan Pilgub Jatim 2018.

"Mereka cenderung kritis terhadap kandidat, dan langsung menganalisa rekam jejak kandidat. Dan menariknya, semua ini dilakukan lewat akses mobile internet” ujar Petrus.

Lebih lanjut, Petrus memaparkan bahwa saat ini, di Jawa Timur terdapat sekitar 13.000.000 pengguna facebook atau social media. "Dari data tersebut, rentang usia paling aktif adalah di usia 17-35 tahun. Generasi Y ini aktif memantau informasi melalui akun FB dan membicarakan kandidat ini secara intens serta membandingkan apa saja yang dilakukan kandidat termasuk rekam jejak prestasi," pungkasnya.ifw



Komentar Anda



Berita Terkait