Setnov, Seperti Membalik Akal Sehat

Surat Terbuka untuk Ketua Umum Partai Golkar Setyo Novanto, bersama Pengacara dan Istrinya

 

H. Tatang Istiawan


Cak Setnov, Fredrich dan Ny. Deisti,

Saya semalam bertanya dengan empati, Anda Setyo Novanto alias Setnov sebagai penyelenggara negara, Fredrich Yunadi pengacara Setnov dan Deisti Astriani Tagor, istri Ketua DPR-RI. Apakah Anda bertiga tidak takut bahwa jabatan adalah amanah yang suatu saat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah?. 

Apakah Anda yang sejak ditetapkan tersangka dugaan korupsi E-KTP, melakukan berbagai drama tidak sadar perilaku Anda itu masuk dalam katagori membodohi rakyat apalagi bila bekerja sama dengan advokat.

Sadarkah Anda,  babak demi babak suatu drama yang jujur dari kacamata kepatutan telah mengabaikan perintah hukum lembaga penegak hukum. Sadarkah Anda drama demi drama ini bisa dipersepsikan bagian dari pengkhianatan  bagi amanah negara dalam memberantas tindak pidana korupsi?.

Kepada Saudara Fredrich Yunadi, masih ingatkah Anda bahwa advokat itu profesi yang terhormat (officium nobile).

Makna profesi terhormat bahwa Advokat tidak hanya membela para koruptor, orang berduit, dan pejabat-pejabat kaya. Tingkah laku pengacara yang hanya mementingkan keinginan tersangka korupsi bisa membuat banyak pihak cemas akan masa depan penegakan hukum di Indonesia.

Ini karena, semangatnya bahwa posisi profesi advokat adalah salah satu penegak hukum yang sejajar dengan instansi penegak hukum lainnya, seperti hakim, jaksa, polisi. Tak bisa dibantah juga bahwa  profesi advokat juga tempat untuk mencari nafkah. Tetapi apakah dengan usaha mencari nafkah seorang advokat harus membela sesukanya demi kepentingan kliennya?

Pertanyaan ini saya gugat, karena ada tanggung jawab bagi seorang advokat yang tahu hakikat officium nobile adalah menegakkan hukum dan keadilan. Tentu dengan moralitas yang sangat dijunjung tinggi. Akal sehat saya mengingatkan, Anda Sdr Fredrich Yunadi hanya terikat uang, honorarium yang besar dan popularitas, tetapi mengorbankan idealisme keadilan, kebenaran dan moralitas hukum pada saat Negara melakukan pemberantasan terhadap pelaku tindak pidana korupsi E-KTP.

 

Cak Setnov, Fredrich dan Ny. Deisti,

Kisah drama yang Anda tampilkan di publik, menarik perhatian saya, karena ada nilai – nilai tertentu dalam sebuah  berita yang layak diliput. Nilai-nilai berita yang menyangkut Anda meliputi magnitude, kedekatan, aktual, dampak, keluarbiasaan, ketokohan, kejutan, konflik, informasi.

Pertama Anda adalah  public figure yang masuk dalam katagori pembuat berita yang bernilai. Apa yang Anda lakukan merupakan peristiwa yang mengejutkan,  bahkan tidak disangka – sangka akan terjadi (suprising) seperti masuk rumah sakit saat ditetapkan tersangka korupsi oleh KPK. Kemudian sembuh, setelah praperadilan dimenangkan. Dan minggu ini saat digerebek di rumah mewah Anda, tak ditemukan, konon kabur. Baru Kamis malam ditemukan di rumah sakit setelah kecelakaan.

Sadar atau tidak, apa yang terjadi pada diri Anda sampai laporan kecelakaan lalulintas itu memiliki pengaruh yang luas bagi masyarakat (Magnitude). Bahkan  memiliki dampak (impact) yang luas dan lama di masyarakat. Maka itu, peristiwa yang Anda ciptakan termasuk katagori fakta yang memiliki  nilai berita yang tinggi .

Apalagi ada aspek keaktualan Anda melakukan perlawanan terhadap KPK bersama Fredrich, pengacara Anda. Sampai Jumat semalam (17/11), hampir semua TV berita menurunkan kejadian kecelakaan dan penangkapan Anda. Ini menunjukkan peristiwa yang Anda lakukan telah menarik perhatian masyarakat, karena hangat dibicarakan. Peristiwa yang Anda lakukan memenuhi katagori aktual kalender, aktual waktu dan aktual masalah. Subhanalloh,

 

Cak Setnov, Fredrich dan Ny. Deisti,

Sebagai sesama manusia, kita, saya dan Anda, dikaruniai oleh Allah yang Maha Pencipta sebuah akal sehat, akal budi pekerti, otak, hati nurani. Nah dengan akal sehat ini, saya selalu teringat pesan orang tua saya, hendaknya dalam bermasyarakat selalu berpikir dengan nalar, pantaskah, sesuaikah dan apa yang mesti kita pikirkan sebelum bicara dan bertindak. Perbedaan manusia satu dengan lainnya adalah akal sehat. Artinya, manusia yang tidak menggunakan akal sehat termasuk makhluk berakal yang berada  dalam persimpangan antara satu manusia dengan makhluk lainnya yang tidak suka menggunakan akal sehatnya.

Maka itu, manusia yang tidak mau menggunakan akal sehatnya tak beda dengan manusia yang mengakali dirinya, untuk hal-hal yang terlalu sempit yang terkait keduniawian semata. Misalnya, harta, kekuasaan dan wanita.

Satu yang saya perhitungkan dalam peristiwa menyangkut Anda dan tidak bisa saya cerna dengan akal sehat manusia tentang perlawanan terhadap KPK dengan cara membuat manuver-manuver, seolah Anda ini orang yang paling betul.

Perlawanan yang Anda lakukan bersama pengacara Anda menurut akal sehat saya masuk katagori sesuatu yang mustahil.

Apakah Anda percaya terhadap hal mustahil yang Anda lakukan bersama pengacara Anda. Seperti melaporkan pimpinan KPK ke Polri telah melakukan tindak pidana? Anda menguji UU KPK ke Mahkamah Konstitusi dan Anda menghilang saat dicari di rumah mewah Anda. Bahkan Anda tertidur setelah dilaporkan pengacara Anda mengalami kecelakaan yang menurut olah TKP dari kepolisian, bukan kecelakaan yang bisa membuat Anda gegar otak.

Menggunakan akal sehat,  ‘’atasan’’ akal sehat untuk menerima hal mustahil Anda menjadi tidak mustahil adalah pembuktian yang disaksikan oleh beberapa orang pada waktu kejadian berlangsung. Coba renungkan tokoh-tokoh politik, hukum sampai penggiat antikorupsi seperti Wapres JK, Manta Ketua MK, Machfud MD dan fungsionaris Partai Golkar lain. Tak salah ada sejumlah tokoh dan anggota masyarakat, Anda   dicap sebagai penyelenggara negara pembohong yang suka bermain drama.

Jujur, dalam pikiran akal sehat saya, Anda seolah telah mengklaim bahwa gajah bisa terbang, meskipun gajah tidak memiliki sayap untuk terbang. Inilah kekuatan akal sehat manusia sehat atau manusia yang tidak mengakali akal sehatnya. Orang berkarakter seperti ini bisa menyebut Anda suka berulah, mencari akal-akalan dan menjadi pembohong. Katakan, Anda mengeluarkan argumentasi sebagai klaim pembelaan atau pembenar.

Kini dengan Anda telah dipindahkan ke rumah sakit yang direkomendasi oleh KPK dan sekaligus berstatus tersangka dugaan korupsi E-KTP yang menguntungkan orang lain, Anda saatnya berpikir akal sehat secara permanen. Artinya, hadapi sangkaan dari KPK ini dengan tegar dan taat hukum melalui pembelaan di persidangan Tipikor nanti. Bukan pembelaan di publik menggunakan advokat yang Anda tunjuk.

Menggunakan akal sehat, saya berharap Anda tidak tergoda oleh  nafsu syahwat kekuasaan, nafsu materi dan nafsu jabatan. Saya berharap Anda tidak perlu gelap mata membuang buang waktu melawan KPK yang sedang menegakkan hukum.

Akhirnya saya berpesan kepada Anda dengan tetap menggunakan akal sehat. Apa?   Obsesi yang berlebihan bisa menyebabkan seseorang melakukan hal-hal yang tidak terpuji. Termasuk suka mengesampingkan akal sehat untuk mendapatkan kekuasaan dan harta. (tatangistiawan@gmail.com)

 

 

 



Komentar Anda



Berita Terkait