BANJIR MENGANCAM!

Surabaya Belum Bebas Banjir Meski Punya APBD Rp 8,5 Triliun. Bahkan, Banjir Dikhawatikan Membesar karena Adanya Proyek Saluran Belum Tuntas. Sedang Prediksi BMKG, Hujan di Surabaya Disertai Angin Kencang

 

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Seminggu belakangan ini, Kota Surabaya dan daerah sekitarnya mulai diguyur hujan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini memang memasuki musim penghujan. Masyarakat harus waspada, karena di awal musim selalu ditandai dengan hujan deras yang disertai angin kencang. Pada saat seperti ini, Surabaya selalu dilanda banjir. Nah, di sini masalahnya. Sebab, sejumlah proyek pengendalian banjir yang sudah dianggarkan di APBD 2017 ternyata belum tuntas. Sebut saja, proyek box culvert di kawasan Benowo, proyek untuk diversi Gunung Sari sepanjang 2 ribu meter, hingga rehabilitasi saluran drainase dan bozem seluas 250 ribu meter persegi. Lantaran tak kunjung selesai, potensi banjir akan semakin besar.
-----------
Laporan : Alqomar – Firman Rachman, Editor: Ali Mahfud
-----------

Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey, mengingatkan Pemkot Surabaya agar segera menyelesaikan proyek pengendalian banjir yang belum tuntas. Sebab, saat ini sudah memasuki musim penghujan. Secara teknis, proyek ini dikerjakan Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya.

“Kami mendorong agar Pemkot segera menyelesaikan proyek-proyek pengendalian banjir. Seperti pembangunan box culvert, saluran drainase, rumah pompa, pembangunan sejumlah bozem dekat pintu air, pengerukan saluran drainase serta proyek saluran di sejumlah kawasan yang belum selesai,” ungkap Awey kepada Surabaya Pagi, Selasa (14/11/2017).

Ia mencontohkan proyek box culvert di Benowo yang sudah dari tahun lalu tak kunjung selesai. Sehingga ada potensi banjir di sana. Selain itu, lanjut Awey, penyediaan sarana prasana pematusan sepanjang 10 ribu meter juga belum selesai. Begitu juga dengan pelaksanaan proyek untuk diversi Gunung Sari sepanjang 2 ribu meter dan pemeliharaan atau rehabilitasi saluran drainase dan bozem seluas 250 ribu meter persegi.

Selain itu, beberapa pembangunan saluran drainase primer, sekunder dan tersier yang ada di pemukiman penduduk. Sebab juga banyak proyek saluran yang belum tuntas. "Pembangunan saluran di beberapa kawasan terasa masih berjalan di tempat. Kalau belum selesai juga dalam bulan ini maka ketika masuk musim hujan justru akan jadi simalakama, akan menimbulkan banjir di titik tersebut," tandas politisi Partai Nasdem ini.

Ia menyebutkan Dinas PU Bina Marga dan Pematusan pada tahun 2017 ini mendapatkan anggaran besar pada tahun ini sebesar Rp 1.058 Triliun. Namun hingga Oktober 2017, baru terserap Rp 438,3 Milyar atau 41,4 persen. Sedang total APBD yang dimili Surabaya tahun ini sebesar Rp 8,5 Triliun. “Ini menunjukkan ada beberapa pengerjaan proyek yang masih belum selesai, sehingga anggaran belum terbelanjakan (belum terserap),” cetus Awey. Sayangnya, ia tak menjelaskan berapa anggaran untuk pengendalian banjir di Surabaya.

Bencana tak Terprediksi
Sementara itu, Ari Widjajanto, prakiraan BMKG Maritim Perak, mengatakan dalam seminggu ke depan, ada potensi hujan turun di Surabaya. Ini terlihat dari massa uap air yang berpotensi membentuk awan-awan konvektif atau awan-awan komulunimbus. “Biasanya kondisi seperti ini sangat berpotensi terjadi angin kencang dan sering juga disertai kilat atau bahkan petir. Jadi angin, hujan dan kilat ini dari awan tersebut. Diprediksi kondisi seperti ini dapat terjadi sampai tiga hari ke depan," jelas Ari dihubungi terpisah.

Ia melanjutkan, sampai saat ini angin baratan sebagai ciri khas musim penghujan belum terbentuk. Kondisi ini kadang berubah-ubah dan kondisi seperti sekarang ini dapat berpotensi terjadinya puting beliung juga. "Bisa saja terjadi angin puting beliung, karena memang perubahan yang cepat dari panas ke dingin di suatu permukaan wilayah,” lanjut dia.

Hal senada diungkapkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jatim, Sudarmawan. Ia mengatakan saat ini di Jawa Timur dan Surabaya khususnya, telah memasuki musim penghujan dengan skala curah hujan yang cukup tinggi. Potensi bencana dengan kondisi lingkungan di Surabaya bisa saja terjadi dan tak terprediksi.

"Sekarang sudah memasuki musim hujan, curah hujannya tinggi juga, pasti berpotensi banjir, di daerah lain selain Surabaya misalnya mungkin akan berpotensi longsor. Seperti terjadi di Malang," terang Darmawan yang dihubungi terpisah, kemarin.

Pria asal Madura itu melanjutkan, saat ini Jatim sendiri curah hujan sudah masuk pada angka 200-300 mm per harinya. Maka masyarakat juga harus waspada. Potensi bencana yang paling lumrah saat hujan adalah banjir dan angin kencang. "Curah hujan normalnya 0-100 mm per hari. Kalau saat ini sudah mencapai 200-300 mm, tentu dari kami sudah melakukan kondisi siaga untuk mengantisipasi bencana yang mungkin saja bisa terjadi, karena hal itu tak terprediksi," ungkapnya.

Resapan Minim
Pakar Banjir dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Anggraheny mengungkapkan banjir di Surabaya lebih disebabkan karena kurang tepatnya tatanan pembangunan drainase dan minimnya ruang penampungan (serapan) air. "Pembangunan drainase ini adalah cara untuk penanggulangan genangan ketika hujan turun. Drainase yang dibangun juga harus merupakan drainase yang terintegrasi dengan baik antara saluran primer, saluran sekunder dan saluran tepi," terangnya.

Meskipun sudah ada drainase di beberapa wilayah, menurut Anggraheny, namun ada faktor lain yang menyebabkan air hujan tidak bisa dialirkan dengan baik. Yakni, minimnya resapan air. "Minimnya resapan air juga menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir, sehingga luapan air sungai yang tidak memiliki ruang cukup akan meluber kemana-mana, seperti jalan raya. Banyaknya warga yang tinggal di bantaran sungai pun mempengaruhinya, karena secara tidak langsung akan ada penyempitan ruang sungai," jelasnya.

Menurut dia, tatanan drainase yang ada sekarang ini tidak sesuai dengan volume air yang ada. Dengan curah hujan yang tidak tentu serta volume air yang tinggi membuat drainase tidak bisa menampung secara keseluruhan luapan air yang ada.

Antisipasi Banjir
Dengan kondisi seperti itu, lalu apa yang dilakukan Pemkot Surabaya? Akhir pekan kemarin, Walikota Surabaya Tri Rismaharini bersama Dinas PU Bina Marga dan Pematusan, sudah melakukan pengecekan di beberapa tempat. Diantaranya, saluran di Bundaran Dolog dan lintasan kereta api di dekat Royal Plaza.

Usai mengecek saluran bundaran Dolog, Risma melanjutkan sidak ke rumah pompa Kalisari Timur. Di sini, ia menunjukkan upaya yang sudah dilakukan Pemkot Surabaya dengan menambah kapasitas pompa yang mampu menyedot air menjadi 3 meter kubik/detik dari kapasitas sebelumnya hanya 1,5 m kubik/detik.

Setelah itu, Risma melanjutkan sidaknya ke saluran air di kawasan Dupak. Ia mengatakan bahwa endapan lumpur di sungai tersebut separuh dari kapasitas sungai. "Dulu separuh, ketika hujan dengan intensitas tinggi, sungai ini tidak menampung sehingga kita lakukan normalisasi dan pendalaman sehingga kawasan Dupak dan Demak sudah tidak ada genangan yang lama," katanya.

Risma kemudian melanjutkan ke Rumah Pompa Balong 2. Seperti halnya di Kalisari, kapasitasnya ditambah dan mampu menarik air hingga kawasan HR Muhammad dan Mayjend Sungkono. Belum puas, Risma melanjutkan sidak ke tanggul Kali Lamong. Saat ini Pemkot masih menyelesaikan Tanggul Kali Lamong, mengingat daerah ini selalu menjadi langganan banjir setiap tahunnya. Pengerjaan tanggul Kali Lamong ini total sepanjang 10 km.

Meski begitu, Risma mengingatkan terobosan yang sudah dilakukan untuk mengantisipasi banjir, tidak serta merta berjalan mulus. Alasannya, cuaca yang tidak menentu. “Kita tidak bisa memprediksi alam karena itu kuasa Tuhan. Jadi sekali lagi saya kembalikan semuanya kepada yang Maha Kuasa,” ungkapnya. n

 



Komentar Anda