BOS EMPIRE (MASIH) KISRUH

Gunawan Jadi Tersangka dan Dicekal Polda Jatim atas Laporan Chin Chin, Terkait Keterangan Palsu. Namun, Keduanya Dilaporkan ke Bareskrim oleh Pembeli Ruko yang Merasa Tertipu

 

Gunawan Angka Widjaja, Trisulowati Yusuf alias Chin Chin, Teguh Suharto Utomo


SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Kisruh sesama bos Empire Palace Surabaya, Gunawan Angka Widjaja dengan Trisulowati Yusuf alias Chin Chin, ternyata masih berlanjut. Terbaru, Gunawan ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Ditreskrimum Polda Jatim atas laporan Chin Chin. Bahkan, penyidik mengeluarkan surat pencekalan ke luar negeri terhadap Gunawan. Ini ironis, mengingat Gunawan sebelumnya melaporkan Chin Chin ke Polrestabes Surabaya, namun divonis bebas oleh pengadilan. Sementara aksi saling lapor ini berawal dari kisruh rumah tangga Gunawan dan Chin Chin saat masih menjadi pasangan suami istri (Pasutri). Kasus ini makin ruwet, lantaran kuasa hukum Gunawan, yakni Teguh Suharto Utomo juga dilaporkan ke Polda Jatim oleh advokat Abdul Malik yang juga Ketua DPD Kongres Advokat Indonesia (KAI) Jatim.
---------------
Laporan : Firman Rachman - Hendarwanto
---------------

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Drs Frans Barung Mangera, menjelaskan pencekalan terhadap Gunawan diterbitkan penyidik Ditreskrimum, 7 November dengan nomor B-10855/XI/2017. "Surat pencekalan Gunawan sudah dilayangkan penyidik ke Imigrasi agar tidak bepergian ke luar negeri," ujar Barung dikonfirmasi, Senin (13/11/2017).

Langkah yang diambil penyidik itu agar Gunawan bisa mempertanggungjawabkan kasus yang dihadapi. Selain itu, penyidik juga mengantisipasi sulitnya mencari di luar negeri, jika sampai pergi. "Imigrasi setelah mendapat surat pencekalan, langsung bergerak," jelasnya.

Barung menambahkan Gunawan sudah dipanggil penyidik sebanyak dua kali tapi tidak datang. Sesuai rencana, Kamis (16/11/2017) lusa, Gunawan dipanggil penyidik untuk dimintai keterangan sebagai tersangka. "Kalau dalam panggilan ketiga ini tak juga hadir, penyidik akan menghadirkan secara paksa (ditangkap)," tandas Barung.

Langkah yang dilakukan itu karena Gunawan dianggap tidak kooperatif dan mengabaikan panggilan yang sudah dilayangkan penyidik. "Lihat saja nanti, apa yang akan dilakukan penyidik. Kalau masih tidak mengindahkan bisa-bisa setelah diperiksa langsung ditahan," cetus Barung.

Ketidakkooperatifan Gunawan itu terlihat dalam panggilan kedua. Tersangka kasus penipuan dan penggelapan yang dilaporkan istrinya itu, telah mengirim surat pemberitahuan jika dirinya sakit. Namun lokasi rumah sakit itu bukan di Jatim, tapi di luar Jatim. "Alasan sakit bisa diterima oleh penyidik. Tapi setelah ditelusuri oleh penyidik bukan di Jatim," ungkap mantan Kabid Humas Polda Sulsel ini.

Namun Barung enggan mengungkap rumah sakit mana yang mengeluarkan surat sakit pada Gunawan. "Pokoknya di luar Jatim," cetus dia. Dalam panggilan kedua, penyidik sudah mencari keberadaannya hingga rumah pribadinya. Namun yang bersangkutan tidak berada di tempat.

Persoalan ini mencuat setelah Chin Chin melaporkan Gunawan berdasarkan LPB/101/I/2017/UM/SPKT POLDA JATIM. Dalam laporan itu, Chin Chin juga melaporkan enam orang yang diduga terlibat dalam konspirasi tindak pidana memasukkan dan menggunakan keterangan palsu dalam akta otentik, sesuai pasal 266 ayat 1 jo 266 ayat 2 KUHP dengan ancaman hukuman paling lama 7 tahun penjara.

Laporan itu berawal digelarnya Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 1 September 2016.
Beberapa poin keterangan yang diduga palsu yang dimasukkan pihak Gunawan Cs ke akta yang dibuat di depan notaris terkait pemecatan Chin Chin sebagai Direktur di PT Blauran Cahaya Mulia (BCN) dan PT Dipta Wimala Bahagia (DWB) dan posisi kepengurusan perseroan diganti enam orang.

Dilaporkan ke Bareskrim
Belum tuntas betul kasus yang melibatkan Gunawan dan Chin Chin, keduanya malah dilaporkan ke Bareskrim Polri. Keduanya dilaporkan atas dugaan melakukan penggelapan dalam pembelian Kantor (Ruko) atau Rumah Kantor (Rukan) yang dikelola PT Dipta Wimala Bahagia. Perusahaan ini juga dikelola Gunawan dan Chin Chin, selain PT Blauran Cahaya Mulia. Gunawan dan Chin Chin dilaporkan dengan nomor laporan polisi LP/1107/X/2017/Bareskrim tertanggal 25 Oktober 2017.

Salah seorang dari pelapor, Soedarmadi W alias Hauw Bun Piauw mengatakan, laporan itu terkait penipuan dan penggelapan terhadap dirinya dan beberapa temannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 372 dan 378 KUHP. "(Kita laporkan penipuan dan penggelapan) ruko dan Pajak dan IMB. Enggak ada," kata Soedarmadi.

Soedarmadi menuturkan, dirinya bersama dengan temannya itu merasa tertipu, karena ruko yang mereka beli itu dijanjikan akan dilakukan serah terima ruko yang sudah jadi pada Juli 2014 silam. Padahal, mereka telah mencicil ruko tersebut sejak 2012 selama 18 kali sampai lunas pada 2014 dengan harga Rp 1.85 miliar untuk satu unit ruko.

Untuk satu unit ruko yang paling murah itu bernilai Rp 700 juta sampai Rp 800 juta. Mereka pun mengaku merasa tak curiga jika hal ini dapat terjadi. Pasalnya, ruko yang mereka beli dipasarkan melalui sebuah iklan di salah satu media cetak terbesar di Jawa Timur. Kantor itu juga didukung karena cukup besar di gedung Royal Empire Palace.

Kasus Advokat Teguh
Sementara itu, Ketua DPD KAI Jatim, Abdul Malik, Senin (13/11) siang, mendatangi Ditreskrimum Polda Jatim. Kedatangan Malik untuk memastikan jika proses laporannya di Polda Jatim terhadap advokat Teguh Suharto Utomo benar-benar berjalan. Teguh dilaporkan atas tuduhan dan fitnah yang mencemarkan nama baik Ketua DPD KAI Jatim, sesuai dengan surat LPB/1457/XI/2017/UM/SPKT.

Dari tiga penyidik yang didatangi oleh Abdul Malik, mereka menyatakan siap untuk membawa Teguh secara paksa jika tak memenuhi panggilan pemeriksaan.
"Ya saya cuma ingin meyakinkan, jika memang ada surat perintah untuk membawa si Teguh itu mas," ujar Malik kepada Surabaya Pagi, kemarin.

Malik juga menyatakan mendapat dukungan dari beberapa pihak untuk terus mengusut dan melaporkan tindakan Teguh, baik terhadap dirinya secara personal maupun ke lembaga yang menaungi Malik yakni organisasi KAI. "Yang pasti saya mendapat dukungan dari beberapa pihak, baik di daerah maupun pusat. Kelakuan Teguh memang tidak dapat ditoleransi," imbuhnya.

Dikonfirmasi terpisah melalui ponselnya, Teguh mengatakan masih berada di luar kota. Ia mempertanyakan surat perintah yang akan menjemput paksa dirinya. Sebab menurutnya, dia telah memenuhi panggilan penyidik Polda terkait persoalan yang tengah dihadapi bersama ketua DPD KAI Jatim itu. "Saya masih di Lampung mas, saya juga sudah memenuhi panggilan penyidik kok," jawab Teguh saat dikonfirmasi via telepon, kemarin (13/11). n

 

 



Komentar Anda