Prediksi, Hanya Petarungan Gus Ipul-Anas Vs Khofifah - Emil

Surat Terbuka untuk Elite Politik Jelang Pilkada Jatim Juni 2018 (1)

 

H. Tatang Istiawan


Jelang Pilgub Jatim pada bulan Juni 2018, suara yang masih bergulir melawan Cagub-cawagub PKB-PDIP, Syaifullah Yusuf – Abdullah Azwar Anas, hanya “tinggal” nama cawagub Khofifah Indar Parawansa? Saya menyebut tinggal dalam kutipan, karena besar kemungkinan yang bertarung head to head kelak, hanya dua kandidat ini saja. Penegasan saya dalam surat terbuka kali ini, benarkah Cawagub Khofifah adalah Emil Elistianto Dardak, Bupati Trenggalek? Benarkah anak mantan Wakil Menteri Pekerjaan Umum Achmad Hermanto Dardak, pemerintahan SBY (2009-2014), ini representasi dari wakil Partai Demokrat, partai incumbent?. Sampai Minggu (12/11/2017) semalam, suara Emil makin kokoh didampingkan Khofifah, dibanding nama Ipong Muchlissoni, Bupati Ponorogo sekarang?. Siapa elite politik dibalik penggolan Emil dan Anas? Kepentingan apa Pilgub Jatim 2018-2024 mengusung generasi milenial seperti Anas dan Emil? Adakah pemilihan dua bupati muda ini karena aspek pasar terkait calon pemilih muda yang dominan dalam pilkada serentak 2018? Benarkah pasangan cagub dan cawagub Khofifah-Emil, pilihan kompromis last minute yang mengakomodasi kepentingan ulama NU dan elite Demokrat? Benarkah Khofifah, pasti menang dengan Gus Ipul kuadrat sekalipun? Apakah benar Khofifah itu representasi NU kultural dan Gus ipul, NU struktural?.  Dan benarkah pemenang Pilgub Juni 2018 nanti ditentukan oleh lobi politik dan jaringan Pak De Karwo? Wartawan Surabaya Pagi, H. Tatang Istiawan, akan menulis surat terbuka untuk elite politik yang bermain menggoalkan pasangan Gus Ipul-Azwan Anas, Khofifah-Emil atau bahkan La Nyala dan pendampingnya? Berikut surat pertama analisis hukumnya.

 

Analisis Politik

Tatang Istiawan

 

Elite Politik Pilgub Jatim 2018,

Pilkada DKI 2017, baru berakhir dengan keterpilihan Anies Baswedan-Sandiago Uno. Gubernur DKI ini dianggap bagian dari fenomena radikalisme dan intoleransi sebuah produk dari elite politik yang berjibaku menggulingkan Ahok-Djarot.

Pertanyaannya, benarkah dua isu ini hanya berlaku atau digunakan hanya saat Pilkada DKI saja. Akankah partai pengusung Anis-Sandiago, ingin mengulang dalam Pilgub Jatim Juni 2018?. Partai itu adalah Gerindra, PAN dan PKS.

Fenomena ini yang kini dibahas serius oleh para elite politik di Jatim. Dominasi pemilih kaum nahdhiyin menjadi perhatian elite politik lokal dan nasional. Apalagi, Khofifah, yang dua kali diusung PKB, ingin maju jadi sebagai cagub, meski kini statusnya ‘’lebih tinggi’’ dari seorang Gubernur yaitu Menteri Sosial?. Motif apa yang dimiliki Janda asal Surabaya yang dikenal memiliki kedekatan dengan kader dan simpatisan NU kultural di Jawa Timur?

Tak terlalu keliru, urusan majunya Gus Ipul menjadi cagub menjadi polemik? Banyak yang tidak sependapat, Gus Ipul, salah satu tokoh NU struktural, figur yang mewakili basis incumbent? Alasannya, selama dua kali periode mendampingi Gubernur Jatim Pak De Karwo, prestasi ke teknokrat Gus Ipul, tidak dikenali oleh publik kelas menengah di Jawa Timur? Justru yang menjadi perhitungan kelas menengah, Personifikasi  Azwar Anas, si kecil cabit rawit dari Banyuwangi.

 

Elite Politik Pilgub Jatim 2018,

Hasil penelusuran saya, tak salah bila Ketua DPD PKB Jatim Halim Iskandar, yang semula sudah bertekad maju dalam Pilkada dengan tagline Holopis kontul baris, mundur di tengah jalan. Halim rela menyerahkan ‘’tiket’’ Cagub kepada Saiful Illah atau Gus Ipul, wakil Gubernur Jatim untuk mewakili PKB, yang memiliki dua puluh kursi. Konon, kerelaan Halim menyerahkan ‘’jabatan’’ cagub Jatim 2018-2024, karena ‘’tekanan’’ dari Jakarta yaitu elite politik. Salah satunya kekuatan finansial Halim Iskandar, yang dianggap tidak sebesar pendonor yang telah mendorong Gus Ipul, untuk meraih tiket dalam pilgub Jatim 2018.

Demikian juga keinginan Ketua DPD PDIP Kusnadi, untuk bisa mendampingi Gu Ipul, kandas di tengah jalan, karena peran elite politik di Jakarta. Azwar Anas, meski bukan fungsionalis PDIP cabang, provinsi dan pusat, tetapi memiliki bargaining yang lebih kuat dibanding Kusnadi. Konon, elite politik PDIP di Jakarta kesengsem dengan program-program Azwar Anas, dibidang pariwisata yang konon ada pendonor dari Australia.

 

Elite Politik Pilgub Jatim 2018,

Suka atau tidak, dalam pilkada seperti Pilgub Jatim Juni 2018 ini suara kepentingan politik tertentu pasti lebih kuat dibandingkan kepentingan politik perorangan atau golongan. Tidak terlalu keliru bila saya menyebut dalam memasangkan Cagub Gus Ipul dan Azwar Anas maupun Khofifah- Emil, penonjolan kepentingan politik sudah tidak bisa ditutup-tutupi lagi oleh jargon politik kerakyatan.

Saya semakin sadar bahwa publik kelas menengah telah merespons secara rasional tentang figur yang bakal baju dalam Pilgub Juni 2018. Respons rasional publik kelas menengah yang saya serap dari berbagai kunjungan saya ke beberapa kabupaten, elite parpol pengusung dua kandidat, sama-sama tidak mau mengabaikan kepentingan politik jangka pendek dan menengahnya?

Jujur, saya tidak perlu mengusik terlalu dalam kepentingan politik para elite politik yang bermain memenangkan cagub Gus Ipul, Khofifah atau La Nyala, sekali pun. Maklum,  saya bukan bagian dari kader partai politik manapun. Jujur, saya bukan bagian penting dari elite politik yang bermain dalam pilgub Juni 2018. Makanya, saya bisa masuk ke ruas-ruas dan ruang-ruang masing-masing cagub-cawagub dengan modal sosial seorang jurnalis yang pro-rakyat.

 

Elite Politik Pilgub Jatim 2018,

Suara yang saya serap sampai akhir Oktober 2017,  arus bawah yang masih memiliki hak suara dalam Pilgub 2018 mendatang, banyak yang masih ber euforia dengan segala macam tingkah polah. Cukup banyak kelas menengah di Jatim yang merasa merdeka tidak menjadi kader partai politik peserta Pemilu legislatif 2014.

Kelas menengah yang sering saya temui, ada yang merasa sudah berubah dengan era orde baru. Artinya, dulu, saat Soeharto berkuasa, ibaratnya hanya ada satu pohon yang tidak dapat goyah oleh angina. Disana ada satu kekuatan yang mutlak. Saat Orde Baru,  kelas menengah di kampus paham, tidak perlu ada persaingan keras di dalam pemilu, karena ada praktik ‘’mufakat untuk dimusyawarahkan’’ seolah-olah ada demokrasi.

Tetapi sekarang, politik praktis tak ubahnya binatang. Elite partai politik merasa memiliki ‘’power’’ yang sama. Hanya berbeda  kesempatan untuk tumbuh. Pada perbedaan dan kesamaan ini, di antara elite politik, ada yang bisa merasa  saling memangsa dan saling terkam. Tentu, memangsa  dari depan maupun belakang. Maklum, kekuasaan dan kepentingan lebih penting daripada cita-cita. Contoh, Anis yang pernah menjadi juru bicara Jokowi sekaligus salah satu menterinya, mendadak menjadi pihak yang dihadapkan dengan Jokowi, saat Pilkada DKI Jakarta, Februari 2017.

Nah, dalam Pilgub Jatim Juni 2018 mendatang, indikasi elite partai politik yang demikian mulai saya endus. Ada dikotomi fenomena radikalisme dan intoleransi menggunakan kemasan lain. Maklum, pasar dalam pilgub di Jatim berbeda dengan di DKI Jakarta. Pasar di Jatim, mayoritas didominasi oleh kaum nahdhiyin. Informasi yang saya peroleh, ada agenda setting mengkonflikkan para kyai dari sesama kader NU yaitu Kyai yang dikelilingi elite politik NU struktural dan tak sedikit jumlahnya, kyai NU yang setia pada denyut nafas kaum nahdhiyin kultural atau NU grassroot.

Prediksi saya, bakal ada cagub ‘’oposisi’’ menggunakan patron seperti di DKI Jakarta 2017. Tetapi prediksi saya ini, tampaknya tergerus oleh kelompok kepentingan yang tidak ingin ada dikotomi keras antar elite jelang pilpres 2019 mendatang.

Pilgub Jatim 2018 ada yang menganggap bukan urusan seberang-berseberangan meraih suara Pilpres 2019. Tetapi perburuan logistik untuk memperkuat basis pemenangan Pilpres 2019 sampai ditingkat desa.

Informasi yang saya peroleh, Pilgub Jatim bukan arena strategis pilihan berseberangan. Antar elite politik makin cerdas memilih kawan atau lawan dalam berkoalisi. PAN, misalnya. Era dipimpin oleh Zulkifli Hasan, memiliki strategi kompromis yaitu bahwa menjadi oposisi bukan lagi suatu pilihan saat berseberangan. Prediksi saya, elite politik PAN bisa mengikuti jejak elite politik Partai Demokrat, bergabung dengan Jokowi, untuk memilih Khofifah sebagai cagub hasil koalisi di Jatim

Bila prediksi saya ini benar. bisa jadi Gerindra tidak merangkul PAN. Demikian juga PKS, yang basis suara di Jatim jauh dari PKB, ada kecenderungan merapat ke Gus Ipul dan Azwar Anas. Bila prediksi saya ini terwujud, bisa jadi, petarungan nanti hanya antar koalisi PKB-PDIP (Gus Ipul-Anas), melawan koalisi NasDem, Partai Golkar, Demokrat, Hanura, PPP, dan PAN (Khofifah-Emil). Bahkan bukan tidak mungkin, Gerindra, bisa absen, atau merapat ke kaolisi yang diikuti mantan Presiden SBY.

Sekiranya ada agenda setting politik praktis jangka pendek, bisa jadi Pilgub Jatim 2018 nanti berlangsung dua putaran. Putaran pertama diikuti tiga kandidat. Dan putaran kedua hanya dua kandidat yaitu Cagub Gus Ipul-Anas melawan Cagub Khofifah-Emil. Siapa yang bakal menang? saya prediksi dalam analisis saya berikutnya.

Prediksi saya ini, lebih saya tulis berdasarkan catatan yang terjadi di masyarakat dan bagaimana kejadiannya selama ini (menggunakan teori regresi). Jujur, prediksi (analisis) politik saya ini, bukan sekedar pengamatan seperti pengamat politik dari kampus-kampus atau lembaga survei yang sebenarnya sejak awal sudah layak dianggap tidak netral, karena kepentingan bisnisnya. Ini sejalan dengan aksioma, lembaga yang melakukan survei dan polling sudah tak ada lagi menerapkan praktik gratisan alias ora bayar. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung).



Komentar Anda