Gus Ipul-Anas, Mampukah Menang di Tapal Kuda

Surat Terbuka untuk Ketua Umum PDIP, Megawati yang Ajukan Kader NU Menjadi Cawagub Jatim 2018 dari PKB (3-habis)

 

Dr. H. Tatang Istiawan


Ketua Umum PDIP Megawati,

Pada bulan Juli 2017 lalu, saya membaca survei yang diselenggarakan Surabaya Survey Center (SSC) terkait kandidat Pilgub Jatim 2018. Gus Ipul, salah satu tokoh yang diunggulkan dalam Pilgub Jatim kali ini. Tokoh lain yang memiliki tingkat akseptabilitas adalah Khofifah dan Risma.

Dalam survei tiga bulan lalu, akseptabilitas Gus Ipul, sangat dominan di wilayah Pandalungan atau Tapal Kuda. Wilayah ini mulai Pasuruan ke timur hingga Banyuwangi. Gus Ipul unggul mutlak dengan 42,6 persen dukungan publik, lebih tinggi dari Khofifah yang hanya 17,4 persen.

Anehnya, meski diunggulkan di wilayah Tapal Kuda, Gus Ipul, malah Anda jodohkan dengan Azwar Anas, yang juga tokoh dari Pendalungan. Pertanyaannya, bisakah suara Gus Ipul-Anas, meraih suara signifikan di wilayah Mataraman, Pantura, Madura dan Arek.

Akal sehat saya bertanya, benarkah Azwar Anas, mewakili representasi kaum nasionalis PDIP yang bisa merebut hati pemilih dari anak-cucu turunan pengagum  Bung Karno? Mengingat, saat ini, di luar Banyuwangi, Anas, meski dalam deklarasi di DPP PDIP hari Minggu (15/10/2017) berbaju merah dan berkopyah hitam, lebih dikenal sebagai kader NU ketimbang moncong putih.

Wajar bila Gus Ipul, gelo (kecewa) seperti tulisan saya yang kedua. Gelo Gus Ipul, pertama, bisa jadi Gus Ipul, tidak pernah Anda ajak rundingan untuk mencapai kecocokan dalam berpolitik praktis. Kedua, sosok Azwar Anas, tidak mewakili kaum nasionalis di Jawa Timur. Ketiga, pilihan Anas, bertolak belakang dengan ramalan orang bahwa Gus Ipul akan digandengkan dengan tokoh nasionalis dari mataraman seperti Budi 'Kanang' Sulistyono (Bupati Ngawi) atau Emil Dardak (Bupati Trenggalek).

Putusan politik sudah Anda sampaikan ke publik melalui deklarasi. Gus Ipul, saat deklarasi tampak enjoy. Dalam wajahnya, tidak tampak kecewa. Berbeda dengan saat berbicara melalui telepon dengan saya, hari Senin (16/10/2017). Dalam pembicaraan itu, Gus Ipul merasa gelo disandingkan bupati yang berasal dari Tapal Kuda. Tetapi dengan Azwar Anas sendiri, Gus Ipul, tidak mengusik. Bahkan dalam telepon itu, Gus Ipul, menyampaikan salam Anas pada saya.

 

Ketua Umum PDIP Megawati, 

Dengan komposisi yang Anda tetapkan ini, suara Bacagub dan Bacawgub PKB-PDIP, secara politis tidak bisa dianggap mewakili kaum bangjo (abang – ijo) yang Anda menggambarkan buah semangka.

Jujur, pasangan Gus Ipul-Anas, lebih mirip seperti buah alpokat daripada semangka. Maklum alpukat, baik kulit maupun isinya, sama-sama hijau (hijau pucat). Artinya warna  merah, tidak terlihat. Maka itu, saya khawatir, pasangan Gus Ipul-Anas, tidak memiliki kedekatan dengan pemilih suara anak cucu pengagum Bung Karno, yang dikenal fanatik?. Sebaliknya, bisa menambah suara dari kaum nahdyiin, di kawasan Tapal Kuda, bukan di luar wilayah Pendalungan.

Apalagi ada hasil survei pilkada Jatim dari The Initiative Institute pada bulan Juni 2017 yang menyebut ada perubahan pola politik baru. Ditemukan batas kultur politik wilayah di Pilkada Jatim akan mencair. Artinya, pola politik lama yang mendikotomi basis massa nasionalis dan agamis tidak muncul. Justru ditemukan banyak pemilih dari kalangan religius yang menjatuhkan pilihan politiknya pada sosok nasionalis. Sebaliknya, kalangan nasionalis banyak juga yang memilih calon dari kalangan religious.

Temuan dari lembaga pimpinan dosen FISIP Unair, Airlangga Pribadi, ini bisa jadi telah Anda akomodir sebagai  perubahan pola politik baru, pemilih muda usia.

Mengacu pada survei dari The Initiative Institute, apakah keliru bila saya memprediksi suara yang akan diraih oleh Gus Ipul – Anas, bisa dari kalangan religius dan nasionalis. Bila ini benar, pilihan Anda, patut diacungi jempol. Tetapi bila meleset, Gus Ipul yang paling terpukul, karena ia dipastikan tidak memperoleh suara yang signifikan dari kalangan nasionalis diluar wilayah Tapal Kuda.

Anas dikenal sebagai pemimpin daerah kreatif dan inovatif yang berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Penghargaan dari lembaga kredibel kerap dia terima, termasuk dari Badan Pariwisata Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO). Banyuwangi dijuluki  daerah dengan kebijakan publik bidang pariwisata terinovatif di dunia.

Internasional melihat  Banyuwangi bukan "kesempurnaan" infrastruktur pariwisatanya, tapi kebijakan publik pemerintah daerahnya yang mampu menggerakkan banyak elemen untuk memajukan pariwisata, sehingga dampaknya terasa bagi ekonomi rakyat. Akankah ini akan diterapkan untuk provinsi Jatim, manakala Anas, benar dipilih sebagai cagub Gus Ipul, oleh pemilih se Jatim?

 

Ketua Umum PDIP Megawati,

Saya pernah diskusi membahas masalah politik dan ekonomi otonomi daerah dengan Azwar Anas. Diskusi dilakukan di atas pesawat Garuda Indonesia, Surabaya-Banyuwangi. Tak keliru bila Azwar dianggap sosok bupati mudah yang lincah yaitu bupati yang mewakili generasi milenial seusianya.

Anas juga dinilai Bupati sukses di Indonesia. Termasuk dalam mengusung program "Smart Kampung" alias "Kampung Cerdas untuk Banyuwangi". Program ini mendorong kemajuan desa dari sisi ekonomi, pelayanan publik, penguatan SDM, dan pengentasan kemiskinan. Dalam program ini teknologi informasi menjadi trigger-nya. Sekarang sudah ada 80 desa di Banyuwangi yang teraliri fiber optic. Ini yang menyebabkan  permudah layanan kependudukan.

Praktis berkat beragam program yang dikerjakan secara bergotong-royong bersama warga, pendapatan per kapita warganya terdongkrak dari Rp 20,8 juta per orang per tahun menjadi Rp 41,46 juta per orang per tahun pada 2016. Sementara kemiskinan bisa diturunkan secara drastis menjadi 8,79 persen. Bahkan Banyuwangi bisa membuka aksesibilitas dengan pengoperasian bandara. Praktis, sekarang ada enam kali penerbangan per hari ke Banyuwangi dari Jakarta dan Surabaya. Akankah kelak saat sudah menjadi wagub Jatim, Azwar Anas mendapat porsi pekerjaan yang dari Gus Ipul. Ini berandai-andai. Tantangan sekarang, akankah pemilih nasionalis dan religius tahu kualitas kerja bacawagub pilihan Anda. Wallahualam.

 

Ketua Umum PDIP Megawati,

Jawa Timur adalah provinsi besar yang terdiri dari berbagai macam etnis. Karenanya, pemilihan Gubernur Juni tahun 2018 mendatang tak bisa lepas dari unsur primordialisme dan kesukuan. Tak heran kalau wilayah tertentu seperti Mataraman dan Madura layak digarap bacagub dan bacawagub pilihan Anda. Terutama  bila Gus Ipul-Anas ingin mendulang suara besar diluar Tapal Kuda. Bila tidak, Gus Ipul-Anas, hanya jago kandang yaitu mendulang suara pemilih di Tapal Kuda. Maklum, Gus Ipul, kelahiran Pasuruan dan Anas, asal Banyuwangi. Pertanyaan yang menggelitik saya, mampukah pilihan Anda bersama PKB, minimal menang telak di kawasan Tapal Kuda?

Maklum, Tapal Kuda adalah satu di antara wilayah yang strategis di Jawa Timur. Satu diantaranya, memiliki jumlah penduduk yang besar yang otomatis bisa menjadi kantong gemuk suara untuk cagub-cagub yang akan bertarung pada bulan Juni 2018 nanti.

Ada yang memprediksi, bila Gus Ipul-Anas, serius menggarap tapal kuda, keduanya punya peluang besar untuk memenangi pilgub. Mengingat, hampir 60 persen penduduk Jawa Timur ada di wilayah tapal kuda. 

Sejauh ini, Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur. Ia berada  di bagian timur. Asal usul penamaan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta, mirip dengan bentuk tapal kuda. 

Sampai kini, kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Secara tradisional, kawasan Tapal Kuda merupakan kawasan yang diwarnai nuansa keislaman yang kental. Bahkan Nahdlatul Ulama mempunyai akar yang sangat kuat di wilayah ini. Selain keterkenalan mistisme di Banyuwangi. Bahkan pada tahun 1998 wilayah Tapal Kuda pernah diguncang gangguan keamanan dengan isu dukun santet. Saat itu, peristiwa mistis ini dikabarkan menewaskan beberapa puluh jiwa yang terdiri dari warga biasa dan ulama. (tatangistiawan@gmail.com)



Komentar Anda