Khofifah dan Gus Ipul Untungkan Jokowi di Pilpres 2019

 

Sirojudin Abbas Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC)


Bursa kandidat calon gubernur (Cagub) pada pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 mulai panas, setelah Khofifah Indar Parawansa memastikan diri maju sebagai salah satu kandidat calon gubernur. Wanita kelahiran Surabaya ini akan bersaing dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang pada Pilgub Jatim 2008 dan 2013 menjadi kompetitornya. Dua tokoh yang dibesarkan Nahdhatul Ulama (NU) ini sama-sama memiliki pengaruh. Sosok Khofifah tak hanya menjabat sebagai Menteri Sosial di Kabinet Jokowi-JK, tapi juga memimpin Muslimat NU yang memiliki basis massa kuat di Jawa Timur. Di sisi lain, Gus Ipul diuntungkan dari sisi penguasaan battle ground, karena telah menjadi Wakil Gubernur Jawa Timur selama dua periode.
----------

Sejauh ini, baik Khofifah maupun Gus Ipul sama-sama dinilai memiliki elektabilitas tinggi dan diprediksi bersaing ketat dalam Pilgub Jatim 2018. Keduanya juga telah mengantongi dukungan dari partai politik. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), misalnya, menggandeng PDIP untuk mengusung Gus Ipul. Sementara Golkar, Nasdem dan Hanura telah resmi memberikan dukungan untuk Khofifah.

Meski demikian, siapapun di antara Khofifah dan Gus Ipul yang menjadi pemenang Pilgub Jawa Timur 2018, keduanya sama-sama menguntungkan Jokowi dalam Pilpres 2019. Terlebih lagi, jika PKB benar-benar berkoalisi dengan PDIP untuk mengusung Gus Ipul. Sedang Khofifah diketahui dekat dengan Jokowi.

Atas pertimbangan itu, maka tidak ada alasan bagi Presiden Jokowi untuk lebih condong ke salah satu kandidat, seperti halnya yang digembor-gemborkan Partai Golkar yang mengklaim bahwa Khofifah telah mendapat restu dari Jokowi. Menurut saya, poinnya itu cara Golkar memainkan isu. Karena Jokowi tidak bisa memberikan dukungan kepada orang per orang.

Dalam hal ini, istilah ‘restu’ pun tidak tepat untuk dimaknai sebagai dukungan politik Jokowi kepada Khofifah. Melainkan hal itu hanya sebatas izin dari Presiden Jokowi kepada Khofifah untuk mundur dari Menteri Sosial terkait keinginannya maju pada Pilgub Jatim. Kalau Presiden Jokowi mencegah Khofifah tidak ikut Pilkada, tentu salah dia. Karena menghalangi hak politik Khofifah.

Peluang Gus Ipul dan Khofifah
Peluang Gus Ipul memenangi Pilgub Jatim cukup besar. Bahkan, memiliki kans menang. Setidaknya ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan SMRC. Berdasarkan survei tersebut, elektabilitas Gus Ipul lebih unggul daripada Khofifah. Hanya terpaut sedikit. Tapi Gus Ipul lebih unggul. Di sisi lain, dukungan PDIP kepada Gus Ipul dapat menambah suara dari golongan ‘abangan’. Sementara suara NU terpecah dengan majunya Khofifah. Kekuatan ini lebih besar dibanding koalisi Golkar, Nasdem dan Demokrat.

Peluang tersebut akan lebih kuat lagi apabila Walikota Surabaya Tri Rismaharini bersedia menjadi calon wakil gubernur Jawa Timur mendampingi Gus Ipul. Risma mempunyai kemampuan untuk mengonsolidasikan basis abangan PDIP di akar rumput. Memang ada nama Bupati Ngawi Budi Kanang. Tapi menurut saya Risma lebih kuat.

Namun demikian, Khofifah memiliki kekuatan yang tidak dipunyai Gus Ipul. Misalnya, secara struktural di NU, Khofifah masih tercatat sebagai Ketua PP Muslimat NU dan memiliki akses untuk mengonsolidasikan kadernya di Jawa Timur. Kiai-kiai NU non-struktural juga tampaknya mendukung Khofifah. Sedang Gus Ipul punya PKB yang dekat dengan NU struktural, baik PBNU maupun PWNU Jatim. (tir)



Komentar Anda



Berita Terkait