Usung Khofifah, Demokrat Ajukan Syarat Koalisi

 

Khofifah Indar Parawansa


SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Setelah Khofifah Indar Parawansa mendaftar ke Partai Demokrat, parpol pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini membuka peluang koalisi dengan partai lain. Misalnya dengan Partai Golkar, Nasdem dan Hanura yang telah resmi akan mengusung Khofifah pada pemilihan gubernur (Pilgub) Jatim 2018. Demokrat yang memiliki kursi 13 di DPRD Jatim, tentu akan memperkuat posisi Khofifah. Sebab Golkar, Hanura dan Nasdem jika digabung hanya memiliki 17 kursi sehingga masih kurang syarat minimal 20 kursi untuk mengusung calon.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Syarief Hasan menegaskan pihaknya mempertimbangkan untuk mengusung Khofifah sebagai calon gubernur (Cagub) pada Pilgub Jatim tahun depan. Menurutnya, Khofifah menjadi tokoh potensial menang di Pilgub, karena elektabilitasnya yang tinggi.

"Dalam analisis Partai Demokrat, Ibu Khofifah memang elektabilitasnya cukup tinggi, sangat tinggi. Berdasarkan pengalaman kemarin, waktu Pilgub periode dua kali itu memang Khofifah itu kan cuma dikalahkan Pakde Karwo (Gubernur Jatim Soekarwo). Kompetensinya juga bagus, sangat menjadi pertimbangan kuat untuk mendukung Ibu Khofifah," terang Syarief, kemarin.

Selain Demokrat, sejumlah partai pun melirik Khofifah untuk diusung. Demokrat menyambut baik hal itu dan mempertimbangkan koalisi. "Sangat terbuka kemungkinan kita berkoalisi dengan Golkar dan Nasdem, sepanjang memang kita satu kata dalam menentukan sikap dan menentukan bagaimana agar Jawa Timur itu lebih bagus ke depan," ungkapnya.

Khofifah Dimita Mundur
Sementara itu, Korbid Pemenangan Pemilu Indonesia I (Jawa-Sumatera) DPP Golkar Nusron Wahid menegaskan partainya sudah final untuk mendukung Khofifah maju Pilgub Jatim. Namun Golkar meminta Khofifah agar mengundurkan dari dari Kabinet Kerja, agar fokus menghadapi Pilgub. Apalagi, menurut Nusron, target kerja sebagai Menteri Sosial di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi termasuk tinggi. Hal ini dapat memecah konsentrasi Khofifah jelang Pilgub.

"Sebaliknya, memimpin Kemensos dengan target tugas dari Pak Jokowi juga sangat berat dan membutuhkan konsentrasi penuh. Sehingga Partai Golkar mensyaratkan, agar menang dalam Pilgub di Jatim melawan koalisi gajah, PKB-PDIP, Ibu Khofifah harus fokus dan full komitmen," kata Nusron, Rabu (4/10/2017).

Wajar jika Nusron menyebut PKB-PDIP sebagai koalisi gajah, mengingat dua partai pemenang Pemilu 2014 silam. PKB memiliki 20 kursi dan PDIP 19 kursi di DPRD Jatim. “Untuk menang, mau tidak mau Ibu Khofifah harus full time keliling di berbagai lapisan pelosok masyarakat Jatim," tandasnya.

Sejauh ini, Khofifah masih menjabat Menteri Sosial dan belum menyampaikan akan mundur. Masa pendaftaran cagub juga baru akan dimulai pada Januari 2018. Ia baru mengungkapkan rencananya melapor ke Presiden Jokowi terkait akan terjunnya ke Pilgub Jatim 2018 itu. "Saya sedang minta waktu melapor ke Presiden agar semua berjalan sesuai koridor dan regulasi," ujar Khofifah saat dikonfirmasi Selasa (3/10).

Poros Tengah
Presiden PKS Sohibul Iman mengatakan partainya saat ini tengah membangun komunikasi intensif dengan beberapa partai untuk menyambut Pilgub Jatim 2018. Komunikasi tersebut, menurutnya, dijalin dengan Partai Gerindra dan PAN. “Dengan partai-partai tersebut, saat ini kita tengah membangun komunikasi. Tapi nanti gimananya ya kita lihat bagaimana rekomendasi rekan-rekan di daerah,” kata Sohibul kepada Surabaya Pagi.

Disinggung terkait dengan wacana bahwa koalisi tersebut akan membentuk poros baru, menurut Sohibul hal tersebut memang tengah menjadi bahasan hangat. “Saya sendiri sudah mendengar informasi tersebut, tapi kami saat ini menunggu rekomendasi rekan-rekan di daerah. Nantinya, baru rekom tersebut kami pertimbangkan di DPP,” cetus dia.

Namun, sayangnya Sohibul masih belum bisa menyebutkan nama-nama yang masuk bursa dalam pembentukan poros baru tersebut. Sebab, mekanisme di PKS adalah menunggu rekomendasi dari daerah baru kemudian diputuskan oleh DPP. “Meskipun saya juga sudah mendengar beberapa nama, tetapi saya belum bisa menyebutkannya. Nanti ya setelah rekomendasi dari daerah sudah ada,” tegas Sohibul.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan tidak menampik tentang wacana koalisi tersebut. Menurutnya, saat ini PAN memang tengah membangun komunikasi intensif dengan beberapa partai. “Tapi, pada prinsipnya kita masih terbuka. Komunikasi dengan seluruh partai kita juga baik,” kata Zulkifli.

Kata Zulkifli, suara PAN sudah mengerucut pada dua nama calon, yakni Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Khofifah. Namun, partai berlambang matahari tersebut belum memutuskan siapa dari kedua nama itu yang akan diusung. "Kita masih menunggu kesepakatan dengan partai koalisi pengusung," cetus Zulkifli.

La Nyalla Jadi Opsi
Menanggapi wacana koalisi tersebut, pakar politik asal Universitas Trunojoyo Mochtar W. Oetomo mengatakan terbuka kemungkinan besar bahwa koalisi poros baru tersebut akan memberikan dukungan kepada Ketua Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti. Hal tersebut dikarenakan, hingga saat ini, dari nama-nama bacagub yang sudah beredar hanya La Nyalla yang belum dapat dukungan partai. “Tapi ya itu tadi, itu mungkin akan dijadikan opsi terakhir. Karena dinamika antar partai tersebut juga bisa sangat besar,” kata Mochtar ketika ditemui terpisah.

Menurut Mochtar, kemungkinan besar partai-partai koalisi tersebut akan mengeluarkan kader-kader mereka asal Jawa Timur yang tengah duduk di DPR RI. “Seperti PAN misalnya, kan ada Anang Hermansyah atau Eko Patrio,” pungkasnya. n ifw/rko

 



Komentar Anda



Berita Terkait