Setnov, Sembunyi Diketiak Dokter

Surat Terbuka untuk Setyo Novanto, Ketua DPR-RI yang baru menang Praperadilan (2)

 

Dr. H. Tatang Istiawan


Sdr. Setyo Novanto,

Minggu (1/10), dilaporkan Anda berkemas hendak keluar dari Rumah Sakit Premier Jatinegara Jakarta. Tapi sampai Senin sore, Anda masih berbaring di rumah sakit. Rencana pulang diundur.

 Kemas-kemas barang Anda dikeluarkan dari rumah sakit, terjadi tiga hari setelah putusan praperadilan yang mengalahkan KPK, dibacakan hakim tunggal Cepi Iskandar SH. Pertanyaannya, kesembuhan Anda  setelah putusan praperadilan ini, kebetulan atau sudah Anda rancang? Hanya Anda, keluarga dan Alloh yang tahu. Tapi politikus yang kini jadi guru besar di UI, Prof. Burhan Magenda, mensinyalir Anda dijangkiti penyakit kanker tenggorokan.

Perkembangan peristiwa seperti ini  menggambarkan diri Anda ternyata mengundang multi interpretasi. Artinya, apakah Anda benar-benar sakit diabetes, jantung dan kanker atau sakit demam panggung hadapi penyidik KPK yang membidik sebagai tersangka korupsi E-KTP ?. Mengingat, sakit gula (diabetes) umumnya bukan diobati dengan bad rest atau rawat baring. Sakit jantung, bisa jadi Anda masuk rumah sakit yang bila parah bisa perawatan di Ruang Intensive Cardiologi Care Unit (ICCU).

Dokter jantung kenalan saya mengatakan ruang ICCU, bukan sembarang ruangan. Pasien yang ada di dalam ruangan ini membutuhkan penanganan intensif. Jadi siapa pun yang masuk harus steril dari berbagai hal. Bahkan keluarga yang mengunjunginya pun terbatas. Ini pernah saya jalani di UCCU Mitra Keluarga Surabaya, pada tahun 2011.

Di ruangan ini, pasien-pasien memerlukan penanganan dengan konsentrasi penuh. Keselamatan pasien diutamakan. Makanya, dokter dan perawat datang silih berganti melakukan pengawasan. Mengingat bagi pasien jantung, ruang ICCU sama saja sama Intensive Care Unit. Pemaknaannya, pasien yang masuk ICCU perlu penanganan intensif, sebab pasien dianggap sedang kritis. Maka itu, kalangan dokter jantung menyebut ruang ICCU didedikasikan dengan persiapan untuk pasien kritis.

Nah, Anda, ternyata bisa melakukan aksi pengiriman foto ke publik dengan berbagai momen. Ada foto action Anda sedang berkaos putih, menggunakan masker kayak orang menyelam (bukan seperti masker oksigen), didampingi wanita tanpa baju steril. Anehnya, alat pemantau jantung (Electrocardiography  atau ECG) berada dalam posisi berhenti. Apakah dimatikan atau Anda saat dipotret sedang benar-benar kritis. Maklum, ECG dikenal sebagai alat pengukur detak jantung yang mampu mendiagnosa, mengukur dan merekam aktifitas elektronika dari jantung dengan tingkat akurasi mencapai 98 persen

 

Sdr. Setyo Novanto,

Menyimak track rocerd Anda yang selama ini tidak pernah masuk rumah sakit dan dipublikasikan, saya termasuk anak bangsa yang ragu, Anda masuk RS Premier Jatinegara, benar-benar sakit jantung kritis. Mengapa saya berasumsi seperti ini?

Maklum, Anda masuk rumah sakit, saat KPK akan memanggil Anda sebagai saksi dugaan korupsi E-KTP yang merugikan Negara Rp 2,3 triliun. Orang bisa menebak-nebak, Anda benar-benar sakit jantung, gula darah Anda melonjak atau demam panggung hadapi penyidik KPK?.

Sakit demam panggung hadapi KPK, masuk akal. Mengingat, penyidik KPK, setiap memeriksa saksi yang menjadi tersangka, acapkali dilanjutkan dengan penahanan. Nah, Anda, selain ijin sakit, Anda juga mengajukan permohonan praperadilan dan meminta ngamar di rumah sakit. Ini bisa dianggap Anda ini jeli, cerdik dan cerdas.

Apa rahasia Anda mengatasi demam panggung dengan masuk rumah sakit sudah benar? Ilmu komunikasi menganjurkan demam panggung beneran  membutuhkan peningkatan kemampuan publik speaking.

Sementara demam panggung hadapi KPK, praktik umumnya adalah mengajukan surat sakit yang diminta dari dokter pribadi. Dan Anda, tidak tanggung-tanggung, melapor sedang menjalani pengobatan yang butuh perawatan di rumah sakit. Akibatnya, Anda tak perlu mendatangi penyidik KPK.

Apakah salah Anda menerapkan cara-cara seperti ini. Benarkah ini trik  mengakali atau menyiasati komisioner dan penyidik KPK?. Jujur, modus semacam ini jarang dilakukan oleh tersangka korupsi yang ditangani KPK, termasuk tersangka yang non OTT (Operasi Tangkap Tangan). Dengan tingkat keberhasilan praperadilan, kecerdasan Anda layak diakui memang luar biasa.

 

Sdr. Setyo Novanto,

Rasa ingin tahu sebagai wartawan itu tinggi. Maka, untuk bahan tulisan ini, saya sampai menemui seorang dokter jantung dan pengelola sebuah klinik di Surabaya. Dari diskusi dengan mereka, saya mendapat bahan bahwa sampai Anda menggunakan cara bed rest saat ditetapkan tersangka, sepertinya Anda tahu risiko menjadi tersangka korupsi. Pertama, mesti ditahan. Kedua, tak bisa menampik memakai rompi orange tersangka korupsi. Ketiga, diadili secara terbuka. Keempat, persidangan Anda bakal diliput secara live oleh TV swasta, karena ketokohan Anda (prominence) dalam news value jurnalistik.

Bagi jurnalis seperti saya yang menegakkan kebenaran dan keadilan untuk semua golongan, , gebrakan KPK yang terus membongkar tindakan korupsi pejabat perlu diberikan apresiasi khusus. Apalagi jumlah pelaku korupsi yang sudah berhasil ditangkap KPK, terbukti juga menyasar anggota DPR-RI. Makanya, saya termasuk jurnalis yang tidak setuju dengan pelemahan KPK melalui Pansus Hak Angket KPK.

Apalagi dalam kasus dugaan korupsi E-KTP, KPK menemukan alat bukti bahwa sebagian besar perilaku korupsi pada proyek E-KTP dilakukan secara ’berjamaah’ dan hasilnya dinikmati ramai-ramai.

Dari menelaah kasus-kasus korupsi sekaligus pernah menjumpai beberapa pengacara terdakwa korupsi, saya menemukan fakta bahwa saat seorang tersangka Tipikor tertangkap, kawanan atau jejaringnya atau jaringannya kebakaran jenggot. Mereka saling berlindung mencari selamat diri dengan berusaha melemparkan kesalahan ke orang lain. Yang pasti tidak langsung mengakui perbuatannya.  Ini bersentuhan dengan moral penyelenggara negara termasuk dalam proyek E-KTP, yang tidak segan berbuat korup dengan menikmati uang negara secara ilegal, namun tidak mau menanggung risiko akibat perbuatannya. Termasuk Anda sendiri yang disebut ikut mengatur, membantah menikmati uang proyek E-KTP.

Upaya Anda masuk rumah sakit saat hendak diperiksa KPK, bisa dibaca nyali Anda ciut menghadapi penyidik KPK.  Tapi dari mengikuti pernyataan-pernyataan juru bicara KPK, saya menyerap KPK tidak menunjukkan ciut nyali atas ‘’kekalahan’’ di praperadilan. Upaya  membuat shock therapy terhadap pelaku tindak pidana korupsi, tampaknya terus akan digemakan. Bahkan meski ada Pansus Hak Angket KPK.

Mata hati saya menyatakan bahwa korupsi adalah mencuri uang Negara secara ilegal. Pada umumnya, pelaku korupsi tidak mau menanggung risiko akibat perbuatannya. Coba kalau mau menghadapi risiko di persidangan, Anda pasti akan menghadapi penyidik KPK dengan gentlemen menyampaikan fakta dan alat bukti sebagai pembuktian terbalik.

Inilah fakta yang terjadi selama KPK beroperasi sejak tahun 2004 berdasarkan UU No. 30 Tahun 2002. Selama ini, saya mendapati, pasca tertangkap, umumnya tersangka korupsi berbelit-belit dalam memberikan kesaksian baik di depan penyidik maupun dalam persidangan. Bahkan ada tersangka korupsi yang berlagak bloon dengan tidak mau mengakui perbuatannya. Kasus dugaan korupsi di PT PWU Jatim yang menyeret Dirut PWU Dahlan Iskan. Bos Jawa Pos yang pernah menjadi Menteri BUMN ini malah berkelit ia yang memperkaya PT PWU dengan tanpa dibayar.

 

Sdr. Setyo Novanto,

Sebagai wakil rakyat yang menduduki jabatan Ketua DPR-RI, apakah Anda sudah pernah membaca teori demokratisasi yang dipikirkan oleh Barrington Moore? . Moore (1966) dalam buku The Social Origin of Dictatorship and Democracy, menyebut, akan muncul kelas menengah yang berperan dalam politik. Bila ini terjadi  menunjukkan bahwa kualitas demokrasi di sebuah negara telah meningkat.

Moore mengingatkan bahwa yang dianut dalam sistem ini adalah demokrasi untuk menyejahterakan rakyat di Indonesia. Tapi dalam kenyataan sampai Indonesia merdeka ke 72 tahun,  dana APBN dan APBD masih banyak yang disalahgunakan. Sungguh hal ini perlu dilakukan pengawasan secara ketat agar tidak terjadi penyimpangan terus menerus. Termasuk pengendalian dari masyarakat. Pertanyaannya sampai kapan keadaan demokrasi di Indonesia  masih dikuasai sekelompok elite seperti Anda? Dan kapan demokrasi benar-benar menyejahterakan rakyat banyak?.

Dan mulai kapan  demokrasi di Indonesia sudah menjadi milik rakyat. Maka itu adalah lucu, bila dalam kondisi Anda dipanggil KPK terkait dugaan korupsi E-KTP, Anda malah memilih istirahat di rumah sakit, sehingga sebagian rakyat bereaksi. Antara lain membuat Pantun melalui ‘’WA berantai’’ THE POWER OF SETYO NOVANTO.

Masihkan Anda ingat bahwa Partai yang Anda pimpin sejak Aburizal Bakrie telah membangun jargon ‘’Suara Tuhan. suara Rakyat’’. Tapi tagline ini sepertinya tidak Anda pahami dengan benar dan konsisten. Terbukti Anda tidak bersikap gentlemen menghadapi tudingan korupsi E-KTP, dengan bersikap kekanakan, sembunyi diketiak dokter. (tatangistiawan@gmail.com)



Komentar Anda



Berita Terkait