Setnov Kena Tilang, yang Disidang Polisinya, Haa..Haa...Ha...

Surat Terbuka untuk Setyo Novanto, Ketua DPR-RI yang baru Menang Praperadilan

 

Dr. H. Tatang Istiawan


Disadari atau tidak, Ketokohan Setya Novanto, layak disoroti. Ternyata, Setnov, nama ringkas Setya Novanto, tidak hanya terseret kasus E-KTP. Sejak tahun 1999, ia sudah terlibat kasus hak tagih atau (cessie) Bank Bali. Ia jadi tersangka dalam kapasitas  direktur utama PT Era Giat Prima (EGP). Hebatnya, meski sudah tersangka, Kejagung mengeluarkan SP3 tanpa alasan yang jelas pada 18 Juni 2003 dengan nomor: Prin-35/F/F.2.1/06/2003. Pada Juni 2012, Setnov juga sempat diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai saksi atas tersangka Gubernur Riau Rusli Zainal, dalam kasus korupsi proyek pembangunan sarana dan prasarana PON Riau 2012. Pada tahun 2016, ia diperiksa Kejagung, terkait  perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia dengan sebutan "Papa Minta Saham". Sebelumnya, Setnov dengan menggunakan  kop DPR melakukan intervensi ke Dirut PT Pertamina, Dwi Soetjipto, tertanggal 17 November 2015.  Setya Novanto meminta PT Pertamina membayar biaya penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) pada PT Orbit Terminal Merak (OTM) di mana selama ini, PT Pertamina menyimpan bahan bakar di perusahaan ini. Sekarang bikin gempar, saat dipanggil oleh KPK sebagai saksi kasus korupsi E-KTP tak mau hadir, dengan alasan sakit. Tetapi malah mengajukan praperadilan terhadap KPK dan kemudian dikabulkan hakim Cepi Iskandar. Karena ketokohan Setnov, wartawan Surabaya Pagi, H. Tatang Istiawan, hari ini akan menulis catatan hukum khasnya “Surat Terbuka” dengan tujuan Saudara Setya Novanto.

 

Sdr. Setyo Novanto,

Judul diatas saya peroleh dari salah satu pantun berantai yang saya terima Minggu pagi kemarin. Ya, Minggu kemarin (1/10), saya menerima kiriman  "pesan berantai" melalui WA ( WhatsApp) dengan judul THE POWER OF SETYO NOVANTO.

Pantun-pantun cukup lumayan. Pantun ledekan dari sejumlah netizen ini ternyata menjadi teman santai pada hari libur.

 Diantara sentilan dalam bentuk pantun ini : @zonatalina Setya Novanto maling ayam, ayamnya yang digebukin warga.; @ikramarki; Setya Novanto kalo ke kondangan, duduknya di pelaminan. @elamcihui; Setya Novanto ke toilet saat nonton bioskop, filmnya di-pause. @sheraveilo; Listrik Setya Novanto jeglek pas dipake nyetrika pembantunya, menteri ESDM langsung pindah jadi kasir Indomart.@aldo_tobing; Setya Novanto ikut uji nyali yang kesurupan setannya. 

@haffidfan;  Setya Novanto kalo kejedot tembok, temboknya yang benjol. @kekikian ; Setya Novanto kena tilang, yang disidang polisinya. @lvpanama; Setya Novanto makan Samyang, yang kepedesan mie-nya. @alifnakyuko. Setnov abis berak di WC umum. Yang nyiram orang setelahnya. @ikhwan_purnama; Setya Novanto belanja di Alfamart, bayarnya di Indomaret. @siskaesa; Setya Novanto makan daging kambing, yang darah tinggi kambingnya.  @deEllova Pengabdi Setan ditarik dari peredaran, digantiin PENGABDI SETNOV. @RevanDiliansyah Setya Novanto di rapot nilainya merah, yang gak naik gurunya. @luthfiOTTO; Setya Novanto bikin E-ktp sekarang, langsung jadi. 

Pantun satire tentang Anda, ini saya baca  sampai terpingkal-pingkal. Ini menandakan publik sudah teramat marah, sehingga kemarahannya diwujudkan dalam pantun ledekan.

Pertanyaan saya, apakah Anda juga mendapat kiriman WA berantai ini? Saya berharap Anda menerima WA ini, agar hati nurani Anda tersentuh.

Saya berharap, Anda mendapatkan “WA berantai” ini agar tahu bahwa satire dari rakyat ini sebuah kritik sosial buat Anda. Saya mengingatkan, WA berantai ini satire bukan Sarkasme. Dalam satire pantun-pantun para netizen ini memiliki nilai kritik konstruktif.

Kesan saya, netizen ini ingin menggugah Anda untuk tidak berkelit. Anda seperti diajak masuk ke dunia yang bersentuhan dengan akal sehat. Para netizen ini sepertinya ingin menyadarkan Anda untuk peduli terhadap makna kejujuran dan tanggungjawab seorang penyelenggara yang berada di legislatif. Apalagi Anda menjabat dua posisi strategis di negeri ini, ya Ketua DPR-RI dan Ketua Umum Partai Golkar.

 

Sdr. Setyo Novanto, 

Jujur, dalam catatan saya, Anda baru saja melewati babak baru. Apa? sebelum ini Anda segar-bugar. Tapi saat dipanggil KPK, malah masuk rumah sakit mewah RS Premier Jatinegara, Jakarta.

Dengan alasan masuk rumah sakit (bisa berobat atau pindah tidur), Anda ‘’berhak’’ tidak mendatangi panggilan tersangka dugaan korupsi oleh KPK. Ternyata, selama ‘’proses berada di RS Premier’’ Anda justru memenangi praperadilan untuk mematahkan proses pemeriksaan Anda sebagai tersangka korupsi e-KTP yang merugikan Negara Rp 2,3 triliun.

Apakah Anda puas dengan putusan hakim praperadilan Cici Iskandar? Apakah Anda juga bangga bisa menaklukkan KPK yang sedang membidik Anda sebagai tersangka korupsi? Dan Apakah Anda, dengan putusan praperadilan ini, KPK mesti diam menyerah dan tinggal diam? Apakah Anda mengira publik mendukung praperadilan yang menyenangkan Anda?

Saya bisa menebak Anda puas dan bangga, karena bisa lolos dari panggilan tersangka korupsi e-KTP. Nasib Anda, untuk dilengserkan sebagai Ketua DPR-RI bisa terlewatkan. Bahkan rival-rival Anda di partai Golkar yang selama Anda tidur di RS Premier, bisa kecele. Padahal, mereka sudah ancang-ancang untuk mengadakan Munaslub memilih Ketua Umum Partai Golkar baru. Minimal Plt Ketua Umum.

 

Sdr. Setyo Novanto, 

Meski praperadilan telah diputus dan penetapan tersangka buat Anda telah diketok, Akal sehat saya mengatakan, Anda tidak bisa bangga dan puas selama hidup.

Rasa bangga Anda bisa jadi hanya seumur jagung. Disadari atau tidak, Anda sekarang berada dalam sorotan publik yang melawan koruptor?

Lantas apakah Anda bisa dianggap koruptor? Secara yuridis belum. Tetapi secara sosial, saya menyerap ada nuansa kekecewaan dari sebagian rakyat Indonesia, Anda bisa dianggap bagian dari komplotan korupsi E-KTP yang merugikan keuangan Negara.

Saya katakan sebagian rakyat Indonesia kecewa, logika saya,  masih ada rakyat lain yang memihak Anda. Paling tidak, rakyat yang terdiri istri, anak, menantu, dan cucu Anda. Sementara, sopir dan pembantu Anda belum tentu iklas Anda merayakan kemenangan atas keputusan hakim rambut putih  Cepi Iskandar, yang memeriksa sidang permohonan praperadilan Anda. Apalagi kerabat Anda di DPP Partai Golkar. Maklum, posisi Anda sebagai Ketua Umum partai berlambang pohon beringin, saat Kongres, tidak mulus. Ada beberapa politisi gaek dan lebih senior dari Anda, yang kecewa atas keterpilihan Anda sebagai pucuk pimpinan partai Golkar.

Jujur, dari cangkrukan dengan teman praktisi hukum dan akademisi hukum,  mereka meledek kemenangan praperadilan Anda. Berhubung ini putusan hakim, mereka pun tak mau memberi penilaian. Khawatir dikenai tudingan contempt of court.

Selain itu, saya juga sempat jagongan dengan beberapa kawan di café Cangkrukan Cito Waru. Ada delapan teman yang beda profesi (ada dosen, praktisi hukum, pengusaha, LSM, pensiunan PNS dan wartawan) merasa tidak puas dengan hasil kinerja Anda sebagai penyelenggara Negara di legislatif. Mereka menurut saya mewakili masyarakat yang kritis. 

 

Sdr. Setyo Novanto,

Saat sidang praperadilan baru dimulai, saya menerima kiriman foto Anda sedang tertidur menggunakan masker pernafasan pada wajah seperti orang yang membutuhkan oksigen buatan.

Ternyata, ada penelitian bahwa memberikan oksigen pada pasien serangan jantung , justru malah membahayakan ketimbang membantu pasien. Temuan ini diketahui dari penelitian yang menunjukkan 20% pasien serangan sakit jantung semakin memburuk kerusakan pada jaringan jantungnya jika diberikan oksigen.

Maka itu, Anda jangan berharap  publik percaya Anda yang sedang berbaring dengan kaus dengan wajah dihias marker,  benar-benar sakit kronis yang dirawat dengan pelayanan di ruang ICCU (Intensive Cardiologi Care Unit)?. Dan Anda jangan mengira yang kecewa atas putusan praperadilan dari hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, ini hanya institusi KPK saja. Sebagian publik ada yang kecewa berat. Anda ingin bukti?

Coba lakukan blusukan di kampus-kampus, pasar-pasar, Mall dan café tempat cangkrukan masyarakat umum. Saya saya yang sudah mencoba dua kali melakukan ‘’dengar pendapat’’ dengan sebagian publik, mendapat masukan, mereka menilai hakimnya bukan penegak hukum yang anti korupsi dan tidak termasuk hakim yang mendukung KPK dalam melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi yang sudah dikategorikan extraordinary crime.

 

Sdr. Setyo Novanto,

Sekarang saya bertanya, apakah Anda masih memiliki empati terhadap pemilik E-KTP yang menyimpan luka? Luka antara lain, E-KTP yang digembar-gemborkan Mendagri saat itu, sebagai KTP elektronik canggih, ternyata sebuah proyek yang disetting sejak di tingkat perencanaan.

Jadi, sekarang, Anda boleh tidak merasa luka  yang diderita pemilik KTP. Tetapi bila Anda  masih berhati nurani pada kebenaran dan keadilan, Anda mesti jujur, seperti slogan di KPK, ‘’Berani Jujur itu hebat”. Dan Anda, berkelit atas tudingan pelaku korupsi E-KTP, terlibat korupsi Rp 2,3 triliun. Jadi Anda bisa dianggap bukan orang hebat, seperti M . Nasarudin, tersangka Korupsi Hambalang, yang berani jujur membuka kasus-kasus korupsi yang disetting di gedung parlemen Senayan, Jakarta.

Terus-terang, dari informasi yang sudah bersliweran di publik melalui media cetak, TV dan sosial, publik telah diberi tahu jejaring tersangka korupsi E-KTP. Apalagi dalam sidang yang mengadili dua pejabat Kemendagri terungkap ada bagi-bagi duit dalam jumlah besar, dimana nama Anda disebut.

Bahkan Nazarudin, mantan Bendahara Partai Demokrat membuka rahasia permainan proyek E-KTP yang ada di DPR-RI. Hebatnya, nyanyian Nazarudin tentang dugaan   permainan proyek E-KTP disiarkan sebuah TV swasta.

Dalam durasi pendek, pernyataan Nazarudin ini otomatis menghapus sifat rahasia adanya bancaan uang negara untuk proyek E-KTP. Artinya, rakyat dimana pun, dari Sabang sampai Maraoke yang bisa melibat TV dan membaca koran, tahu sepak terjang Anda dalam proyek E-KTP. Artinya, sekarang tidak ada yang bisa dirahasiakan lagi untuk urusan KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) proyek E-KTP yang menggunakan dana APBN sebesar Rpsenilai Rp 5,9 triliun. Opini publik yang bersumber dari BPKP yang disiarkan oleh KPK, proyek e-KTP, telah merugikan keuangan Negara sebesar Rp 2,3 triliun.

Sementara Anda, memungkiri. Tetapi KPK yang telah memiliki sejumlah alat bukti, Insha Allah tidak menyerah begitu saja dengan pengabulan permohonan praperadilan Anda. KPK, masih tegar melawan pelaku tindak pidana korupsi. Anda mesti bersiap lagi, dipanggil KPK soal proyek E-KTP, dengan sprindik (Surat perintah penyidikan) baru. (tatangistiawna@gmail.com, bersambung)

 



Komentar Anda



Berita Terkait