Hijrah Lahirkan Konstitusi Pertama di dunia

 

Suparto Wijoyo Esais, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga


SELAMAT Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1439. Hijrah merupakan peristiwa  yang sangat spektakuler. Historiografi mencatat laku hijrah sebagai rotasi pembangunan umat oleh setiap nabi. Peradaban hijrah menyimbulambangkan secara adaptif dalam rute “keterusiran”.  Awal kenabian Adam AS juga ditandai dengan “hijrah” (keterusiran) atas nama takdir dari alam Surgawi menuju bentara Bumi yang Duniawi. Kanjeng Nabi Muhammad SAW menarasikan kisah hijrah dalam sebuah “epik” yang sangat menyentuh dalam fase meninggalkan tanah kelahiran.  Simaklah bagaimana hijrah dilakonkan dengan titian keunggulan jiwa keterusiran. Pelajarilah sikap Nabi SAW sewaktu meninggalkan Makkah untuk berhijrah. Manusia paling mulia ini sempat menoleh sejenak ke hamparan Makkah, seperti yang ditulis Martin Lings (Abu Bakr Siraj al-Din): “Dari seluruh Bumi Allah, engkaulah tempat yang paling kucintai dan dicintai Allah. Jika kaumku tidak mengusirku darimu, maka aku tidak akan meninggalkanmu”.

Sebuah ungkapan  yang sungguh-sungguh mengekspresikan kedalaman batin  Nabi Muhammad SAW pada Makkah. Untuk itulah dalam dinamika hijrah selalu ada lompatan-lompatan capaian dalam berdakwah. Hijrah terbukti membuncahkan semangat untuk selalu meraih kerinduan pada “tanah kelahiran” yang menurut ragam sosial Indonesia lazim dikenal dengan “mudik” ke kampung halaman. Hanya saja, hijrah  bukanlah sembarang “mudik”, melainkan “mudik” yang “menyirkulasi sumber daya”, sehingga  dicatat sejarah adanya “episode penaklukan”. Sebuah kuantum kemenangan paripurna yang diabadikan dalam kisah kenabian sebagai  Fatkhul Makkah. Di lembar inilah “Hari Persaudaraan” (yaumul marhamah) itu canangkan.

Hikayat yang dapat diceritakan berikutnya adalah bahwa dengan  hijrah itulah peradaban Islam berkembang menapaki seluruh Bumi Allah. Tafakurilah Bumi Allah SWT ini dan tadaburilah ayat-ayat Alquran, anda akan menemukan “hijrahnya setiap makhluk Allah SWT”. Saksikanlah bahwa setiap lembar daun saja senantiasa “berhijrah” untuk lebih maslahat. Nukilan ayat 95 dari Surat An-Nisa’ tampak memadai: “... qooluuu alam takun ardhullohi waasi’atan fa tuhaajiruu fiihaa ...” – bukankah Bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di Bumi itu”. Ayat demikian memberikan jejak insaniah agar menemukan kemuliaan dan kemenangan haruslah melalui rotasi takdir yang berhijrah.

Makna terdalam  hijrah pun dapat dirajut dengan peneguhan pandom perhitungan tahun kalender Hijriah. Dalam lingkup ini  harus dicatat bahwa tanggal 1 Muharam, 1 Hijriah yang dianggitkan sebagai awal tahun Hijriah yang Kamis kemarin  “dititahkan”,  sesungguhnya secara syamsiah berkorelasi dengan tanggal 16 Juli 622 M. Dengan demikian, perhitungan 1 Muharam bukan murni urusan saat mulai hijrah, tetapi merangkai “seperangkat ikhtiar” hijrah yang berkesejajaran di bulan September 622 M. Biarlah ranah ini menjadi areal penelitian pakar sejarah Islam. Bagiku yang utama adalah kemampuan merengkuh semangat hijrah untuk memetik pelajaran hukum yang hebat dari sosok terbaik yang bernama Muhammad SAW.

Periode hijrah merupakan pustaka kehidupan yang amat lengkap untuk dijadikan panduan. Kemampuan berdiplomasi, kehebatan mendistribusi logistik, pengamanan gelombang perpindahan massa dan penyambutan kedatangan Nabi SAW yang semarak, pastilah semua itu terjadi tidak dengan tiba-tiba. Tawaran warga Yatsrib agar Nabi Muhammad SAW pindah ke wilayahnya merupakan pertanda yang menyuguhkan pelajaran keluasan jaringan dan konektivitas  “armada” hankamnas yang dimiliki Rasulullah SAW. Di kota inilah,  semburat terang Illahiyah atas jiwa-jiwa yang tangguh diukir di gerbang kegemilangan Islam, Kota Nabi:  Al-Madinah.

Penyebutan Yatsrib menjadi Madinah,  tidaklah produk spontan tetapi luaran dari pengendapan spirit membangun Islam dengan pribadi unggul. Bukankah sejarah menorehkan cakrawala komprehensifnya bahwa sebelum di Quba’  (yang Nabi SAW pernah mengunjunginya sewaktu kecil), Rasulullah SAW bertemu sepupu Abu Bakar yang “membentuk formasi kafilah” sepulang daru Suriah, Thalhah, konglomerat tekstil yang menyalurkan pakaian putih terbaik. Kehadiran Rasulullah SAW di Madinah  sangat memukau seluruh lapisan masyarakat.  Pribadi-pribadi muslim  Muhajirin dan Ansor serta suku-suku yang berbhinneka agama di Madinah ternyata mampu membuat kesepakatan dalam kepemimpinan Rasulullah SAW secara legal serta  institusional.   Piagam Madinah lahir di tahun pertama Hijriyah (622 M). Piagam yang mengatur secara komprehensif sistem bernegara yang teramat maju dari ukuran zamannya. Sepuluh Bab dan 47 Pasal yang dirumuskan Rasulullah SAW mengatur  struktur negara sampai pada HAM dan pertahanan serta keadilan.

Kaedah yuridis yang terkandung di dalam Piagam Madinah mampu berlaku tanpa “penambahan” selama satu setengah abad lebih (622-750 M) untuk kemudian mengalami “amandemen” secara runtut dari 750, 745-1906. Piagam Madinah ini pada intinya dibuktikan berbagai ilmuwan dunia, Muslim maupun non muslim sebagai The First Written Constitution of the World, jauh lebih tinggi tujuannya dari Magna Charta (1215). Mahkamah Agung (Supreme Court) Amerika Serikat pun memberikan pengakuan jujur kepada Rasulullah SAW dengan kedudukan terhormat di bidang hukum. Muhammad SAW dikualifikasi sebagai bagian dari law giver terbesar sepanjang sejarah.  Muhammad SAW sukses sebagai pembina hukum (legal development) maupun pemimpin negara dan militer, apalagi di bidang ekonomi dan budaya. Sedemikian luasnya keberhasilan Rasulullah SAW dalam membangun peradaban manusia di dunia, maka Michael H. Hart, seorang keturunan Yahudi Amerika harus menempatkan Muhammad SAW sebagai manusia paling berpengaruh di dunia. Sejak pelajar saya telah membaca buku Seratus Tokoh Paling Berpengaruh Dalam Sejarah yang diterjemahkan oleh Mahbub Djunaidi (almarhum adalah jurnalis brilian yang pernah dimiliki Indonesia dari NU) atas karya Michael H. Hart, The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History, 1978.

Dari segebok pustaka yang ditulis oleh ilmuwan  Eropa maupun Amerika dapat ditarik suatu pesan akademik yang profesional adalah suatu keanehan apabila membincang konstitusi dan konstitusionalisme tanpa pernah menyimak dengan cermat keseluruhan konteks maupun konten Piagam Madinah. Konstitusi tertua di dunia yang dibuat Rasulullah Muhammad SAW pada tahun 1 Hijriyah atau 622 M berisi   norma hukum yang sangat memadai.  Piagam Madinah maupun kesepakatan-kesepakatan pada Hudaibiyah Treaty menjadi bukti otentik betapa mengagumkannya Rasulullah  dalam melakukan pembentukan legal jurisprudence. Di abad ke-21  ini telah diintrodusir  perlunya fit and proper test dalam lelang jabatan negara, lihatlah Rasulullah SAW di awal abad ke-7 itu sudah mengajarkan dan menerapkan hal itu. Pelajarilah kisah penunjukkan Mu’adz bin Jabal sewaktu harus menjadi pemegang jabatan negara di Yaman. 

Peringatan Tahun Baru Hijriyah adalah saat untuk menggelorakan jiwa hijrah. Move on-lah generasi muslim untuk lebih giat lagi menstudi Sirah Nabawiyah dengan harkat, martabat, dan kehormatan. Puisi ini merupakan suara jiwa yang mengimani  keutamaan Nabi Muhammad SAW dalam menapak jejak Hijrah: 

 

Hijrah menyibak hikayahnya

Tanah Makkah Madinah mengisahkannya

Muhajirin dan Anshor bergumul dalam padu

Nabi mencipta daulat umat bersatu

 

Nabi Sang Cahaya

Kau pancangkan tonggak cita zamannya

Hijrah adalah takdir sejarah yang dilintasinya

Untuk memenuhi panggilan menata akhlak yang mulia

 

Hijrahlah anak manusia

Sebagaimana Muhammad SAW berhijrah

Ia tapaki bumi yang berkah

Ia tuntun tanpa serakah

Ia petakan rute kehidupan masa depan

Ia rengkuh harapan dengan pengorbanan

 

Hijrah telah menjelmakan keluhuran

Menorehkan keberlanjutan

Menikam kemungkaran dengan kelembutan

Menggelar tikar kehormatan

 

Dalam hijrah ada kesaksian

Dalam hijrah ada persembahan

Dalam hijrah ada kepenatan

Dalam hijrah ada kenikmatan

Dalam hijrah ada karunia

Dalam hijrah ada kemenangan

Dalam hijrah lahir konstitusi pertama di dunia

Dan dalam hijrah ada romantika atas nama Tuhan

 

Maka hijrahlah dirimu

Dalam gelombang kemaslahatan-Nya

 

Hijrah membaca jejak masa

Dibalik waktu silam ada asa

Kini dan esok harus diraih lebih berkah

Meski kita belum sanggup memanggul kisahnya

Bahkan sang bima sakti larut dalam cawan waktunya

 

Hijrahlah dari kekelaman imanmu

Hijrahlah menempuh jalan  Sang Adalah

Pemilik waktu

 

Hijrahlah untuk memuncaki arasymu

Dan Muhammad SAW telah melaju

Karena esok bukan untuk ditunggu

Sebab umur bukan dalam genggammu

 

Hijrahlah

 



Komentar Anda