IBRAHIM, KEPADAMU AKU BERGURU

 

Suparto Wijoyo Esais, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga


SELAMAT Idul Adha 1438 Hijriyah. Perayaan spiritual yang menggumpalkan angan dan keimanan dalam balutan pengorbanan. Sosok teladan yang mengkristal dalam kelindan jiwa-raga adalah dunia manusia penaat hukum-hukum Allah SWT, yakni Nabi Ibrahim, berikut Nabi Ismail. Bapak-Anak yang ditakdirkan dalam kreasi agung menjadi Nabi, pemandu umat,  pemberi peringatan dan teladan. Kisah-kisah Nabi Ibrahim sejak mulanya menghadapi Raja Namrud adalah titian perjuangan meneguhkan iman dalam sandaran yang paling rasional.  Diplomasi dan ungkapan-ungkapan Sang Nabi Peradaban ini terekam sangat logik dalam menggambarkan kondisi publik yang menuhankan patung-patung. Berhala itu tidak berguna dan tidak pula memberikan mudharat, maka tidaklah tepat engkau menyembahnya.

Nalar antara pembuat patung dan produknya (patung) adalah narasi budaya yang diwerdikan ketidakpatutan bahwa hasil cipta manusia disembah sebagai Tuhan. Suatu ujaran yang memberikan pembelajaran tentang kosmologi keimanan. Konstruksi yang diberikan oleh Nabi Ibrahim kemudian adalah langkah-langkah taktis mencermati tata surya, putaran galaksi, garis edar matahari dan bumi, serta keberadaan rembulan. Nuansa pernik bima sakti diteliti dengan sangat empiris untuk selanjutnya menghasilkan konklusi normatif: ada kuasa Adi Kodrati yang memperjalankan alam semesta ini. Pencarian dan penemuan yang dilakukan Kanjeng Nabi Ibrahim sangatlah metodologis dengan cara-cara pengembangan hubungan eksperimental antara dirinya dengan apa tengah dicermati, yang seharusnya disembah.

Penemuan pada segmen teologis atas apa yang dilihat dan dipikirkan ternyata berselancar dalam gerak kehidupannya. Nabi Ibrahim senantiasa berpindah (hijrah) mulai dari Kutsa ke Kufa menuju Harran, sebelum sampai ke Syam. Usai berkelana di Palestina, meretaslah ke kawasan Mesir, untuk menapak sejarah bertetirah ke Makkah. Suatu rute muhibah yang sangat  mengesankan jauhnya dengan moda transportasi kala itu. Dalam lingkup Kutsa Rabbi maupun Kutsa Thariq sebagai Tel Ibrahim yang dikualifikasi teritorial Babylonia, Sang Nabi dilahirkan dan wafat. Rute pengembaraan untuk melahirkan generasi nabi-nabi dipancangkan dengan kokohnya. Makkah merupakan kota kesaksian yang paling inti bagi Nabi Ibrahim dalam merumuskan laku ajaran sebagai seorang yang lurus, muslim dan tidaklah termasuk orang-orang yang musyrik (Q.S. Ali Imran: 67).

Betapa hebatnya Nabi Ibrahim sebagai Nabi sekaligus orang tua yang melahirkan peradaban untuk merekonstruksi rumah ibadah (baitullah),  sampai pada tatanan Ritual Haji serta Kurban. Hubungan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mencerminkan pendidikan yang paripurna dengan tertib administratifnya. Seluruh sisik-melik pengelolaan kehidupan  diajarkan dengan pengorganisasi pemikiran yang komprehensif. Dibuatlah kodifikasi-kodifikasi aturan perikehidupan sebagai tatanan norma hidup. Semangat membukukan aturan kehidupan dalam kitab-kitab Nabi Ibrahim AS bersahutan waktu dan menginspirasi Nabi Musa, yang juga merumuskan sebuah kitab hukum sebagai panduan hidup umatnya. Formulasi-formulasi historis yang berupa Sepuluh Perintah Tuhan (Ten Commandemants) dan lingkup pewahyuan yang dialaminya di Gunung Sinai semakin memberikan bobot prosesi “positivisme hukum”. Kalau saya membaca Al-Quran Surat Al-A’la ayat 18 dan 19 saja (di samping puluhan ayat yang mengisahkan Nabi Ibrahim) telah memberikan informasi pembelajaran luar biasa mengenai pembangunan hukum dalam kerangka Illahiyah maupun kenabian Ibrahim dan Musa AS. Renungkanlah dan teruslah menyimak semisal ayat inna haazaa lafish-shuhufil-uulaa (sesungguhnya ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu), yaitu  shuhufi ibroohiima wa muusaa (kitab-kitab Ibrahim dan Musa).

Dalam lingkup seperti ini, orang hukum dapat mengarungi pemikiran-pemikiran era Nabi Ibrahim maupun Nabi Musa dalam melakukan gerakan pengkodifikasian hukum. Bukankah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa memberikan panduan berupa kitab-kitab? Suatu bentuk paling spektakuler untuk merekonstruksi pemahaman tentang hukum positif, bukan hanya sebatas pemikiran John Austin, Hans Kelsen maupun sejawatnya. Bahkan pelacakan pada positivisme di masa Hammurabi sangatlah penting, dan Kitab Suci dapat menjadi referensi utama. Khusus untuk Al-Quraan adalah kitab berfikir yang segalanya sangat logik-argumentatif bagi umat Islam. Kitab yang sangat nalar. Penelusuran jejak-jejak pemikiran sampai pada ajaran Nabi Ibrahim yang digunakan sebagai rujukan paling otoritatif dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengenai Ibadah Haji dan arti maknawi prosesi berkurban, merupakan ruang yang menyediakan kesempatan bagi siapa saja yang mau mempelajarinya.

Keluasan dan kemampuan Nabi Ibrahim memadukan antara ketaatan, pemikiran, perjanjian, cinta kasih, dan pengorbanan secara harmonis, sungguh menjadi ladang penggalian ilmu pengetahuan dalam spektrum yang mencakrawala. Hukum-hukum haji dan Idul Adha yang ditandai dengan mekanisme berkurban merupakan penciptaan tradisi yang mengagumkan. Tradisi keagamaan Nabi Ibrahim yang untuk selanjutnya diimplementasikan Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW memberikan penanda betapa urusan agama adalah urusan yang memenuhi ruang publik. Simaklah bagaimana haji diselenggarakan dan ibadah berkurban dijalankan oleh Umat Islam. Negara digiring atau berkesadaran untuk hadir melibatkan diri  memasuki lorong-lorong pemenuhan kebutuhan umat. Fenomena dan fakta yang bersentuhan dengan hal-hal yang dinormakan sejak Kanjeng Nabi Ibrahim AS itu, sejatinya sudah sangatlah gamblang bahwa tidak mungkin negara itu abai dengan urusan agama, dan agama dalam lingkup “pasar” pastilah  menarik negara untuk turut serta. Untuk itulah janganlah terlalu mudah  membincang bahwa antara agama dan negara tidaklah bersinggungan.

Selebihnya sebagai ekspresi ketertundukan dalam berguru sepanjang waktu kepada Kanjeng Nabi Ibrahim (termasuk dalam dimensi Ilmu Hukum), kuhantarkan  puisi berikut ini:

 

Ibrahim datang menjelang

Kaumnya dituntun memutus jalan panjang 

Dari penyembahan berhala yang berdiri menjulang

Patung-patung ditantang ditendang

Ibrahim menerjang dengan terang

Semua arca akhirnya hancur bergelimpang 

 

Ibrahim datang menyibak zaman

Ia tawarkan iman

Ia perkenalkan Tuhan

Sesembahan  Yang Maha Kasampurnan

Ia panggulkan pengorbanan

Ia gelarkan kekekalan pertolongan

Allah SWT adalah keabadian

 

Ibrahim datang dengan pesona sahaja

Allah tempat bermula dan berakhir penciptaan

Kita memujanya

Tiada tanding dan banding berteologia

Ia bangunkan manusia dalam kibasan Idul Adha

Ka’bah dirancang bangun sebagai pertanda takwa

Bertawaflah semesta pada posisinya

Alam pun berotasi di poros kuasa-Nya

 

Ibrahim datang mengajarkan syahadat sejati

Anak tidak boleh dicinta melebihi Illahi

Ibrahim diuji dengan sabda menyembelih si buah hati

Pedang diasah setajam nurani Sang Nabi

Ismail menyerta penuh arti

Dengan iman yang tinggi ia berjanji

 Sembelihlah aku Ayah dengan doa kepada ya Robbi

 

Oh ... Ismail kau memang anakku kata Ibrahim

Tapi kau bukan milikku

Kau adalah sabda Sang Rahim

 

Oh ... Ismail anakku seru Ibrahim

Kau memang dilahirkan dari lorong kasih

Ibu agung Siti Hajar yang mustaqim

Tapi kau bukanlah miliknya

Takdir telah mengasuhmu dengan berujar serta

Kau selalu ada dalam sela-sela jemari-Nya

 

Ibrahim Sang Ayah Ismail

Telah meneguhkan karang keimanannya

Kokohkan  pengabdian dengan pengorbanan

Kuatkan jalan peradaban

Menempuh  hidup dengan kesetiaan

Berlindunglah hanya kepada Tuhan

 

Ibrahim datang mengembala

Ia Bapak Iman orang beragama

Tiada pengorbanan sebesar dia

Seratus tahun berjuang bergumul dua pengikut setia

Ibrahim tak pernah lelah menyeru kepada Yang Esa

Lantas apa yang telah kita rasa?

 

Adakah iman di relung kalbu kian menggebu?

Adakah keagungan Idul Adha kian menggema?

Adakah teladan Ibrahim dan Ismail kian memanggil?

Adakah laku bersih Siti Hajar kian  sinar?

Adakah kesujudan mereka kian menyerta?

 

Kini ... aku mengeja berguru meneladaninya

Mereka  telah dicipta dengan daulat-Nya

Meretas jazirah sangkala

Memasuki gerbang bersamanya

 

Dengan ketinggian dan kejembaran pengajaran

Adakah ini di luar hukum perkuliahan?

Teruslah saja membaca

Kitab–kitab Ibrahim dan Musa



Komentar Anda



Berita Terkait