Ibu Kota Pindah Surabaya, Hanya Memindah Masalah

 

Vinsensius Awey Angota Komisi C DPRD Kota Surabaya


Wacana pemindahan ibukota negara Republik Indonesia (RI) kembali muncul di permukaan publik. Wacana ini kian berkembang, lantaran belum ada kepastian di mana lokasi ibukota negara yang baru. Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, sempat menjadi polemik karena disebut-sebut sebagai ibukota pengganti Jakarta. Belakangan juga muncul wacana kota Surabaya layak menjadi ibukota negara, dengan argumentasi sebagai wilayah poros maritim nasional. Benarkah Surabaya yang memiliki 350,5 kilometer persegi ini dan berpenduduk lebih dari 3 juta ini, layak menggantikan Jakarta sebagai ibukota negara?
---------------

Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk memindah ibukota negara, entah hanya pusat pemerintahannya saja ataupun pusat perdagangan. Justru kota Surabaya saat ini penuh sesak. Pertambahan penduduk di kota pahlawan ini sekitar 30.675 orang pada akhir 2016 lalu. Belum lagi persoalan kemacetan seiring bertambahnya jumlah kendaraan bermotor, tak kunjung tuntas. Padahal, sejumlah ruas jalan telah dilebarkan.

Menurut saya, kriteria ibukota negara bukan hanya dilihat dari semata-mata masalah kemaritimannya. Tapi juga harus dilihat dari banyak faktor seperti kepadatan sebuah kota. Perlu disadari bahwa kota Surabaya sudah sebegitu padat dan crowded. Ingat Surabaya adalah kota kedua metropolitan setelah Jakarta.

Jika ibu kota negara dipindahkan ke Surabaya, hal itu tidak akan menyelesaikan permasalahan. Justru akan menambah permasalahan baru untuk republik ini. Sebab, memindah ibukota dari Jakarta ke Surabaya, sama saja dengan memindah masalah.

Menurut saya, pemindah ibu kota Jakarta yang cocok ke luar Jawa. Tapi bukan ke Sumatera atau Papua, melainkan di tengah-tengah negara ini. Bisa Kalimantan, termasuk Palangkaraya yang berada di Kalimantan Tengah. Di sana masih belum padat pemukiman dan penduduknya. Karena itu, masih mudah dan memungkinkan untuk penataan kota dan fasilitas umumnya yang ada di sana.

Dari sisi geografisnya, Palangkaraya ini jauh dari bencana alam seperti problem banjir yang banyak terjadi di kota-kota besar di Indonesia. Sedang Surabaya ini tiap tahun selalu menjadi langgan banjir. Dengan pindahnya ibukota di luar Jawa, diharapkan pemerataan pembangunan bisa dilakukan. Roda perekonomian juga bisa menggeliat di sana.

Meski begitu, pemindahan ibukota tersebut tidak bisa serta merta. Butuh survei dan kajian mendalam dengan menggunakan teknologi. Konsepnya juga harus matang, karena pindah ibukota bukan berarti seperti bedol desa atau bedol kota. Mindset kita harus diubah bagaimana Indonesia ke depan bisa maju.

Yang jelas, Jakarta maupun Surabaya sudah sangat crowded. Jadi pusat pemerintahan, pusat perekonomian, pusat pendidikan, pusat hiburan, dan pusat lainnya. Nantinya beberapa kota di Indonesia harus punya cirri khas. Misalnya, Palangkaraya sebagai pusat pemerintahan, Jakarta sebagai pusat perekonomian, Jogjakarta sebagai pusat pendidikan, Surabaya sebagai pusat maritim. Dengan demikian setiap kota – kota di Indonesia punya kekhasannya sendiri, punya keramaiannya sendiri-sendiri. (alq)

 



Komentar Anda



Berita Terkait