Peniup Seruling Kelelawar

 

Suparto Wijoyo, Esais, Akademisi Fakultas Hukum, dan Koordinator Magister Sains Hukum & Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga


KARYA-KARYA Richard Dawkins memang memukau. Penulis laris-manis The God Delusion ini, beriring menghentak penikmat guritan gagasannya dengan menerbitkan The Greatest Show on Earth (2009) maupun The Magic of Reality (2011). Sejak tahun 2015, saya menikmati Sihir Realitas dengan ilustrasi mencengangkan dari Dave McKean. Memang pengkajian dan permenungan Richard Dawkins sejatinya menyihir saya selaku “pemburu” buku-buku “penyihir puitis” ini. Alam semesta adalah kreasi terindah yang menuangkan keterpukauan bagi siapa saja yang memaknai kuasa-Nya.

Saya pun meluluhkan ruhani dan mengendapkan pikir untuk membeber bagian realitas alam dalam kontemplasi yang sangat imajinatif ini, sambil berselancar pikir melintasi batas-batas yang diformat tertentu sebagai “non-akademis”.  Dalam lingkup ini saya teringat ungkapan Jawa: Janmo Tan Keno Kiniro – kejutan manusia acapkali tidak terduga dan membersit pula Janmo Tan Keno Nyalahke Pangeran, yaitu menempuh takdir tanpa mengeluhkan keadaan. Falsafah ini sepertinya berkelindan dalam kisah diri spesies unik sang kelelawar.

Tuan-tuan dan puan-puan, perkenalkan, aku kelelawar  berjenis mamalia terbang dengan 900 spesies yang mampu membangun koloni. Aku lahir  di lereng Gunung Tambora pada tarikh letusan 1815. Usia 200 tahun lebih merupakan beban hidupku dalam sandera derita waktu. Bukankah umur  kelelawar paling panjang hanya 30 tahun, sementara aku melampaui itu semua. Dentuman Tambora menjadikan kami semburat ke Gunung Agung, bahkan  Kepulauan Riau, sebelum akhirnya menetap bersama wanita tua di celah Gunung Padang, Cianjur.

Kepindahan ke Gunung Padang  kubayar dengan ingatan yang sangat traumatik. 1883 aku menyaksikan  meletusnya Gunung Krakatau yang menyempurnakan penderitaan bentang bumi. Letusan Krakatau berkekuatan 10.000 kali lebih dahsyat dari ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Sebelumnya, raungan Tambora berdampak serius ke Eropa,  kemiskinan menestapakan penduduknya. Krisis pangan melanda dunia karena perubahan iklim yang mendadak sontak. Aku menyaksikan itu.

Menyaksikan penderitaan yang bergulung-gulung di Tanah Air tuan-tuan dan puan-puan. Kolonialisme yang merendahkan martabat telah mengobarkan pergerakan Perang Jawa, pemberontakan Pangeran Diponegoro 1825-1830. Inilah pergolakan massal yang membuncahkan harapan terkabulnya doa sejarah untuk berteriak merdeka. Tegalrejo dan Goa Selarong menjadi habitat sebagian anak-cucuku yang turut merasakan degub jihad Sang Pangeran, termasuk takdir pengkhianatan Belanda yang mengantarnya  memanen maut  pada 8 Januari 1855 di Makassar.

Maklumilah aku tuan-tuan dan puan-puan yang harus berkisah memorabilia itu. Sekadar untuk dipahami bahwa hidupku  sungguh  merekam jejak peradabanmu. Dari setiap lembar  pergantian rezim negaramu  aku bersaksi. Betapa lama waktu yang kuarungi dalam rentang hayatku. Aku mengikuti jelajah junjunganku dari Gunung Padang menuju Batu Tulis setiap akhir pekan dengan mengepak sayap dalam gelap. Di  situs inilah aku melihat junjunganku  menari  gemulai dalam iringan gamelan Sunda. Gendangnya berbunyi menikam hati menghentak jiwa mengantar gelora. Hatiku terpikat kepadanya sejak dia kanak-kanak. Penari putri sekaligus peniup seruling, tapi dia lebih lihai memainkan seruling. Dia pun dijuluki Putri Seruling.

Seruling itu bukan sembarang seruling. Ini  seruling  warisan yang setiap tiupannya  membawa pesan keramat sebagai panggilan seluruh generasi kelelawar. Memang kelelawar  itu mengeluarkan  bunyi-bunyian dari hidung  yang gemanya memantulkan ajakan.  Takdir mengukir pakem gema nada seruling yang ternyata  berbunyi  persis dengan suara sengau kelelawar, sehingga  dalam setarikan nafas, kaumku selalu   berkumpul merindu panggilan itu sejurus seruling yang ditiup merdu.

Putri Seruling  kini sudah tua tetapi dia tetap bertengger menikmati harta pusaka berupa  Saung Peniup Seruling. Saung yang megah dengan warna menyala mengobarkan gairah. Di tengah gelapnya malam di Batu Tulis, aku menatap dan menghampirinya, mengingat hanya aku makhluk yang tahu pekatnya malam sebagai  benderangnya kehidupan. Putri Seruling tersenyum mendengar sapaku dengan kepak sayap yang lembut selembut tangannya yang menggapaiku. Malam ini dia menyendiri memainkan seruling  dengan nada yang tidak beraturan, kadang mendayu, kadang menderu, kadang merayu. Suara hatinya tertumpahkan penuh gemuruh yang mengingatkanku tentang gelombang ledakan Tambora maupun Krakatau kala itu. Subuh menjemput sendu, karena langit dilukis mendung yang gelap berarak menyekat. Takut aku dibuatnya. Adakah Tuhan sedang mengembarakan awan di jelang fajar menyapa?

Putri Seruling tertunduk khusuk di Batu Tulis yang diukir leluhur tuan-tuan dan puan-puan tahun 1533. Di sinilah dia berikrar tetap datang selama hayatnya bersamaku sebagai  pengiring amanat yang tidak pernah diketahui siapapun.  Aku adalah sosok kepercayaannya  yang biasa menerangkan masa lalu dengan sempurna. Tetapi sejujurnya aku  tidak mau menjelaskan tentang masa depan kepadanya, karena dia memang tidak mempercayainya, akhirat “diungkap penuh nyinyir”. Ini bukan soal ramalan, melainkan suatu ajaran yang diabaikan dalam gejolak iman yang rapuh tanpa pernah dituang Majelis Taklim para ulama yang mengajarkan di surau-surau peribadatan.

Gelombang suara seruling itu telah menembus jiwa dan mengikat ruhku, penuh hikmat mencumbu kehidupan. Suara serulingnya memijat penat dan meneguhkan raga serta menggapai cinta. Seruling ini hidupnya Putri Seruling. Baginya seruling itu adalah panggung, jalan panjang, areal permainan, atau gelanggang pertarungan. Seruling merupakan pandom kekuasaan  yang mutlak digenggamnya. Siapapun tidak boleh menjamah, apalagi meniupnya, karena tiupan seruling  akan  menimbulkan kerumunan para kelelawar yang mampu menembus gelapnya cakrawala.

Aku mempunyai firasat, sepertinya jelang pagi ini adalah saat pembebasan dari kontrak persahabatan kaumku dengannya. Dia begitu bahagia dengan serulingnya sementara aku memendam penantian diam-diam. Kalau Putri Seruling salah mongso meniupnya, ajal adalah pembayaran yang aku harus tebuskan. Tahukah tuan-tuan dan puan-puan, sesungguhnya aku tak pernah lelap mengujarkan mantra agar Putri Seruling salah mongso meniupnya, demi pembebasanku  dari perhelatan tawur  antar kelelawar. 

Di malam yang beranjak fajar ini, Putri Seruling tampak gagap dalam memahami situasi perkelelawaran. Aku adalah kelelawar paling purba di bangsa tuan-tuan dan puan-puan. Umur panjangku mencatat jejak penderitaanmu sekaligus gemuruh bahagiamu.  Lihatlah  simpuh Putri Seruling  yang sedang menimang  serulingnya. Di saat lingsir wengi ini kuberanikan diri  bertanya kepadanya: mengapa Putri Seruling mendesah dan cemas menggelayut serta?  Kau, katanya, kau tahu suara hatiku karena tatapan matamu memang dibuat dari  adonan yang sama dengan jasadku. Seruling inipun diukir dengan gambar dirimu yang bertahta di ubun-ubunku. Inilah yang diwariskan oleh moyangku, wahai kelelawar.

Ketahuilah, hanya dalam kegelapan kita berdua menemukan pintu rahasia yang terang. Di puncak malam kita keluar bersama, karena ini adalah jalan hidup kita. Dalam gelap kita menemukan rute petualangan. Iman kita ternyata tidak sama dengan ajaran kitab suci manapun yang mengabarkan bahwa malam adalah saat beristirahat, sementara siang adalah waktu berkelana menemukan kuasa sejati. Lantas kau mengingkari iman bersama ini? Okelah ... Yang penting kita selalu bersinggah dalam kuasa. Itu pekabaran yang  berlaku bagi kita. Kita sejatinya adalah dua karya alam yang mampu menangkap terangnya malam dan  gelapnya  siang. Inilah kemenangan kita. Lantas perlukah kita memperhitungkan adanya kehidupan yang kemudian?

Seruling ini jimat yang kuyakini karena memberiku kehormatan. Kalau kutiup dengan memainkan satu lobangnya,  siapapun akan mencari bunyi mistis   yang tersembunyi. Tiupan dengan dua lubang, menghantarkan siapapun yang mau  menjadi kuda tunggangan. Tiupan  tiga lubang, kau tahu apa yang akan terjadi, pesta kemenangan harus diselenggarakan. Sementara tiupan  dengan menarikan jemari di  lubang keempat sampai keenam, berarti panggilan agar seluruh pasukan kelelawar datang  menebarkan ketakutan kepada siapa saja yang tidak mematuhiku.  Begitulah sabda sakti yang terekam dalam seruling yang diceritakan. 

Tuan-tuan dan puan-puan, tengoklah ke langit situs Batu Tulis, mendung bergulung dan rembulan memacu edarnya membukakan kelambu untuk menutup mentari pagi hari yang semestinya kini berancang menyapa diri. Ini penanda gerhana sedang siap-siap memanggungkan gulita total, sementara Putri Seruling sedang terlelap tidur  dalam pagi yang gelap di titik gerhana. Ia kian renta dan rabun membaca cuaca, parade awan pekat dan bumi yang menyorong mengetuk pintu matahari, menjadikan sang surya  menyodorkan dalam hitungan detik akan menyemburatkan cahaya menyingkap gelap dalam sekejap. Sebelum itu terjadi, aku berbisik: Wanita Tua, tiuplah seruling di gelapnya malam ini. Putri Seruling terperanjat dengan bisikanku sebagai Wanita Tua. Sebutan  yang menghina martabatnya. Putri Seruling  mengacungkan kesalnya tanpa kendali dengan berteriak: Atas kelancanganmu, lihatlah apa yang terjadi pada kaummu akibat tiupan  seruling ini. Aku terpana menatap angkasa yang bergumam dalam gaung yang mendengung akibat berkumpulnya pasukan kelelawar bersamaan dengan hadirnya  kuda tunggangan yang sedang meringkik memohon pertolongan.

Aku langsung sedekap erat menyongsong peristiwa perpisahan itu dengan kesadaran penuh bahwa ini hanyalah gerhana yang sebentar lagi semburat dan sinar mentari tengah hari yang terik akan menerpa. Tatkala seruling dibunyikan maka berjuta-juta kelelawar memang langsung membentuk formasi siap menjalankan perintah. Menghadang siapa saja yang hendak berdakwa di seluruh pelosok negeri tuan-tuan dan puan-puan. Naas tak bisa ditolak, belum selesai seruling ditiup dalam satu tangga lagu, angin berlari kencang membuyarkan pekatnya mendung seiring bulan dan bumi yang menepi dengan sopan memberi lintasan cahaya mentari yang langsung panas menyengat. Secepat kilat itulah seluruh kelelawar  rabun menatap cahaya dan mati dalam rengkuhan topan sebelum menerima titah. Tiupan  salah mongso yang terus rumongso benar itulah, yang ratusan tahun disiulkan di bentara zamannya. Tiupan yang menjadi penanda  yang   menyisakan rahasia bagi kelelawar, karena tidak semua “kalam” sanggup mewartakan dunianya kepada Putri Seruling yang berlagak paling ilmiah.



Komentar Anda