Garam Prisma, Solusi Atasi Kelangkaan Garam Nasional

 

Aripin, petani garam asal Lamongan ini, tengah memanen garam prisma dengan memanfaatkan media plastik geomembrane untuk melindungi dari hujan dan mampu menangkap udara panas secara maksimal.


SURABAYA PAGI, Lamongan - Pemerintah mulai hari ini Sabtu (12/8/2017), resmi mendatangkan garam dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan garam di tanah air, karena alibi pemerintah produktivitas garam tahun ini menurun drastis, seiring cuaca tidak mendukung.

Namun cuaca/musim tidak selamanya menjadi momok bagi petani garam di Lamongan. Buktinya dalam musim apapun baik hujan maupun musim kemarau, petani garam Lamongan khususnya Kec Brondong tetap bisa produksi, bahkan produksinya bisa meningkat 3-4 kali lipat  dalam setahun dengan kualitas yang jauh lebih bersih.

Seperti yang dilakukan oleh Aripin Jami'an petani garam asal Desa Sedayu Lawas Kec Brondong Lamongan ini sudah sejak 2016 lalu sudah memproduksi garam Prisma, bersama 28 petani garam di wilayahnya yang

sudah memanfaatkan iklim laut dalam proses evaporasi garam. Mereka melakukan produksi garam prisma dengan menggandeng PT. Kencana Tiara Gemilang Surabaya, perusahaan manufaktur plastik geomembrane agriculture filme.

Dr. Ir Guntur, Wakil dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang saat berada di lahan garam milik Aripin, Sabtu (12/8/2017) menyebutkan, sebuah inovasi dan gebrakan perlu disampaikan ke petani garam, teryata meninggalkan cara konvensional lebih menguntungkan, seperti dengan cara memanfaatkan iklim laut dalam proses evaporasi garam.

Dikatakan oleh Guntur, sistem prisma garam adalah modifikasi dari sistem greenhouse untuk kepentingan evaporasi air laut menjadi kristal garam dengan memanfaatkan angin dan humiditas udara. 

Material prisma garam, kata Guntur, menggunakan plastik geomembrane yang khusus di desain untuk kepentingan evaporasi garam yang mampu menangkap panas udara secara maksimal untuk mempercepat proses evaporasi. "Sistem prisma garam juga mampu melindungi air tua dari resiko curah hujan yang tinggi, sehingga dalam kondisi cuaca apapun garam bisa diproduksi karena lahan petani garam terlindungi dengan plastik geomembrane," terangnya

Lebih jauh, Guntur mengungkapkan, sistem prisma garam juga mampu mengeliminasi kotoran dan debu yang menempel di kristal garam sehingga garam lebih terjamin kebersihannya." Sistem prisma garam juga mampu menangkap uap air yang bisa dimanfaatkan untuk air minum atau agriculture di daerah kering," katanya dengan meyakinkan kalau hasil produksi garam dengan menggunakan sistem prisma garam sangat bersih dengan rasa gurih alami yang tidak bisa kita dapatkan dari garam yang melalui proses cuci dan giling biasa.

Sementara, General manager PT. Kencana Tiara Gemilang, Eliana Widijansih mengungkapkan, perusahaannya adalah manufaktur plastik geomembrane dan agricultural dengan skope pemasaran sampai ke mancanegara. Percontohan ini, menurut Eliana,  diharapkan bisa menjadikan Indonesia bisa swasembada garam, bahkan bisa export garam. "Kondisi ini tentu bukan impian Kosong semata, namun untuk merealisasikannya perlu

kerjasama dan dukungan dari pemerintah, institusi pendidikan, petani garam dan pelaku ekonomi itu sendiri," tuturnya.

Eliana mengaku, KTG selalu berupaya menjawab kebutuhan pemakai plastik secara positif, sehingga kesan plastik adalah musuh alam bisa berubah menjadi plastik adalah sahabat alam. "Menggunakan metode prisma garam ini, bisa dilakukan sepanjang waktu tanpa harus bergantung pada musim," ungkapnya.jir



Komentar Anda