CEN LIANG BERULAH

Utus Tiga Lawyer untuk Lobi Kajari Surabaya. Alhamdulillah, Kajari Didik Farkhan Alisyahdi, tidak Goyah oleh Rayuan Advokat yang Dikenal Pelobi Pejabat. Cen Liang juga Dicekal Ditjen Imigrasi

 

Henry J Gunawan alias Cen Liang


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Sehari setelah penahanan, Henry J Gunawan alias Cen Liang mulai berulah. Cen Liang yang dijebloskan ke tahanan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya atas dugaan  penipuan dan penggelapan laporan notaris Caroline C Kalampung SH, disinyalir mulai menyusun strategi agar dirinya tidak menghuni kamar tahanan kriminal  di Rutan Medaeng. Ulah Cen Liang, dimulai sejak di kantor Kejari Surabaya. Cen Liang, menolak tanda tangan surat penahanan. Kemudian menuding penahanannya dianggap konspirasi. Padahal pasal 372 dan 378 KUHP, pasal yang ditahan. Ulah berikutnya, saat tiba di Rutan Medaeng, Kamis sore, Cen Liang, berpura-pura sakit dengan berharap dibantarkan. Puncaknya Jumat (11/8/2017) kemarin, bos kondonium Rich Prada Bali ini malah mengirim tiga advokat, Ahmad Riyadh, Rakhmat Santoso (adik dari mantan Sekretaris MA Nurhadi) dan HK Kosasih, ke Kejari Surabaya. Ketiganya diutus untuk melobi agar dapat melakukan penangguhan penahanan Cen Liang. Kajari tak goyah. Apalagi, sebelum menjebloskan ke Medaeng, Cen Liang sudah dilakukan Pencegahan atau pencekalan ke luar negeri oleh Dirjen Imigrasi atas permintaan Bareskrim Mabes Polri. Cekal Cen Liang ini juga sudah diperpanjang.

 

Laporan: Budi Mulyono, Firman Komeng, Narendra Bakrie, Alqomar; Editor: Raditya M.K.

 

Dari informasi yang di dapat Surabaya Pagi, sampai semalam, sebelum ditahan oleh Kejaksaan Negeri Surabaya, oleh Dirjen Imigrasi Kemenkumham RI, telah dikeluarkan surat pencekalan / pencegahan ke luar negeri. Surat pencekalan pertama dikeluarkan tanggal 24 Februari 2017, selama enam bulan. Bahkan Dirjen Imigrasi sudah memperpanjang surat pencekalan itu untuk kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh Henry Gunawan atas laporan pedagang Pasar Turi yang kini diambil alih oleh Bareskrim Mabes Polri.

 

Dari surat yang diterima Surabaya Pagi, tertulis nama Henry Jocosity Gunawan, kelahiran Jember, tanggal 7 Desember 1954, alamat tinggalnya di Adena Golf Family I Blok W 71-73 RT004 RW 002 Kelurahan Prada Kalikendal, Kecamatan Dukuh Pakis, Surabaya

 

Surat pencegahan keluar negeri itu, dikeluarkan dan ditanda tangani oleh Kepala Bareskrim Mabes Polri Komjen Ardono Sukmanto dengan Nomor B/1034/II/2017/BARESKRIM.

 

Namun, sayangnya kasus laporan pedagang Pasar Turi masih belum secepat laporan notaris Caroline yang sudah dilakukan P21 oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya. Bahkan, atas laporan notaris Caroline itulah, Henry kini sudah ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas I Medaeng Surabaya di Sidoarjo.

 

"Pencekalan itu kan memang sudah biasa dilakukan penyidik jika sudah menetapkan tersangka. Dan saya sudah mendengar soal (pencekalan) terhadap klien saya itu,” tandas Lilik Djariyah, SH, kuasa hukum Cen Liang.

 

Lilik menambahkan, penahanan Henry kemarin, menurutnya seperti sudah direncanakan dan ada sebuah settingan untuk menjatuhkan kliennya. “Seperti yang dikatakan klien saya. Ini ada konspirasi,” tambahnya.

 

Tegakkan Hukum

Sedangkan, disebut adanya settingan dan atau agenda untuk membantarkan / menangguhkan Henry dari Medaeng, dibantah oleh Kajari Surabaya Didik Farkhan Alisyahdi. Didik menekankan, tidak ada upaya settingan atau membantarkan Henry Gunawan yang kini sudah ditahan di Medaeng.

 

“Sekali lagi, tidak ada upaya membantar ataupun menangguhkan. Saya tegas untuk menegakkan hukum. Apalagi kewenangan penahanan masih ada di kejaksaan,” jelas Didik Farkhan, Kajari Surbaya kepada Surabaya Pagi, Jumat kemarin.

 

Sementara, Kepala Rutan Kelas I Medaeng, Bambang Haryanto, menegaskan bahwa dirinya tidak ada rencana setting untuk mengistimewakan Henry Gunawan. Seperti yang dihembuskan isu sebagian masyarakat paska Cen Liang ditahan Kamis sore kemarin.

 

"Saya bukan tukang setting mas. Saya juga tidak mau diatur (Henry). Jadi tidak ada hal semacam itu di rutan ini, jadi tidak benar ada informasi tersebut," tegas Bambang, Jum'at (11/8) siang.

 

Bambang melanjutkan, saat ini Henry tersangka kasus tipu gelap yang ditangani oleh Satreskrim Polrestabes Surabaya era AKBP Shinto Silitonga ini, tengah berada di sel tahanan blok Karantina. Ia menjamin jika tidak ada perlakuan Istimewa terhadap tahanan. "Tidak ada perlakuan istimewa terhadap tahanan. Semua sama, saya jamin semuanya berjalan sesuai SOP dan tidak ada yang istimewa," tambah Bambang.

 

Mantan Kalapas Kelas II B Mojokerto itu juga menyampaikan jika tahanan yang terpaksa keluar rutan lantaran sakit harus melalui tahap dan prosedur. "Semua tahanan yg sakit kita periksa dan obati, Bila Poliklinik dan dokter Rutan tidak sanggup br kirim ke Rumah Sakit, itu berlaku untuk semua tahanan, dan tidak ada khusus-khususan," pungkasnya.

 

3 Advokat Datangi Kajari

Sedangkan, Jumat (11/8/2017) siang, dari pantauan Surabaya Pagi, ada tiga advokat yang tiba-tiba menghadap Didik Farkhan Alisyahdi, Kajari Surabaya di kantornya Jalan Sukomanunggal. Untuk urusan apa ketiga advokat tersebut menghadap Kajari? Mungkinkah terkait kasus penipuan dan penggelapan yang menjerat taipan ternama di Surabaya Henry J Gunawan?

 

Ketiga advokat tersebut diantaranya, Ahmad Riyadh, Rakhmat Santoso, dan HK Kosasih. Ketiga advokat kondang ini datang secara bersamaan di kantor Kejari Surabaya di Jalan Raya Sukomanunggal Jaya sekitar pukul 10.30 WIB.

 

Kepada wartawan ketiga advokat tersebut enggan membeberkan perihal apa mereka bertemu Kajari Surabaya. “Nggak soal itu (kasus Henry J Gunawan),” kata Rakhmat kepada wartawan saat tiba di kantor Kejari Surabaya.

 

Hal yang sama juga disampaikan Riyadh. Advokat yang berkantor di Jalan Dinoyo, Surabaya ini juga enggan menjelaskan soal pertemuaannya dengan Kajari Surabaya. HK Kosasih juga bungkam saat ditanya perihal kedatangannya dengan bos PT Gala Bumi Perkasa.

 

Saat Henry menjalani pelimpahan tahap dua pada Kamis (10/08/2017), Riyadh juga terlihat di kantor Kejari Surabaya, bersama kuasa hukum Henry lainnya Lilik Djariyah. Meskipun terlihat mendampingi Henry, namun Riyadh mengaku belum menjadi kuasa hukum Henry.

 

“Ojok wawancara aq rek, durung tanda tangan kuasa (jangan wawancara saya, belum tanda tangan kuasa),” kata Riyadh ditanya wartawan soal kasus Henry saat itu.

 

Dinilai Tebang Pilih

Sementara, penahanan Cen Liang disorot oleh Singky Soewadji, pria yang pernah ditahan oleh Kejaksaan atas tuduhan pencemaran nama baik oleh para penjarah 420 Satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS).

 

Singky melihat adanya perbedaan saat dirinya pertama kali ditahan oleh Kejari Surabaya. Menurut Singky, saat dilakukan penahanan dulu, Singky langsung di borgol dan memakai rompi oranye. “Saat itu saya langsung diborgol dan pakai rompi. Pegang HP pun gak boleh. Ini terlihat adanya perlakukan berbeda antara orang kaya dan orang biasa seperti saya,” jelas Singky, saat ditemui Surabaya Pagi, di salah satu depot dekat Balai Kota Surabaya.

 

Singky juga menceritakan dirinya juga menjalani 18 hari dalam tahanan di Rutan Medaeng, berkumpul dalam satu ruangan dengan penghuni lebih dari 600 tahanan.  "Dan selama saya menuju persidangan dan kembali ke Medaeng tangan saya selalu di borgol, sementara Henry, saat ditahan ke Medaeng tanpa rompi tahanan dan tangannya tidak di borgol. Tapi Tuhan Tidak Tidur (Gusti Mboten Sare), saya divonis Bebas murni," ungkap Singky.  n



Komentar Anda