Cen Liang, Uang, Rumah Mewah dan Reputasi

Menguak Kasus Tersangka Henry J Gunawan, Tersangka Penipuan Pedagang Pasarturi Baru (2)

 

H. Tatang Istiawan


Pembaca yang Budiman,

Penahanan pengusaha kaya, Henry J Gunawan alias Cen Liang, menarik untuk bahan refleksi para pencari keadilan yang selama ini pesimistis terhadap penegakan hukum di Indonesia.

 

Warga Surabaya, terutama etnis Tionghoa, tahu reputasi Cen Liang. Selain sebagai investor Pasarturi, Cen Liang, juga kelola beberapa perusahaan property. Termasuk bisnis hotel dan kondonium di Pecatu Bali.

 

Bisnisnya semua bermasalah. Terbesar kedua setelah kasus Pasarturi adalah usaha kondonium Rich Prada. Dua usaha ini sama-sama menggunakan badan hukum yang sama PT Gala Bumi Perkasa. Bedanya, konflik pembangunan Pasarturi, Cen Liang berhadapan dengan pedagang korban kebakaran, Pemkot Surabaya dan kongsi bisnis yang sama-sama pengusaha property. Sedangkan kisruh bisnis di Rich Prada, Cen Liang, bertengkar dengan sesama pengusaha dan pedagang keturunan Tionghoa. Oleh karenanya, sampai kini, sengketa yang mencuat ke publik, baru kasus Pasarturi. Sementara sengketa di Rich Prada Bali, masih dalam pembahasan di kelompok kecil. Selain ada yang memunculkan dalam WA Group, korban Rich Prada.

 

Berdasarkan peristiwa sengketa Pasarturi, Rich Prada dan penipuan terhadap notaris Carolina, kata pengusaha etnis Tionghoa yang dekat dengan Tahir ( bos Mayapada Grup), reputasi Cen Liang, sudah kurang baik di kalangan pengusaha etnis Tionghoa. "Setahu saya ada dua pengusaha Surabaya yang reputasinya sudah kurang baik. Selain Cen Liang ada pengusaha berinisial A, " kata pengusaha yang kini mencoba masuk di organisasi politik.

 

Advokat Gianto, yang pensiunan BPN Kanwil Jatim juga mengetahui track record Cen Liang urusan tanah, kurang baik. Gianto, dilapori Sa'i, petani asal Tambak Sawah Sidoarjo, bila Cen Liang, raja tega untuk urusan tanah dengan petani. Makanya, elemen masyarakat yang bersimpati pada Sa'i, termasuk dalam kelompok pengajian dari Bangil. "Saya dampingi Pak Sa'i, secara prodeo, menilai cara penyelesaian Cen Liang keterlaluan. Antara lain pernah menggunakan pejabat militer di Jatim yang sempat menjadi Gubernur," kata Advokat bersahaja.

 

Pagi kemarin, saya dihubungi seorang dosen. Alumni Untag ini mendengar untuk urusan tanah, Henry J Gunawan, juga tega menangani pelepasan TKD (Tanah Kas Desa). Ironisnya, hampir mayoritas TKD dikuasai Henry J.Gunawan yang dikenal juga sebagai pemilik Hotel Istana Permata Inti di jl.Juanda, pada tahun 1997.  Kasus ini, sampai sekarang masih gak jelas. Malahan sekarang kepala desa dan Sekdes desa sudah meninggal dunia.

 

 

Pembaca yang Budiman,

Kini dengan ditahannya Cen Liang di Rutan Medaeng, siapa yang menjadi pengelola usahanya. Hasil dari serapan saya  yang beberapa kali mengikuti meeting-meeting di kantor Cen Liang, Jl. Putat Gede Surabaya, tipis akan ada perubahan gaya manajemen di PT Gala Bumi Perkasa, sebab Cen Liang, menampakkan gaya manajemen one man show.

 

Bila tidak segera menunjuk pengganti yang mengerti gaya Cen Liang, pasca penahanan kali ini, lebih menjurus ke status quo. Hasil penelusuran saya, selain kasus penipuan sertifikat senilai Rp 10 miliar, Cen Liang punya utang di beberapa kenalannya. Selain kewajiban membayar uang keuntungan penjualan stan-stan Pasarturi dengan kongsi-kongsinya seperti Totok Lusida, Turino Junaedy dan Aswi.

 

Ini belum teman bisnisnya yang dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri seperti Teguh Kinarto, Aswi dan notaris Wahyudi.

 

Benar pendapat teman Thahir diatas, reputasi Cen Liang tidak rusak hanya karena penahanan oleh Kejari Surabaya sekarang ini.

 

Pertanyaan sekarang, Cen Liang, kehilangan reputasi, karena hilang muka, nama besar tercoreng atau ia bakal menambah deretan tidak dipercaya etnis Tionghoa di Surabaya, yang antara lain memiliki persatuan bernama Yayasan Bhakti Persatuan Pembangunan. Bisa juga ia kehilangan kepercayaan – pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Bahasa psikologinya, menjadi paranoid atau blind-dependency. Secara akal sehat, kelas pengusaha seperti Cen Liang, dapat menyeret ke perasaan “potent” atau hilangnya rasa percaya diri. Bukan tidak mungkin Cen Liang, kehilangan jatidiri. Maklum, meski dikalangan pengusaha etnis tionghoa, Cen Liang, diasingkan dari pergaulan, dalam acara-acara yang melibatkan Konsulat asing, terutama RRC dan Taiwan, Cen Liang, tak lepas datang dengan pakaian perlentenya.

 

 

Pembaca yang Budiman,

Dengan ditahan hanya gara-gara kasus uang Rp 10 miliar, sementara rumahnya yang di Graha Family ditaksir diatas Rp 200 miliar, Cen Liang, bisa dicibir mengapa sampai seberani itu? Apalagi Cen Liang dikenal tuan tanah di Surabaya dan Sidoarjo. Termasuk tanah laut di Sedati ( yang bila siang ada bentuk tanahnya, tetapi bila malam ditenggelamkan oleh air laut). Konon, Cen Liang juga punya tanah di Jl. HR Muhammad Surabaya, seluas 4 hektar.

 

Dengan kondisi yang demikian ini, apakah bagi Cen Liang berlaku uang bukan segala galanya dalam hidup ini dan uang juga bukan nomor satu yang terpenting. Atau sebaliknya, uang adalah diatas segala-galanya, meski rela dijauhi teman dan dipenjarakan oleh Kejari Surabaya.

 

Akal sehat saya bertanya, adakah sepotong kebenaran didalam kalimat ini bagi pengusaha sekelas Cen Liang.

 

Atau mungkin setelah menghuni Rutan Medaeng, Cen Liang, bisa kontemplasi. Antara lain, bisa jadi, one day, Cen Liang, menganggap dan berkeyakinan bahwa memiliki uang belum tentu membahagiakan diri dan keluarganya.

 

bahkan bisa jadi, kelak ia berpikir, memiliki uang bukan juga berarti semua masalah bisa diselesaikan serta merta.

 

Malahan berpandang dengan uang , ia hanya dapat membeli kesenangan, tapi bukan kebahagiaan.

 

Mengingat, kaum terdidik yang beriman, memiliki keyakinan bahwa dalam kondisi tertentu, uang tidak lagi berarti apa apa. Uang bisa menyebabkan perpecahan dalam keluarga. Apalagi hampir semua pengusaha  etnis Tionghoa tahu bahwa sebelum Cen Liang dijebloskan ke tahanan, David, anak laki-laki satu-satunya dari istri pertama yang telah diceraikan ( kini Cen Liang menikah lagi dengan seorang wanita cantik yang usianya tak berbeda dengan David), sempat ditahan urusan pajak. Tapi David kemudian dikeluarkan setelah Cen Liang, menebus dengan membayar kewajiban pajak yang terutang.

 

Dari peristiwa yang dialami Cen Liang ini, akal sehat saya mengatakan bahwa menjadi orang kaya yang punya banyak uang belum tentu bisa membuatmu bahagia. Artinya, Cen Liang, bisa membeli rumah mewah dengan barang-barang  impor yang disukai . Tapi siapa yang masih percaya bahwa uang mampu membeli segalanya?

 

Saya termasuk wartawan yang percaya di dunia ini ada hal-hal yang sangat berharga dan tak ternilai harganya yaitu reputasi, kepercayaan dan teman banyak. Reputasi, kepercayaan dan teman banyak tak bisa dibeli dengan berapa banyak uang dan harta. Subhanalloh. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung)

 



Komentar Anda