CEN LIANG TERIAK-TERIAK

Cen Liang sudah Berulah Beberapa Jam saat Menghuni Rutan Medaeng. Investor Pasar Turi Baru ini Disiapkan Ambulance

 

SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Butuh waktu hampir tiga tahun, setelah pedagang Pasar Turi melaporkan Henry Jocosity Gunawan alias Cen Liang, bos PT Gala Bumi Perkasa (GBP) atas dugaan penipuan dan penggelapan ke Polda Jatim. Namun pada Kamis (10/8/2017) kemarin, Cen Liang akhirnya bisa ditahan dan dijebloskan ke Rumah Tahanan (Rutan) Kelas 1 Medaeng Surabaya, di Sidoarjo. Bukan karena perkara laporan pedagang Pasar Turi di Polda, yang bisa Cen Liang masuk di tahanan. Tetapi, laporan seorang notaris Caroline C Kalampung SH, asal Jalan Kapuas Surabaya di Polrestabes Surabaya-lah, yang membuat Cen Liang bisa kembali merasakan tahanan. Setelah tahun 1978 lalu, Cen Liang ditahan karena penyelundupan obat jenis Daftar G.

 

Laporan: Budi Mulyono, Ibnu F Wibowo, Al Qomar, Editor: Raditya M.K.

 

Hingga Kamis (10/8/2017) malam tadi, Henry sudah merasakan ruang tahanan. Dari pantauan wartawan Surabaya Pagi, tak terlihat jelas, kunjungan keluarga Henry Gunawan. Namun, dari beberapa sumber yang digali di lapangan, salah satu petugas jaga mengatakan Kamis sore, ada seorang kuasa hukum dan beberapa keluarga yang sudah hadir.

“Tadi sore (kemarin, red) ada kuasa hukum, perempuan udah tua kesini dan ada beberapa keluarganya. Cuma sekarang sudah kembali,” jawab salah satu petugas saat Surabaya Pagi melakukan undercover, Kamis malam, pukul 20:30 WIB.

Namun, Surabaya Pagi juga mendapat informasi di lingkungan Rutan, bahwa ada skenario Cen Liang dibuat seolah-olah sakit, agar bisa dilakukan penangguhan penahanan atas perintah dokter. “Tadi sore (kemarin, red), dia (Henri) udah teriak-teriak aja di rutan. Malah disana, dr Arifin (dokter Rutan, red) sudah menyiapkan mobil Ambulance, yang dibawa (sopir) dr Arifin sendiri. Biasanya gak pernah seperti itu,” ujar salah satu sumber yang yang mengantarkan tersangka ke rutan Medaeng, semalam. Surabaya Pagi semalam praktis tidak bisa menemui atau mencoba masuk di dalam rutan untuk menemui Henry Gunawan.

Sel Blok Karantina

Terpisah, Surabaya Pagi saat konfirmasi ke Kepala Rutan Kelas I Surabaya Medaeng, Bambang Haryanto menyebut Henry saat ini masih ditempatkan di blok karantina. Hal tersebut sendiri sesuai SOP yang berlaku kepada tahanan yang baru menjalani masa tahanan.  "Kurang lebih yang bersangkutan (Henry Gunawan) akan berada di Blok Karantina selama 6 hari. Idealnya masa waktunya segitu. Tetapi, apabila jumlah intensitas tahanan baru yang masuk tinggi, bisa kurang dari itu. Agar Blok Karantina tidak terlalu padat," kata Bambang kepada Surabaya Pagi, semalam.

Bambang menjelaskan bahwa, dengan kondisi tersebut, maka secara otomatis saat ini hanya pihak keluarga dan kuasa hukum saja yang bisa menjenguk Cen Liang. Hanya saja, karena proses administrasi bos Pasar Turi Baru yang baru selesai pada saat menjelang maghrib sehingga tidak akan ada yang bisa menjenguk dirinya. "Karena batasan jam berkunjung hanya sampai pukul 12.00 dan kuasa hukum sampai 15.00," tambah Bambang.

Karutan yang menjabat sejak awal tahun tersebut juga memastikan bahwa Hendri akan mendapatkan perlakuan yang sama dengan para tahanan yang lain. "Semuanya sama, saya tidak akan mampu dibayar berapapun uang mereka. Harga diri saya lebih mahal" pungkas Bambang. 

 

Tak Ada Intervensi

Sementara itu, Didik Farkhan Alisyahdi, Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Surabaya mengungkapkan, tidak ada intervensi atas penahanan orang yang dikenal kebal hukum di kalangan pengusaha Surabaya ini. Didik menjelaskan, penahanan ini murni bahwa yang bersangkutan dianggap telah melakukan penipuan dan penggelapan.

Didik menjelaskan, penahanan tersangka dikarenakan dua alasan, yakni alasan subyektif dan alasan obeyktif. Alasan subyektifnya, guna mempercepat proses persidangan. Sebab, kalau masih berada di luar ditakutkan akan susah dihadirkan dalam persidangan. Alasan obyektifnya, sesuai pasalnya bisa dilakukan penahanan.

“Penahanan dilakukan sesuai KUHAP. Guna mempercepat proses persidangan dan sesuai pasalnya bisa dilakukan penahanan, karena ancaman pidana 4 (empat) tahun penjara,” tegas Didik.

Bahkan, Didik menolak mentah-mentah dan tak ambil pusing dengan pernyataan Henry yang menyebut ada konspirasi dan intervensi untuk menjatuhkan harga diri seorang Cen Liang. Bahkan dari pantauan Surabaya Pagi, Henry sempat ngoceh di depan wartawan dan tidak terima atas penahanan dirinya. "Ada konspirasi pada penahanan saya," singkatnya menjawab pertanyaan awak media.

“Kalau semua orang menahan dianggap ada konspirasi, ya terserah. Kami melihat alasan obyektif dan subyektif pada KUHAP. Dan penyidik beberapa kali menghadirkan dia juga susah. Sudah lebih dua kali dalam tahap II tidak datang, jadi kami putuskan menahan tersangka,” ucap Didik, tegas.

 

Pedagang Sujud Syukur

Diwaktu bersamaan, para pedagang Pasar Turi korban kebakaran, langsung melakukan sujud syukur dan menengadah tangan keatas sebagai tanda syukur atas dijebloskannya Henry Gunawan ke penjara. Meski bukan atas perkara laporan para pedagang, namun pedagang Pasar Turi itu tetap bersyukur yang menganggap Cen Liang licin dan kerap kali mempermain hukum.

Taufik salah satu ketua Persatuan Pedagang Pasar turi korban kebakaran ini mengungkapkan kebahagiaannya atas penahanan Henry J Gunawan ini. “Syukur Alhamdulillah, saya sujud syukur orang itu (Henry J Gunawan) akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Karena Cen Liang itu sangat licin kerap mempermainkan hukum,” ungkap Taufik kepada Surabaya Pagi, Kamis kemarin.

Taufik juga mengatakan, saat ini para penegak hukum telah menunjukkan fungsinya memberikan keadilan kepada masyarakat dan tidak bisa lagi dipermainkan oleh mafia yang mempunyai uang banyak seperti Cen Liang.

Saat disinggung soal laporannya ke Polda Jatim yang kini diambil alih Mabes Polri, Taufik menerangkan, bahwa sekarang ini kasus pasar turi yang sudah sembilan tahun terkatung-katung mulai menemukan titik terang. “Kasus penipuan dan penggelapan yang dilakukan Henry J Gunawan terhadap ribuan pedagang yang tegah ditangani oleh Mabes Polri ini mulai mendapatkan titik terang dalam dekat ini akan di P21 oleh Kejaksaan Agung,” terang Taufik.

Senada juga diungkapkan oleh Ilham salah satu pedagang pasar turi korban kebakaran, sangat merasa gembira dengan penahan Henry J Gunawan ini, jadi masa depan hukum di indonesia ini masih bisa menjadi harapan masyarakat kecil untuk mencari keadilan. “Kami sangat gembira dengan kabarnya Henry  J Gunawan ini ditahan Kejaksaan. Artinya hukum masih bisa diharapkan. Dan hukum tidak lagi bisa dipermainkan oleh Cen Liang,” ungkap Ilham.

 

Pedagang Puji Kejari Surabaya

Ilham berharap, tidak ada lagi oknum penegak hukum yang melindungi Cen Liang, karena menurutnya Cen Liang ini terkenal dengan orang yang kejam, dan sangat merugikan orang banyak terutama ribuan pedagang pasar turi korban kebakaran yang telah lama dibuat sengsara dan di kuras hartanya oleh Ce Liang. “Itu orang kejam mas, memang sudah seharusnya dia (Henry J Gunawan ) mendapat hukuman setimpal, karana orang itu tidak melihat etnis atau apa, semuanya dia makan,” ungkap Ilham.

Ilham mengatakan, keberanian Kejari Surabaya menangkap dan menjebloskan Henry J Gunawan ini, bisa memberikan contoh untuk penegak hukum yang lain untuk segera memproses semua tindak Henry J Gunawan yang telah melanggar hukum dan merugikan masyarakat.

Seperti diketahui, Cen Liang diduga melakukan tipu gelap hingga Rp 14,5 Miliar, yang sebagian uangnya diduga dipakai untuk operasional PT GBP. Informasi yang diperoleh Surabaya Pagi, notaris Caroline melaporkan Cen Liang sejak 29 Agustus 2016. Pelaporan itu berawal ketika notaris yang beralamat di Jalan Kapuas itu memiliki klien (korban) yang sedang melakukan jual beli tanah dan bangunan dengan Cen Liang. Cen Liang saat itu, sekitar tahun 2015, masih menjadi Direktur PT GBP, yakni pengembang Pasar Turi Baru. Objek itu dijual oleh Henry Gunawan kepada korban sebesar Rp 4,5 Miliar.

Semuanya itu saat korban hendak melakukan jual beli kepada Henry dan akan menyerahkan sertifikat HGB (Hak Guna Bangunan, red). Sertifikat itu dibeli seharga Rp 4,5 Miliar. Tapi Henry masih belum menyerahkan sertifikatnya, jelas orang dekat notaris Caroline.

Setelah membayar ke Cen Liang, tambah sumber itu, korban seharusnya menerima SHGB dari Henry Gunawan. Namun SHGB yang masih dititipkan di notaris Caroline itu, tiba-tiba diambil oleh suruhan Cen Liang tanpa ada komunikasi dengan korban. Tiba-tiba ada suruhannya Henry datang untuk ngambil. Praktis, SHGB itu sudah ditangan dia. Tetapi sertifikat itu justru malah dijual lagi sama Henry, jelas sumber itu geleng-geleng kepala dengan akal liciknya Cen Liang.

Sumber Surabaya Pagi ini pun menceritakan, Henry menjual obyek dengan SHGB sudah ditangannya, bisa laku hingga Rp 10 Miliar. Dari sinilah licinnya dia. Bahkan ia pun masih bisa berkelit dan bisa menjual lagi dengan harga yang lebih mahal. Tapi semuanya tanpa ada konfirmasi, katanya.

Nah, saat korban mencoba menanyakan SHGB kepada Henry Gunawan, ternyata dia melemparkan bola panas kalau, SHGB itu bukan berada di tangannya, tetapi masih dibawa oleh notaris Caroline. Setelah dicek, Caroline mengaku jika SHGB itu telah diambil oleh anak buah Hendry. Darisanalah, notaris Caroline melaporkan Hendry ke Polrestabes Surabaya," sebut sumber Surabaya Pagi di kepolisian. n

 



Komentar Anda