Untouchable, Cen Liang, Akhirnya Takluk pada Kejari Surabaya

Menguak Kasus Tersangka Henry J Gunawan, Tersangka Penipuan Pedagang Pasarturi Baru (1)

 

H. Tatang Istiawan


Henry Jocosity Gunawan alias Cen Liang, pria shio Kuda, kelahiran 7 Desember tahun 1954, sejak semalam menghuni rumah ( Rumah Tahanan) Medaeng. Saat dimasukan ke mobil tahanan, fisiknya sehat, tidak ada tanda-tanda sakit. Indikasi ini untuk kepentingan hukum, karena tersangka berduit, acapkali suka bermain dengan dokter Rutan, mengaku seolah sakit. Sampai kini, orang yang dirugikan akibat perbuatan Cen Liang, bisa lebih tiga ribu orang. Kok Banyak? Pedagang Pasar Turi sendiri yang melaporkan ke Polda sekitar tiga ribuan. Pengusaha yang pernah membeli kondotel Cenliang di Rich Prada, Pecatu Bali, lebih lima ratus orang. Warga Surabaya yang jadi dikecewakan atas penjualan apartemen Madison, ada ratusan. Selain Sugiarto dan keluarganya, yang tanahnya diserobot untuk apartemen Madison di Jemursari. Ada lagi, Notaris Carolina, SH. Atas laporan Notaris dari Jl. Kapuas Surabaya ini, Pria kelahiran Jember yang kini menempati rumah super mewah di Adena Golf Family I Block W-71-73, RT 004, RW 002, Kel. Pradakalikendal, Kecamatan Dukuh Pakis Surabaya ini ditahan oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, sejak Kamis sore kemarin (10/07/2017).

 

Catatan Hukum

Dr. H. Tatang Istiawan

 

Pembaca yang Budiman,

Saya mengungkap kasus Henry J Gunawan, bukan didasari kebencian. Sebab secara pribadi, saya dengan pria yang berkantor di bekas kompleks TNI-AU Putat Gede, sudah  kenal sejak tahun 1978.

Perkenalan saya terjadi saat melaksanakan tugas peliputan di Pengadilan Negeri Surabaya. Saat itu, Henry J Gunawan, sudah menjadi tersangka penyelundupan obat daftar G.

Perkenalan saya dengan pria kurus setengah tinggi ini, tidak terlalu akrab. Saya mengatakan tidak “terlalu akrab”, karena background Henry, sebagai tersangka penyelundupan yang saat era Orde Baru saja sudah berani memasukkan obat-obatan terlarang.

Doktrin wartawan yang saya pegang bahwa jurnalis sejati itu tak patut berkawan terlalu dekat dengan pelaku kejahatan, khawatir tidak bisa menulis objektif. Apalagi, sejak muda, dikalangan wartawan seusia saya waktu itu, saya sudah menekuni jurnalisme investigasi.

Bagi seorang wartawan sejati, narasumber adalah bagian terpenting dalam proses produksi menulis berita. Jujur, sebagai wartawan, saya selama ini menempuh banyak cara agar bisa dekat dengan narasumber. Terutama untuk mendapat informasi yang aktual dan eksklusif. Untuk itu, saya berusaha menjadi wartawan yang bisa dekat dengan ribuan narasumber dan sekaligus dapat dipercayainya.

Jujur, kedekatan wartawan dengan narasumber, selama karier saya, terkadang memunculkan bermacam persoalan etika. Misalnya menyangkut independensi wartawan atau konflik kepentingan dengan pihak lain. Kedekatan yang intens (terlalu dekat) juga bisa menyebabkan wartawan sulit membedakan antara kepentingan publik dan si narasumber. Apalagi dengan pengusaha sekelas Cen Liang, saya jauh-jauh dekat, berbeda dengan wartawan ekonomi yang sering diundang Cen Liang, jumpa pers di kantornya jl. Panglima Sudirman Surabaya.

Sampai urusan Pasar Turi baru bergolak pada tahun 2010, saya nyaris tidak pernah bertemu dengan Cen Liang. Praktis, 30 tahun lamanya saya tak pernah bersua dengan ayah David, pria yang dikawinkan di Bali, tahun 2015.

Meski lama tak bersua, terkait urusan konflik Pasar Turi, saya bertemu lagi dengan Cen Liang. Saya mempelajari duduk persoalan konflik dari pejabat di Pemkot Surabaya, DPRD Surabaya dan sejumlah pengusaha serta tokoh Tionghoa, seperti Laota Wefan alias PW Afandi, Totok Lusida, Turino Junaedy, Santoso Tedjo dan tokoh Madura, Ali Badri. Selain dengan lawyer Cen Liang, Ahmad Riyard UB, SH, MH, yang juga teman sesama penerbit koran.

Dari dokumen yang saya peroleh, Cen Liang, berada dalam posisi pengusaha yang maunya sendiri. Dua tokoh Tionghoa yang merintis sejak pembangunan TPS (Tempat Penampungan Sementara) Pasar Turi, saat sudah merangkul pedagang, disingkirkan. Perannya sebagai konsorsium diambil alih. Tabiat ini yang mendorong saya, untuk tidak terlalu dekat dengan Cen Liang.

Padahal, saya pernah diajak ke Bali, satu pesawat di kelas bisnis. Kemudian ditidurkan di Kondotel Rich Prada, Pecatu. Bahkan sempat diajak ke pejabat di Pemkab Badung, Bali, naik mobil Rolls Royce, yang dikendarai sendiri oleh pria yang beristri jauh lebih muda. Bahkan saya pernah berobat bersama ke sebuah poliklinik di Sidoarjo.

Hubungan kedekatan saya dengan Cen Liang, tidak larut dalam hubungan istimewa, karena saya tahu etika dan moral jurnalis. Beda dengan bos Jawa Pos, Dahlan Iskan, yang sering diajak runtang-runtung oleh Cen Liang.

Dengan latar belakang ini, saya memiliki independen dalam mengkritisi kasus Pasar Turi. Malahan saya lebih berempati dengan ribuan pedagang Pasarturi yang menderita. Saya lebih sering menyelami kehidupan para pedagang Pasarturi yang merasa didholimin Cen Liang. Maka itu, saya dinobatkan sebagai sesepuh pedagang Pasarturi. Maklum, saya bukan sekedar menggali informasi, tetapi saya diajak berdialog tentang aspek hukum. Maklum, saya juga kuliah ilmu hukum sampai tingkat doktoral di Untag Surabaya, dengan penelitian pengawasan terhadap aparat yang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi.

 

Pembaca yang Budiman,

Periode perkenalan pertama saya tahun 1978-1980 dan periode kedua, 2010-2016, kenalan Cen Liang, ada yang bertugas di militer, kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Pengacaranya, ada yang bekas Menteri Kehakiman Prof. Muladi. Ada juga pengacara gaek, Trimoeljo D Soerjadi. Selain puluhan advokat. Maklum, urusan Cen Liang, banyak. Terutama tentang sengketa tanah. Ia termasuk pengusaha yang sering bersengketa dengan tanah. Termasuk dengan pengusaha property Teguh Kinarto, Bos Maspion Alim Markus dan Bos Siantar, Aswi.

Selama berteman dalam kapasitas narasumber, Cen Liang, juga dijuluki warga Negara yang tak mudah tersentuh hukum. Julukan Untouchable, tidak bisa dihindari. Mengingat, kedekatan Cen Liang dengan penegak hukum. Penelusuran saya, setiap ada pergantian Kapolda, Panglima dan Kapolrestabes, ia selalu hadir memperkenalkan diri sebagai salah satu naga di Surabaya. Bahkan saat Kabareskrim Polri Komjen Anang Iskandar yang kini sudah purnawirawan, Cen Liang, datang ke Jakarta, membawa bingkisan yang cukup mahal.

Maka itu, urusan laporan pedagang Pasarturi yang dilaporkan awal tahun 2015 di Polda Jatim, para pedagang sebagai pelapor tidak bisa berbuat apa-apa. Termasuk I Wayan Tatib, pengacara pedagang yang dikenal nyentrik dan tidak pandang bulu.

Saat laporannya ditarik ke Mabes Polri, para pedagang hanya bisa menyiapkan laporan protes ke Kapolri dan Kadiv Propam, bahkan Presiden. Tetapi hasilnya, tidak ada kepastian hukum atas tuntutan keadilan yang diperjuangkan pedagang.

Padahal, saat akhir 2015, periode penetapan Cen Liang, menjadi tersangka penipuan dan penggelapan uang pedagang Pasarturi baru, pedagang sudah lega atas kinerja penyidik Direskrimum Polda Jatim. Saat berkas ditarik ke Mabes Polri, pedagang kalang-kabut, karena perjuangannya makin tidak ada kepastian. Apalagi, diantara pedagang yang pernah didengar keterangannya oleh penyidik Polda Jatim, dipanggil lagi di Bareskrim Polri. Bahkan penyidik Bareskrim mengundang saksi ahli.

Pedagang makin pesimistis, perkara Cen Liang, yang sudah nyaris P-21 (dinyatakan sempurna), bisa diproses sampai ke Pengadilan Negeri Surabaya. Maklum, saat itu, suara yang santer bermunculan Cen Liang menghubungi Menteri Polhukam Luhut Panjaitan, yang dikenal dengan dengan Presiden Jokowi. Malahan, foto berdua antara Luhut dan Cen Liang, diungguh di status iPhone Cen Liang.

Pada saat pedagang Pasarturi gundah menunggu kepastian hukum perkaranya, tiba-tiba muncul kabar, Cen Liang, ditetapkan oleh Polrestabes Surabaya, sebagai tersangka penipuan dan penggelapan notaris Carolina. Kapolrestabes Kombes M. Iqbal, saat bertandang ke kantor saya menyatakan, dia berani menegakkan hukum dengan tanpa pandang bulu yaitu menetapkan Cen Liang, menjadi tersangka. Padahal, Iqbal juga mendengar, kenalan dan jaringan Cen Liang, sampai di Mabes Polri dan pemerintahan. Termasuk Wapres Jusuf kalla.

 

Pembaca yang Budiman,

Kamis siang kemarin, tak disangka oleh Cen Liang, sebagai hari sial, ia harus menjalani penahanan di Rutan Medaeng Sidoarjo. Memakai baju batik lengan pendek bermotif hitam ke merahan, Henry J Gunawan, nama Indonesia Cen Liang, begitu percaya diri memasuki kantor Kejari Surabaya di Jl. Sukomanunggal Surabaya. Sepertinya, ia tidak mengira Kejaksaan Negeri Surabaya, berani menahannya. Maklum, suara di luaran, Pengacara Cen Liang, berteman dekat dengan Jampidum Kejaksaan Agung.

Ternyata, pertemuan kemarin berlangsung alot. Cen Liang,  sempat menolak menandatangani surat penahanan dirinya. Jaksa anak buah Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi SH, tenang. Cen Liang pun disodori, berita acara penolakan penahanan, karena tetap ngotot tidak mau menandatangani berita acara penahanan. Nah kesabaran Jaksa mulai diuji, dan mengiring Cen Liang ke mobil tahanan yang akan mengantarnya ke Rutan Medaeng. Kali ini, Cen Liang, pria yang dikenal berduit, tak berkutik.

Baru pukul 15.00 WIB (Cen Liang datang pukul 11.00 wib), Cen Liang, turun dari ruang tahap II kantor Kejari Surabaya, dengan wajah kusut. Lelaki yang memiliki koleksi mobil-mobil mewah ini digelandang petugas Kejari Surabaya menuju mobil tahanan untuk dibawa ke Rutan Medaeng.

Lagi-lagi, saat digelandang menuju mobil tahanan bersama pelaku kriminal lainnya, ia  protes dan menggerutu. Ia tak terima atas penahanannya. Cen Liang menggumam seolah ada  konspirasi pada penahanan dirinya.

Ternyata, orang yang selama ini dikenal  sebagai the people untouched, takluk pada Kepala Kejaksaan Negeri Surabaya, Didik Farkhan Alisyahdi SH. Dan Didik, anak mantan koresponden Surabaya Post di Bojonegoro tahun 1980-an ini, tak ada yang mengintervensi. Kepada wartawan, Didik menyatakan penahanan  untuk alasan objektif saja.

Dengan penahanan Cen Liang, sore kemarin, kesan, Cen Liang seolah-olah tak gampang tersentuh hukum, luntur.  Maka itu, kawan-kawan kuliah saya di Ilmu Hukum mengatakan, era sekarang, sudah tak bisa lagi orang bersalah dilindungi atau merasa tak bisa disentuh oleh hukum. (tatangistiawan@gmail.com,bersambung)

 

 

 

 



Komentar Anda