Pengurus Panti Cabuli 9 Anak Yatim

 

Alyuda (kaus merah), menundukkan kepala saat diamankan ke Polrestabes Surabaya, Jumat (4/8/2017).


SURABAYAPAGI.com, Surabaya – Siapa sangka di yayasan anak yatim piatu, malah terjadi pencabulan. Seperti di Panti Asuhan Cinta Kasih Ibu Teresa, Jalan Ngagel Jaya Tengah I Nomor 16-18 Surabaya. Ironisnya, pelaku merupakan pengurus sekaligus pengasuh panti asuhan. Yakni, Alyuda Djojo Soemitro (34) yang tinggal di Jalam Karang Empat Gg 11 No.83 Surabaya. Sedangkan korbannya 9 anak asuh. Terbongkarnya aksi predator anak ini membuat gempar warga sekitar.

--------------

Laporan : Narendra Bakrie, Firman Rachman dan Alqomar, Editor: Ali Mahfud

--------------

Aksi predator Alyuda terbongkar setelah dua korban yang telah disetubuhinya, yaitu SS (17) dan FN (16), melapor kepada polisi. Kejadiannya di dua lokasi berbeda. Yaitu panti asuhan yang ada di Surabaya (kantor pusat) dan panti asuhan yang berada di Batu (kantor cabang). Dari 9 korban, dua diantaranya disetubuhi berulang-ulang. Sedangkan sisanya dicabuli oleh pelaku.

 

"Kami menangkap tersangka (Alyuda, red) di tempat kerjanya. Awalnya korban tidak mengaku dan tidak kooperatif. Tapi akhirnya mengakui semua perbuatannya," sebut Kasatreskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Leonard Sinambela, Jumat (4/8/2017).

 

Kasus tersebut, lanjut AKBP Leonard, ditangani oleh Unit PPA (perlindungan perempuan dan anak) yang dipimpin AKP Ruth Yeni. Dengan ditangkapnya Alyuda, Unit PPA kemudian mengembangkannya. Hasilnya mengejutkan. Korban aksi predator Alyuda ternyata tidak hanya dua. Melainkan total 9 anak. Mulai dari umur 9 tahun hingga 17 tahun.

 

"Dua anak disetubuhi oleh tersangka. Yaitu korban SS dan FN. Korban SS disetubuhi sebanyak 15 kali. Dan korban FN, disetubuhi lebih dari 7 kali. Untuk korban lainnya, dicabuli oleh tersangka," beber AKBP Leonard.

 

Secara detail, SS disetubuhi oleh Alyuda mulai Agustus 2015. Persetubuhan itu dilakukan Alyuda setelah hampir setiap hari Alyuda mengantar SS sekolah SMK. Namun bukannya mengantar, Alyuda malah mengarahkannya ke Hotel Zest. Dengan bujuk rayunya, Alyuda berhasil meniduri SS. "Persetubuhan selanjutnya dilakukan tersangka di depot milik panti dan kos-kosan tersangka," terang AKBP Leonard.

 

Bergitu pula dengan korban FN. Oleh Alyuda sering mengajak korban keluar dari panti untuk jalan-jalan. Rayuan Alyuda berhasil membuat FN tidak berdaya. Hingga Januari 2016 lalu, FN akhirnya disetubuhi oleh Alyuda di panti. Bahkan saat FN yang masih sekolah SMP itu hendak berangkat sekolah, oleh Alyuda diajak bolos dan dibawa ke hotel. Diantaranya Hotel Zest, Luminor, Santika dan Marriott.

 

Korban Masih ABG

Sementara itu, AKP Ruth Yeni menyampaikan, setelah terbongkar bahwa tersangka telah menyetubuhi SS dan FN, pihaknya akhirnya menerima laporan baru dari 3 korban lainnya. Yaitu CL (9), kelas 3 SD ; SR (14) kelas 3 SMP dan KT (14) pelajar kelas 3 SMP. Ketiganya mengaku dicabuli tersangka. Yaitu tersangka meminta dioral. "Kemudian kami mendapat informasi bahwa di kantor cabang panti yang berada di Batu, juga ada korban. Dari itu, kami menuju ke Batu. Dan benar, kami menemukan ada 4 korban yang mengaku telah dicabuli oleh tersangka," tambah AKP Ruth Yeni.

 

Empat korban dari Batu yang dimaksud antara lain AG (16) kelas 1 SMA ; MR (11) kelas 5 SD ; YN (21) serta CLR (17) kelas 3 SMA. Keempat korban ini juga mengaku telah disuruh mengoral tersangka sembari dipegangi bagian vitalnya oleh tersangka. "Jika ada korban korban lain, silahkan melapor ke kami. Kami akan memprosesnya," tegas AKP Ruth Yeni.

 

Saat ini, lanjut AKP Ruth Yeni, para korban sudah ditempatkan di sebuah tempat sebagai sarana safe house buat mereka. Selain mendapat pengawalan dari psikiater, para korban juga tengah mendapat berbagai pengawalan. Baik secara material maupun spiritual.

 

Ngaku Khilaf

Sedangkan menurut pengakuan tersangka Alyuda. Dirinya awalnya kasihan terhadap para anak asuhnya tersebut. Namun, atas dasar rasa kasihannya itu, dirinya mengaku timbul rasa cinta dan sayang. "Saya khilaf. Saya tidak bisa mengendalikan nafsu saya saat bertemu mereka," aku pemuda yang hingga kini masih membujang itu.

 

Pemuda dengan tato di lengan kirinya itu menyebut, jika memang setiap harinya dirinya berada di Panti Asuhan pusat Surabaya. Dan setiap hari pula, dirinya juga berada di depot milik panti yang berada di Jalan Raya Manyar. Dalam waktu tertentu, dirinya juga kerap berkunjung ke panti cabang di Batu Malang. "Di Surabaya sendiri, total ada 65 anak yang diasuh oleh panti," akunya.

 

Atas ulahnya sebagai predator anak, Alyuda dipastikan bakal lama di penjara. Sebab oleh penyidik, dia dijerat dengan Pasal 81 UURI No.35 tahun 2014 tentang perubahan atas UURI No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan jeratan itu, Alyuda terancam hukuman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun.

 

 



Panti Asuhan Cinta Kasih Ibu Teresa di Jl Ngagel Jaya Tengah I Surabaya, lokasi korban pencabulan.


Pemilik Yayasan Pusing

Salah seorang yang ada di dalam panti bertingkat itu mengaku tidak mau diwawancarai. Ia hanya menyebut jika pemilik bernama ibu Ratna sedang pusing dan tidak ingin ditemui. "Maaf mas, ibu sedang pusing karena kasus ini," kata pria paruh baya yang sempat ditemui Surabaya Pagi di Panti Asuhan Yayasan Cinta Kasih Ibu Theresia, Jum'at (4/8) malam, pasca penangkapan salah seorang pengasuh di yayasan tersebut.

 

Sementara itu, pria tersebut juga menyayangkan kejadian ini. Menurutnya hal tersebut bukanlah salah yayasan, melainkan lebih kepada personal orang yang hendak berbuat jahat. "Jelas bukan yayasan yang salah, siapa sangka orang itu berbuat jahat, tidak ada yang tahu kan mas," ujarnya.

 

Ditanya terkait keseharian tersangka, pria ini enggan menyebut banyak. "Saya tidak tahu, yang pasti semua sudah diurus polisi," tutupnya sambil berlalu pergi.

 

Panti tersebut masih terlihat berkegiatan. Saat Surabaya Pagi datang, beberapa orang yang mayoritas adalah perempuan tua keluar dari panti asuhan yang cukup mewah itu. Mereka menenteng kotak snack. Namun saat dimintai konfirmasi, tidak ada yang mau menjawab perihal kasus predator anak yang dilakukan Alyuda.

 

Salah seorang satpam di wilayah itu, menyebut tak banyak tau aktivitas di dalam panti tersebut. Ia hanya menggambarkan situasi sehari-hari rumah yang dijadikan panti itu tertutup. "Ya sering tertutup, cuma kadang anak-anak itu ada yang keluar main ke pos, atau cari makan. Kalau ada kegiatan saja baru pagar dibuka, kalau enggak ya ditutup," terang satpam yang tak mau disebut namanya.

 

Dinsos Investigasi

Kasus pencabulan di dalam yayasan panti asuhan ini juga mendapat perhatian Dinas Sosial (Dinsos) Kota Surabaya. Kepala Dinsos Surabaya Supomo mengaku akan menindaklanjuti kasus tersebut dengan melakukan investigasi. "Kami akan investigasi di tempat itu, bagaimana pelanggarannya. Saya minta datanya dari teman-teman Polrestabes Surabaya," ujar Supomo.

 

Apabila ada pelanggaran fatal, lanjutnya, maka akan dicabut rekomendasi sebagai Yayasan Sosial. "Kalau ternyata ini ada pelanggaran maka akan dicabut rekomendasinya. Kami akan menempuh langkah pembinaan dulu, bagaimana manajemen pengelolaan panti yang baik. Kami undang pemiliknya duduk bersama, kami hadirkan pakar," tandasnya. n



Komentar Anda