Bambang DH, Musyafak, Soekamto Hadi dan Akhlak Orang-orang Saleh

Surat Terbuka untuk Ketua Umum PDIP, Terkait Tersangka Gratifikasi Bambang DH (2-habis)

 

H. Tatang Istiawan

Cak Bambang DH,
Pada tahun 2009, Anda berangkat haji bersama Choirun Nasichin, warga Dusun Ngrumek, Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Jombang. Pada tahun 1992, Choirun, tertangkap 'nggandol' pesawat Boeing 737 milik Garuda yang mengangkut ratusan Calon Jamaah Haji.

Sebagai seorang muslim yang sudah menunaikan rukun Islam kelima, insha Allah Anda mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada di dunia, tidak ada satu pun yang bisa luput dari pengawasan Allah SWT. Begitu juga Anda, yang kini menjadi tersangka dugaan korupsi Gratifikasi dana Japung sebesar Rp 720 juta.

Saat sudah ditetapkan oleh Polda Jatim sebagai tersangka korupsi sejak akhir 2013, perkara Anda berjalan ditempat. Mengapa bisa seperti ini. Apakah menurut Anda adil, kawan dan anak buah Anda sudah divonis dan dipenjara Anda, masih berleha-leha di luar. Apalagi ada pengakuan dari Muyafak Rouf, mantan Ketua DPRD Surabaya yang adalah kawan Anda dalam melakukan Gratifikasi. Musyafak kini sudah menjalani hukuman dan telah bermasyarakat kembali.

Nah, Anda, insha Allah, tahu bahwa Allah yang senantiasa menatap dan melihat apa yang kita (saya dan Anda) lakukan didunia ini. Dan Allah pun telah mengutus dua malaikat yang kehadirannya tidak kita ketahui. Malaikat ini selalu setia mengabdikan dirinya untuk menjalani setiap perintah Allah SWT.
Next »


Dua malaikat ini tak lupa mencatat segala amal baik dan buruk yang kita kerjakan. Ini bila Anda menyadari Anda pun, insan yang tidak akan pernah luput dari kesalahan sekecil apa pun. Termasuk fakta yang menyebabkan tiga anak buah Anda (Sukamto Hadi, Mukhlas Udin dan Purwito.) dipenjara karena Gratifikasi. Coba Anda merenung, bisakah dalam sebuah sistem di birokrasi pemerintahan, ada anak buah yang bisa mengeluarkan kebijakan penggunaan dana bersama Ketua DPRD Surabaya.

Cak Bambang DH,
Anda Insha Alloh minimal mendengar ceramah sejumlah Kyai atau Ustadz bahwa cobaan dan ujian manusia datang menghadang sebagai cara Allah SWT dalam menyadarkan hamba-hamba-Nya. Tentu menyadarkan untuk kembali ke jalan yang benar.

Petuah seorang Ustadz yang pernah saya dengar saat Wukuf di Arafah bahwa sudah sepatutnya diri manusia yang beragama menjadikan cobaan dan ujian dari Allah sebagai sarana sekaligus undangan khusus agar senantiasa berada dalam jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Kisah-kisah yang pernah saya baca, biasanya seseorang akan benar benar kembali mengingat Allah dan menyadari kesalahan yang dilakukannya, manakala ia sedang benar benar berada diujung tanduk. Artinya, tidak ada lagi orang yang mampu menolongnya melainkan hanya Allah SWT. Sejumlah Ustadz mengatakan Alloh bisa menolong manusia dengan cara yang tidak disangka sangka. Next »



“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)”.

Cak Bambang DH,
Itu pesan moral kepada Anda, politisi yang berjuang sejak Orde Baru berkuasa. Kini, saat Anda telah ditetapkan sebagai tersangka Gratifikasi, Anda bisa berpikir bahwa politik dan hukum memang selalu tidak dapat dipisahkan. Keduanya berada pada hal yang saling memengaruhi. Fakta yang terjadi, saat Anda masih menjabat pengurus partai di tingkat provinsi dan kemudian DPP, ternyata dibidik dugaan korupsi. Menariknya, kawan dan anak buah Anda ditahan dan Anda, sampai kini jangankan ditahan, diajukan ke Pengadilan Tipikor (Tindak pidana korupsi) saja belum.

Inikah kelebihan pengurus partai yang sedang berkuasa? Pertanyaannya, apakah diskriminasi untuk Anda ini bagian dari cermin sebuah lingkungan politik yang sehat? Saya bertanya ini, karena dalam ilmu politik yang saya pelajari di kampus, lingkungan politik sehat acapkali mendukung hukum untuk bekerja dengan prinsip objektivitas dan imparsialitas. Sedangkan lingkungan politik yang kotor sering menempatkan hukum sebagai alat kepentingan elite belaka. Nah…?
Next »


Bagi saya yang pernah melakukan penelitian tentang pengawasan terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi pada tahun 2010, praktik korupsi yang merambah kekuasaan politik, birokrasi, kalangan bisnis dan aparatur penegak hukum, sulit dijamah. Maklum, praktik korupsi semacam ini kait-mengkait. Berbeda bila pelaku korupsi hanya terdiri kalangan birokrasi atau penegak hukum.

Kasus Gratifikasi yang ditudingkan kepada Anda sebagai inspiratornya, ada juga politisinya yaitu Anda dan Musyafak Rouf. Ada birokrasinya yaitu Sekkota Soekamto Hadi dan Asistennya, Muklas. Sementara pengusaha yang berada di ring satu, sampai kini belum tersentuh hukum. Maka itu, Anda yang sudah ditetapkan tersangka sejak tahun 2013 dan hingga Mei 2017 belum diajukan ke Pengadilan. Ini kejadian yang dipergunjingkan seolah Anda ini orang kuat atau orang yang kebal hukum.

Cak Bambang DH,
Dalam pergaulan dengan politisi, saya sering menjumpai sejumlah orang yang sangat berat mengakui kesalahan. Malahan amat mahir dalam berargumentasi dan berapologetik mencari segudang alasan pembenaran. Terutama atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Argumentasi ini untuk menghindar, berkelit, mencari sejumlah alibi atau lari dari kesalahan yang diperbuatnya.

Padahal, sampai sekarang, saya selalu teringat guru agama saat SD bahwa kesadaran seseorang untuk mengakui kesalahan adalah mutiara berharga dan dapat mengantarkan dirinya memiliki sikap tawadhu. Ini yang dijanjikan Nabi: "Tidaklah seseorang itu tawadhu karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya." (HR Muslim). Next »



Kutipan hadits ini terkait akhlak orang-orang saleh. Maka itu, saya tidak tahu apakah politisi pun mau menerapkan sikap kesalehan yang diajarkan Alloh yaitu mau mengakui kesalahan yang pernah diperbuatnya dan siap dihukum seperti Musyafak Rouf, tokoh NU Surabaya, yang rela dihukum lebih dahulu soal Gratifikasi. (tatangistiawan@gmail.com)

H. Tatang Istiawan

Cak Bambang DH,
Pada tahun 2009, Anda berangkat haji bersama Choirun Nasichin, warga Dusun Ngrumek, Desa Nglele, Kecamatan Sumobito, Jombang. Pada tahun 1992, Choirun, tertangkap 'nggandol' pesawat Boeing 737 milik Garuda yang mengangkut ratusan Calon Jamaah Haji.

Sebagai seorang muslim yang sudah menunaikan rukun Islam kelima, insha Allah Anda mengetahui bahwa segala sesuatu yang ada di dunia, tidak ada satu pun yang bisa luput dari pengawasan Allah SWT. Begitu juga Anda, yang kini menjadi tersangka dugaan korupsi Gratifikasi dana Japung sebesar Rp 720 juta.

Saat sudah ditetapkan oleh Polda Jatim sebagai tersangka korupsi sejak akhir 2013, perkara Anda berjalan ditempat. Mengapa bisa seperti ini. Apakah menurut Anda adil, kawan dan anak buah Anda sudah divonis dan dipenjara Anda, masih berleha-leha di luar. Apalagi ada pengakuan dari Muyafak Rouf, mantan Ketua DPRD Surabaya yang adalah kawan Anda dalam melakukan Gratifikasi. Musyafak kini sudah menjalani hukuman dan telah bermasyarakat kembali.

Nah, Anda, insha Allah, tahu bahwa Allah yang senantiasa menatap dan melihat apa yang kita (saya dan Anda) lakukan didunia ini. Dan Allah pun telah mengutus dua malaikat yang kehadirannya tidak kita ketahui. Malaikat ini selalu setia mengabdikan dirinya untuk menjalani setiap perintah Allah SWT.
Next »


Dua malaikat ini tak lupa mencatat segala amal baik dan buruk yang kita kerjakan. Ini bila Anda menyadari Anda pun, insan yang tidak akan pernah luput dari kesalahan sekecil apa pun. Termasuk fakta yang menyebabkan tiga anak buah Anda (Sukamto Hadi, Mukhlas Udin dan Purwito.) dipenjara karena Gratifikasi. Coba Anda merenung, bisakah dalam sebuah sistem di birokrasi pemerintahan, ada anak buah yang bisa mengeluarkan kebijakan penggunaan dana bersama Ketua DPRD Surabaya.

Cak Bambang DH,
Anda Insha Alloh minimal mendengar ceramah sejumlah Kyai atau Ustadz bahwa cobaan dan ujian manusia datang menghadang sebagai cara Allah SWT dalam menyadarkan hamba-hamba-Nya. Tentu menyadarkan untuk kembali ke jalan yang benar.

Petuah seorang Ustadz yang pernah saya dengar saat Wukuf di Arafah bahwa sudah sepatutnya diri manusia yang beragama menjadikan cobaan dan ujian dari Allah sebagai sarana sekaligus undangan khusus agar senantiasa berada dalam jalan yang diridhoi oleh Allah SWT.

Kisah-kisah yang pernah saya baca, biasanya seseorang akan benar benar kembali mengingat Allah dan menyadari kesalahan yang dilakukannya, manakala ia sedang benar benar berada diujung tanduk. Artinya, tidak ada lagi orang yang mampu menolongnya melainkan hanya Allah SWT. Sejumlah Ustadz mengatakan Alloh bisa menolong manusia dengan cara yang tidak disangka sangka. Next »



“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk ke dalam surga, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang bersamanya : Bilakah datang pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah amatlah dekat.” (QS. Al Baqarah: 214)”.

Cak Bambang DH,
Itu pesan moral kepada Anda, politisi yang berjuang sejak Orde Baru berkuasa. Kini, saat Anda telah ditetapkan sebagai tersangka Gratifikasi, Anda bisa berpikir bahwa politik dan hukum memang selalu tidak dapat dipisahkan. Keduanya berada pada hal yang saling memengaruhi. Fakta yang terjadi, saat Anda masih menjabat pengurus partai di tingkat provinsi dan kemudian DPP, ternyata dibidik dugaan korupsi. Menariknya, kawan dan anak buah Anda ditahan dan Anda, sampai kini jangankan ditahan, diajukan ke Pengadilan Tipikor (Tindak pidana korupsi) saja belum.

Inikah kelebihan pengurus partai yang sedang berkuasa? Pertanyaannya, apakah diskriminasi untuk Anda ini bagian dari cermin sebuah lingkungan politik yang sehat? Saya bertanya ini, karena dalam ilmu politik yang saya pelajari di kampus, lingkungan politik sehat acapkali mendukung hukum untuk bekerja dengan prinsip objektivitas dan imparsialitas. Sedangkan lingkungan politik yang kotor sering menempatkan hukum sebagai alat kepentingan elite belaka. Nah…?
Next »


Bagi saya yang pernah melakukan penelitian tentang pengawasan terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi pada tahun 2010, praktik korupsi yang merambah kekuasaan politik, birokrasi, kalangan bisnis dan aparatur penegak hukum, sulit dijamah. Maklum, praktik korupsi semacam ini kait-mengkait. Berbeda bila pelaku korupsi hanya terdiri kalangan birokrasi atau penegak hukum.

Kasus Gratifikasi yang ditudingkan kepada Anda sebagai inspiratornya, ada juga politisinya yaitu Anda dan Musyafak Rouf. Ada birokrasinya yaitu Sekkota Soekamto Hadi dan Asistennya, Muklas. Sementara pengusaha yang berada di ring satu, sampai kini belum tersentuh hukum. Maka itu, Anda yang sudah ditetapkan tersangka sejak tahun 2013 dan hingga Mei 2017 belum diajukan ke Pengadilan. Ini kejadian yang dipergunjingkan seolah Anda ini orang kuat atau orang yang kebal hukum.

Cak Bambang DH,
Dalam pergaulan dengan politisi, saya sering menjumpai sejumlah orang yang sangat berat mengakui kesalahan. Malahan amat mahir dalam berargumentasi dan berapologetik mencari segudang alasan pembenaran. Terutama atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Argumentasi ini untuk menghindar, berkelit, mencari sejumlah alibi atau lari dari kesalahan yang diperbuatnya.

Padahal, sampai sekarang, saya selalu teringat guru agama saat SD bahwa kesadaran seseorang untuk mengakui kesalahan adalah mutiara berharga dan dapat mengantarkan dirinya memiliki sikap tawadhu. Ini yang dijanjikan Nabi: "Tidaklah seseorang itu tawadhu karena Allah, kecuali Allah akan meninggikannya." (HR Muslim). Next »



Kutipan hadits ini terkait akhlak orang-orang saleh. Maka itu, saya tidak tahu apakah politisi pun mau menerapkan sikap kesalehan yang diajarkan Alloh yaitu mau mengakui kesalahan yang pernah diperbuatnya dan siap dihukum seperti Musyafak Rouf, tokoh NU Surabaya, yang rela dihukum lebih dahulu soal Gratifikasi. (tatangistiawan@gmail.com)


Hashtag









Komentar Anda



Submit