BPRS NU Serap Potensi Pengelolaan Keuangan Warganya

 

Ketua Puskopssim NU Jawa Timur Arifin Hamid saat ditemui Surabaya Pagi di Kantornya.


SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Warga Nahdiyin kini boleh berbangga diri. Organisasi Islam dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia itu tak lagi pasif dan turut aktif dalam Dunia pengelolaan keuangan Nasional dengan mendirikan Bank miliknya sendiri yakni BPRS Nusantara Unggul.

Menurut Ketua Puskopssim NU Pusat Koperasi Syirkah mu’Awanah’ Jatim Arifin Hamid, selama ini warga atau komunitas Nahdiyin yang begitu besar jumlahnya hanya berperan pasif tak turut aktif

" Sementara ini komunitas Nahdiyin hanya sebagai pengguna. NU sendiri belum mempunyai Bank yang dapat menampung serta mengelola keuangan Warga Nahdiyin. Oleh karena itu, dengan adanya instrument berupa Bank BPRS Nusantara Unggul, kami dapat menampung kebutuhan lembaga keuangan dikalangan Nahdiyin," jelasnya.

Warga Nahdiyin yang begitu besar jumlahnya dinilai Arifin sebagai potensi besar yang tak terbantahkan. " Di Jatim ini tak kurang ada 20 juta Warga Nahdiyin. Jika kita bisa menggali potensi yang begitu besar tersebut. Maka hal tersebut tentu saja menjadi hal yang positif bagi perekonomian Nahdiyin. Selama ini kan Warga Nahdiyin pakai Bank pihak lain," jelasnya.

Arifin memprediksi hanya dalam beberapa tahun setelah BPRS milik NU ini berdiri di Jatim cabang-cabangnya akan segera menyusul diseluruh Indonesia. " Saya tekankan lagi Jaringan NU yang begitu besar dan kuat akan cepat memberikan dampak pertumbuhan. Asumsi sederhananya dalam 1-2 tahun BPRS pertama ini untuk trial and error sebelum mengembangkan diri," pungkasnya.

Arifin memprediksi pada tahun ini BPRS Nusantara Utama dapat segera beroperasi. " Berdasarkan hasil Rapat Anggota seluruh koperasi binaan NU yang berjumlah 37 cabang di Jatim pada 25 April lalu. Maka kami putuskan untuk membuat Bank milik NU sendiri. Saat ini sedang dalam proses perijinan di OJK," Tambah sekertaris Puskopssim NU Paryono Abdullah.

Lebih dalam, Paryono menjelaskan modal pertama yang akan dimiliki BPRS tersebut setelah diakumulasi adalah 15 miliar serta jumlah jaringan serta koperasi NU yang terus berkembang menjadi senjata utama. Pembuatan BPRS NU sendiri dinilainya dengan bertumbuh dengan cepat seiring dengan semakin banyaknya cabang koperasi dibawah naungan NU. " Kita awalnya mulai revitalisasi koperasi kita dari 2015 lalu. Hingga saat ini ada 37 cabang di seluruh Jatim dengan nilai aset 2 triliun dan kemungkinan akan terus bertambah,"Jelasnya.

Jaringan NU yang sangat besar ini dinilai Paryono dan Arifin sebagai awal munculnya ide pembuatan BPRS. " Di BMT NU Gapura Sumenep dengan Anggota yang kita nilai paling bagus. Pertumbuhannya dari 2016-2017 saja 80 Miliar ke 120 Miliar. Padahal, awalnya modalnya hanya ratusan ribu pada tahun 2003. Belum lagi jumlah anggota yang tidak terdaftar pada setiap cabang kita. Pusat bernama Puskopssim NU Jatim sedangkan cabang di Kota-kota bernama Primkopssim," paparnya.

Baik Arifin maupun Paryono sepakat bahwa NU harus memiliki Bank yang mengelola keuangan Warga Nahdiyin. " Jika dikoperasi ada keterbatasan hanya anggota atau instrumen yang berafiliasi dengan NU saja yang dananya dapat dikelola. Harapannya dengan adanya Bank milik NU ini dapat menerima Masyarakat Umum Nahdiyin dikalangan luas yang jumlahnya begitu besar. Jika sudah demikian mungkin namanya akan berubah menjadi Bank NU," terangnya. adk



Komentar Anda



Berita Terkait