Terindikasi Politis

Tokoh-tokoh di Surabaya Mengimbau Masyarakat tak Membuat Aksi Tandingan dengan Adanya Aksi 1000 Lilin

 

Aksi 1000 lilin yang digelar di Kantot Gubernuran Jatim Jumat malam kemarin.

SURABAYA PAGI, Surabaya – Berbagai tokoh di Surabaya akhirnya mengambil sikap, terkait aksi 1000 lilin yang menunut pembebasan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Aksi itu digelar di berbagai daerah, tak terkecuali di Surabaya. Saat ini Ahok ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, setelah divonis dua tahun dalam perkara penistaan agama.


Direktur Utama (Dirut) PT Ciputra Surya Tbk (Citra Land), Sutoto Yakobus mengungkapkan aksi 1000 lilin yang sempat dihelat di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya itu, hanyalah bentuk ekspresi masyarakat. Meski membawa nama Ahok, tapi pada dasarnya mereka cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Itu aksi keprihatinan atas ketegangan yang tengah melanda bangsa ini. Melalui aksi tersebut, diharapkan bangsa ini ke depannya menjadi lebih damai. Seluruh elemen masyarakat dapat melangkah maju bersama-sama membangun bangsa,” papar Sutoto yang dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (14/5/2017).

Hal senada dinyatakan Totok Lusida, mantan Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Jatim. Menurutnya, selama aksi itu demi NKRI harus didukung. Hanya saja, ia mempertanyakan kenapa dalam aksi tersebut membawa nama atau unsur dari golongan tertentu.
Next »


“Saya secara pribadi, tidak setuju kalau aksi yang dilatarbelakangi kecintaan terhadap NKRI justru ditunggangi dari golongan atau unsur tertentu. Kami berharap, masyarakat tidak terpancing oleh aksi tersebut. Aksi yang bertujuan baik jangan sampai memperkeruh suasana," harap Totok Lusida.

Tak Terkait Ahok
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey menegaskan bahwa aksi 1000 lilin di Tugu Pahlawan itu spontanitas arek-arek Suroboyo yang peduli terhadap situasi Indonesia saat ini. Menurutnya, dengan aksi tersebut, diharapkan bisa mendorong rasa cinta tanah air, kedamaian dan harmonisasi di dalam keberagaman masyarakat Indonesia.

"Aksi ini memang serupa dengan beberapa aksi lain di beberapa kota di Indonesia, hanya lebih fokus kepada ajakan kepada seluruh komponen bangsa ini untuk mencintai NKRI dan merajut kebhinekaan untuk Indonesia yang lebih baik", ungkap Awey.

Menurutnya, akhir-akhir ini masyarakat kita saling menyerang, menghasut, membenci, bahkan menyebarkan berita hoax atau berita fitnah. Hal itu dapat memecah belah masyarakat. "Ini tidak mendidik, dan bisa menyebabkan perpecahan bangsa," tandas Politisi Partai Nasdem ini. Next »



Awey menegaskan bahwa aksi 1000 lilin ini tidak ada kaitanya dengan aksi membela Ahok. "Kita hadir di sana, gagas kegiatan ini tidak ada hubungannya dengan Ahok. Ini kita bicara Indonesia ke depan, bicara harmonisasi dalam keberagaman," ungkapnya.

Berpotensi Konflik
Pandangan berbeda diungkapkan Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jatim, Muslich. Ia mengaku justru khawatir aksi 1000 lilin itu malah berpotensi memperkeruh kondisi di Jawa Timur. Padahal, Jatim selama ini steril dari gesekan-gesekan terkait suku, agama dan ras (SARA). Sedang aksi tersebut kental politisnya, lantaran menyuarakan Ahok yang divonis dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama. Ironisnya, vonis itu setelah Ahok kalah dalam Pilkada DKI 2017 lalu. “Aksi itu malah memperkeruh kondusifitas Jatim, khususnya Surabaya,” tandas Muslich ketika dihubungi, Minggu (14/5) kemarin.

Ia menegaskan, masalah Ahok ini internal Provinsi DKI Jakarta. Karena itu, ia berharap tidak ada pihak-pihak yang mencoba memperkeruh masalah tersebut di wilayah lain. Ia juga berharap pendukung maupun kontra dengan Ahok bersikap dewasa. Apalagi kasus Ahok dalam proses hukum di pengadilan. “Lebih baik semua pihak menahan diri. Jangan menyeret masalah wilayah lain dibawa ke Jawa Timur,” ungkapnya.
Next »


Budayawan Taufik Monyong mendukung pernyataan Muslich. Menurutnya, budaya saling menghormati antar agama dan solidaritas antar umat beragama di Jawa Timur sudah terjalin baik. “Janganlah diracun dengan hal yang tidak-tidak,” cetus Taufik ketika dikonfirmasi terpisah.

Taufik melihat aksi 1000 lilin itu dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mempekeruh suasana di Jawa Timur yang sudah aman dan tentram. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat tidak terpancing. “Surabaya atau Jawa Timur ini kan barometer nasional. Jadi ini saya indikasikan ada pihak yang berusaha memecah belah Jawa Timur. Namun masyarakat jangan terpancing atau malah melakukan aksi-aksi tandingan. Saya percaya masyarakat Jawa Timur bisa menjaga kondusifitas di sini,” papar dia.

Memanas Sejak Vonis
Seperti diketahui, pada 9 Mei lalu, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun penjara terhadap Ahok, karena terbukti melakukan penodaan agama. Putusan itu lebih berat dibanding tuntutan jaksa yakni satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Ahok dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana dalam Pasal 156a KUHP, yakni secara sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama. Hakim menyebut Ahok sengaja memasukkan kalimat terkait dengan pemilihan gubernur, dan menyebut Surat Al-Maidah 51. Next »



Ahok, dalam sebuah pernyataannya di hadapan warga Kepulauan Seribu menyinggung program budidaya ikan kerapu yang tetap berjalan meskipun tidak terpilih dalam pilkada. Kini Ahok mendekam di Rutan Mako Brimob, Depok setelah sebelumnya dibawa ke Rutan Cipinang.

Sejak vonis itu dijatuhkan, berbagai aksi simpati menjamur di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk di Surabaya. Bahkan, aksi simpati itu digelar di luar negeri. Mereka mendesak agar Ahok dibebaskan. n

Aksi 1000 lilin yang digelar di Kantot Gubernuran Jatim Jumat malam kemarin.

SURABAYA PAGI, Surabaya – Berbagai tokoh di Surabaya akhirnya mengambil sikap, terkait aksi 1000 lilin yang menunut pembebasan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Aksi itu digelar di berbagai daerah, tak terkecuali di Surabaya. Saat ini Ahok ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, setelah divonis dua tahun dalam perkara penistaan agama.


Direktur Utama (Dirut) PT Ciputra Surya Tbk (Citra Land), Sutoto Yakobus mengungkapkan aksi 1000 lilin yang sempat dihelat di kawasan Tugu Pahlawan Surabaya itu, hanyalah bentuk ekspresi masyarakat. Meski membawa nama Ahok, tapi pada dasarnya mereka cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Itu aksi keprihatinan atas ketegangan yang tengah melanda bangsa ini. Melalui aksi tersebut, diharapkan bangsa ini ke depannya menjadi lebih damai. Seluruh elemen masyarakat dapat melangkah maju bersama-sama membangun bangsa,” papar Sutoto yang dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (14/5/2017).

Hal senada dinyatakan Totok Lusida, mantan Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Jatim. Menurutnya, selama aksi itu demi NKRI harus didukung. Hanya saja, ia mempertanyakan kenapa dalam aksi tersebut membawa nama atau unsur dari golongan tertentu.
Next »


“Saya secara pribadi, tidak setuju kalau aksi yang dilatarbelakangi kecintaan terhadap NKRI justru ditunggangi dari golongan atau unsur tertentu. Kami berharap, masyarakat tidak terpancing oleh aksi tersebut. Aksi yang bertujuan baik jangan sampai memperkeruh suasana," harap Totok Lusida.

Tak Terkait Ahok
Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey menegaskan bahwa aksi 1000 lilin di Tugu Pahlawan itu spontanitas arek-arek Suroboyo yang peduli terhadap situasi Indonesia saat ini. Menurutnya, dengan aksi tersebut, diharapkan bisa mendorong rasa cinta tanah air, kedamaian dan harmonisasi di dalam keberagaman masyarakat Indonesia.

"Aksi ini memang serupa dengan beberapa aksi lain di beberapa kota di Indonesia, hanya lebih fokus kepada ajakan kepada seluruh komponen bangsa ini untuk mencintai NKRI dan merajut kebhinekaan untuk Indonesia yang lebih baik", ungkap Awey.

Menurutnya, akhir-akhir ini masyarakat kita saling menyerang, menghasut, membenci, bahkan menyebarkan berita hoax atau berita fitnah. Hal itu dapat memecah belah masyarakat. "Ini tidak mendidik, dan bisa menyebabkan perpecahan bangsa," tandas Politisi Partai Nasdem ini. Next »



Awey menegaskan bahwa aksi 1000 lilin ini tidak ada kaitanya dengan aksi membela Ahok. "Kita hadir di sana, gagas kegiatan ini tidak ada hubungannya dengan Ahok. Ini kita bicara Indonesia ke depan, bicara harmonisasi dalam keberagaman," ungkapnya.

Berpotensi Konflik
Pandangan berbeda diungkapkan Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Jatim, Muslich. Ia mengaku justru khawatir aksi 1000 lilin itu malah berpotensi memperkeruh kondisi di Jawa Timur. Padahal, Jatim selama ini steril dari gesekan-gesekan terkait suku, agama dan ras (SARA). Sedang aksi tersebut kental politisnya, lantaran menyuarakan Ahok yang divonis dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama. Ironisnya, vonis itu setelah Ahok kalah dalam Pilkada DKI 2017 lalu. “Aksi itu malah memperkeruh kondusifitas Jatim, khususnya Surabaya,” tandas Muslich ketika dihubungi, Minggu (14/5) kemarin.

Ia menegaskan, masalah Ahok ini internal Provinsi DKI Jakarta. Karena itu, ia berharap tidak ada pihak-pihak yang mencoba memperkeruh masalah tersebut di wilayah lain. Ia juga berharap pendukung maupun kontra dengan Ahok bersikap dewasa. Apalagi kasus Ahok dalam proses hukum di pengadilan. “Lebih baik semua pihak menahan diri. Jangan menyeret masalah wilayah lain dibawa ke Jawa Timur,” ungkapnya.
Next »


Budayawan Taufik Monyong mendukung pernyataan Muslich. Menurutnya, budaya saling menghormati antar agama dan solidaritas antar umat beragama di Jawa Timur sudah terjalin baik. “Janganlah diracun dengan hal yang tidak-tidak,” cetus Taufik ketika dikonfirmasi terpisah.

Taufik melihat aksi 1000 lilin itu dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mempekeruh suasana di Jawa Timur yang sudah aman dan tentram. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat tidak terpancing. “Surabaya atau Jawa Timur ini kan barometer nasional. Jadi ini saya indikasikan ada pihak yang berusaha memecah belah Jawa Timur. Namun masyarakat jangan terpancing atau malah melakukan aksi-aksi tandingan. Saya percaya masyarakat Jawa Timur bisa menjaga kondusifitas di sini,” papar dia.

Memanas Sejak Vonis
Seperti diketahui, pada 9 Mei lalu, majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun penjara terhadap Ahok, karena terbukti melakukan penodaan agama. Putusan itu lebih berat dibanding tuntutan jaksa yakni satu tahun penjara dengan masa percobaan dua tahun.

Ahok dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana dalam Pasal 156a KUHP, yakni secara sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama. Hakim menyebut Ahok sengaja memasukkan kalimat terkait dengan pemilihan gubernur, dan menyebut Surat Al-Maidah 51. Next »



Ahok, dalam sebuah pernyataannya di hadapan warga Kepulauan Seribu menyinggung program budidaya ikan kerapu yang tetap berjalan meskipun tidak terpilih dalam pilkada. Kini Ahok mendekam di Rutan Mako Brimob, Depok setelah sebelumnya dibawa ke Rutan Cipinang.

Sejak vonis itu dijatuhkan, berbagai aksi simpati menjamur di berbagai daerah di Indonesia. Termasuk di Surabaya. Bahkan, aksi simpati itu digelar di luar negeri. Mereka mendesak agar Ahok dibebaskan. n


Hashtag









Komentar Anda



Submit

Berita Terkait