Lompatan Anies Luar biasa

 

SURABAYAPAGI.com, Jakarta – Diluar dugaan, pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno, dalam putaran dua Pilkada DKI Jakarta, Rabu (19/4/2017) bisa unggul sangat jauh dari pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. Padahal, sebelum hari pencoblosan, tingkat Akseptabilitasnya, Ahok-Djarot mencapai 79,3 persen. Sementara Anies-Sandi hanya 59,1 persen. Namun, pada hasil hitung cepat coblosan Rabu kemarin, langsung dibalik oleh Anies-Sandi. Lantas faktor apa yang membuat lompatan suara Anies Baswedan – Sandiaga Uno melonjak luar biasa?

Ada beberapa faktor yang melahirkan kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di semua hasil hitung cepat lembaga survey Rabu kemarin. Hal itu hasil analisis dari beberapa Pakar Ilmu Komunikasi Politik dari Jakarta dan Surabaya.

Pertama, Husin Yazid, pakar ilmu komunikasi Politik yang juga memiliki Lembaga Survei Indomatrik, saat ditemui kontributor Surabaya Pagi di Jakarta, ada tiga faktor yang membuat suara Anies ungguli Ahok.

"Pertama, suara yang dulunya ke pasangan Agus Yudhoyono-Slyviana Murni sekitar 17 persen itu, 13 persennya ke pasangan Anies-Sandi, terus yang dulunya 'golput' pindah ke Anies dan Sandi," kata Husin, yang mengajak sejumlah wartawan termasuk Surabaya Pagi, ngopi bareng di Bangi Kopitiam, Jakarta.

Faktor dua, lanjut Husin, Anies-Sandi diuntungkan dengan gerakan antipati dari masyarakat yang mengecam gerakan bagi-bagi bahan pokok (sembako) pada minggu tenang. "Pada saat minggu tenang, tim dari Ahok-Djarot kan sempat bagi-bagi sembako. Benar-benar tenang mereka melancarkan money politic, masyarakat ini jadi antipati dengan Ahok-Djarot. Aparat juga mengetahui hal ini tapi seakan-akan melakukan pembiaran," jelasnya. Next »



Terakhir, terkait sikap Anies yang berwibawa, tenang dan sopan. Faktor ketiga ini membuat pasangan yang diusung Partai Gerindra dan PKS ini meraup banyak suara di putaran yang pertama. "Jadi, faktor-faktor inilah yang membuat suara Anies dan Sandi terdongkrak berdasarkan quick count hari ini," ujar Husin.

Faktor Penistaan Agama
Terpisah, CEO The Initiative Institute Airlangga Pribadi yang juga pakar Politik dari Universitas Airlangga, menyatakan bahwa melejitnya Anies karena munculnya kasus penistaan agama yang terjadi pada Ahok. "Faktor yang mempengaruhi sangat besar kekalahan petahana Ahok-Djarot adalah maraknya politisasi agama dan pembelahan kultural sebagai instrumen politik pemenangan pilkada," kata Airlangga.

Menurut Airlangga, berdasarkan hasil quick count Ahok-Djarot hanya memperoleh suara di kisaran 42-43 persen. Ini tidak sesuai dengan survei-survei yang mengukur tingkat kepuasan rakyat atas kinerja incumbent yang mencapai 70 persen. "Yang memilih ternyata jauh di bawah itu. Padahal survei sebelumnya yang mengukur tingkat kepuasan rakyat sebesar 70 persen. Tapi yang harus diingat ada 42-43 persen warga DKI Jakarta yang tidak memilih atas dasar SARA. Ini modal politik yang harus dirawat Ahok," jelasnya.
Next »


Rekam Jejak Pribadi
Sedangkan, Konsultan politik pasangan Anies-Sandiaga, Eep Saefullah Fatah mengatakan keberhasilan Anies meraup suara yang cukup besar bisa berdasar dari pertimbangan pribadi, dan tak terpengaruh adanya dukungan partai politik. Eep mengatakan, ada tiga faktor paling besar yang menjadi pertimbangan pemilih independen ini dalam menentukan pilihannya. Pertama, kata dia, rekam jejak atau pengalaman calon. Kedua, terkait program kerja yang ditawarkan, dan faktor ketiga berkaitan tentang kepribadian atau lebih jauh tentang cara komunikasi calon dan keteladanan.

"Ternyata pengetahuan warga Jakarta tentang program pokoknya Anies-Sandi sangat tinggi termasuk menolak reklamasi," kata Eep, kemarin.

Eep mengatakan, sebanyak 92,7 persen pemilih Jakarta menilai Anies merupakan sosok calon yang berkepribadian baik sebagai pemimpin yang layak diteladani. Ini jauh lebih tinggi dibanding Agus apalagi Ahok. Sementara Ahok, kata dia, unggul di rekam jejak atau berpengalaman.

Dia menambahkan, sebanyak 11 persen pemilih di Jakarta memilih karena keluarga, lingkungan kerja dan pertemanan. Artinya, total 82,2 persen pemilih di Ibu Kota dalam memilih cagub-cawagub tak terikat dengan partai yang dipilihnya. Sehingga, menurutnya, di Jakarta mobilisasi partai tidak akan berjalan efektif. umr/ifw/rm Next »


SURABAYAPAGI.com, Jakarta – Diluar dugaan, pasangan Anies Baswedan – Sandiaga Uno, dalam putaran dua Pilkada DKI Jakarta, Rabu (19/4/2017) bisa unggul sangat jauh dari pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat. Padahal, sebelum hari pencoblosan, tingkat Akseptabilitasnya, Ahok-Djarot mencapai 79,3 persen. Sementara Anies-Sandi hanya 59,1 persen. Namun, pada hasil hitung cepat coblosan Rabu kemarin, langsung dibalik oleh Anies-Sandi. Lantas faktor apa yang membuat lompatan suara Anies Baswedan – Sandiaga Uno melonjak luar biasa?

Ada beberapa faktor yang melahirkan kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di semua hasil hitung cepat lembaga survey Rabu kemarin. Hal itu hasil analisis dari beberapa Pakar Ilmu Komunikasi Politik dari Jakarta dan Surabaya.

Pertama, Husin Yazid, pakar ilmu komunikasi Politik yang juga memiliki Lembaga Survei Indomatrik, saat ditemui kontributor Surabaya Pagi di Jakarta, ada tiga faktor yang membuat suara Anies ungguli Ahok.

"Pertama, suara yang dulunya ke pasangan Agus Yudhoyono-Slyviana Murni sekitar 17 persen itu, 13 persennya ke pasangan Anies-Sandi, terus yang dulunya 'golput' pindah ke Anies dan Sandi," kata Husin, yang mengajak sejumlah wartawan termasuk Surabaya Pagi, ngopi bareng di Bangi Kopitiam, Jakarta.

Faktor dua, lanjut Husin, Anies-Sandi diuntungkan dengan gerakan antipati dari masyarakat yang mengecam gerakan bagi-bagi bahan pokok (sembako) pada minggu tenang. "Pada saat minggu tenang, tim dari Ahok-Djarot kan sempat bagi-bagi sembako. Benar-benar tenang mereka melancarkan money politic, masyarakat ini jadi antipati dengan Ahok-Djarot. Aparat juga mengetahui hal ini tapi seakan-akan melakukan pembiaran," jelasnya. Next »



Terakhir, terkait sikap Anies yang berwibawa, tenang dan sopan. Faktor ketiga ini membuat pasangan yang diusung Partai Gerindra dan PKS ini meraup banyak suara di putaran yang pertama. "Jadi, faktor-faktor inilah yang membuat suara Anies dan Sandi terdongkrak berdasarkan quick count hari ini," ujar Husin.

Faktor Penistaan Agama
Terpisah, CEO The Initiative Institute Airlangga Pribadi yang juga pakar Politik dari Universitas Airlangga, menyatakan bahwa melejitnya Anies karena munculnya kasus penistaan agama yang terjadi pada Ahok. "Faktor yang mempengaruhi sangat besar kekalahan petahana Ahok-Djarot adalah maraknya politisasi agama dan pembelahan kultural sebagai instrumen politik pemenangan pilkada," kata Airlangga.

Menurut Airlangga, berdasarkan hasil quick count Ahok-Djarot hanya memperoleh suara di kisaran 42-43 persen. Ini tidak sesuai dengan survei-survei yang mengukur tingkat kepuasan rakyat atas kinerja incumbent yang mencapai 70 persen. "Yang memilih ternyata jauh di bawah itu. Padahal survei sebelumnya yang mengukur tingkat kepuasan rakyat sebesar 70 persen. Tapi yang harus diingat ada 42-43 persen warga DKI Jakarta yang tidak memilih atas dasar SARA. Ini modal politik yang harus dirawat Ahok," jelasnya.
Next »


Rekam Jejak Pribadi
Sedangkan, Konsultan politik pasangan Anies-Sandiaga, Eep Saefullah Fatah mengatakan keberhasilan Anies meraup suara yang cukup besar bisa berdasar dari pertimbangan pribadi, dan tak terpengaruh adanya dukungan partai politik. Eep mengatakan, ada tiga faktor paling besar yang menjadi pertimbangan pemilih independen ini dalam menentukan pilihannya. Pertama, kata dia, rekam jejak atau pengalaman calon. Kedua, terkait program kerja yang ditawarkan, dan faktor ketiga berkaitan tentang kepribadian atau lebih jauh tentang cara komunikasi calon dan keteladanan.

"Ternyata pengetahuan warga Jakarta tentang program pokoknya Anies-Sandi sangat tinggi termasuk menolak reklamasi," kata Eep, kemarin.

Eep mengatakan, sebanyak 92,7 persen pemilih Jakarta menilai Anies merupakan sosok calon yang berkepribadian baik sebagai pemimpin yang layak diteladani. Ini jauh lebih tinggi dibanding Agus apalagi Ahok. Sementara Ahok, kata dia, unggul di rekam jejak atau berpengalaman.

Dia menambahkan, sebanyak 11 persen pemilih di Jakarta memilih karena keluarga, lingkungan kerja dan pertemanan. Artinya, total 82,2 persen pemilih di Ibu Kota dalam memilih cagub-cawagub tak terikat dengan partai yang dipilihnya. Sehingga, menurutnya, di Jakarta mobilisasi partai tidak akan berjalan efektif. umr/ifw/rm Next »










Komentar Anda



Submit

Berita Terkait