Pak De, Inspirator Perubahan Politik di Jawa Timur

 

H. Tatang Istiawan

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Pilkada Gubernur 2018, tinggal hitungan bulan. Dari 12 Partai politik yang mengikuti Pilpres 2014, baru Partai Demokrat yang sudah membuka diri mengumumkan nama calon peserta Pilkada 2018.

Ada yang menarik dalam pengumuman yang disampaikan Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Pak De Karwo, minggu lalu. Ada dua nama yang disebut untuk dikirim ke DPP Partai Demokrat Pusat. Mereka, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Abdul Halim Iskandar.

Dua nama ini, sama-sama bukan kader Partai Demokrat. Gus Ipul, praktis sekarang tidak memiliki partai Politik. Ia hanya menjadi pengurus PBNU hasil Muktamar NU di Jombang. Sedangkan Abdul Halim Iskandar, Ketua DPRD Jatim yang juga Ketua DPW PKB Jatim.

Hal menarik, mengapa dua nama ini disorong ke SBY, Ketum Partai Demokrat. Apakah sudah resmi, Gus Ipul dan Halim, maju di Pilgub Jatim 2018, dari pintu Partai berlambang Mercy biru.
Pengumuman Pak De Karwo, ini sepertinya membuka ruang publik untuk menebak-nebak. Mengingat, penyorongan nama Gus Ipul dan Halim, ke DPP Partai Demokrat, bisa menimbulkan spekulasi yang beragam. Next »



Inilah politik. Selalu ada warna misteri. Membuka peluang tebak-tebakan. Publik yang heterogen bisa meramal, menganalisis dan juga mengira-ngira, benarkah Gus Ipul dan Halim, bakal ‘’dikawinkan” Pak De, untuk menjadi kekuatan baru dalam Pilgub 2018 mendatang. Ataukah pengumuman ini sebagai lontaran isu, untuk memancing partai politik lain, bereaksi.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Sadar atau tidak, meski Pilkada tinggal 16 bulan lagi, sepak terjang pimpinan partai politik lokal dalam percaturan politik selalu diperhitungkan, baik kawan maupun lawan.

Pimpinan parpol lokal seperti Pak De Karwo. yang kerap tampil ke muka untuk mengawal dan memperjuangkan aspirasi rakyat, menarik untuk dikaji. Mengingat, posisi Pak De Karwo, yang juga seorang Gubernur, selalu melekat dengan idealisme dan intelektualitas seorang birokrat yang politisi.
Next »


Tampilan Pak De Karwo, Kamis lalu, dalam kapasitas Ketua DPD Partai Demokrat, bisa diposisikan sebagai keberaniannya melawan arus dalam situasi ‘’tegang’’ pasca Pilkada DKI Jakarta, Februari 2017.

Kapasitas dan kematangan Pak De Karwo, di dunia politik membawanya dipercaya sebagai Ketua DPD Partai Demokrat dua kali berturut-turut. Terobosan apa lagi, yang akan dilakukan Pak De Karwo, setelah ini. Akankah ia mengumumkan, posisi Agus Harimurti, dalam Pilkada 2018 mendatang sebagai kandidat dari Partai Demokrat.

Politik Indonesia memang tidak pernah ada kepastian. Dalam praktik politik transaksional, jujur, memang sulit membedakan antara kepastian hukum dan kepastian politik. Politik bisa mengubah wajah hukum kita. Maka itu, pengumuman Pak De Karwo, yang memberitahu pengiriman nama Gus Ipul dan Halim, ke SBY, adalah urusan politik yang otomatis tidak ada kepastian hukum, posisi Gus Ipul dan Halim, dalam pencalonan Gubernur dan Wagub dari Partai Demokrat.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Pak De Karwo, sepertinya faham keterampilan mendasar seorang pemimpin yaitu memberi inspirasi. Pengumuman nama Gus Ipul dan Halim Iskandar akan diajukan kepada SBY, ketum Partai Demokrat, adalah sebuah inspirasi bagi Ketua DPD partai politik di Jawa Timur. Next »



Ini merujuk pada akar katanya, inspirasi yang dalam Bahasa Inggrisnya inspire. Kata ini berasal dari Bahasa Latin, Spiro, yang artinya napas atau napas kehidupan. Bila dikembangkan lebih luas, inspirasi mengandung arti: mendorong untuk bertindak, memotivasi, mempengaruhi atau menyentuh, membangkitkan energi dan harapan dan mendorong seseorang untuk aktif dan kreatif.

Pak De, ingin memberi nafas pada parpol lain untuk menghidupkan suasana kompetisi antar parpol di Jatim. Dalam bahasa yang lebih agitatif, ada apa suasana jelang Pilgub Jatim 2028, elite partai masih adem ayem. Padahal, karakter arek Jawa Timur terkenal terbuka dan spontan. Sementara Pilkada DKI, dua tahun sebelum pencoblosan,opini publiknya sudah mengaum bak pertarungan presiden.

Mungkin saja, Pak De tergolong pemimpin yang inspiratif. Momen berakhirnya pilkada DKI, Pak De mulai keluar kandang untuk mendorong, memotivasi, dan mempengaruhi publik untuk menghidupkan pra-kampanye, sekaligus mengajak ketua parpol lain untuk memunculkan kandidatnya.

Mengingat sampai kini, yang sering menyapa publik, baru Gus Ipul, Halim dan Khofifah. Next »



Saya sendiri belum tahu persis siapa calon Gubernur dari Partai Demokrat? Apakah Gus Ipul, Halim atau Khofifah. Atau bahkan akan dimunculkan kuda hitam.

Bisa jadi bagi Pak De, calon yang diunggulkan oleh partainya, minimal sama kualitasnya dengan Pak De. Bila kandidatnya nanti dibawah kemampuan Pak De, bisa jadi, prestasi provinsi Jawa Timur ke depan merosot. Terutama pertumbuhan ekonominya.

Maklum, ada yang menilai Pak De, melambangkan keragaman seorang birokrat, politisi dan akademisi serta sosok pengayom.
Makanya, idealnya gubernur Jatim penerus Pak De harus menjadi inspirasi perubahan yang lebih bersahabat dan dialogis,syukur juga bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Next »


Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Memotret Kondisi Partai politik di negeri ini, Partai Golkar dan PPP yang era Pemerintahan Jokowi, terombang-ambing dan dipecah-belah oleh kekuatan seolah dari internal. Padahal, intervensi eksternal partai sudah bukan rahasia. Makanya, kekuatan dua parpol ini di Jatim, menjadi kurang diperhitungkan. Sebaliknya, partai baru seperti NasDem dan Gerindra Jawa Timur, malah punya bargaining. Ini bisa jadi, ketum kedua partai ini merupakan sosok politisi yang punya power. Surya Paloh dan Prabowo, sama-sama punya power dan kharismatik.

Kepanjangan NasDem di Jatim sama dengan Partai Golkar yaitu sama-sama Bupati. Nyono ( Golkar) adalah Bupati Jombang. Rendra, Ketua DPD NAsDem Jatim adalah Bupati Malang. Sedangkan Ketua DPD Partai Gerindra, Supriyanto, anggota DPR-RI.

Sedangkan PAN, meski punya basis di pantura, kader partai yang masih bisa dijejerkan dengan Gus Ipul dan Halim, adalah Suyoto, Bupati Bojonegoro dan Ketua DPW PAN Jatim. Lalu partai gurem yaitu Hanura, PBB dan PKP, tak punya politisi yang mengakar. Dengan peta seperti ini, Pak De punya kesempatan "mengkoordinasi" semua ketua parpol di provinsi Jawa Timur.

Apalagi, hasil penelitian Litbang SP, umumnya partai politik di Jatim pun lebih dikelola berbasis kepentingan pribadi para pimpinan dan kader-kadernya. Sementara kepentingan bangsa dan negara dan seluruh rakyatnya hampir dilupakan. Pak De, sudah memotretnya. Oleh karena itu, publikasi penyorongan nama Gus Ipul dan Halim Iskandar ke SBY dapat dibaca sebagai early warning. Next »



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Nah, meski 11 parpol diluar Partai Demokrat masih tenang-tenang terkait figur kader yang akan dimajukan dalam Pilkada 2018 nanti, semua Partai politik lokal di Jatim juga berilmu yang sama sebagaimana fungsi partai politik pada umumnya.

Maka itu, publikasi Gus Ipul dan Halim dimasukkan sebagai ‘’sorongan’’ dari Partai Demokrat (PD) Jatim, menurut saya, bagian dari komunikasi politik. Pers dijadikan sarana sosialisasi politik oleh Pak De Karwo. Paling tidak, penyorongan ke SBY itu juga bisa dibaca sebagai sarana rekruitmen menjadi calon Gubernur.

Publikasi Kamis minggu yang lalu, juga bisa dianggap sebagai sarana pengatur konflik PD, pasca Pilkada DKI Februari 2017. Artinya, siapapun elite parpol, akan membaca, pertarungan di Jakarta, yang akan memasuki babak kedua, peluang Anies Baswedan- Sandiaga Uno, lebih besar ketimbang incumbent Ahok-Djarot.
Next »


Terkait dengan komunikasi politik yang dilakukan Pak De Karwo, kali ini, partai politik pun, saya pikir juga memiliki keinginan untuk melakukan sosialisasi politik, seperti yang dijalankan oleh PD Jatim.

Saya memperkirakan pada tataran rekruitmen politik, setelah figure Pak De Karwo, belum ada kader PD di Jawa Timur yang seimbang dengan Gus Ipul, maupun Khofifah. Padahal, secara teoritis, Partai dibentuk dimaksudkan untuk menjadi kendaraan yang sah dalam menyeleksi kader-kader calon Kepala Daerah provinsi atau bahkan pemimpin Negara.

Pertanyaan yang masih kita tunggu, apakah Gus Ipul maupun Halim, masuk dalam kategori pemimpin yang mampu memimpin perubahan di Jawa Timur. Paling tidak menyamai prestasi kualitatif dan kuantitatif Pak De Karwo.

Sampai kini masih remang-remang. Siapa yang menyusul Gus Ipul dan Halim. Adakan muka baru yang bisa terandalkan kemampuan membangkitkan inspirasi pada rakyat Jawa Timur. mari kita tunggu manuver dari partai-partai politik lain. (tatangistiawan@gmail.com)

H. Tatang Istiawan

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Pilkada Gubernur 2018, tinggal hitungan bulan. Dari 12 Partai politik yang mengikuti Pilpres 2014, baru Partai Demokrat yang sudah membuka diri mengumumkan nama calon peserta Pilkada 2018.

Ada yang menarik dalam pengumuman yang disampaikan Ketua DPD Partai Demokrat Jatim, Pak De Karwo, minggu lalu. Ada dua nama yang disebut untuk dikirim ke DPP Partai Demokrat Pusat. Mereka, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Abdul Halim Iskandar.

Dua nama ini, sama-sama bukan kader Partai Demokrat. Gus Ipul, praktis sekarang tidak memiliki partai Politik. Ia hanya menjadi pengurus PBNU hasil Muktamar NU di Jombang. Sedangkan Abdul Halim Iskandar, Ketua DPRD Jatim yang juga Ketua DPW PKB Jatim.

Hal menarik, mengapa dua nama ini disorong ke SBY, Ketum Partai Demokrat. Apakah sudah resmi, Gus Ipul dan Halim, maju di Pilgub Jatim 2018, dari pintu Partai berlambang Mercy biru.
Pengumuman Pak De Karwo, ini sepertinya membuka ruang publik untuk menebak-nebak. Mengingat, penyorongan nama Gus Ipul dan Halim, ke DPP Partai Demokrat, bisa menimbulkan spekulasi yang beragam. Next »



Inilah politik. Selalu ada warna misteri. Membuka peluang tebak-tebakan. Publik yang heterogen bisa meramal, menganalisis dan juga mengira-ngira, benarkah Gus Ipul dan Halim, bakal ‘’dikawinkan” Pak De, untuk menjadi kekuatan baru dalam Pilgub 2018 mendatang. Ataukah pengumuman ini sebagai lontaran isu, untuk memancing partai politik lain, bereaksi.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Sadar atau tidak, meski Pilkada tinggal 16 bulan lagi, sepak terjang pimpinan partai politik lokal dalam percaturan politik selalu diperhitungkan, baik kawan maupun lawan.

Pimpinan parpol lokal seperti Pak De Karwo. yang kerap tampil ke muka untuk mengawal dan memperjuangkan aspirasi rakyat, menarik untuk dikaji. Mengingat, posisi Pak De Karwo, yang juga seorang Gubernur, selalu melekat dengan idealisme dan intelektualitas seorang birokrat yang politisi.
Next »


Tampilan Pak De Karwo, Kamis lalu, dalam kapasitas Ketua DPD Partai Demokrat, bisa diposisikan sebagai keberaniannya melawan arus dalam situasi ‘’tegang’’ pasca Pilkada DKI Jakarta, Februari 2017.

Kapasitas dan kematangan Pak De Karwo, di dunia politik membawanya dipercaya sebagai Ketua DPD Partai Demokrat dua kali berturut-turut. Terobosan apa lagi, yang akan dilakukan Pak De Karwo, setelah ini. Akankah ia mengumumkan, posisi Agus Harimurti, dalam Pilkada 2018 mendatang sebagai kandidat dari Partai Demokrat.

Politik Indonesia memang tidak pernah ada kepastian. Dalam praktik politik transaksional, jujur, memang sulit membedakan antara kepastian hukum dan kepastian politik. Politik bisa mengubah wajah hukum kita. Maka itu, pengumuman Pak De Karwo, yang memberitahu pengiriman nama Gus Ipul dan Halim, ke SBY, adalah urusan politik yang otomatis tidak ada kepastian hukum, posisi Gus Ipul dan Halim, dalam pencalonan Gubernur dan Wagub dari Partai Demokrat.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Pak De Karwo, sepertinya faham keterampilan mendasar seorang pemimpin yaitu memberi inspirasi. Pengumuman nama Gus Ipul dan Halim Iskandar akan diajukan kepada SBY, ketum Partai Demokrat, adalah sebuah inspirasi bagi Ketua DPD partai politik di Jawa Timur. Next »



Ini merujuk pada akar katanya, inspirasi yang dalam Bahasa Inggrisnya inspire. Kata ini berasal dari Bahasa Latin, Spiro, yang artinya napas atau napas kehidupan. Bila dikembangkan lebih luas, inspirasi mengandung arti: mendorong untuk bertindak, memotivasi, mempengaruhi atau menyentuh, membangkitkan energi dan harapan dan mendorong seseorang untuk aktif dan kreatif.

Pak De, ingin memberi nafas pada parpol lain untuk menghidupkan suasana kompetisi antar parpol di Jatim. Dalam bahasa yang lebih agitatif, ada apa suasana jelang Pilgub Jatim 2028, elite partai masih adem ayem. Padahal, karakter arek Jawa Timur terkenal terbuka dan spontan. Sementara Pilkada DKI, dua tahun sebelum pencoblosan,opini publiknya sudah mengaum bak pertarungan presiden.

Mungkin saja, Pak De tergolong pemimpin yang inspiratif. Momen berakhirnya pilkada DKI, Pak De mulai keluar kandang untuk mendorong, memotivasi, dan mempengaruhi publik untuk menghidupkan pra-kampanye, sekaligus mengajak ketua parpol lain untuk memunculkan kandidatnya.

Mengingat sampai kini, yang sering menyapa publik, baru Gus Ipul, Halim dan Khofifah. Next »



Saya sendiri belum tahu persis siapa calon Gubernur dari Partai Demokrat? Apakah Gus Ipul, Halim atau Khofifah. Atau bahkan akan dimunculkan kuda hitam.

Bisa jadi bagi Pak De, calon yang diunggulkan oleh partainya, minimal sama kualitasnya dengan Pak De. Bila kandidatnya nanti dibawah kemampuan Pak De, bisa jadi, prestasi provinsi Jawa Timur ke depan merosot. Terutama pertumbuhan ekonominya.

Maklum, ada yang menilai Pak De, melambangkan keragaman seorang birokrat, politisi dan akademisi serta sosok pengayom.
Makanya, idealnya gubernur Jatim penerus Pak De harus menjadi inspirasi perubahan yang lebih bersahabat dan dialogis,syukur juga bisa menjadi inspirasi bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, khususnya di Jawa Timur.
Next »


Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Memotret Kondisi Partai politik di negeri ini, Partai Golkar dan PPP yang era Pemerintahan Jokowi, terombang-ambing dan dipecah-belah oleh kekuatan seolah dari internal. Padahal, intervensi eksternal partai sudah bukan rahasia. Makanya, kekuatan dua parpol ini di Jatim, menjadi kurang diperhitungkan. Sebaliknya, partai baru seperti NasDem dan Gerindra Jawa Timur, malah punya bargaining. Ini bisa jadi, ketum kedua partai ini merupakan sosok politisi yang punya power. Surya Paloh dan Prabowo, sama-sama punya power dan kharismatik.

Kepanjangan NasDem di Jatim sama dengan Partai Golkar yaitu sama-sama Bupati. Nyono ( Golkar) adalah Bupati Jombang. Rendra, Ketua DPD NAsDem Jatim adalah Bupati Malang. Sedangkan Ketua DPD Partai Gerindra, Supriyanto, anggota DPR-RI.

Sedangkan PAN, meski punya basis di pantura, kader partai yang masih bisa dijejerkan dengan Gus Ipul dan Halim, adalah Suyoto, Bupati Bojonegoro dan Ketua DPW PAN Jatim. Lalu partai gurem yaitu Hanura, PBB dan PKP, tak punya politisi yang mengakar. Dengan peta seperti ini, Pak De punya kesempatan "mengkoordinasi" semua ketua parpol di provinsi Jawa Timur.

Apalagi, hasil penelitian Litbang SP, umumnya partai politik di Jatim pun lebih dikelola berbasis kepentingan pribadi para pimpinan dan kader-kadernya. Sementara kepentingan bangsa dan negara dan seluruh rakyatnya hampir dilupakan. Pak De, sudah memotretnya. Oleh karena itu, publikasi penyorongan nama Gus Ipul dan Halim Iskandar ke SBY dapat dibaca sebagai early warning. Next »



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Nah, meski 11 parpol diluar Partai Demokrat masih tenang-tenang terkait figur kader yang akan dimajukan dalam Pilkada 2018 nanti, semua Partai politik lokal di Jatim juga berilmu yang sama sebagaimana fungsi partai politik pada umumnya.

Maka itu, publikasi Gus Ipul dan Halim dimasukkan sebagai ‘’sorongan’’ dari Partai Demokrat (PD) Jatim, menurut saya, bagian dari komunikasi politik. Pers dijadikan sarana sosialisasi politik oleh Pak De Karwo. Paling tidak, penyorongan ke SBY itu juga bisa dibaca sebagai sarana rekruitmen menjadi calon Gubernur.

Publikasi Kamis minggu yang lalu, juga bisa dianggap sebagai sarana pengatur konflik PD, pasca Pilkada DKI Februari 2017. Artinya, siapapun elite parpol, akan membaca, pertarungan di Jakarta, yang akan memasuki babak kedua, peluang Anies Baswedan- Sandiaga Uno, lebih besar ketimbang incumbent Ahok-Djarot.
Next »


Terkait dengan komunikasi politik yang dilakukan Pak De Karwo, kali ini, partai politik pun, saya pikir juga memiliki keinginan untuk melakukan sosialisasi politik, seperti yang dijalankan oleh PD Jatim.

Saya memperkirakan pada tataran rekruitmen politik, setelah figure Pak De Karwo, belum ada kader PD di Jawa Timur yang seimbang dengan Gus Ipul, maupun Khofifah. Padahal, secara teoritis, Partai dibentuk dimaksudkan untuk menjadi kendaraan yang sah dalam menyeleksi kader-kader calon Kepala Daerah provinsi atau bahkan pemimpin Negara.

Pertanyaan yang masih kita tunggu, apakah Gus Ipul maupun Halim, masuk dalam kategori pemimpin yang mampu memimpin perubahan di Jawa Timur. Paling tidak menyamai prestasi kualitatif dan kuantitatif Pak De Karwo.

Sampai kini masih remang-remang. Siapa yang menyusul Gus Ipul dan Halim. Adakan muka baru yang bisa terandalkan kemampuan membangkitkan inspirasi pada rakyat Jawa Timur. mari kita tunggu manuver dari partai-partai politik lain. (tatangistiawan@gmail.com)









Komentar Anda



Submit

Berita Terkait