Gus Ipul- Halim, Bisa "Dikawinkan" Pak De

Surat Terbuka untuk Pimpinan Partai Politik di Jatim Jelang Pilkada Jatim 2018 (2)

 

H. Tatang Istiawan

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Pak De Karwo, meski sudah menjadi kakek beberapa cucu (67 tahun), selera mudanya masih belum surut. Ini saya simak sejak menjadi Gubernur periode pertama, Pak De Karwo, sudah mengenal marketer bidang politik.

Beberapa kali melakukan perbincangan terkait politik lokal jelang Pilkada serentak 2013 dan 2018, saya menangkap kesan Pak De, memiliki pemikiran yang mengkawinkan marketing dengan politik. Kesan kuat yang saya serap, Pak De, paham benar tentang produk politik dan distribusi produk politik kepada publik. Sekaligus cara meyakinkan konstituennya bahwa produk politik Partai Demokrat di Jawa Timur lebih unggul di bandingkan dengan pesaing "latentnya" PDIP. Pendeknya, Pak De yang juga Gubernur Jawa Timur mengenal marketing politik (Political marketing) secara luar kepala.

Saya menilai seperti ini, karena pemahaman yang dilakukan Pak De Karwo adalah mengutamakan pendekatan dengan semua Ketua Partai Politik. Makanya, sampai surat terbuka ini saya tulis, saya tidak pernah mendengar Pak De ikut gegeran atau musuhan dengan partai politik manapun. Termasuk PDIP, yang di politik tingkat nasional, antara Ketum PD SBY, dengan Ketua Umum PDIP, Megawati, masih belum bersapa, baik sebagai pribadi maupun ketua partai.

Bahkan dalam urusan pencitraan maupun penggalangan pemilih, Pak De, mendalami tentang metode marketing. Dalam metode ini Pak De, punya cara mengelola kader yang maju dalam Pilgub 2018 sekaligus mesin partai politik. Dua hal ini dilakukan agar saat kampanye nanti, semuanya berjalan lebih efesien dan lebih efektif. Terutama dalam membangun dua arah dengan konstituen dan masyarakat. Maklum, Pak De adalah Gubernur yang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah.
Next »


Pemahaman Pak De terhadap marketing politik, bisa jadi ia sudah dua kali menjadi pelaku Pilkada langsung, sehingga tahu suka-dukanya. Termasuk menjadi korban elite yang mengaku-ngaku memiliki jaringan ke grass root. Hal kedua yang membuat Pak De, mau melirik Political marketing dengan garapan efisien dan efektif, karena tahu tentang perkembangan sistem pemerintahan Indonesia yang demokratis seperti sekarang ini.



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Saya menyimak, Konsep politik praktis, dari permainan elite (strategi bertempur) hingga kategorisasi pemilih, telah dipahami secara baik dan benar oleh Pak De Karwo. Termasuk Jargon politik ‘’bang-jo” yang sudah kental dikenali sampai di tingkat bawah. Jargon ini juga pernah dialogkan dengan Presiden Jokowi, saat Presiden yang diusung PDIP dan koalisinya (KIH) berkunjung di Jawa Timur. Ini menunjukkan cara Pak De dalam memotret politik lokal di Jawa Timur sudah melewati relung sosiologis, kultural, dan demografis peta politik jelang Pilgub 2018.

Dalam pemahaman ‘’bang-jo’’ misalnya, Pak De, sering berkomunikasi dengan Ketua Umum PDIP Jatim, Kusnadi SH, yang juga Wakil Ketua DPRD Jawa Timur. Selain, tidak putus komunikasi dengan Halim Iskandar, Ketua Umum PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sekaligus menjabat Ketua DPRD Jatim. Selain dengan Ketua DPD parpol lain. Next »



Dengan menyorongkan nama Gus Ipul, yang tidak memiliki posisi di partai politik manapun bersama Abdul Halim Iskandar, Ketua Umum PKB ke Ketua Umum Partai Demokrat, SBY, saya menangkap sinyal dua pasangan ini hendak ‘’dikawinkan’’ Pak De untuk menjadi pasangan incumbent (eksekutif-legislatif) yang mewakili koalisi Bang-Jo (Abang-Ijo).

Menciptakan koalisi "ijo-abang", penerusnya. Saya menganalisis koalisi "bang-jo" tidak sekedar partai abangan dan partai berbendera hijau. Istilah ‘’ijo-abang’’ ini juga mulai masuk dalam akronim, Jombang.

Dua istilah ini, menurut akal sehat saya, cocok. Gus Ipul, kemungkinan besar diusung Partai Demokrat, partai nasionalis. Sementara Halim Iskandar, Partai PKB, yang didirikan oleh Gus Dur, tokoh NU kultural. Keduanya, juga punya hubungan dengan santri di Jombang. Maklum, Istri Gus Ipul, juga berasal dari Jombang, satu kota dengan kota kelahiran Halim Iskandar.

Bila ditotal, jumlah suara yang diperoleh Gus Ipul-Halim, lebih dari cukup. PKB, saat ini memiliki 20 kursi di DPRD Jawa Timur. Sedangkan Partai Demokrat, 13 kursi. Jadi total yang dimiliki Gus Ipul- Halim (bila perkawinan ini memenuhi syarat mahar politik), maka jumlah duet arek Jombang-Bangil ini sudah mengantungi 33 kursi. Next »



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Menurut perhitungan saya, Gus Ipul dan Halim, memiliki "nasib" yang sama. Gus Ipul, orang "ijo" katakan kelak resmi diusung Partai Demokrat, masih belum "aman", bila maju sebagai cagub tahun 2018, tanpa dukungan partai "ijo". Maklum, penqurus PBNU hasil muktamar Jombang ini hanya berbekal 13 kursi. Ia masih membutuhkan 7 kursi. Siapa yang "dipinang"?. PDIP, pasti tak bisa dilobi, karena Megawati, ketumnya, sampai surat terbuka saya tulis, masih ngelus-elus Risma, Walikota Surabaya, untuk merebut kursi L-1 Grahadi. Apakah Golkar atau NasDem? Rencananya Golkar akan ajukan Khofifah?. Bagaimana dengan NaSdem? Besar kemungkinan dukung Megawati, menggoalkan Risma. NasDem bisa jadi ingin diposisi Wacagub Risma. Akan halnya Hanura. Sejak dipimpin Oesman Sapto Odang, Hanura sudah memposisikan pendukung pemerintahan Jokowi. Otomatis, bila Jokowi mengijinkan Khofifah, melepas jabatan pembantu presiden sebagai Menteri Sosial, Partai Hanura akan mengawal Khofifah ke daerah-daerah di 38 Kabupaten/kota se Jawa Timur.

Probabilitas yang paling rasional, Gus Ipul dengan kendaraan Partai Demokrat, adalah merangkul Halim, dari PKB. Demikian juga Halim, yang elektabilitasnya belum setinggi Gus Ipul, satu-satunya yang menguntungkan adalah nempel ke Partai Demokrat. Nempel untuk menjadi Cawagub Gus Ipul. Ini lebih memiliki kesesuaian. Apalagi ditarik ke tingkat politik nasional. Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, secara emosional lebih dekat dengan SBY, ketimbang Megawati. Mengingat Muhaimin, pernah menjadi pembantu presiden saat SBY, memimpin negeri ini. Berbeda dengan posisi sekarang yang masuk dalam Koalisi Indonesia Hebat, Muhaimin tidak dapat kursi apa-apa di pemerintahan Jokowi, petugas partai PDIP. Bahkan untuk tingkat "keloyalan" Muhaimin ke SBY, dibuktikan dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. PKB lebih suka memihak Agus Yudhoyono ketimbang Ahok, yang didukung PDIP, NasDem, Hanura dan PKPI. Padahal PDIP dkk adalah teman sekoalisi pilpres 2014 lalu.

Oleh karena itu, rencana Halim, "cukup" menjadi Cawagub Gus Ipul, merupakan pilihan cerdas Ketua DPRD Jatim dan komprominya Pak De Karwo dengan Halim maupun Muhaimin (bila ada).
Next »


Perhitungan saya, bila Halim, ngotot maju sendiri sebagai Cagub PKB, ia bisa ngaplo, tidak dapat apa-apa kayak almarhum Ir. Soetjipto, ketua DPD PDIP Jatim yang menggandeng kader Partai Golkar, Ridlwan Hisyam.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Posisi Gus Ipul, maju sebagai Gubernur dan Halim, Wakil Gubernur, dari pendekatan sosiologis, kultural dan demografis, menurut akal sehat saya, pas dan kompak. Misalnya, Gus Ipul, sudah dua kali ‘’nyantrik’’ di Pak De Karwo. Meski Gus Ipul, dikenal Wagub yang doyan guyonan, ia adalah wartawan yang juga santri. Akal sehat saya, Syaifullah Yusuf, nama lengkap Gus Ipul, bisa belajar otodidak. Termasuk mendalami konsep-konsep ekonomi kerakyatan Pak De Karwo, sejak APBD untuk Rakyat hingga Jatimnomics.

Saya pikir, Gubernur Jawa Timur tahun 2018 ke depan, lebih berat ketimbang era Pak De Karwo. Tahun 2013, saat Pilkada langsung dilakukan, Pak De Karwo, menggantikan posisi Gubernur Imam Oetomo. Praktis, Imut, panggilan Imam Oetomo, tidak dicatat menorehkan sejarah pertumbuhan ekonomi yang terunggulkan. Keunggulan Imam Oetomo dikenal sebagai pemimpin pengembang Solidaritas (solidarity maker). Saat itu Imut saya kenal, mementingkan dinamika hubungan emosional dengan masyarakat. Maklum, Imut, pernah memimpin sebuah teritorial sebagai Danrem mapun Pangdam V Brawijaya. Teman-teman di kalangan pengusaha jauh lebih banyak ketimbang pertemanan dengan elite partai politik.

Beda dengan Pak De Karwo, jumlah teman elite politik, akademisi, budayawan dan wartawan jauh lebih luas ketimbang melayani pengusaha. Maklum, Pak De Karwo, selama berkarir tidak pernah berurusan dengan pengusaha. Ini karena karir Pak De Karwo lebih banyak didalam yaitu sebagai Kadispenda dan Sekdaprov. Next »



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Tim Litbang saya pernah melakukan penelitian jelang Pilgub 2013 yaitu satu periode kepemimpinan Pak De – Gus Ipul, memimpin Provinsi Jawa Timur. Keberhasilannya hingga dipilih yang kedua, karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantara variabel yang saya teliti, yang paling dominan adalah gaya kepemimpinan Pak De Karwo, sehingga mampu menggerakkan masyarakat dari semua lapisan.

Bagi saya, gaya kepemimpinan partisipatif yang dilakukan Pak De Karwo selama ini, wujud dari seorang Gubernur yang memperoleh pengakuan dari rakyatnya. Artinya, keberhasilan Pak De. bukan karena adanya daya dukung dari kekuatan Partai Demokrat dan pendukungnya (semua Parpol support Pak De). Tapi Pak De mempunyai Source dan Means, yaitu suatu kemampuan intelektual. Terutama dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Konsep Jatimnomics misalnya, adalah karya intelektualitas seorang Gubernur yang ingin memberdayakan UMKM dan Koperasi, agar setara dengan korporasi yang lebih dulu mendapat fasilitas kredit dari lembaga perbankan.

Dua periode memimpin Jawa Timur, saya memotret dari berbagai kalangan (pengusaha, elita partai, anak buah di Pemprov Jatim maupun sejumlah relawan Pak De-Gus Ipul), Pak De, dikenal sebagai seorang Gubernur yang bisa menerapkan sikap situasional. Sikap kepemimpinan partisipatifnya ini yang membuat orang sadar dan ikut berpartisipasi dalam kemajuan pembangunan untuk rakyat di Jawa Timur.
Next »


Saya mencatat, gaya kepemimpinan Pak De Karwo, dari dua segi, yaitu apa yang dimilikinya (menyangkut ciri atau kualitas berkomunikasi dan pemecahan masalah) dan apa yang di lakukannya (menyangkut persoalan dengan gaya kepemimpinannya melakukan berbagai pendekatan-pendekatan).

Sebagai seorang Doktor Ilmu Hukum dari Undip Semarang hingga mendapat Dr (HC) bidang ekonomi dari Unair, Pak De dalam usia sudah 77 tahun (16 Juni 1950) masih memiliki energi, kecerdasan, kerja sama dengan semua komponen, hubungan antarpribadi, dengan pertanggungjawaban. Dalam gaya kepemimpinan kedua, Pak De menurut saya mewakili pemimpin yang mampu mengorganisasikan dan menetapkan peranan secara terperinci dan jelas. Termasuk dalam berkomunikasi dengan SKPD di Pemprov Jatim. Ini saya simak saat Pak De menghadapi kritik dari wartawan terkait kekeliruan beberapa SKPDnya.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Saya menyimak hasil Pilkada DKI Jakarta, bulan Februari 2017 lalu. Dalam Pilkada di DKI ini, incumbent tidak serta merta dipilih oleh mayoritas penduduk Jakarta. Warga Jakarta, terutama pemilih pemula dan mudanya, menerapkan perubahan perilaku. Diantaranya mengedepankan kesadarannya sendiri, yaitu Self-propelling growth (memilih Gubernur sesuai dengan hati nurani tanpa adanya intervensi dengan cara apapun).

Gejala yang tumbuh di masyarakat, terutama pemilih muda punya persepsi tersendiri untuk pemimpinnya. Antara lain, seorang kepala daerah setingkat Gubernur (karena wilayah cakupannya diperluas oleh UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah), harus punya power berpikir dan bertindak berdasarkan atas kepentingan melihat ke masa lalu dan masa depan (visioner). Jejak kepala daerah yang diinginkan oleh pemilih muda antara lain mau membandingkan sekaligus memahami semua permasalahan untuk melangkah dalam arena penyaluran politik. Kasus Sumber Waras dan Kalijodo yang dilakukan Gubernur Ahok, salah satu contohnya. Next »



Suara Cagub Anies Baswedan dan Sandiago, salah satu masukan untuk parpol yang ada di Jawa Timur. Masukan yang saya simak bahwa Indonesia yang sedang dilanda ketidakpastian ekonomi dan politik, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang punya daya tarik kharismatis dalam banyak. Selain memiliki power pribadi dan koalisi di DPRD Jatim. Ini penting untuk bisa melambangkan semangat tanpa kenal lelah yaitu mengajarkan doktrin persatuan nasional dan persaudaraan, bukan radikalisme atau sektarian.

Prediksi saya, tahun 2017 ini, setelah Partai Demokrat menyorongkan dua kandidat Cagub Jatim Juni 2018, bakal ada ‘’perang politik’’ antar koalisi, bukan antar partai. Saya ketar-ketir, dalam kampanye Pilgub Jatim 2018 nanti, bisa jadi bakal ada elite politik yang hanya mengobral janji. Ia mengandalkan penggelontoran dana, entah dari mana sumber perolehannya.

Tipe cagub yang gampang obral janji dan money politic, menurut akal sehat saya jauh dari sifat dan jiwa seorang pemimpin yang nasionalis. Apa dan bagaimana? Gubernur nasionalis adalah rela membagikan makanan jiwa dan pengorbanan darah untuk mengurangi penderitaan rakyat.

Dalam pandangan saya, era sekarang ini, pemimpin di sebuah provinsi seperti Jawa Timur (meneruskan konsep pembangunan yang diletakkan Pak De Karwo) adalah Gubernur yang harus mempunyai dimensi kualitas idealisme. Tentu idealisme yang berpijak pada realita yang dihadapi masyarakat itu sendiri, seperti Pak De Karwo, aktivis GMNI, tetapi tetap mengelola APBD untuk kesejahteraan rakyat mayoritas. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung) Next »



H. Tatang Istiawan

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Pak De Karwo, meski sudah menjadi kakek beberapa cucu (67 tahun), selera mudanya masih belum surut. Ini saya simak sejak menjadi Gubernur periode pertama, Pak De Karwo, sudah mengenal marketer bidang politik.

Beberapa kali melakukan perbincangan terkait politik lokal jelang Pilkada serentak 2013 dan 2018, saya menangkap kesan Pak De, memiliki pemikiran yang mengkawinkan marketing dengan politik. Kesan kuat yang saya serap, Pak De, paham benar tentang produk politik dan distribusi produk politik kepada publik. Sekaligus cara meyakinkan konstituennya bahwa produk politik Partai Demokrat di Jawa Timur lebih unggul di bandingkan dengan pesaing "latentnya" PDIP. Pendeknya, Pak De yang juga Gubernur Jawa Timur mengenal marketing politik (Political marketing) secara luar kepala.

Saya menilai seperti ini, karena pemahaman yang dilakukan Pak De Karwo adalah mengutamakan pendekatan dengan semua Ketua Partai Politik. Makanya, sampai surat terbuka ini saya tulis, saya tidak pernah mendengar Pak De ikut gegeran atau musuhan dengan partai politik manapun. Termasuk PDIP, yang di politik tingkat nasional, antara Ketum PD SBY, dengan Ketua Umum PDIP, Megawati, masih belum bersapa, baik sebagai pribadi maupun ketua partai.

Bahkan dalam urusan pencitraan maupun penggalangan pemilih, Pak De, mendalami tentang metode marketing. Dalam metode ini Pak De, punya cara mengelola kader yang maju dalam Pilgub 2018 sekaligus mesin partai politik. Dua hal ini dilakukan agar saat kampanye nanti, semuanya berjalan lebih efesien dan lebih efektif. Terutama dalam membangun dua arah dengan konstituen dan masyarakat. Maklum, Pak De adalah Gubernur yang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan keuangan daerah.
Next »


Pemahaman Pak De terhadap marketing politik, bisa jadi ia sudah dua kali menjadi pelaku Pilkada langsung, sehingga tahu suka-dukanya. Termasuk menjadi korban elite yang mengaku-ngaku memiliki jaringan ke grass root. Hal kedua yang membuat Pak De, mau melirik Political marketing dengan garapan efisien dan efektif, karena tahu tentang perkembangan sistem pemerintahan Indonesia yang demokratis seperti sekarang ini.



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Saya menyimak, Konsep politik praktis, dari permainan elite (strategi bertempur) hingga kategorisasi pemilih, telah dipahami secara baik dan benar oleh Pak De Karwo. Termasuk Jargon politik ‘’bang-jo” yang sudah kental dikenali sampai di tingkat bawah. Jargon ini juga pernah dialogkan dengan Presiden Jokowi, saat Presiden yang diusung PDIP dan koalisinya (KIH) berkunjung di Jawa Timur. Ini menunjukkan cara Pak De dalam memotret politik lokal di Jawa Timur sudah melewati relung sosiologis, kultural, dan demografis peta politik jelang Pilgub 2018.

Dalam pemahaman ‘’bang-jo’’ misalnya, Pak De, sering berkomunikasi dengan Ketua Umum PDIP Jatim, Kusnadi SH, yang juga Wakil Ketua DPRD Jawa Timur. Selain, tidak putus komunikasi dengan Halim Iskandar, Ketua Umum PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sekaligus menjabat Ketua DPRD Jatim. Selain dengan Ketua DPD parpol lain. Next »



Dengan menyorongkan nama Gus Ipul, yang tidak memiliki posisi di partai politik manapun bersama Abdul Halim Iskandar, Ketua Umum PKB ke Ketua Umum Partai Demokrat, SBY, saya menangkap sinyal dua pasangan ini hendak ‘’dikawinkan’’ Pak De untuk menjadi pasangan incumbent (eksekutif-legislatif) yang mewakili koalisi Bang-Jo (Abang-Ijo).

Menciptakan koalisi "ijo-abang", penerusnya. Saya menganalisis koalisi "bang-jo" tidak sekedar partai abangan dan partai berbendera hijau. Istilah ‘’ijo-abang’’ ini juga mulai masuk dalam akronim, Jombang.

Dua istilah ini, menurut akal sehat saya, cocok. Gus Ipul, kemungkinan besar diusung Partai Demokrat, partai nasionalis. Sementara Halim Iskandar, Partai PKB, yang didirikan oleh Gus Dur, tokoh NU kultural. Keduanya, juga punya hubungan dengan santri di Jombang. Maklum, Istri Gus Ipul, juga berasal dari Jombang, satu kota dengan kota kelahiran Halim Iskandar.

Bila ditotal, jumlah suara yang diperoleh Gus Ipul-Halim, lebih dari cukup. PKB, saat ini memiliki 20 kursi di DPRD Jawa Timur. Sedangkan Partai Demokrat, 13 kursi. Jadi total yang dimiliki Gus Ipul- Halim (bila perkawinan ini memenuhi syarat mahar politik), maka jumlah duet arek Jombang-Bangil ini sudah mengantungi 33 kursi. Next »



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Menurut perhitungan saya, Gus Ipul dan Halim, memiliki "nasib" yang sama. Gus Ipul, orang "ijo" katakan kelak resmi diusung Partai Demokrat, masih belum "aman", bila maju sebagai cagub tahun 2018, tanpa dukungan partai "ijo". Maklum, penqurus PBNU hasil muktamar Jombang ini hanya berbekal 13 kursi. Ia masih membutuhkan 7 kursi. Siapa yang "dipinang"?. PDIP, pasti tak bisa dilobi, karena Megawati, ketumnya, sampai surat terbuka saya tulis, masih ngelus-elus Risma, Walikota Surabaya, untuk merebut kursi L-1 Grahadi. Apakah Golkar atau NasDem? Rencananya Golkar akan ajukan Khofifah?. Bagaimana dengan NaSdem? Besar kemungkinan dukung Megawati, menggoalkan Risma. NasDem bisa jadi ingin diposisi Wacagub Risma. Akan halnya Hanura. Sejak dipimpin Oesman Sapto Odang, Hanura sudah memposisikan pendukung pemerintahan Jokowi. Otomatis, bila Jokowi mengijinkan Khofifah, melepas jabatan pembantu presiden sebagai Menteri Sosial, Partai Hanura akan mengawal Khofifah ke daerah-daerah di 38 Kabupaten/kota se Jawa Timur.

Probabilitas yang paling rasional, Gus Ipul dengan kendaraan Partai Demokrat, adalah merangkul Halim, dari PKB. Demikian juga Halim, yang elektabilitasnya belum setinggi Gus Ipul, satu-satunya yang menguntungkan adalah nempel ke Partai Demokrat. Nempel untuk menjadi Cawagub Gus Ipul. Ini lebih memiliki kesesuaian. Apalagi ditarik ke tingkat politik nasional. Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar, secara emosional lebih dekat dengan SBY, ketimbang Megawati. Mengingat Muhaimin, pernah menjadi pembantu presiden saat SBY, memimpin negeri ini. Berbeda dengan posisi sekarang yang masuk dalam Koalisi Indonesia Hebat, Muhaimin tidak dapat kursi apa-apa di pemerintahan Jokowi, petugas partai PDIP. Bahkan untuk tingkat "keloyalan" Muhaimin ke SBY, dibuktikan dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. PKB lebih suka memihak Agus Yudhoyono ketimbang Ahok, yang didukung PDIP, NasDem, Hanura dan PKPI. Padahal PDIP dkk adalah teman sekoalisi pilpres 2014 lalu.

Oleh karena itu, rencana Halim, "cukup" menjadi Cawagub Gus Ipul, merupakan pilihan cerdas Ketua DPRD Jatim dan komprominya Pak De Karwo dengan Halim maupun Muhaimin (bila ada).
Next »


Perhitungan saya, bila Halim, ngotot maju sendiri sebagai Cagub PKB, ia bisa ngaplo, tidak dapat apa-apa kayak almarhum Ir. Soetjipto, ketua DPD PDIP Jatim yang menggandeng kader Partai Golkar, Ridlwan Hisyam.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Posisi Gus Ipul, maju sebagai Gubernur dan Halim, Wakil Gubernur, dari pendekatan sosiologis, kultural dan demografis, menurut akal sehat saya, pas dan kompak. Misalnya, Gus Ipul, sudah dua kali ‘’nyantrik’’ di Pak De Karwo. Meski Gus Ipul, dikenal Wagub yang doyan guyonan, ia adalah wartawan yang juga santri. Akal sehat saya, Syaifullah Yusuf, nama lengkap Gus Ipul, bisa belajar otodidak. Termasuk mendalami konsep-konsep ekonomi kerakyatan Pak De Karwo, sejak APBD untuk Rakyat hingga Jatimnomics.

Saya pikir, Gubernur Jawa Timur tahun 2018 ke depan, lebih berat ketimbang era Pak De Karwo. Tahun 2013, saat Pilkada langsung dilakukan, Pak De Karwo, menggantikan posisi Gubernur Imam Oetomo. Praktis, Imut, panggilan Imam Oetomo, tidak dicatat menorehkan sejarah pertumbuhan ekonomi yang terunggulkan. Keunggulan Imam Oetomo dikenal sebagai pemimpin pengembang Solidaritas (solidarity maker). Saat itu Imut saya kenal, mementingkan dinamika hubungan emosional dengan masyarakat. Maklum, Imut, pernah memimpin sebuah teritorial sebagai Danrem mapun Pangdam V Brawijaya. Teman-teman di kalangan pengusaha jauh lebih banyak ketimbang pertemanan dengan elite partai politik.

Beda dengan Pak De Karwo, jumlah teman elite politik, akademisi, budayawan dan wartawan jauh lebih luas ketimbang melayani pengusaha. Maklum, Pak De Karwo, selama berkarir tidak pernah berurusan dengan pengusaha. Ini karena karir Pak De Karwo lebih banyak didalam yaitu sebagai Kadispenda dan Sekdaprov. Next »



Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Tim Litbang saya pernah melakukan penelitian jelang Pilgub 2013 yaitu satu periode kepemimpinan Pak De – Gus Ipul, memimpin Provinsi Jawa Timur. Keberhasilannya hingga dipilih yang kedua, karena dipengaruhi oleh banyak faktor. Diantara variabel yang saya teliti, yang paling dominan adalah gaya kepemimpinan Pak De Karwo, sehingga mampu menggerakkan masyarakat dari semua lapisan.

Bagi saya, gaya kepemimpinan partisipatif yang dilakukan Pak De Karwo selama ini, wujud dari seorang Gubernur yang memperoleh pengakuan dari rakyatnya. Artinya, keberhasilan Pak De. bukan karena adanya daya dukung dari kekuatan Partai Demokrat dan pendukungnya (semua Parpol support Pak De). Tapi Pak De mempunyai Source dan Means, yaitu suatu kemampuan intelektual. Terutama dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul di masyarakat. Konsep Jatimnomics misalnya, adalah karya intelektualitas seorang Gubernur yang ingin memberdayakan UMKM dan Koperasi, agar setara dengan korporasi yang lebih dulu mendapat fasilitas kredit dari lembaga perbankan.

Dua periode memimpin Jawa Timur, saya memotret dari berbagai kalangan (pengusaha, elita partai, anak buah di Pemprov Jatim maupun sejumlah relawan Pak De-Gus Ipul), Pak De, dikenal sebagai seorang Gubernur yang bisa menerapkan sikap situasional. Sikap kepemimpinan partisipatifnya ini yang membuat orang sadar dan ikut berpartisipasi dalam kemajuan pembangunan untuk rakyat di Jawa Timur.
Next »


Saya mencatat, gaya kepemimpinan Pak De Karwo, dari dua segi, yaitu apa yang dimilikinya (menyangkut ciri atau kualitas berkomunikasi dan pemecahan masalah) dan apa yang di lakukannya (menyangkut persoalan dengan gaya kepemimpinannya melakukan berbagai pendekatan-pendekatan).

Sebagai seorang Doktor Ilmu Hukum dari Undip Semarang hingga mendapat Dr (HC) bidang ekonomi dari Unair, Pak De dalam usia sudah 77 tahun (16 Juni 1950) masih memiliki energi, kecerdasan, kerja sama dengan semua komponen, hubungan antarpribadi, dengan pertanggungjawaban. Dalam gaya kepemimpinan kedua, Pak De menurut saya mewakili pemimpin yang mampu mengorganisasikan dan menetapkan peranan secara terperinci dan jelas. Termasuk dalam berkomunikasi dengan SKPD di Pemprov Jatim. Ini saya simak saat Pak De menghadapi kritik dari wartawan terkait kekeliruan beberapa SKPDnya.

Para Pimpinan Parpol se-Jatim,
Saya menyimak hasil Pilkada DKI Jakarta, bulan Februari 2017 lalu. Dalam Pilkada di DKI ini, incumbent tidak serta merta dipilih oleh mayoritas penduduk Jakarta. Warga Jakarta, terutama pemilih pemula dan mudanya, menerapkan perubahan perilaku. Diantaranya mengedepankan kesadarannya sendiri, yaitu Self-propelling growth (memilih Gubernur sesuai dengan hati nurani tanpa adanya intervensi dengan cara apapun).

Gejala yang tumbuh di masyarakat, terutama pemilih muda punya persepsi tersendiri untuk pemimpinnya. Antara lain, seorang kepala daerah setingkat Gubernur (karena wilayah cakupannya diperluas oleh UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah), harus punya power berpikir dan bertindak berdasarkan atas kepentingan melihat ke masa lalu dan masa depan (visioner). Jejak kepala daerah yang diinginkan oleh pemilih muda antara lain mau membandingkan sekaligus memahami semua permasalahan untuk melangkah dalam arena penyaluran politik. Kasus Sumber Waras dan Kalijodo yang dilakukan Gubernur Ahok, salah satu contohnya. Next »



Suara Cagub Anies Baswedan dan Sandiago, salah satu masukan untuk parpol yang ada di Jawa Timur. Masukan yang saya simak bahwa Indonesia yang sedang dilanda ketidakpastian ekonomi dan politik, sangat membutuhkan seorang pemimpin yang punya daya tarik kharismatis dalam banyak. Selain memiliki power pribadi dan koalisi di DPRD Jatim. Ini penting untuk bisa melambangkan semangat tanpa kenal lelah yaitu mengajarkan doktrin persatuan nasional dan persaudaraan, bukan radikalisme atau sektarian.

Prediksi saya, tahun 2017 ini, setelah Partai Demokrat menyorongkan dua kandidat Cagub Jatim Juni 2018, bakal ada ‘’perang politik’’ antar koalisi, bukan antar partai. Saya ketar-ketir, dalam kampanye Pilgub Jatim 2018 nanti, bisa jadi bakal ada elite politik yang hanya mengobral janji. Ia mengandalkan penggelontoran dana, entah dari mana sumber perolehannya.

Tipe cagub yang gampang obral janji dan money politic, menurut akal sehat saya jauh dari sifat dan jiwa seorang pemimpin yang nasionalis. Apa dan bagaimana? Gubernur nasionalis adalah rela membagikan makanan jiwa dan pengorbanan darah untuk mengurangi penderitaan rakyat.

Dalam pandangan saya, era sekarang ini, pemimpin di sebuah provinsi seperti Jawa Timur (meneruskan konsep pembangunan yang diletakkan Pak De Karwo) adalah Gubernur yang harus mempunyai dimensi kualitas idealisme. Tentu idealisme yang berpijak pada realita yang dihadapi masyarakat itu sendiri, seperti Pak De Karwo, aktivis GMNI, tetapi tetap mengelola APBD untuk kesejahteraan rakyat mayoritas. (tatangistiawan@gmail.com, bersambung) Next »











Komentar Anda



Submit

Berita Terkait