135 Tenaga Medis Jatim Ambruk kena Corona

Petugas medis sedang mengevakuasi pasien yang terpapar virus Corona, yang ditempatkan di RS Darurat di Jalan Indrapura, Surabaya, kemarin. Foto: Sp/Arlana Byob

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – ‘Ambruknya’ pelayanan salah satu RS rujukan seperti di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), karena tenaga medis kewalahan, mulai terkuak. Pasalnya, sudah ada 135 tenaga medis di Jawa Timur, terpapar positif virus Covid-19.

Dari data Surabaya Pagi yang dihimpun dari infocovid19.jatimprov.go.id, hingga Jumat (29/5/2020), peningkatan positif Covid-19 di Jatim, sangat signifikan. Total yang positif Covid-19, mencapai 4.409 kasus positif. Dari total jumlah tersebut, yang sembuh 589 orang dan yang meninggal 372 orang. Sedangkan, yang masih dalam perawatan, masih sekitar 3.429 orang. Dibanding Kamis (28/5/2020), ada peningkatan sebanyak 138 kasus positif. Terbanyak, dari Surabaya yang ada peningkatan 94 kasus. Dari kasus itu, 135 diantaranya adalah tenaga medis, baik itu suster, dokter hingga petugas kesehatan lainnya.

Hal ini diungkapkan Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Timur, dr. Kohar Hari Santoso. Mayoritas dari mereka adalah tenaga medis yang merawat langsung pasien COVID-19.

"Mereka semuanya tenaga medis yang bertugas di sejumlah rumah sakit di Jatim yang menangani pasien COVID-19," ujar Kohar di Gedung Grahadi, kemarin.

Lebih lanjut, Kohar menjelaskan ada 62 perawat yang dinyatakan positif Covid-19. Terdapat 28 perawat yang hingga saat ini masih dirawat, dua lainnya meninggal dunia dan 32 orang lainnya menjalani isolasi mandiri.

"Sementara dari tenaga dokter jumlahnya ada 47 orang. Tiga di antaranya meninggal dunia, 23 dokter masih dirawat dan 21 sisanya isolasi mandiri," jelas Kohar.

Sedangkan sisanya adalah tenaga kesehatan dari unsur lain. Contohnya seperti apoteker dan staf rumah sakit. Namun, saat dihubungi pada hari ini (29/5/2020) dr Kohar tidak mau menjelaskan dari rumah sakit mana saja tenaga medis yang terpapar virus Covid-19 ini.

"Yang jelas angka tenaga medis terpapar Covid-19 itu berdasarkan hasil tracing di lingkup rumah sakit (klaster RS) yang menangani pasien Covid-19 di Jawa Timur," kata Kohar.

 

Covid-19 Dihentikan dari Hulu

Sementara itu, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jawa Timur, dr Joni Wahyuadi menambahkan tenaga medis memang kemungkinan besar terpapar di rumah sakit, namun juga bisa terkena di luar rumah sakit.

Dirinya berharap masyarakat juga harus mematuhi protokol kesehatan Covid-19 yaitu disiplin, menjalani pola hidup sehat untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang masih belum ditemukan vaksin-nya ini.

"Kalau di hulunya (penyebaran virus Covid di masyarakat) tidak bisa dihentikan, menjadi beban berat di rumah sakit," ujar dr Joni pada Kamis (28/5/2020) malam.

Dirinya memberikan contoh penambahan bed untuk pasien Covid-19 terus dilakukan penambahan, tapi selalu tidak mencukupi. Maka dari itu, direktur RSUD dr Soetomo Surabaya ini berharap kepada masyarakat untuk disiplin, patuh, menjalani protokol kesehatan Covid-19.

"Virus ini bisa dihentikan asalkan dipisahkan antara orang yang sakit (Covid) dengan orang yang sehat. Jadi mohon kasihanilah tenaga kesehatan kami," pungkasnya.

 

Puncak Covid-19 di Jatim

Namun, signifikannya persebaran Covid-19 di Jatim setiap harinya, oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, optimis, bahwa akhir bulan Mei 2020 ini menjadi puncak pandemi Covid-19 di Jatim. "Kita berharap bahwa puncaknya mudah-mudahan di bulan Mei ini saja," kata mantan Menteri Sosial era Kabinet Kerja ini, Jumat (29/6/20).

Khofifah bilang, saat ini pihaknya juga tengah melakukan maksimalisasi layanan-layanan kesehatan yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Sampai hari ini, ia menyebut ada 99 rumah sakit rujukan. "Ditambah 1 RS darurat atau lapangan, yang maximum kapasitasnya 500 pasien," tuturnya.

Dengan ketersediaan fasilitas kesehatan itu, dia menyerukan agar warga yang terkonfirmasi positif segera ke rumah sakit untuk isolasi. Pasalnya, dia mengaku selama ini banyak warga yang terkonfirmasi positif melakukan isolasi mandiri dan tidak efektif menghambat penyebaran virus.

"Kami anjurkan langsung dilayani di RS karena isolasi mandiri tidak semuanya sukses. Karena ada di antara warga masyarakat yang kemudian melakukan isolasi mandiri, yang tidak disupport oleh rumah yang cukup kamarnya dan seterusnya. Akhirnya kemudian Berdampak pada penyebaran seluruh anggota keluarga. Fenomena ini cukup banyak kami temukan sehingga kami menganjurkan tolong kalau sudah ada yang terkonfirmasi positif segera dievakuasi," lanjutnya.

Dia menegaskan, masih banyak RS yang kuotanya mencukupi di berbagai kabupaten/kota. Hanya saja, untuk wilayah Surabaya dan Sidoarjo dia mengakui memang kapasitasnya sudah mulai terbatas. "Tapi di luar itu, saya ambil contoh misalnya kemarin rakor di Malang Raya, Kota Batu itu yang terpakai hanya 20%. Artinya masih cukup banyak bagi yang membutuhkan layanan. Jadi jgn diisolasi di rumah karena banyak di antara mereka yg harus mendapatkan pengawasan, pemantauan dan kontrol yang lebih kontinyu," urainya. adt/arf