menu.jpg
 
Teror Bom Molotov, Manuver Peni vs Sirmaji?

Pelemparan bom molotov ke rumah Andi Lasah Bandar, kader PDIP, yang juga Tim sukses Sri Rahayu dan pelemparan pot bunga ke rumag Hadi, yang juga kader partai banteng moncong putih itu, apakah merupakan strategi dalam mempertahankan trah dinasti Peni? Itu kalau merujuk dugaan pelaku terror, Minggu lalu itu adalah lawan politik Sri Rahayu dengan motif sakit hati karena PDIP sudah memecat Walikota Peni Suparto sebagai Ketua DPC PDIP Kota Malang. Namun, ada anggapan lain, bisa juga terror bom itu merupakan ulah kelompok simpatisan kubu Sri Rahayu sendiri karena ingin menaikkan image (upgrade image) istri Sirmaji, dan menjatuhkan Heri Puji Utami (downgrade) dalam Pilwako Malang, 23 Mei 2013 mendatang. Atau itu ulah pihak ketiga yang ingin mengeruhkan suasana Malang menjelang pilwako. Semua anggapan yang bergulir itu hingga kini masih menjadi teka-teki
Pelemparan bom molotov itu masih misteri belum terkuaknya dugaan atas gencarnya serangan Heri Pudji Utami terhadap Sri Rahayu. Meski, ada yang membantah tidak mungkin kubu Heri Pudji Utami berbuat anarkhis dengan melakukan pelemparan bom molotov.

Kepolisian Resor Malang menyelidiki motif pelemparan bom molotov itu. "Tiga unit sepeda motor terbakar Sabtu malam lalu di rumah Andi Lasah," kata Kepala Polsek Lowokwaru Komisaris Bayu Indra Wiguna, Senin, 8 April 2013. Tiga sepeda motor itu milik mahasiswa yang indekos di rumah Lasah. Polisi telah memeriksa mahasiswa pemilik motor terbakar sebagai saksi.

Polisi juga menyita pecahan botol yang berisi surat yang isinya meminta para mahasiswa keluar dari rumah kos itu. "Kami belum bisa menarik kesimpulan."

"Kami prihatin, tapi kader harus tetap solid," kata Ketua tim sukses Sri Rahayu yang bernama Sri Untari. Ia meminta polisi mengusut dan menangkap pelaku pelemparan bom molotov.
Apakah PDIP ganti modus? Sudah tahu bakalan kalah, neror duluan seolah-olah diteror terus nanti ujung-ujungnya protes nggak mau tanda tangan. Sementara tim sukses pasangan Sri Rahayu-Priyatmoko juga protes ke KPU lantaran KPU dianggap membatasi gerak pasangan calon saat menjelang pemilihan. Kasus inilah pelemparan bom dan pot bunga itulah yang menyedot tarik ulur simpati kepada Heri Pudji Utama atau kepada Sri Rahayu?

Muara atau Hulu

Sebenarnya pertarungan Heru Pudji dan Sri Rahayu merupakan muara atau hulu dari konflik antara Peni Suparto, Ketua PDIP Kota Malang vs Sirmadji, Ketua PDIP Jatim. Awalnya konlik itu dipicu stratemen Peni yang menyatakan bahwa 31 pengurus DPC PDIP se-Jawa Timur menyampaikan mosi tidak percaya pada kepemimpinan Sirmadji.

"Peni dan Wijianto jelas melanggar peraturan partai," kata Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Timur, Kusnadi di hadapan simpatisan dan pengurus PDIP Kota Malang di depan kediaman Sri Rahayu, yang juga istri Ketua DPD Jawa Timur Sirmadji, 17 Pebruari lalu. Dalam surat itu disertai penjelasan pencopotan Peni Suparto karena dianggap tidak militan serta tidak patuh kepada keputusan dan mekanisme partai.

Menurut Kusnadi, pernyataan Peni yang melawan DPP PDIP jika istrinya, Heri Pudji Utami, tak mendapat rekomendasi, merupakan pembangkangan. Apalagi, Peni sempat mengenakan kaus Partai Demokrat saat mengikuti gerak jalan bersama Ketua DPD Partai Demokrat Soekarwo beberapa waktu lalu. PDIP, katanya, memantau dan memutuskan memberikan sanksi pemberhentian kepada kedua pengurus partai kepala banteng ini.

DPP kemudian menunjuk Eddy Rumpoko sebagai pelaksana harian Ketua DPC PDIP Kota Malang menggantikan Peni. Sedangkan Sekretaris DPC dijabat Priyatmoko Oetomo dan bendahara tetap dijabat Heri Pudji Utamo, istri Peni Suparto. "Jika Bu Heri mencalonkan diri dengan partai lain, tentu akan diberhentikan," kata Kusnadi.

Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri menetapkan Sri Rahayu, istri Sirmadji Tjondro Pragolo, sebagai calon Wali Kota Malang. Sri Rahayu berpasangan dengan Priyatmoko Oetomo. Sedangkan Peni dipecat sebagi ketua DPC PDIP kota Malang pada Saat yang bersamaan.


Pelarangan Kampanye

Sementara itu. tiga tim sukses pasangan calon Walikota Malang, Jumat lalu mendatangi KPUD untuk
memprotes pelarangan kampanye oleh Panitia Pengawas Pemilu Kota Malang.

Pelarangan tersebut dinilai membatasi gerak pasangan calon dua bulan menjelang pemilihan. Larangan kampanye tersebut tertuang dalam SK Panwaslu Nomor 52/Panwaslu-Kota Malang/2013 tentang Pemberitahuan Kegiatan di Luar Jadwal Kampanye.

Dalam aturan itu, berdasarkan SK KPU, segala bentuk kampanye, baik pertemuan bebas, tatap muka dan dialog, penyebaran melalui media cetak dan elektronik, penyiaran melalui radio/televisi, penyebaran bahan kampanye kepada umum, pemasangan alat peraga di tempat umum, maupun kegiatan lain yang dilakukan diluar aturan yang ditentukan, ditetapkan sebagai kampanye dil uar jadwal.

Dalam SK tersebut, kampanye hanya boleh dilakukan tanggal 5-19 Mei 2013. Pilkada Kota Malang digelar 23 Mei 2013. Para tim sukses ini memprotes KPU Kota Malang sebagai penyelenggara pilkada di Kota Malang. Ulah siapa ini di balik keputusan KPUD itu? Ada tundingan yang dialamatkan ke Heru Pudji.

Juga dibalik kuatnya Heri Pudji mendekatkan diri kepada dunia pendidikkan menjadi sasaran empuk untuk menjatuhkan lawan politik. Ada tundingan visi dan misi lima pasangan calon Wali Kota Malang, selain Heri Pudji Utami, dinilai lemah.

"Banyaknya baliho dan media sosialisasi yang terpampang di semua jalan protokol itu tidak terlihat pemaparan visi dan misi pendidikan calon walikota," tegas Rektor IKIP Budi Utomo Kota Malang Nurcholis Sunuyeko.

Kritik tajam itu disampaikan Nurcholis dalam debat publik bertema Pendidikan Kota Malang, Yok Opo? . Debat itu dihadiri ratusan pendukung pata calon wali kota.
Karena itu wali kota mendatang harus mampu memberikan rasa nyaman dan menyediakan informasi secara cukup, terutama bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah.

Manuver politik masing-masing Heri Pudji Utami dan Sri Rahayu memang bakal terus bergulir sampai menjelang hari pencoblosan 23 Mei, dan bisa saja money politics serangan fajar, di saat perhitungan suara sampai gugatan ketidakpuasan. Namun, jangan dilupakan, salah satu dari empat pasangan lainnya juga mempunyai potensi menjadi kuda hitam, atau ada yang ingin ‘jual suara’.

‘’Segala bentuk manuver politik bisa menjadi potensi luar biasa untuk memperebutkanan kursi Kota Malang-1. Itu sah-sah saja. Namun perlu diingat, jangan menjadikan rakyat korban terus menerus, demi mempertahankan dinasti politik yang bernafsu korup. Meski rakyat pun sudah menanggung beban akibat maneuver politik yang tidak fair itu,’’ pesan Rusli, Ketua LSM Centra Adyaksa. - tim (bersambung)

Berita lainnya
Puluhan PSK Wadul DPRD
Ribuan Warga Kesulitan Air Bersih
Panglima TNI Resmikan Ponpes Rehab...
Tolak Pendirian Tower Baru
Proyek Bodong Dilaporkan Kejaksaan
Puskesmas Siaga Chikunguya
2.677 Istri Ajukan Gugat Cerai
Jalur Berubah, Ratusan Sopir Angko...
Dana Proyek Rp 175 M Terancam Tak ...
Aliran Dana APBD Untuk BWR Terkuak
Serapan Dana Bagi Hasil Cukai Minim
Pemkab Siap Jual Asset ke Pemkot B...
Siswa Miskin Terima Subsidi Pendid...
Malang Tolak Kelompok ISIS
Minta Pemkab Serahkan Hotel Songgo...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  76