menu.jpg
 
Rakyat Kehendaki Ideologi Baru, bukan Ideologi Politik

Yth Cagub Jatim 2013-2018,
Pemilukada DKI dan Jawa tengah, dua contoh demokrasi local paling aktual yang layak Anda perhitungkan. Dalam Pemilukada ini, pemenangnya adalah figure dan mesin politik. Jokowi-Ahok, mengalahkan incumbent karena memiliki ketokohan yang merakyat dan sederhana. Sedangkan Ganjar-Heru, mengaku memenangkan Pilkada dalam satu putaran, karena mesin politiknya berjalan maksimal sampai ke pelosok desa di seluruh Jawa Timur. Pertanyaannya, mana yang lebih unggul antara figure dan mesin politik.

Menggunakan konsep pertarungan (baca -peperangan ) yang diajarkan Sun Tzu, mendikotomikan dulu mana figure dan mesin politik, tidak ada yang pas. Dalam strategi Sun Tzu, diajarkan cara-cara untuk menang. Dalam sebuah peperangan, Sun Tzu, mengajarkan 36 strategi untuk menang. Kehebatan Sun Tzu ini diakui oleh tokoh Tiongkok, Genghis Khan, yang hidup pada abad ke 13. Konsisten menggunakan saran Sun Tzu, ia dapat menaklukkan wilayah kekuasaannya mulai dari Mongol, China, Siberia hingga mendekati Eropa.

Demikian pula Napoleon, dari Perancis. Pada masa muda, Napoleon juga membaca dan mempelajari buku strategi perang yang dikeluarkan Sun Tzu. Bahkan tokoh lagenda RRC, Mao Tse Tung, mengakui bahwa cara berpikir dan bertindaknya sangat dipengaruhi oleh strategi Sun Tzu. Pengakuan Mao Tse Tung ini dibeberkan dalam buku Merah Mao.

Tokoh Nazi Jerman, Hitler pun mengakui saat berperang ia telah mempelajari strategi perang Sun Tzu. Dari hasil ilmu Sun Tzu, Hitler mengaku bisa merebut Polandia dalam operasi ‘Blitzkrieg'. Operasinya ini hanya berlangsung dua minggu sejak gendering perang ditabuhnya. Pengakuan serupa disampaikan oleh tentara Amerika Serikat yang pada tahun 1991 melakukan operasi Desert Storm dan Desert Shield di kawasan Teluk.

Saya tidak tahu diantara tiga calon gubernur itu semuanya menggunakan strategi perang yang diajarkan Sun Tzu apa tidak. Buat saya tidak begitu penting untuk mengetahui strategi dan taktik Anda merebut jabatan Gubernur Jatim 2013-2018. Buat saya adalah bagaimana fenomena kemenangan Pemilukada di DKI dan Jawa Tengah bisa mengilhami Anda-Anda yang saat ini sedang bertarung mempengaruhi 29.515.183 pemilih diJatim dari jumlah penduduk se Jatim sebesar 41.437.000 jiwa.

Fenomena cara Gubernur di dua propinsi tersebut merayu calon pemilih, dapat dijadikan indikator bahwa kehendak rakyat pemilih sebenarnya tidak jauh-jauh dari figure Gubernur DKI, Jokowi- Ahok dan cagub Jateng yang mendapat suara terbesar dari quick-qount, duet Ganjar-Heru. Dua pasangan ini berpenampilan sederhana dan bersahaja. Pertanyaannya benarkah figur cagub mendominasi pemilih ketimbang tema kampanye yang diusul maupun mesin politik?.

Kini setelah dua tahun Jokowi-Ahok memimpin Jakarta, sudahkah masalah banjir dan kemacetan di Jakarta teratasi?. Beberapa kali saya bertugas di Jakarta, disana-sini, disana masih diliputi kemacetan. Demikian juga bila hujan turun, genangan air dan banjir masih menganggu pemakai jalan di kawasan Thamrin, sekalipun. Lalu apa ukuran pemilih Jakarta, begitu terpesona pada sosok atau figur Jokowi? Apakah kesederhanaannya, kebersahajaannya ataukah kesukaannya yang turun ke lapangan untuk mendengar suara rakyat yang ada di pasar, rumah sakit dan kampong-kampung di ibu kota Indonesia itu.

Suara rakyat menurut saya layak disamakan dengan jeritan suara rakyat. Saya mengatakan suara rakyat yang menjerit butuh pekerjaan, perlu makan bergizi, pendidikan murah atau gratis, suara rakyat yang menghendaki ada jaminan kesehatan gratis atau murah dari Negara dan rakyat membutuhkan keamanan. Rakyat mengharapkan tidak ada banjir di kampong. Rakyat mengharapkan jalan-jalan tidak macet. Rakyat berharap ada transportasi nyaman yang murah. Artinya, rakyat yang ada di kampung dan pasar-pasar tradisional membutuhkan segala macam perubahan kearah yang lebih baik lagi. Tak salah bila sejak lama sudah dikenal bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan Vox Populi Vox Dei yaitu suara kebenaran.

Kepemimpinan Jokowi, Anda akui atau tidak, kini sepertinya telah menjadi paradigm baru pemimpin bangsa ini. Meski masih menjadi Gubernur di DKI, hasil survei politik terakhir (Juni 2013) elektabilitasnya melebihi capres ‘’senior’’ seperti Megawati, JK, Prabowo, Wiranto, Ical dan Akbar Tanjung. Pendeknya, sampai awal Juni ini, sosok Jokowi masih begitu diidolakan oleh warga Solo dan Jakarta. Pertanyaan yang masih menggelitik bagaimana sosok atau figur Jokowi begitu melejit dan tenar sampai kini? Dari prespektif ilmu komunikasi, popularitas Jokowi yang bertahan cukup lama ini pasti bukan disebabkan oleh kehebatan atau pun prestasinya membangun DKI. Ilmu komunikasi akan menjawab popularitas Jokowi tidak bisa dilepaskan dari peran media, baik itu media cetak ataupun elektronik. Sejak dia berkampanye, sampai kini, apa pun yang dilakukan oleh sosok Jokowi, tetap menarik untuk diliput. Termasuk oleh media sosial di internet.

Yth Cagub Jatim yang sedang Bertarung,
Dalam surat terbuka seri ke 12 ini, saya ingin sharing dengan Anda dan tim sukses Anda bahwa Pemilukada kali ini adalah ajang pertarungan. Bukan sekedar pertarungan merebut simpati publik secara fisikel, tetapi sudah masuk dalam strategi ‘’perang beneran’’ seperti yang digambarkan oleh Sun Tzu. Perang beneran saling sindir dan mengkritik. Padahal saat ini belum waktunya berkampanye.

Itulah, meski kampanye kali ini perang politik ( bukan perang fisik yang memakai senjata api), saya melihat Anda-anda telah menerapkan strategi dan taktik. Diantara strategi dan taktik ini ada yang sudah berbau tipu-tipuan atau tipu muslihat. Apakah cagub Jatim yang telah melakukan tipu-tipuan dapat dipenjarakan?. Sun Tzu, si ahli strategi perang klasik, tidak pernah melarang. Baginya, setiap pertarungan akan ada pihak yang menggunakan strategi tipu muslihat. Tipu-tipuan yang sederhana adalah, Ada cagub yang mampu secara financial, tetapi ketika menyiarkan ke publik, cagub tersebut berpura-pura tidak memiliki dana cukup untuk maju pilkada. Pendeknya, tipu-tipuan pertarungan bisa beragam. Misal, kepada wartawan, Anda menyerbu pemilih kawasan Pantura, tetapi yang Anda serbu adalah pemilih di kawasan Madura. Harap maklum, Inilah perebutan kekuasaan. Tipu-tipuan adalah trik. Maneuver bagian dari taktik dan strategi bertarung di lapangan.

Catatan saya mencermati Pemilukada Gubernur pada tahun 2008 yang lalu hampir semua cagub mengusung tema-tema simpatik. Misalnya, terkait isu-isu kesehatan, pendidikan, penggangguran, pertanian dan pertumbuhan ekonomi. Termasuk pembebasan biaya, peningkatan investasi dan peluang usaha. Dari tema-tema kampanye pemilukada tahun 2008 yang lalu, saya mencermati hampir tidak cagub yang berani mengusung identitas ideologinya. Mengapa? apakah kini ideology suatu partai sudah tidak laku dijual ke pemilih? Apakah konsep-konsep ideologis yang mempertegaskan soal identitas dan esensi perjuangan politik sudah kadaluwarsa? Padahal ideology suatu partai secara teoritis diakui sarat dengan rasionalitas dan idealism. Pertanyaannya, ada apa tema kampanye justru beralih dari ideology partai ke pencitraan yang sekedar untuk menaikkan elektabilitas dalam Pemilukada?

Fenomena Jokowi, saran saya layak Anda jadikan kajian serius dan sungguh-sungguh. Gaya kepemimpinan Jokowi, mirip sosok Soekarno. Keduanya seperti mewakili suara rakyat yang sedang melakukan perjuangan kebebasan melawan tirani, pendoliman dan keserakahan. Saya berani mengatakan suara rakyat yang memilih Jokowi menjadi Gubernur DKI dan kini masih didolakan adalah tuntutan tentang ideologi baru, bukan ideologi politik.

Ideology baru itu adalah kehendak rakyat (suara rakyat suara kebenaran) yang ingin di pemerintahan, baik penguasa maupun pengusaha harus keluar atau dikeluarkan dari keserakahan. Penampilan sederhana dan bersahaja adalah wujud dari perlawanan atas kesalahan system ekonomi di Indonesia yaitu keserakahannya para pejabat, politikus dan pengusaha. Praktik oligharki disemua sektor sudah merupakan bentuk konkrit keserakahan dari hati manusia. Politikus serakah. Pengusaha juga serahkah. Demikian juga pemerintah yaitu tak kalah serahkah dari politikus dan pengusaha.

Suara rakyat adalah suara Tuhan, maka atas nama kebenaran, alangkah baiknya, cagub-cagub di Jawa Timur membuat kesepakatan dan komitmen pembatasan kekuasaan pejabat dan pengusaha. Termasuk pejabat sampai tingkat terbawah, kepala desa atau kelurahan. Pejabat yang tidak luar biasa berprestasi untuk kesejahteraan rakyat, cukup sekali menjabat.

Ideology baru yang dikehendaki rakyat seperti terhadap sosok Jokowi, tak berlebihan saya tangkap sebagai kecenderungan mayoritas rakyat yang melawan demokrasi borjuis. Ideology baru ini berfaham demokrati rakyat. Makna demokrasi rakyat adalah dalam praktik berbangsa dan bernegara, semua pejabat dari pusat sampai daerah wajib menjalankan tugas dan program dengan anggaran yang semurah murahnya dan sesederhana sederhananya. Goalnya adalah semua anggaran dari mana saja termasuk dari sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat yang adil dan berkeadilan. Setujukah Anda. (bersambung/tatangistiawan@gmail.com)

Berita lainnya
Jonan Klaim Profesional, tapi Berp...
PT KAI, Terlibat Sengketa dengan P...
Legal Standing Pdt Aswin Lemah, Ke...
Kompol Simamora, ikuti Disertasi K...
Kompol Simamora, juga Dilaporkan ...
Kompol Simamora, Aneh-aneh, Pemals...
Penyidik Unit Susila Polda Jatim S...
Menguak Konflik Keluarga Pdt Abrah...
Carilah Pendeta Panutan, Bukan Sew...
Gandeng KPK, Bisa Jadi Anda akan U...
Ancam Investor, Gandeng KPK, Penc...
Secara Hukum, Risma tak Bisa Batal...
Menyoal Penahanan Pdt Ir. Sujarwo,...
Ironi Hukum, Sama-sama Disangka Pe...
Penyidik Perkara Bethany Diduga Di...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  94