menu.jpg
 
Pendiri Bentuk Dewan Penyelamat Gereja Bethany

Pdt Abraham Alex Tanuseputra

TERKAIT:

SURABAYA (Surabaya Pagi) – Para pendiri Gereja Bethany Indonesia yang disahkan oleh Dirjen Binmas Kristen Kementerian Agama berdasarkan Akte Pendirian No. 2 oleh Notaris Winarko SH, semalam (17/2) membentuk Dewan Penyelamat Gereja Bethany Indonesia dari pengurus Gereja yang komersial dan tamak yang menggunakan aset gereja untuk menumpuk kekayaan keluarga. Pengurus gereja umumnya pendeta dengan dimotori oleh Pdt. Dr. Abraham Alex Tanusaputra dan anaknya Pdt. David Aswin Tanusaputra.
Dalam rapat yang dipimpin oleh pendiri Pdt Leonard Limato, M.Th, ditetapkan beberapa anggota termasuk anak kandung Pdt. Abraham Alex, yang bernama Pdt. Hanna Asti Tanusaputra. Hanna menyertai Pdt. Gunawan Sutjiutomo. Sedangkan wakil Jemaat terdiri Edwin Satria dan Kho Untung Prayitno. Komposisi ini disertai dua lawyer yang selama ini mendampingi Pdt Leonard yaitu George Handiwiyanto SE,SH, MH dan advokat muda Richard H. agar lengkap, Pdt Leo, juga melibatkan eks pemilik lahan yang kini dipakai Gedung Bethany yaitu keluarga Pdt Herman Maruto Prawiro alm, yang menunjuk KPT Jacob Hendrawan Setyabudi. ‘’Pak Herman dan Pak Jacob sebagai Owner PT Ready Indah kita libatkan, karena tanah gereja ini dari beliau-beliau. Jadi beliau tidak rela kalau hasil persepuluhan jemaat tidak digunakan untuk umat Kristen,’’ tegas Richard, anggota Dewan termuda.
Goerge Handiwiyanto yang ditunjuk oleh Pdt Leonard sebagai juru bicara Dewan Penyelamat Gereja Bethany Indonesia menyatakan, Dewan ini akan menemui Dirjen Binmas Kristen Kementerian Agama di Jakarta, selain Kanwil Agama dan tokoh-tokoh pemuka agama di Indonesia. “Jangan sampai tindakan segelintir pendeta merusak gereja. Kasihan Jemaat yang sudah menyumbang untuk gereja, ternyata persepuluhannya dipakai oleh pendeta untuk menumpuk kekayaan bukan untuk jemaat yang membutuhkan, karena Jemaat Bethany juga banyak yang masih miskin,’’ ingat George.
Tugas utama Dewan Penyelamat Gereja Bethany Indonesia jangka pendek adalah mengundang kantor akuntan publik independent untuk mengaudit seluruh aset, iventaris dan keuangan Gereja Bethany Indonesia sejak didirikan tahun 2002. ‘’Sebagai Badan Hukum Gereja, statusnya tak beda dengan Yayasan. Tidak ada aset milik pengurus. Dan setiap tahun, laporan keuangan harus diumumkan di depan publik atau minimal dipasang di papan pengumuman Gereja agar para jemaat Bethany mengetahui jumlah aset Gereja dan penggunaannya,’’ tambah George. 007

Berita lainnya
KPK Incar Swasta di Jatim
Kasus e-KTP, KPK Geledah Kantor Me...
Berkas BDH, Deadline Dua Bulan
Anggoro Didakwa Suap Ketua Komisi ...
Kemplang Rp 15 M, Dituntut 4,5 Tah...
Kemenkeu Turunkan Tim Usut Baleman
Yudi Dijotos Anak Buahnya, Tipikor...
Korupsi e-KTP, Direktur Kemendagri...
Untungkan BCA, Mantan Dirjen Pajak...
Terkait Mobil Hibah, Kejati Geleda...
Kasus Dana Hibah KONI, Tersangka P...
Proyek Plengsengan Bringin Segera ...
Mantan Lurah Gununganyar Kembali D...
Korupsi di Disnaker Jatim Naik Ke ...
Kejagung Evaluasi Ekpose Kasus KONI
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | RSS Feed  | User Online :  104