menu.jpg
 
Pdt Aswin Coreng Polri

Laporan: Tim Surabaya Pagi

SURABAYA (Surabaya Pagi) – Gembar-gembor Pendeta David Aswin Tanuseputra yang menghabiskan Rp 6 miliar mengurus perkara di Polda Jatim dan Polda Sulawesi Selatan, membuat sejumlah pihak geleng-geleng kepala. Baik pejabat Polda Jatim, akademisi hukum maupun aktivis anti-korupsi di Surabaya. Pengakuan putra pertama Pendeta Abraham Alex Tanuseputra, pendiri Gereja Bethany Indonesia (GBI) Nginden itu patut dipertanyakan dan ditelusuri. Pasalnya, perkara yang diurus Pdt David Aswin diduga melibatkan markus (makelar kasus) atau mafia hukum. Bila tidak diusut tuntas, nyanyian Pdt Aswin dapat mencoreng reputasi Polri yang menangani kasusPdt. Aswin, seolah-olah urusan di kepolisian membutuhkan dana miliaran.

Guru besar Universitas Bhayangkara (Ubhara) Surabaya, Prof. Dr. Sadjiono, S.H, M.Hum, misalnya. Tidak masuk akal jika mengurus perkara habis hingga Rp 6 miliar. “Untuk mencari perlindungan hukum itu tanggung jawab negara, dan itu gratis. Suatu hal yang aneh apabila ia (Pendeta Aswin, red) mengeluarkan dana hingga 6 miliar,” ujar Prof Sadjiono dihubungi Surabaya Pagi, Rabu (12/6).

Mantan anggota polisi ini malah mempertanyakan kemana larinya uang sebesar itu. Ia menduga ada keterlibatan markus dalam mengurus perkara tersebut. Tujuannya, memperlancar perkara yang diurus Pdt Aswin. Bahkan, mengatur perkara tersebut dengan penyidik.

”Markus ada lantaran keinginan pelapor untuk mempermudah masalah agar cepat selesai. Tetapi adanya markus ini cenderung melakukan tindakan yang berlawanan dengan penegakan hukum, apabila orang yang salah menjadi benar. Sedang orang yang benar menjadi salah, gara-gara markus ini,” tutur guru besar ilmu hukum ini.

Karena itu, lanjut Prof. Dr. Sadjiono, uang Rp 6 miliar itu larinya ke mana perlu dicek kembali. Apakah diberikan kepada penyidik hingga tingkat kejaksaan, atau pengacara? Namun siapa markusnya? Tentu Pdt Aswin yang lebih tahu. Sebab, dialah yang mengeluarkan uang sebesar itu.

”Kalau uang Rp 6 miliar dimakan markus, yang bersangkutan bisa melakukan gugatan atau laporan penipuan. Tapi apabila uang Rp 6 miliar ini diberikan kepada aparat penegak hukum, maka ini sama saja dengan penyuapan atau gratifikasi,” ungkapnya.

Dosen hukum Universitas Muhammadiyah, Umar Solehuddin, juga kaget. Menurutnya, nilai Rp 6 miliar yang dikatakan Pdt Aswin untuk mengurus perkara benar-benar mencengangkan. ”Wah luar biasa sekali itu Rp 6 miliar,” cetus Umar dihubungi terpisah, kemarin.

Menurutnya markus memang masih berkeliaran di Kepolisian, Kejaksaan dan Pengadilan. Namun jika di tingkat Kepolisian saja sudah menghabiskan Rp 6 miliar, maka pengakuan Pdt Aswin bisa menjadi pintu masuk untuk membongkar mafia hukum di Kepolisian.

”Uang 6 miliar yang keluar ini harus dipertanyakan? Sebesar apa kasus tersebut? Apakah menyangkut orang yang berpengaruh dan memiliki jabatan publik? Atau terkait dugaan pidana yang cukup berat? Karena nilai 6 miliar ini sangat besar, sungguh luar biasa,” tandas Umar yang juga Koordinator "Parliament Watch" Jatim ini.

Seperti diberitakan, satu minggu ini di kalangan jemaat dan pengurus Gereja Bethany, membicarakan gembar-gembornya Pdt. David Aswin Tanusaputra, yang menyatakan selama mengurus perkara di di Polda Jawa Timur maupun Polda Sulawesi Selatan, telah menghabiskan dana sebesar Rp 6 miliar. Kabarnya, dana ini untuk aparat, pengacara dan wartawan.

Ini seiring dengan konflik antar pendeta gereja Bethany ini, yakni Pdt Abraham Alex Tanuseputra (Ketua Umum Majelis Sinode Gereja Bethany Indonesia); Pendeta Yusak Hadisiswantoro (menantu Pdt. Abraham Alex), Ir. Leonard Limato (pendiri Badan Hukum Gereja Bethany), Pdt. David Aswin Tanusaputra (anak lelaki bapak Bethany, Pdt. Abraham Alex) dan advokat George Handiwiyanto. Mereka saling melapor satu dengan yang lain.

Pendeta Yusak dilaporkan melakukan dugaan pemalsuan dokumen dalam pengalihan sertifikat hak milik (SHM) Gereja Bethany dan memberikan keterangan palsu. Ancamannya pasal 263 dan 266 KUHP. Pendeta Abraham Alex, dilaporkan oleh Pdt. Leonard Limanto, diduga menggelapkan uang gereja. Pdt. Leonard Limanto, dilaporkan melakukan fitnahan dan pencemaran nama baik. Demikian juga advokat George, selaku kuasa Pdt. Leonard, juga dilaporkan melakukan perbuatan tidak menyenangkan, fitnahan dan pencemaran nama baik.

Polda Merasa Difitnah

Menanggapi gembar-gembor Pdt Aswin itu, Polda Jatim merasa difitnah. “Jangan-jangan itu fitnah,” ucap Kabid Humas Polda Jatim AKBP Awi Setiyono dikonfirmasi terpisah oleh Surabaya Pagi, kemarin.

Menurutnya, penyidik itu dalam pengawasan. Pasalnya, dalam menangani perkara semuanya melewati mekanisme yang telah ditentukan. Mulai laporan SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu), misalnya, ada tim gabungan. Ada reserse dan bagian hukumnya. Jika nantinya laporan itu dianggap ada tindak pidannya, baru bisa diterima dan akan diberikan Laporan Kepolisian.

Kemudian, lanjut Awi, berkas diserahkan ke Reskrim. Berkasa tak langsung disidik, melainkan dianalisa dulu. Kemudian dilakukan pemeriksaan saksi pelapor hingga saksi-saksi lainnya. Jika kemudian ada bukti yang cukup untuk menentukan tersangka, maka penyidik akan melakukan gelar internal. Setelah itu baru bisa menetapkan tersangka.

“Proses ini pun penyidik juga diawasi Wasdik (Pengawas Penyidik),” jelas mantan Wadirlantas ini.

Karena itu, jika pelapor merasa dalam laporannya ada yang kurang berkenan, ia mengimbau agar melaporkan ke Wasdik. Bisa juga ke Bidang Propam. “Kan sekarang polisi sangat transparan, silakan lapor jika ada penyidik yang mencoba bermain-main dalam perkara,” pungkasnya. n

Berita lainnya
Hari Ini, 89 Ribu Pemudik Serbu Pu...
Pentingnya Kebersamaan dan Gotong ...
Pemudik Padati Tanjung Perak
Mantan Pangdam Brawijaya, Kasad
Terminal Purabaya Mulai Dipadati P...
KASAD Dicopot Mendadak
Foto Mesra Briptu Eka Beredar, Bik...
Arek Surabaya Jadi Korban MH17
Risma Ancam Alim Markus
Alim Markus Ingkari Perjanjian
Kecam Israel, HMI Jatim Luruk KFC ...
Waspadai Jalur 'Black Spot'
Mau Kaya, Jangan Jadi Dokter
Dibuka Sore Ini, Kampoeng Sholawat...
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  23