menu.jpg
 
Pasar Blauran Surabaya

Surabaya (SurabayaPagi.com) Pasar Blauran termasuk dalam kategori pasar belanja tradisional. Keberadaan pasar yang melayani barang eceran nan lengkap ini sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan sampai saat ini, pasar yang telah menjadi salah satu ikon belanja Surabaya, tetap eksis.

Dulu yang terkenal di Pasar Blauran antara lain jual beli emas, tetapi sekarang pasar Blauran juga menjual buku (baru/bekas), konveksi, jajanan tradisional, perlengkapan manten dan juga merancang. Jadi sekarang pasar Blauran tidak hanya identik dengan emas, hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia di sini.

Bahkan Pasar ini terkenal bagi kalangan Mahasiswa sebagai tempat belanja keperluan buku-buku sekolah kualitas yang bagus tapi dengan harga. Selain itu, Pasar blauran ini juga dikenal sebagai pasar pusat penjualan jajanan khas Jawa Timuran, dan tentunya masakan khas Surabaya seperti Lontong Balap, Rujak Cingur, Kikil, Sate Ayam-Kambing, Gado-Gado, Soto Daging, Nasi Rawon, ditambah juga dengan aneka Jajan Pasar.

Pasar ini berdiri tidak jauh dari BG Junction. Pasar Blauran berada di wilyah Surabaya Pusat di kecamatan Bubutan. Lokasinya berada di ujung perempatan antara Jl. Kranggan disebelah utara dan Jl. Blauran Surabaya disebelah timur.

Konon, ada yang menganggap daerah Blauran adalah daerah keraton. Di sekitarnya tumbuh kampung-kampung yang dulu merupakan kampung para kerabat serta abdi kerajaan. Pusat keratonnya sedniri terletak di Alun-Alun Contong. Sedangkan kawasan sekitarnya seperti Bubutan, Kranggan, Blauran, dan Maspati merupakan daerah sekitar pusat pemerintahan.

Terkait nama blauran, muncul beberapa versi yang beredar. Menurut salah satu pedagang setempat yang sudah berjualan sejak sejak 1994, nama ”blauran” berasal dari kata “blau” yang berati pagar dan kata “ran” yang bermakna pasar. Jadi Blauran adalah pagar yang mengelilingi pasar.

Versi lain berasal dari dua suku kata bahasa Belanda yakni blauwe (biru) dan rand (renda). Konon ada sekitar 1700 bangunan dikompleks Blauran, sehingga dirasa perlu mendirikan didirikan tembok panjang dengan tinggi 5 meteran sebagai pemisah antara golongan pengusaha Tionghoa yang kaya raya dengan warga pribumi. Pertama kali tembok tersebut dicat putih lalu berganti warna birua agar lebih enak dipandang. Akhirnya muncullah istilah blauran alias renda biru.

Lain lagi menurut tuturan Romo Bintarri pada tahun 1964 silam. Asal kata blauran erat kaitannya dengan sejarah kawasan sebagai tempat pengeringan ikan. Nama kampung tersebut identik dengan sebutan Balur atau mbalur yang artinya meneringkan ikan. Warag lokalpun lebih enak memanggilnya dengan nama mbaluran. jo

Surabaya Tempo Doeloe
Mallaby, Memorial Park & Taman...
Nasib Miris Pasukan Gurkha di Sura...
Manuver Mabuk Panser Perang
Kisah Unik Celana Khaki Pejuang
Lebih Dahsyat dari perang Normandia
Senjata Makan Tuan Belanda
Wartawan Muda dan Orator Ulung
Dipicu Tewasnya Brigjen Mallaby
Berawal Dari Tak ada Tempat Untuk ...
Mulai Rombeng Hingga Sayur Mayur
Lambang Freemason & Istilah Si...
Bibit Kaitane Kutho
Cerutu Lebih Bersahabat
Mercusuar Arsitektur Jengki
Dulunya Pangkalan Perahu di Kali K...
Makna Sura Bukannya Hiu, Tapi Bera...
Logo Grup Musik St Caecilia
Vliegveld Darmo
Onthel-pun Bayar Pajak
Iwak Pitihik Paling Dinanti
Mau Berkuasa, Minumlah Susu
Pernah Kerjasama bareng Manajer Th...
Maestro Ludruk Garingan
Winkelstraat 1920
Willemskade - Kawasan Perkantoran
 
 
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  101