menu.jpg
 
Khofifah Gandeng Mantan Kapolda

SURABAYA (Surabaya Pagi)- Khofifah Indar Parawangsa, belum kapok gandeng militer. Kalau dalam Pilkada 2008 gandeng mantan Kasdam Brawijaya, dalam Pilkada 2013 ini ganti merangkul mantan Kapolda Jatim Irjen (Purn). Herman Sumawiredja. Orang KPU Jatim tahu siapa cawagub Khofifah. Ketika masih jadi Kapolda Jatim, Irjen Purn Herman, sempat membuka informasi ditemukan daftar pemilih fiktif atau ganda. Akankah isu itu akan dijadikan topik kampanye Khofifah, sampai semalam belum ada konfirmasi. Saat ini, pensiunan Kapolda Jatim itu menjabat komisaris PDAM Surabaya. Di kalangan sejumlah kontraktor, nama Irjen Purn Herman cukup dikenal.

Tampilnya pasangan Khofifah-Herman bakal menghangatkan Pemilihan Gubernur Jawa Timur 29 Agustus mendatang. Hampir dipastikan bakal ada tiga pasangan calon gubernur-wakil gubernur yang akan bertanding merebut hati masyarakat Jawa Timur untuk memimpin di periode 2014-2019.

Diluar pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja yang diusung PKB dan lima partai non parlemen, ada pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) yang rencananya akan diusung Partai Demokrat, Partai Hanura, PPP, PKNU, PBR, PDS, PKS, Partai Gerindra dan 22 partai non parlemen. Serta pasangan Bambang Dwi Hartono (BDH)-Said Abdullah yang diusung secara tunggal oleh PDI Perjuangan.

Duet Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa dengan mantan Kapolda Jatim, Irjen Pol (Purn) Herman S Sumawiredja sebagai calon gubernur dan wakil gubernur Jatim diprediksi menambah tensi politik di Jawa Timur. Pasangan ini disebut-sebut menjadi lawan tanding yang bakal mengimbangi pasangan incumbent Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa). Mengingat pasangan ini pernah bertarung dalam pilgub 2008 hingga tiga kali putaran.

Pengamat Politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Hariyadi berpendapat dengan majunya Khofifah Indar Parawansa dan Herman S Sumawiredja, maka Pilgub Jatim semakin terlihat demokratis. Dengan demikian Pilgub Jatim tidak sepi, karena setidaknya ada tiga pasangan calon yang akan bersaing.

Namun ia menilai, pendaftaran tersebut masih harus melalui proses verifikasi KPU Jatim, apakah mereka bisa lolos atau tidak. Sebab dari partai kecil sebagai pendukung itu kemungkinan masih bisa muncul polemik. Ini mengaca dari klaim pasangan KarSa yang mengaku bahwa sebagian besar partai non parlemen sudah mendukungnya.

“Bisa jadi nanti ada dua dukungan yang berpotensi memunculkan polemik dan bisa mengganjal pencalonan. Kita tunggu saja, antara DPP dan DPD, saya berharap Khofifah bisa maju, maka ramai. Tapi yang perlu diingat kontek dulu (Pilgub 2008, red) dan sekarang beda,” katanya, kemarin.

Bahkan, Hariyadi mencurigai pada proses Pilkada 2008 lalu, Herman S Sumawiredja yang saat itu menjabat sebagai Kapolda Jatim ikut main. Dengan pencalonan Herman ini maka orang akan mudah curiga seperti itu. Dia menandaskan, prasangka masyarakat bisa berdampak negatif pada tingkat elektabilitas pasangan.

Dia meneruskan, nantinya Khofifah akan berhadapan dengan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) karena sama-sama dari NU, demikian juga dengan Said Abdullah. Hal itu akan menjadi beban dan membutuhkan kerja keras. Sebab Gus Ipul sebagai calon incumbent yang sudah punya nama.

“KarSa akan berbagi dengan Gus Ipul. Gus Ipul akan bersaing dengan Khofifah sedangkan Pakde Karwo (Soekarwo) akan bersaing dengan Bambang, dan itu keuntungan KarSa karena bisa berbagi,” tegasnya.

Terkait dengan kemungkinan Khofifah – Herman akan membuka file lama yang disebut sebut sebagai kecurangan KarSa, Hariyadi mengatakan justru file itu bisa berbalik arah. Artinya itu bisa membuktikan dibalik itu adalah bagian dari koalisi jahat Khofifah – Herman. “Betapa Khofifah dan Herman melakukan koalisi buruk dengan manipulasi data untuk dasar gugatan, terlebih lagi ini dibuktikan pak Herman ke politik,” pungkasnya.

Peta Persaingan Pilgub Jatim dinilai akan berlangsung sengit. Ini dikarenakan, peluang tampilnya 3 calon pasangan cagub-cawagub yang masing-masing memiliki massa loyal, sangatlah besar. Khofifah memiliki jaringan kuat di tataran grasroot sehingga pada pilgub tahun 2008 lalu nyaris mengalahkan Soekarwo. Hanya saja, adanya kecurangan membuat Khofifah kalah. Karena tidak ingin dicurangi lagi, Sosok Herman dinilai sangat tepat karena berlatarbelakang mantan kapolda Jatim.

Di sisi lain juga ada pasangan, Bambang DH – Said Abdullah. Bambang DH memiliki massa kuat di wilayah mataraman. Sedangkan Said Abdullah dengan latar belakang etnis Madura dinilai akan banyak mendapatkan suara dari pula garam tersebut. Kedua pasangan tersebut bisa mengancam Posisi KarSa yang saat ini leading.

Terpisah, Mohammad Asfar, Pengamat Politik Unair menjelaskan pilihan Khofifah terhadap sosok Herman Sumawiredja sangatlah tepat. Ini dikarenakan, jenderal bintang dua itu menurutnya mengetahui bentuk-bentuk pencederaan demokrasi pada pilgub tahun 2008 lalu.

“Jika Khofifah – Herman mengusung isu pencederaan demokrasi pada pilgub tahun 2008 dan ada bukti konkritnya, maka itu sangat membahayakan bagi incumbent,” kata Mohammad Asfar.

Sebab, bagaimanapun, kata Asfar, pasangan Incumbent ini dari berbagai survey cukup kuat. Karena rata-rata di atas 55% pasangan KarSa unggul dibanding kandidat yang lain. Apalagi selama empat tahun ini, banyak kemajuan di Jawa Timur baik di masyarakat maupun secara pertumbuhan ekonomi.

Disinggung soal pasangan BDH-Said, Asfar mengatakan perlu ada perjuangan yang solid dan kuat dari kader-kader PDIP. Mengingat pasangan ini hanya diusung dari satu parpol. “Saya yakin, BDH-Said ini bila ingin menang harus bekerja keras dan tidak ingin ketinggalan dengan calon yang lain,” tandasnya.

Pasangan Bambang DH – Said Abdullah dinilai oleh pria yang juga menjabat sebagai Direktur PUSDEHAM Unair ini meruakan pasangan yang saling melengkapi. Bambang DH memiliki massa kuat diwilayah mataraman. Sedangkan, Said Abdullah memiliki massa kuat di Madura. “Ini juga mengancan incumbent,” tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Lembaga Survei Proximity Whima Edy Nugraha mengatakan majunya Khofifah dan Herman Sumawiredja dalam Pilgub Jatim 2013 dianggap sebagai pasangan ideal. Sebaliknya, jika Khofifah berpasangan dengan Achmad Halim Iskandar (Ketua DPW PKB Jatim) atau pun Hasan Aminuddin sulit memperoleh dukungan suara karena sama-sama berasal dari basis Nahdliyin.

“Pasangan yang ideal bagi Khofifah Indar Parawansa adalah dari nasionalis, militer atau pensiunan, itu pas karena ceruk mereka kan berbeda. Dan ini sangat pas dibandingkan jika khofifah berpasangan dengan Halim Iskandar atau kader NU lainnya,” katanya Whima, Selasa (14/5).

Alumnus ITS Surabaya ini mengatakan, sosok mantan Kapolda Jatim tersebut bisa menambah elektabilitas Khofifah, sebab Herman punya basis suara sendiri yaitu dari kalangan Polri dan juga TNI. Selain itu Herman juga bisa mengambil suara dari kalangan nasionalis.

Lanjut Whima, jika melihat dari hasil survei yang dilakukan Proximity beberapa waktu lalu, pasangan incumbent Soekarwo dan Saifullah Yusuf (KarSa) masih cukup kuat. Namun peluang Khofifah – Herman untuk memang juga masih terbuka. “Lihat dulu, kami masih melihat kondisi saat ini, setelah mendaftaran calon gubernur kami akan melakukan survei terhadap para pasangan calon,” ujarnya.

Whima menambahkan, dengan menggandeng Herman S Sumawiredja, salah satu upaya untuk mengingkatkan kembali pertarungan Pilgub pada 2008 lalu yang berlangsung hingga tiga kali. Ketika itu Herman S Sumawiredja masih menjabat sebagai Kapolda Jatim dan tentunya tahu betul eskalasi politik saat itu. “Tidak menutup kemungkinan Khofifah dan Herman akan menggunakan jurus tentang kecurangan. Saat itu Khofifah didolimi itu masih sebagai jualan yang utama, dan Pak Herman juga memegang peran kunci saat itu,” bebernya.

Namun demikian, untuk bersaing dengan incumbent tetap masih cukup berat, sebab saat ini masyarakat Jatim sudah cukup pandai. Jika masyarakat bisa menerima strategi Khofifah – Herman itu, maka bisa meningkatkan elektabilitas mereka. Namun jika sebaliknya, maka stragi itu bisa menjadi bumerang sehingga malah ditinggalkan masyarakat.

Untuk memenangkan Pilgub Jatim, hanya mengandalkan dari suara Muslimat saja tidak cukup, maka Khofifah harus mencari suara lain selain dari Muslimat NU. “Analisis saya pasangan ini akan menarik simpati masyarakat yang mengatakan bahwa lima tahun lalu pasangan Khofifah kalah karena tidak ideal. Maka mengambil tokoh yang bisa menaikkan elektabilitas,” sambungnya.

Sedangkan dua pasangan lain itu KarSa dan Bambang DH – Said Abdullah keduanya berasal dari Nasionalis dan Nasionalis. Sedangkan pasangan Khofifah – Herman ini berbeda, sebab tidak hanya dari NU dan nasionalis saja, namun juga dari Polri. Herman juga masih punya jaringan di Jatim. n rko

Berita lainnya
KPU Segera Bahas Pilkada Serentak
Pendukung Prabowo Demo KPU
30 Kotak Suara Hilang
Buka Kotak Suara, KPU Jombang Dipr...
Lagi, KPU Gresik Buka Kotak Suara
KPUD Kediri Buka 89 Kotak Suara
KPUD Jombang Buka 135 Kotak Suara
Komisioner KPU Lumajang Juga Digug...
Mantan Bupati : Pilpres Sudah Usai
Dua Kubu Capres Rekonsiliasi Damai
Dzikir Akbar Dukung Rekap KPU
Coblosan Ulang di Desa Jagoan
Bangkalan dan Sampang Diseret ke D...
Buka Kotak Suara, Panwaslu Dipolis...
Bawaslu: TPS di Juanda adalah DPT ...
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  85