menu.jpg
 
Alim Markus Dituding Peras Ipar Alim Satria Rp 205 M

Sengketa tanah di Maspion Unit IV (PT Bumi Maspion di Romokalisari, Gresik) dan Maspion Unit V (PT Maspion Industrial Estate di Manyar, Gresik) kian meruncing. Alim Markus menuding adanya broker dalam transaksi lahan di sana. Namun, tudingan itu dilawan oleh Hany Sugeng Bagio, adik ipar Alim Satria yang merupakan adik kandung Alim Markus. Bahkan, pihak Hany balik menuding pihak Alim Markus berupaya melakukan pemerasan. Rumah Hany didrop preman dan petugas. Untung Hany, mencium bau busuk, sehingga dia terlepas dari pemerasan dan kekerasan. Siapa yang sebenarnya memulai konflik ini, sehingga diluaran muncul kabar, keluarga Alim Markus terancam pecah.?

Gurita bisnis Maspion yang dibangun selama puluhan tahun itu kini dilanda konflik serius antara Alim Markus dan adik-adiknya. Riak konflik bisnis keluarga Maspion itu mulaiterlihat ke publik sejak awal September 2012. Tapi secara internal, perang uraf-syaraf diinternal keluarga sudah meradang cukup lama. Sejak September, terjadi perang iklan di media cetak antara Alim Markus (Presdir Maspion Group) dan Hany Soegeng Bagio, yang diketahui adik ipar Alim Satria. Sedang Alim Satria, tak lain adalah adik kandung Alim Markus. Informasinya, akhir-akhir ini Alim Satria juga membangun bisnis sendiri dengan mengelola Tunjungan City (eks gedung Siola di Jl Tunjungan Surabaya), Apartemen Trillium di Jl Pemuda Surabaya dan Maspion Square. Sementara Alim Markus, membangun bisnis property di beberapa kota di China, tanpa mengajak adik-adiknya, selain bisnis hiburan dan hotel di gedung Mex, di Jl. Pregolan.

Perang opini public antara Alim Markus dan Hany Soegeng, meletus terkait lahan PT Bumi Maspion (Maspion IV) di Romokalisari, Gresik, dan kawasan PT Maspion Industrial Estate (Maspion V) di Manyar, Gresik. Alim Markus menganggap transaksi jual beli Maspion IV dan Maspion V cacat hukum. Jual beli tanah di kawasan industri itu tidak melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan tidak sesuai dengan anggaran dasar perseroan. Yakni, harus mendapat persetujuan dari dua direksi dan dewan komisaris.

Namun, Hany, yang dikenal memiliki tangan dingin dalam bisnis tanah, langsung membantahnya. Ia bersikeras bahwa transaksi tersebut sah. ”Komoditas kawasan industri adalah tanah. Jadi, lucu kalau kita beli barang yang memang dijual oleh PT itu harus melalui RUPS,” kata Hany melalui kuasa hukumnya, Mangatur Sianipar, yang ditemui Surabaya Pagi, di kantornya Jl Margorejo, pekan kemarin.

Informasi yang dihimpun Surabaya Pagi, Hany Sugeng sejak 2006 telah membeli sebagian besar lahan PT Bumi Maspion (Maspion IV) di Romokalisari, Gresik dan kawasan PT Maspion Industrial Estate (Maspion V) di Manyar, Gresik. Total lahan yang dibeli sekitar 240 hektare. Pembelian terakhir pada November 2012 sekitar 100 hektare. Nilainya pun telah mencapai lebih Rp 300 miliar.

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Alim Markus yang menjadi Presdir Maspion Group berang atas jual beli tersebut. Alim Markus di hadapan wartawan, pertengahan September 2012 lalu, mengeluarkan pernyataan mengejutkan, bahwa tanah di Maspion Unit IV dan Maspion unit V dalam sengketa. Bahkan, Alim Markus menuding ada pihak tertentu yang menjadi broker atau makelar yang memperjualbelikan tanah milik Maspion. Sebab, proses penjualan tahan itu tanpa sepengetahuannya.

“Saya ini Dirut Maspion, setiap penjualan aset harus sepengetahuan saya. Kalau ada yang menjual dan beli tanah Maspion tanpa sepengetahuan saya, pasti ada yang tidak benar. Karena itu saya nyatakan tanah di Maspion IV dan V bersengketa,” ungkap Alim Markus kala itu.

Sejak itulah, konflik antara Alim Markus dan Hany Sugeng terus meruncing. Keduanya terlibat adu bantahan melalui iklan di Jawa Pos sejak awal Oktober 2012 lalu. Terakhir perang iklan bantahan itu terlihat pada 24 dan 27 November 2012. Alim Markus menggunakan jasa advokat Edward SJ Santoso, SH, MH. Sedang Hany Sugeng menyewa advokat Anner Mangatur Sianipar, SH, MH dan Yapto S, SH, yang dikenal Ketua Umum Pemuda Pancasila Pusat.

Dalam iklan tertanggal 24 November itu, Edward yang diberi kuasa PT Bumi Maspion dan PT Maspion Industrial Estate menegaskan, bahwa “Perjanjian pengikatan jual beli tanah/lahan yang dimaksud adalah tanggung jawab pribadi penjual/direktur yang bersangkutan karena terjadi pelanggaran anggaran dasar perseroan yang mewajibkan adanya persetujuan Dewan Komisaris dan/atau RUPS.Karena itu, seluruh pemegang saham sepakat untuk merebut kembali tanah/lahan yang dijual. “Jual beli tanah yang dimaksud ada dugaan kuat rekayasa hukum dan harga,” sebut iklan tersebut.

Iklan Alim Markus ini, rupanya membuat berang pihak yang selama ini terlibat dalam jual beli tanah tersebut. Menariknya, yang melakukan bantahan pada 27 November itu bukan Hany Sugeng, melainkan Paguyuban Pemilik Lahan Kawasan Industri PT Bumi Maspion & PT Maspion Industrial Estate. Dalam iklan itu disebutkan, ”Bahwa selaku pembeli yang beritikad baik kami telah memeriksa legalitas obyek tanah dan kedudukan hukum pihak penjual. Terhadap transaksi tanah di PT Bumi Maspion, Direksi telah memperoleh persetujuan tertulis dari salah seorang Direktur dan Komisaris perseroan. Sedangkan transaksi di PT Maspion Industrial Estate, Direktur Utama telah memperoleh persetejuan Komisaris dan seluruh pemegang saham....”

Paguyupan ini juga membantah soal dugaan rekayasa hukum dan harga, seperti tuduhan Alim Markus. Justru paguyupan ini balik menuding, bahwa internal PT Bumi Maspion dan PT Maspion Industrial Estate merubah harga yang telah disepakati dalam PPJB, sehingga terjadi kenaikan harga yang signifikan. Menariknya lagi, paguyupan ini terkesan membela Hany Sugeng. “Sangat tidak etis jika memperoleh keuntungan harus ditempuh dengan mengorbankan saudara sendiri serta mempermalukan di depan umum dengan dalih melakukan tindakan ultra vires. Pemimpin/tokoh masyarakat seharusnya menjaga nama baik dan menjadi panutan,” sebut iklan tersebut.

Tuduh Pemerasan

Sementara itu, Hany Sugeng yang dikonfirmasi terpisah melalui pengacaranya, Mangatur Sianipar membantah tudingan Alim Markus yang menyebut kliennya sebagai broker tanah. Menurutnya, tudingan itu bisa dikatakan sebagai pemberian tekanan psikologis kepada kliennya. Padahal, dalam transaksi jual beli sudah sesuai dengan aturan yang berlaku. “Memang tuduhan itu tidak menyebut klien saya. Tapi jelas-jelas itu mengarah ke klien saya,” ujar Mangatur ditemui di ruang kerjanya.

Justru ia menengarai ada upaya pemaksaan dan pemerasan agar Hany Sugeng, ipar dari Alim Satria, melakukan penambahan harga lahan sebesar 40% dari harga awal. "Ada oknum di Maspion yang ingin mengambil keuntungan atas perubahan harga tanah yang cenderung naik," jelas Sianipar, di kantornya.

Sementara itu di kalangan eksekutif Maspion beredar kabar bahwa nilai pemerasan sebesar Rp 205 miliar. Bila Hany membayar, akan dibagi masing-masing direksi mendapat Rp 50 miliar, kecuali Alim Satria yang hanya diberi Rp 25 miliar. Alasannya, Alim Satria adalah saudara ipar Hany Sugeng. Sementara Hany Sugeng yang dihubungi terpisah melalui HPnya 08161535xxxx, menolak memberi keterangan. “Saya ini orang kecil. Pak Alim Markus orang besar. Jangan mentang-mentang dia orang besar mau mendholimin orang kecil seperti saya. Diatas orang besar, ada orang lebih besar yaitu Tuhan. Demi Allah saya tidak pernah merugikan Maspion. Saya justru menguntungkan Maspion. Alim Markus suka cari-cari masalah. Orang ber Tuhan tidak akan begitu. Sasaran Pak Alim Markus adalah memojokkan dan menjatuhkan adik kandungnya sendiri pak Alim Satria” ungkap Hany.

Sebelumnya, Alim Markus kepada Surabaya Pagi, menyatakan, meski kakak-adik, antara dirinya dengan Alim Satria, tidak selalu sama. Termasuk dalam bisnis property apartemen Trilium di Jl. Pemuda Surabaya. “Bisnis Alim Satria belum tentu bisnis saya,’’ kata Alim Markus, di resto Pizzanya yang berada di lantai terbawah Mex bulding, suatu sore. Ada apa kok ada penjelasan soal bisnis Alim Satria, sambil menarik kursi di restonya, Alim Markus tidak mau memperjelas lebih ditail.

Di internal Maspion sendiri yang dihubungi siang kemarin menegaskan, kasus ini tidak ada pelanggaran hukum yang merugikan Maspion, baik sebagai institusi maupun perorangan pemegang saham. Bahkan sampai dilakukan legal audit. “Alim Markus sudah menghubungi Kabagreskrim Mabes Polri Irjen Sutarman, dua kombes direskrim Polda Jatim, Kapolres Tanjung Perak AKBP Anom Wibowo. Kayaknya Pak Alim Markus mau menjebloskan Hany dan Alim Satria, sebab dia senang kalau bisa memasukkan orang ke tahanan. Lihat sengketa dengan Soekotjo Gunawan. Begitu Soekotjo dibui, Alim Markus ketawa. Kini ia akan memberlakukan adik kandungnya seperti Soekotjo. Apa yang terjadi, semua pejabat kepolisian itu tidak dapat mengusut, Karena tidak ada unsur pidana yang dilakukan Hany Sugeng maupun Alim Satria. Oleh karena itu kini Pak Alim Markus kusak-kusuk dengan tangan kanannya Henry Kaunang, Komisaris Utama Bank Maspion’’ jelas sumber di Bank Maspion, Jl. Basuki Rachmad Surabaya, Senin siang kemarin (3/12).

Sementara itu Alim Satria, yang dihubungi melalui telepon 081133xxxx, menolak memberi keterangan, sebab yang bersengketa adalah kakak kandungnya dan iparnya. ‘’Saya orang pekerja yang taat hukum sekaligus taat pada keluarga. Jadi maaf saya tidak mau berpolemik dengan kakak saya. Biar hukum, moral dan etika yang menilai semuanya,’’ kata lelaki yang dikenal sebagai pengatur strategi bisnis Maspion Group dan pengelola Giant Jl. A. Yani Surabaya.

Sejauh ini, di kalangan pimpinan Maspion grup, perselisihan antara Alim Markus dan Alim Satria, diibaratkan seperti pendekar silat dengan petinju. Alim Markus, diibaratkan pesilat, karena Alim Markus beberapa kali pernah menyampaikan filosofi pesilat : ‘’Sebagai guru silat, saya harus menghabisi pendekar-pendekar silat potensial dibawah saya, karena pendekar silat yang kecil sekalipun berpotensi mengalahkan saya.” Sedangkan Alim Satria, pendiri perkumpulan bola pingpong ‘’Dengkul’’ di Delta Plasa, bersama Heru, cenderung memposisikan diri seperti petinju yang diserang terus-menerus oleh Alim Markus dengan menggunakan pertahanan ala double cover. Maklum, dalam lingkungan Maspion Grup, Alim Satria seperti Alim Mulia dan Alim Perkasa, adalah pekerja yang menggunakan prinsip diam alias tidak suka berbicara panjang-lebar kayak Alim Markus, yang dijuluki juga seorang humas. Apalagi belakangan ini suara yang berkembang di kalangan pimpinan Maspion, Alim Satria bersama keluarga dan pimpinan tingkat menengah di Maspion yang dididiknya akan dihabisi oleh Alim Markus dengan berbagai cara. (bersambung)

Berita lainnya
Surabaya Raih Socrates Award
Hotel Maumu dan Karaoke NAV, Disom...
Audisi Indonesia Mencari Bakat Dig...
Hotel Maumu dan NAV Digugat Rp 10 M
Mewah Rek, Satu Kursi Seharga Dua ...
Warga Apresiasi Keberanian Soekarwo
Awas Badai Petir
Pamitan dengan Wartawan, Bicara Tr...
Abraham Samad: Evolusi, Koruptor M...
SBY dikejar Penjual Gorengan
Investor Pasar Turi Dituding Curang
Presiden Desak Lapindo Lunasi Korb...
Ibu Kanker Rahim dan Ayah Stroke, ...
Tak Terancam, Prabowo Tolak Pengam...
Putri Gus Dur Pertanyakan Dana TKI...
Potensi Jawa Timur :
  • Kab. Bangkalan
  • Kab. Banyuwangi
  • Kab. Blitar
  • Kab. Bojonegoro
  • Kab. Bondowoso
  • Kab. Gresik
  • Kab. Jember
  • Kab Jombang
  • Kab. Kediri
  • Kab. Lamongan
  • Kab. Lumajang
  • Kab. Madiun
  • Kab. Magetan
  • Kab. Malang
  • Kab. Mojokerto
  • Kab. Nganjuk
  • Kab. Ngawi
  • Kab. Pamekasan
  • Kab. Pasuruan
  • Kab. Pacitan
  • Kab. Ponorogo
  • Kab. Probolinggo
  • Kab. Sampang
  • Kab. Sidoarjo
  • Kab. Situbondo
  • Kab. Sumenep
  • Kab. Tuban
  • Kab. Tulungagung
  • Kab. Trenggalek
  • Kota Batu
  • Kota Blitar
  • Kota Kediri
  • Kota Madiun
  • Kota Malang
  • Kota Mojokerto
  • Kota Pasuruan
  • Kota Probolinggo
  • Kota Surabaya
  • Copyright © 2012 surabayapagi.com
    RSS Feed User Online :  54