Login | Register Version : English | Suroboyoan | Madura    
2010-02-06 
Dana TKI yang Gerakkan Perekonomian Tulungagung
Menyingkap Misteri Kabupaten dan Bupati Tulungagung Heru Tjahjono (6-Habis)
Tulungagung juga dikenal sebagai ”Kota TKI”. Sebab, kabupaten ini tercatat sebagai pengirim Tenaga Kerja Indonesia (TKI) paling banyak di Jatim. Tingkat pengangguran yang tinggi serta kemiskinan, memicu mereka nekat bekerja ke luar negeri. Inikah potret buram kesejahteraan warga Tulungagung?

Tim, SURABAYA

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Tulungagung menyebutkan sepanjang tahun 2009, jumlah pengangguran di Tulungagung tercatat 27.347 orang. Sementara UMK-nya hanya Rp 600 ribu. Bisa jadi karena faktor tingginya pengangguran serta minimnya lapangan tenaga kerja, membuat warga Tulungagung lebih memilih sebagai TKI.

Terlebih lagi, mereka melihat sukses yang diperlihatkan para TKI, yang mengirim uang dalam jumlah banyak ke keluarganya. Sehingga, mereka mampu membangun rumah yang lebih mewah dari tetangga biasa.

Data Disnakertrans menyebutkan jumlah TKI asal Tulungagung per tahun rata-rata 1.000 orang yang tersebar di berbagai negara. Seperti ke Singapura, Malaysia, Taiwan, Hongkong, dan sejumlah negara timur tengah. Namun, jumlah sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar. Bahkan angkanya bisa mencapai 10.000-20.000 orang. Ini karena adanya TKI ilegal.

“TKI tidak resmi itu mencapai ribuan,” ucap Hariyono dari Disnakertrans Kab. Tulungagung. Menurut dia, selama tahun 2009, TKI resmi hanya tercatat 1.058 orang. 953 di antaranya sebagai pramuwisma atau pembantu. Sedang 105 orang sebagai pekerja bangunan.

Meski begitu, kiriman uang TKI asal Tulungagung cukup fantastis, rata-rata Rp 300 miliar per tahun. Jumlah ini lebih dari 1/3 total APBD Tulungagung tahun 2009 yang hanya sekitar Rp 800 miliar. ‘’Kalau tahun 2009 lalu, penghasilan setahun jumlah resmi TKI 1.058 orang itu mencapai Rp 266 miliar (tepatnya, Rp 266.652.953.546, red),” ungkap Hariyono.

Terlepas resmi dan tak resmi, faktanya uang hasil jerih payah TKI itulah yang menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Khususnya, di daerah kantung-katung TKI, seperti Kecamatan Kalidawir, Besuki, Pucanglaban, dan Ngantru.

Sri asal Desa Pojok Kecamatan Ngantru mengaku perekonomiannya sangat terbantu, setelah dirinya menjadi TKI di Malaysia. Bekerja dua tahun di Negeri Jiran itu, dia telah mampu membangun rumahnya yang dulunya kurang layak. Bahkan, mampu mendirikan usaha berupa toko di pasar. “Saya sangat bersyukur, meski modal berangkat sempat ngutang. Tapi sekarang sudah lunas semua,” tutur Sri yang mengaku sebagai pembantu rumah tangga saat bekerja di Johor Bahru, Malaysia.

Hal senada dikemukakan Sumira, mantan TKI yang pernah bekerja di Arab Saudi selama 3 tahun. Usai kembali ke kampong halaman, dia membuat usaha bersama kelompok Sumber Rejeki. “Sebelum adanya kelompok ini saya masih bodoh, tapi setelah bergabung saya bisa mendapat pengetahuan banyak. Selain dapat pengalaman dengan berkelompok juga dapat membantu mengentaskan ekonomi keluarga saya melalui simpan pinjam,” terangnya. n


Ada 0 Komentar Untuk Berita Ini.


Silakan Login untuk kirim komentar Anda.
Kirim Komentar Anda :
*)max. 250 karakter