Masih seperti tahun kemarin, pelaksanaan Ujian Nasional (UN) tahun ini masih di bawah standart. Pasalnya jumlah siswa yang tidak lulus diperkirakan cukup banyak. Setidaknya 74,47 persen dari seluruh total peserta UN. Data tersebut dari hasil uji coba (try out) UN tingkat SMA/MA negeri dan swasta yang digelar Januari lalu.
Berdasar hasil try out itu terungkap, dari total peserta sebanyak
18.590 siswa terdapat sebanyak 13.907 siswa yang tidak lulus atau sebesar 74,81 persen. Rinciannya, jurusan IPA SMA negeri/swasta dari 9.634 siswa terdapat 6.868 tidak lulus, MA negeri/swasta dari 79 siswa terdapat 78 siswa tidak lulus. Jurusan IPS SMA negeri/swasta dari 8418 siswa terdapat 6561 siswa tidak lulus, MA negeri/swasta dari 266 siswa terdapat 264 siswa tidak lulus. Sedangkan untuk jurusan Bahasa SMA negeri/swasta dari 193 siswa terdapat 136 siswa tidak lulus.
Melihat terjun bebasnya nilai try out UN itu, Kepala Bidang Pendidikan
Menengah dan Kejuruan (Kabid Dikmenjur) Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya, Ruddy Winarko beralasan, naskah soal yang digunakan memang dibuat lebih sulit dua kali lipat dari soal UN yang bakal diujikan.
Sehingga, wajar jika hasil try out pertama itu nilainya jeblok. "Kalau
nilainya bagus malah harus dipertanyakan. Soalnya naskah yang
digunakan itu tingkat kesulitannya dibuat dua kali lipat dari soal
UN," katanya.
Ruddy menambahkan, Dindik memang sengaja membuat tingkat kesulitan
naskah try out dua kali lipat. Dengan begitu, Dindik bisa melakukan evaluasi, pemetaan, dan bisa mengambil tindakan solutif. "Hasil ini akan kita jadikan pijakan untuk mengevaluasi dan mendongkrak kesiapan siswa," ujarnya.
Mantan kepala SMKN I mengatakan, yang terpenting ialah pada pelaksanaan try out kedua dan selanjutnya. Sebab, hasil try out lanjutan hasilnya harus
meningkat. "Yang penting malah pada try out kedua yang bakal kita gelar akhir Pebruari ini. Kita harapkan hasilnya bisa meningkat," katanya.
Saat dikonfirmasi, terkait hal tersebut, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Surabaya Suharyono, mengungkapkan masih banyaknya siswa yang dinyatakan tidak lulus dalam try out bersama, hal itu terjadi karena beberapa faktor. “Itu yang kami evaluasi bersama, bisa saja karena sulitnya soal tapi bisa juga karena anak-anak kurang berfikir dalam mengejakan soal,” terangnya.
Suharyono yang juga Kepala SMAN 5 mengaku, jika bobot soal dalam try out dibuat sedikit lebih sulit. Penetapan bobot soal itu disepakati dalam pertemuan bersama antara MKKS dan guru mata pelajaran yang diserahi membuat soal try out. "Bobot soal itu sekaligus untuk menjembatani persiapan tes masuk PTN," pungkasnya. ega
|