Login | Register Version : English | Suroboyoan | Madura    
2010-02-06 
Kawasan Perbatasan Kaya Potensi Ekonomi
KEHIDUPAN warga dan tingkat perekonomian di wilayah tapal batas ternyata tak separah yang dibayangkan selama ini. Justru di wilayah perbatasan seperti di Pulau Sebatik, Ambalat dan lainnya masyarakat lebih sejahtera dibanding dengan masyarakat di perkotaan. Pasalnya, di daerah perbatasan itulah terjadi arus pertukaran barang dan jasa yang membuat perekonomian di wilayah tersebut tumbuh.

”Justru potensi ekonomi di daerah perbatasan itu sangat kaya. Ibaratnya, kalau ingin cari duit, disanalah tempatnya,” ungkap Ananta Kusuma Wibawa, Staf Ahli Litbang Departemen Pertahanan, dalam seminar ’Membangun Nasionalisme Kebangsaan di Tapal Batas, di Universitas Bhayangkara Surabaya, kemarin.

Ananta mengakui bahwa selama ini terjadi mis persepsi mengenai kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan. Mereka ini diasumsikan sebagai daerah miskin, perekonomian rendah, tingkat kesejahteraan minim dan lainnya. Justru di daerah tersebut, potensi ekonomi yang bisa dikembangkan cukup banyak. Lahan masih luas, dagang juga jelas pasarnya, keahlian teknologi malah diperlukan.

”Hanya saja yang kurang perhatian dari pemerintah adalah pembangunan infrastruktur. Misalnya listrik. Di Sebatik listriknya dari PLTD dengan kekuatan 3 Megawatt. Akibatnya, kalau malam listriknya hidup mati, hidup mati,” ungkapnya.

Meski begitu, Ananta mengakui, bahwa perkembangan pendidikannya masih rendah. Oleh karenanya, pihaknya sedang membangun pola pendidikan di wilayah perbatasan yang ditujukan bagi siswa-siswa SMP.

”Ini sangat penting dan bagian dari pertahanan. Agar generasi muda di wilayah perbatasan mempunyai ikatan kuat terhadap Indonesia, sehingga tak sampai berpindah kewarganegaraan,” ujarnya.

Pembantu Rektor I Universitas Bhayangkara, Dr. Drs. Budi Irianto, MSi menambahkan, selain membangun pendidikan, internalisasi terhadap nilai-nilai Pancasila sangat penting sebagai kerangka ideologis bangsa. Nilai-nilai Pancasila ini harus terus dikembangkan sebagai ikatan psikologis bangsa dalam sanubari masyarakat di tapal batas secara berkelanjutan. ”Sehingga perwujudan nation building dapat terwujud dengan pola interaktif dan konstruktif,” paparnya. ri



Ada 0 Komentar Untuk Berita Ini.


Silakan Login untuk kirim komentar Anda.
Kirim Komentar Anda :
*)max. 250 karakter