SBY Diminta Hati-Hati
|
| Kamis, 23 Juli 2009 | 03:07 WIB |
|
|
|
SURABAYA – Kondisi politik yang memanas usai pemilu presiden disikapi jajaran pengurus daerah Tarbiyah Islamiyah Jawa Timur. Salah satunya terkait perebutan jatah menteri dari sejumlah politisi yang mengaku berjuang untuk SBY-Boediono di Pilpres lalu.
Ormas pendukung SBY-Boediono ini meminta agar semua pihak menjaga kebersamaan dan tidak memancing di air keruh. Serta memberi kesempatan kepada SBY untuk menyusun kabinet sendiri. ”SBY diharapkan hati-hati dalam menentukan kabinet yang pas. Karena urusan memilih menteri kabinet tidak gampang,” jelas KH Abdul Mukhti, Ketua PD Tarbiyah Islamiyah Jawa Timur usai rapat kerja terbatas, kemarin.
Hasil kesepakatan Tarbiyah Jatim yang akan disampaikan ke pengurus pusat menyerahkan sepenuhnya kepada SBY selaku presiden pilihan rakyat. Pihaknya hanya berharap, orang-orang yang dipilih untuk membantu jalannya pemerintahan lima tahun kedepan adalah orang-orang yang dianggap mampu menjalankan tugas. ”Bisa diajak kerjasama serta konsisten kepada Presiden SBY,” tandasnya.
Tarbiyah sebagai satu-satunya ormas Islam yang konsisten mendukung SBY menurut Mukhti tidak akan meminta jatah jabatan meski selama ini ikut menggalang dukungan. “Tarbiyah tidak akan meminta, tapi kalau jamaah kami diberi kepercayaan, sebagai umat muslim hal itu tidak boleh ditolak,” ujarnya.
Dijelaskannya, sejumlah pengurus PB Tarbiyah selama ini dikenal memiliki kader yang mumpuni. Di tingkat pusat, terdapat beberapa pengurus yang tercatat sebagai menteri. ”Dulu di era Presiden Soekarno ada kader Tarbiyah yang masuk kabinet,” ceritanya.
Disinggung tentang hasil rekapitulasi pemilu KPUD Jawa Timur, ormasnya secara hormat mengacungi kinerja KPU dalam menjalankan Pilpres. Karena di Jatim SBY-Boediono memimpin dengan 60,32% suara, disusul Mega-Prabowo 30% dan JK-Wiranto 9%. rko