menu.jpg
 
Dugem Marak, Purel-Purel Penuhi Kos-Kosan Bebas Campur Mahasiswi

Lambat laun titik-titik kemaksiatan di kota Surabaya mulai merambah daerah pinggiran. Fenomena ini terlihat di daerah Bratang hingga Jemursari dan sekitarnya. Di kawasan itu kini mulai marak berdiri tempat hiburan malam, mulai rumah karaoke, klab malam, kafe dangdut, tempat biliar, hotel hingga panti pijat serta tempat kos bebas bagi wanita (purel) dan mahasiswi. Bagaimana Bu Risma? Apa anak buah di Satpol PP dan Dinas Pariwisata tidak melaporkan kondisi pinggiran kota sebelah timur dan selatan seperti belakangan ini. Apalagi di Semolowaru dan Bratang, dikenal kawasan kampus, tempat kos-kosan mahasiswi.


Selama ini daerah merah di Surabaya terpusat di pusat kota. Mulai lokalisasi Dolly, Dukuh Kupang, Pasar Kembang, Wonorejo, Tempel, Kedungdoro, Embong Malang hingga Tegalsari. Namun, sekarang pusat-pusat maksiat itu mulai tumbuh di kawasan pinggiran.

Coba saja anda jalan-jalan malam mulai Bratang, Bratang Gede, Nginden, Semolowaru, Panjang Jiwo, Jemursari hingga raya Rungkut. Di sana anda akan menemui kerlap-kerlip lampu yang menandakan di sana ada aktivitas hiburan malam. Di Bratang misalnya, ada NAV Karaoke, kafe dangdut Rasa Sayang, panti pijat Bu Mamiek dan Andhika Biliar.

Melangkah ke daerah tetangga, Nginden Semolowaru akan menemukan kafe dangdut lagi dan karaoke DMaster. Di Panjang Jiwo juga ada klub malam MW dan sebuah hotel short time. Ke selatan, tepatnya Jalan Jemursari terdapat dua kafe dangdut, yakni Real-X dan Slamet Jaya yang sebelumnya buka di daerah Jarak. Kemudian klub malam Natajaya yang belakangan ini mulai menjadi buah bibir. Di kawasan ini juga berdiri dua hotel berkelas yang baru berdiri.

Sementara di Rungkut terdapat beberapa tempat biliar dan karaoke Terminal, yang akhir-akhir ini terlihat ramai karena menyediakan cewek purel secara terselubung. Kalau malam di sini pasti gemerlap dan ramai. Kondisi seperti itu sudah 1,5 tahun ini. Nggak tahu kenapa mereka (pengusaha hiburan malam, red) memilih tempat si sini (sekitar Bratang dan Jemursari, red), kata Rozi, warga Bratang Gede.

Pria ini khawatir daerah ini akan menjadi pusat maksiat, seperti terjadi di pusat kota Surabaya. Pasalnya, sekarang ini juga mulai banyak kos-kosan bebas yang dihuni para wanita pekerja malam atau purel, bercampur dengan tempat kos mahasiswi. Tentu saja ini imbas dari banyaknya tempat hiburan di kawasan ini. Banyak mas sekarang kos-kosan bebas di sini, cetus dia. Saya khawatir remaja-remaja akan terpengaruh negatif, termasuk orangtua mahasiswi, lanjutnya.

Salah seorang pengelola kafe dangdut yang enggan disebut namanya mengungkapkan pihaknya membuka tempat hiburan di sana, karena sekitar Bratang dan Rungkut belum ada tempat hiburan yang layak dan memadai. Padahal, potensinya ada. Mulai tumbuhnya perkantoran di sana hingga pabrik-pabrik bersekala sedang hingga besar.

Kami ingin menampung mereka. Sebab selama ini mereka larinya selalu ke pusat. Kalau ada yang lebih dekat, kenapa harus jauh-jauh ke pusat kota, ungkapnya.

Sementara pantauan di sejumlah tempat, baik karaoke, kafe dangdut dan klab malam, semuanya menyediakan purel. Kecuali NAV karaoke. Sedang tempat-tempat biliar terlihat banyak score girl di sana. Pengelola tempat hiburan di sana juga menyediakan berbagai jenis minuma keras, mulai bir hingga impor. n

Berita lainnya
PSK Online Berstatus Mahasiswi dan...
Prostitusi Untuk Pejabat
Model Rp 25 Juta
"Enak Kerja Sendiri, Semuanya Masu...
MUI Minta NAV-Hotel ‘Maumu’ Di...
Ditangkap, Purel NAV dan Hotel “...
Karaoke NAV dan Hotel ‘’Maumu...
Ada Karaoke Plus Hotel Short-Time
Bos Karaoke ‘Kibuli’ Pemkot
Surabaya Kota Maksiat
10 Tahun Jadi Lesbi, Kini Nani Dij...
Diperlakukan Kasar, Vicky Jadi Les...
Ada Lesbi yang Rela Gaet Pria untu...
Lesbi ABG Suka Sex Toys, Belinya P...
Tidur, Nyaman di Kos-kosan Ketimba...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  74