menu.jpg
 
Dijual di Bawah NJOP, Penjualan ke PT Hermon Diduga Korupsi

Penjualan lahan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Surabaya-Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa-AWS) seluas 6.051.51 meter persegi kepada PT Hermon oleh Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT), ditengarai berbau korupsi. Selain aset kampus itu berstatus tanah surat ijo yang tak boleh diperjualbelikan, penjualan itu ditengarai di bawah harga Nilai Jual Objek Pajak (NJOP). Siapa yang terlibat dan bisa diperkarakan? Apakah Dhimam Abror Djuraid selaku Ketua Harian YPWJT ataukah Basofi Sudirman sebagai ketua yayasan tersebut? Lalu, bagaimana dengan posisi Aswin Tanusaputra selaku bos PT Hermon yang membeli lahan tersebut? Berikut laporan wartawan Surabaya Pagi.

Di lahan kampus yang berlokasi di Jalan Nginden Intan Timur I/18 Surabaya, terdapat papan pengumuman yang dipasang Badan Pengelolaan Tanah dan Bangunan (BPTB)—sekarang Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT)-- Pemkot Surabaya. Papan itu menyebutkan,”Tanah Aset Pemerintah Kota Surabaya, Lokasi : Jalan Nginden Intan Timur I/18 (AWS), Kelurahan : Nginden Jangkungan, Kecamatan : Sukolilo, Luas : 17.283,65 M2…” Anehnya, papan pengumuman itu tidak mencantumkan nomor IPT (Ijin Penempatan Tanah).

Informasi yang dihimpun dari alumni AWS, sampai tahun 2006 IPT Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT) dalam bentuk buku warna hijau dan memuat foto Try Marjono SH ukuran 4 x 6 cm itu masih menyebut luasan tanah 17.283,65 m2. Ini memang susuai dengan papan pengumuman tersebut.

Namun, selidik punya selidik, pada tahun 2007 terjadi pengalihan IPT tanah Stikosa-AWS tersebut. Ini dibuktikan dengan keluarnya buku IPT baru warna hijau atas nama YPWJT yang diteken Kepala BPTB Muhammad Ali. Foto Try Marjono yang hitam putih berganti foto Mayjen (purn) Basofi Sudirman, mantan Gubernur Jatim.

Yang mengejutkan, luas tanah IPT Yayasan Stikosa AWS tahun 2007 berubah menjadi sekitar 11.000 m2 lebih. Di sisi lain lahir buku IPT baru warna hijau atas nama Aswin Tanusaputra dan menyebut luasan tanahnya sekitar 0,6 hektare lebih. Dasar pengalihan tanah IPT itu permohonan pihak yayasan dan terlampirkan akta jual beli lewat notaris atas tanah aset Pemkot Surabaya itu.

Bagaimana bisa hal itu terjadi? Sumber di kalangan alumnsi Stikosa-AWS menyebutkan, kabar penjualan lahan kampus itu menyusul rendahnya minat mahasiswa ke Stikosa AWS. Pada saat itu tersiar kabar, alumni membicarakan rencana pengurus YPWJT melepaskan tanah dan bangunan kampus di Jl Nginden Intan Timur I/18 dengan pola tukar guling ke investor. Alasannya, yayasan kesulitan membiayai operasional akademi wartawan tertua itu.

Isu yang berkembang saat itu, dari perhitungan tukar guling, yayasasan masih memiliki sisa dana yang dapat digunakan untuk mengembangkan pendidikan kewartawanan. Kontan saja kabar ini menuai kontroversi di kalangan alumni, utamanya wartawan alumnus maupun civitas akademika Stikosa-AWS.

Di tengah kesulitan konsidi Stikosa AWS itu, tidak ada satu pun pihak di yayasan, alumni, dan rektorat yang berani mengambil sikap untuk menjual kampus. Dalam kondisi ini, lanjut sumber ini, Dhimam Abror mengirim surat ke Walikota Surabaya untuk menyampaikan niat melepaskan sebagian tanah kampus kepada investor, Aswin Tanusaputra, secara perseorangan.

“Entah atas ijin siapa, tanah seluas 0,6 hektare itu kemudian dikabarkan telah dijual kepada Aswin Tanusaputra yang disebut-sebut owner PT Hermon,” beber sumber ini yang enggan disebut namanya.

Pertanyaannya, apakah diperbolehkan tanah aset itu diperjualbelikan? Padahal, Perda Nomor 1 Tahun 1978 tentang IPT maupun Perwali Nomor 1 Tahun 1979 juga tentang IPT hanya menyebut tiga nomenklatur atau tata nama. Tanah asset belum ber-IPT diterbitkan buku ijonya, Ijin IPT berakhir batas waktunya dapat diperpanjang dan Pengalihan IPT. Namun untuk hal terakhir, pengalihan IPT harus mendapatkan ijin tertulis dari walikota atau pejabat yang ditunjuk.

Kabag Hukum Pemkot Surabaya Suharto Wardoyo menegaskan lahan tersebut semula berupa fasum (fasilitas umum) yang kemudian diberikan secara hibah kepada Yayasan Pendidikan Wartawan Jawa Timur (YPWJT). Saat itu Walikotanya Alm. Purnomo Kasidi. “Karena sifatnya hibah tidak bisa diperjualbelikan, meski telah dibaliknamakan atas sebuah yayasan,” tandasnya.

Hal sama diungkapkan Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah (DPBT) Djumaji. Menurutnya tanah yang ditempati kampus Stikosa AWS itu berstatus surat ijo. Dulunya merupakan BTKD. “Setahu saya tanahnya surat ijo. Yang bisa dilakukan dengan surat ijo hanya pengalihan pengelolaan tanahnya saja (IPT). Tidak boleh diperjualbelikan,” ujarnya singkat melalui telepon selularnya.

Di Bawah NJOP
Kabar yang berkembang di lingkungan alumni Stikosa AWS, tanah yang dijual Rp 6 miliar ke Aswin Tanusaputra yang juga pengurus Gereja Bethany itu ditengarai di bawah harga NJOP. Informasi yang dihimpun, pada tahun 2006 NJOP di kawasan Nginden Intan berkisar Rp 2 juta. Tapi oleh YPWJT, lahan itu hanya dijual ke PT Hermon milik Aswin Rp 1 juta per meter persegi, sehingga hanya diperoleh dana Rp 6 miliar.

Jika dijual sesuai NJOP, semestinya YPWJT mendapat 2 kali lipatnya sekitar Rp 12 juta. Dari sinilah patut diduga ada korupsi dalam kasus penjualan lahan Stikosa AWS tersebut.

Camat Sukolilo M Fikser yang dikonfirmasi terkesan enggan berkomentar banyak, terkait sengketa penjualan lahan milik Stikosa AWS yang merupakan hibah dari Walikota Purnomo Kasidi tersebut. “Saya tidak terlalu tahu soal penjualan lahan itu. Menyoal berapa besaran NJOP-nya, saya kira di kawasan itu sudah mahal. Dari tahun ke tahunnya pasti sudah mengalami peningkatan,” ujarnya melalui telepon selularnya.

Sementara itu, Dhimam Abror yang dikonfirmasi mengenai persoalan ini, enggan berkomentar. “Saya sudah mundur (dari YPWJT, red). Silakan kontak penasihat hukum saya Moh Ma’ruf S.H,” jawab Abror melalui SMS, sore kemarin. n tim

Berita lainnya
Korupsi Dinasti Dilaporkan ke KPK
APBD Disorot, Perizinan Jadi Celah...
Kejaksaan Usut Korupsi Reklame
Keluarkan SP3, Kapolda Bali Dilapo...
Korupsi Fungsi Hutan, Annas Maamum...
Koruptor Lihai Ada di Jatim
KPK juga Sidik Korupsi Fuad saat J...
Rekening Gendut Foke Diusut KPK
Korupsi Proyek SDN Rangkah Siap Di...
Angkasa Pura Laporkan Gratifikasi ...
2015, Targetkan Penyidikan Kasus K...
Bongkar, Korupsi Dinasti di Jatim
KPK Periksa 2 Saksi Suap Bangkalan
Kejati Kantongi Calon Tersangka Hi...
Foke dan Nur Alam Masuk Rekening G...
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  89