menu.jpg
 
Pitrad Kecil Digerebek, Glamoure Spa Dibiarkan

SURABAYA - Praktik prostitusi di Surabaya kian mengkhawatirkan. Tak cuma terjadi di lokalisasi Dolly dan hotel-hotel short time, tapi rumah toko (Ruko) juga menjadi lokalisasi prostitusi terselubung. Buktinya di Ruko Jalan Ngagel Jaya Indah Bolk D 49 Surabaya. Berkedok Pijat Tradisional (Pitrad) “Tiara”, therapist (cewek pemijat) di sini juga melayani making love (ML) dengan tarif Rp 300-400 ribu. Sayangnya, polisi menggerebek pijat plus-plus ini terkesan “tebang pilih”. Hanya pijat kelas teri yang digerebek, sementara yang kelas menengah-atas dibiarkan

Seperti dilakukan anggota Unit Judi-Susila Ditreskum Polda Jatim, yang menggerebek Pitrad “Tiara”, Selasa (3/5) malam. Pitrad ini ditengarai menyalahgunakan perizinan, dengan menjadikan surat izin sebagai kamuflase. Tempat pitrad itu dijadikan bisnis esek-esek.

Ketua LSM Penegak Keadilan Surabaya, Bambang Ariyanto menilai Polda Jatim tidak adil dan diskriminatif. "Kalau memang mau membersihkan praktik meseum berkedok prostitusi, kenapa Polda hanya gerebek pitrad kecil, kan banyak spa dan pitrad esek-esek kelas menengah atas di pusat kota dan ruko-ruko tidak digerebek. Kami akan laporkan ke Kapolda agar anak buahnya bikin razia seluruh kota Surabaya. Kami ingatkan Polda itu harus netral dan berbuat adil," ingat Bambang, semalam pada Surabaya Pagi.

Penggerebekan tempat mesum ini dibenarkan Kanit Wanita Susila Subdit Remaja Anak Wanita (Renata) Ditreskrim Polda Jatim Kompol Azis Andriansyah. “Berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat, Pitrad ini dijadikan tempat mesum. Saat diselidiki ternyata benar,” ujar Kompol Azis mendampingi Direskrimum Polda Jatim Kombes Pol Agus Sutisna, Rabu (4/5).

Polisi menjaring 20 orang, temasuk wanita therapist, pengunjung, dan pengelolanya. Saat dilakukan penggrebekan, para therapist kedapatan tengah indehoi bersama dengan para pelanggannya. “Dari informasi yang kita dapat, tempat tersebut sudah tiga tahun beroperasi,” tutur Azis.

Modusnya, para therapist ini memberikan pijatan, yang dilanjutkan dengan memancing syahwat pelanggannya. Bila tamunya “kepanasan”, cewek therapist ini langsung menawarkan pijat plus. Dari penggrebekan ini, polisi mengamankan barang bukti berupa kotak kondom beserta kondom bekas pakai, sprei, dan handuk yang digunakan oleh para tamu.

“Para therapist-nya sudah kita mintai keterangan. Untuk itu, kita sudah menetapkan satu orang tersangka, yaitu saudara dengan inisial SPA (40) yang berperan sebagai pengelola tempat tersebut. Selain itu, kita juga telah menyita beberapa barang bukti yang digunakan di tempat kejadian perkara (TKP),” papar Kompol Azis.

Pengelola tempat mesum ini dijerat dengan pasal 296 KUHP tentang memudahkan perbuatan cabul orang lain dengan ancaman hukuman satu tahun empat bulan penjara.

Sementara itu, di lokasi Pitrad Tiara ketika dikonfirmasi soal penggerebekan anggota Polda Jatim, mereka menyangkalnya. “Saya tidak tahu, tadi malam saya libur kok. Kalau pingin tahu tanya langsung ke pemiliknya saja,” kata seorang therapist yang asyik tidur siang di atas sofa ruang tamu besama tiga orang temannya. Ketika ditanya keberadaan si pemilik Pitrad, mereka juga mengaku tidak tahu.

Ruko Prostitusi

Berdasar penelusuran Surabaya Pagi, tidak hanya Pitrad Tiara yang memberikan layanan plus plus. Tapi, Pitrad dan spa yang menempati ruko di beberapa kawasan di Surabaya juga ada plus-plusnya. Paling mencolok di Ruko Kompleks Darmo Park I dan II Jalan Mayjen Sungkono dan Ruko Jl Kedungdoro. Di dua ruko itu seperti menjadi Dolly kedua, sebab menjadi lokalisasi prostitusi baru di Surabaya.

Di Darmo Park, misalnya, ada sejumlah salon dan panti pijat. Tapi itu hanya kedok belaka. Sebab, pada dasarnya menyediakan layanan esek-esek. Salah satunya, di Ina Massage seperti diinvestigasi Surabaya Pagi, beberapa waktu lalu. Tempat ini menjadi pilihan pria hidung belang karena menyediakan stok cewek Sunda (asal Jawa Barat), yang dikenal pintar memuaskan om-om. Sementara tarifnya tidak terlalu mahal, yakni Rp 200 ribu sudah all in (pijat dan service plus-plus-nya). Informasi yang diperoleh, pemilik Ina Message ini juga mengelola panti pijat lainnya di Darmo Park, seperti Rizky, Orange dan Sherly.

Ruko di Jalan Kedungdoro tak jauh beda dengan Darmo Park. Di sini juga ada layanan esek-esek berkedok salon dan panti pijat, mulai kelas menengah hingga atas. Kelas menengah bawah itu seperti di Panti Pijat D’King dan Primadona. Bahkan, dua tempat ini berdekatan. Tarif di sini Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu.

Sedang Panti Pijat Gandaria biasanya dihadiri kalangan menengah-atas. Sebab, di sini tak hanya menyediakan cewek-cewek lokal. Tapi juga impor asal China. Selain di Kedungdoro, Gandaria juga buka di Ruko Jl Embong Malang. Sementara Glamour Spa yang menempati Ruko di Jl Tunjungan juga ada prostitusinya, dengan tarif Rp 500 ribu, belum termasuk tarif room dan spa.

Tak hanya di tengah kota, Ruko di pinggiran Surabaya juga menggeliat tempat pijat plus-plus. Di antaranya di Panti Pijat “Bu Mamik” di Ruko Jl Baratajaya Blok B. Hanya dengan tarif Rp 220 ribu, penikmat sahwat sudah mendapatkan layanan pijat dan servis plus-plus.

Di dekat Panti Pijat “Bu Mamik” juga terdapat panti pijat plus-plus, yakni Pataya-16. Lokasinya di Ruko Jl Bratang Jaya 16. Pijat plus-plus di sini lebih mahal sedikit dibanding Bu Mamik, yakni di kisaran Rp 270 ribu-300 ribu.

Ketua Komisi A (Hukum dan Pemerintahan) DPRD Surabaya Armudji pernah mengatakan, berdasarkan catatan yang dimiliki komisinya, banyak ruko di Surabaya yang telah beralih fungsi menjadi tempat spa dan rekreasi lain. Menurutnya, ini tidak sesuai dengan perijinan awal.

Disayangkan

DPRD Kota Surabaya prihatin dengan banyaknya spa dan pitrad yang dijadikan praktek esek-esek di kota Surabaya. Parahnya, yang ditertibkan hanya Pitrad kelas bawah. Anggota Komisi D Masduki Toha mengatakan seharusnya Pemkot maupun Polrestabes Surabaya menindak semua tempat pijat maupun spa yang mengandung unsur seks. "Kenapa harus takut, berarti selama ini ada main mata antara aparat dengan pengelola," ujarnya.

Masduki menambahkan, jika hal itu dibiarkan secara terus menerus maka akan merusak mental generasi muda Surabaya. "Apa Pemkot mau bertanggungjawab atas kerusakan mental warganya," tegasnya.

Hal sama juga dikatakan Wakil Ketua Komisi D Eddie Budi Prabowo. Politisi Golkar ini meminta Pemkot maupun Kepolisian tidak tebang pilih dalam menindak tempat sauna dan pijat yang menyediakan layanan plus-plus. "Tindak saja jika terbukti melanggar," tandasnya.

Menurut Eddie, jika Pemkot maupun Kepolisian tidak tegas, dirinya mengkhawatirkan elemen masyarakat yang akan mengambil alih tugas tersebut "Tentunya kita tidak ingin hal itu terjadi," pungkasnya. n ma/to

Berita lainnya
Polda kok Cuma Gerebek Prostitusi ...
Perawani Siswi SMP, Pria Malaysia ...
Semalam, Arek Mojokerto Bunuh Ayah...
Kajari Bojonegoro Dipolisikan
Edarkan Upal, Ibu dan Anak Dituntu...
Karyawan Diskotek 777 Terancam LDH
7 Bulan Ngendon Kasus Penganiayaan...
Lima Pelaku Curat Dibekuk
4 Pemuda Gilir Siswi SMP di Sawah
Lempari Bus, 4 Bonekmania Diamankan
Ingin Punya Motor, ABG Nyolong
Dicurigai Nyolong Sapi, Kadus Nyar...
Curi Pompa Air, Pengantin Baru Dir...
6 Perusak Pesantren YAPI Divonis 3...
Edarkan Pil, Pemuda Mojosari Dicid...
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  87