menu.jpg
 
Bank Jatim Kebobolan Rp 50 M, Diduga Libatkan Anak Direksi

SURABAYA – Bank Jatim yang sedang mengajukan IPO di pasar modal, terus dirundung masalah. Setelah kebobolan di cabang Sumenep, Bangkalan, Mojokerto dan Gresik, Maret 2012 yang lalu, mengalami kebobolan lagi Rp 50 miliar. Ironisnya, kasus di cabang HR Muhammad Surabaya, melibatkan Deddi Putra Mahardika, putra Direktur Agro, Syariah dan Retail Bank Jatim, Partono. Kini Deddi, dipindah ke cabang pembantu Klampis. Sedangkan atasan Deddi di cabang HR Muhammad, yaitu Tony Basuwan, sedang diperiksa team pengawas Bank Jatim pusat.

Sumber di Bank Jatim hari Sabtu mengatakan, semula pembobolan di cabang HR Muhammad, ditemukan Rp 25 miliar. Setelah didalami dan dilakukan pengecekan di lapangan, nilainya membengkak menjadi Rp 50 miliar. “Ini melibatkan suatu jaringan yang kenal dengan pimpinan Bank Jatim. Tahu sendiri lah soal kredit tidak mungkin tanpa kongkalikong dengan orang dalam. Apalagi kredit KUR yang nilainya sampai Rp 50 miliar. Berarti ada lebih 100 nasabah yang terlibat, sebab kredit maksimal KUR adalah Rp 500 juta,’’ tambah sumber itu di kantor Bank Jatim pusat Jl. Basuki Rachmad Surabaya, Sabtu pagi (31/3).

Ditambahkan, sampai Jumat yang lalu, pemeriksaan internal belum dilaporkan ke Direktur Utama, apalagi ke Gubernur Jatim. “Kalau Pakde Karwo tahu, beliau pasti marah, karena beliau dikenal teliti dalam hal keuangan,’’ ungkapnya. Dalam pemeriksaan intern di cabang HR Muhammad, Surabaya, sebagai cabang baru ( belum 2 tahun), ternyata juga ditemukan Kredit Keppres pengadaan sebesar Rp 7,5 miliar. Kredit Keppres ini juga mengalami kemacetan beberapa bulan dan setelah diperiksa, antara jaminan dan nilai kredit, lebih besar pemberian kreditnya.

Menurut sumber itu, hasil pemeriksaan internal menyebutkan bahwa KUR di cabang HR Muhammad, diindikasikan fiktif. Hal ini dibuktikan, adanya kemacetan dan setelah diteliti sebagian besar dokumennya aspal atau asli tapi palsu. Misalnya, pemohon ada yang perorangan dan badan hukum UD, CV dan PT. dari pemohon dan agunan yang diajukan, setelah diteliti dilapangan orangnya tidak dikenal dan letak tanah sebagai agunan tidak dikenal. Termasuk setelah dilakukan pengecekan ke perangkat desa dan kecamatan. ‘’Ini semacam jaringan atau kasarnya mafia. Masak mungkin dalam waktu 1 tahun, sebuah cabang menyalurkan kredit KUR sampai Rp 50 miliar dan semua bermasalah. Apakah ini keteledoran? Bukan. Mengingat, proses KUR lewat analis sdr. Deddi dan penyelia sdr. Tony, baru ke pimpinan cabang. Tiga orang itu yang harus diusut tuntas, agar tidak merugikan Pemprov dan Pemkab/kota se Jatim,” ia menegaskan.

Ditegaskan bahwa tiga pejabat di Bank Jatim cabang HR Muhammad itu, sepertinya mengabaikan Pedoman Perkreditan yang dimiliki Bank Jatim. “Ini kredit sudah mengarah ke data fiktif, jadi ada pidananya. Tidak cukup hanya diproses internal. Kejaksaan dan Kepolisian harus turun tangan, sebab Bank Jatim adalah bank plat merah. Indikasi korupsinya kuat sekali,” sumber itu menjelaskan sambil menunjukkan SOP kredit Bank Jatim. Ironisnya, sumber itu menegaskan, penyelia dan penganalisis adalah pegawai yang digadang-gadang direksi sebagai SDM (Sumber Daya Manusia) yang baru selesai mengikuti pendidikan intern dan masuk dalam katagori SDM SDP (staf development program). SDM kualifikasi itu dianggap SDM handal yang langsung diterjunkan operasional dan penyelianya (TnB), sedangkan stafnya level DPM (development Program Manager).

Biar Bagian Pengawasan

Sementara itu, Direktur Agro, Syariah dan Retail Bank Jatim, Partono ketika dikonfirmasi tadi malam (1/4), menyatakan, dirinya tidak tahu temuan kasus kredit KUR fiktif sebesar Rp 50 miliar di Cabang HR Muhammad. “Benar saya ndak tahu ya. Sampai saat ini tidak ada laporan masalah itu,” lanjut Partono, melalui ponselnya 081234504xx

Ditanya soal dugaan keterlibatan anaknya bernama Deddi, sebagai analisis kredit di cabang HR Muhammad Surabaya, Partono juga mengaku tidak tahu. “Coba konfirmasi saja ke kepala cabangya (HR Muhammad), Pak Bagus,” kelit Partono. Dia juga menyatakan belum ada rencana untuk mengecek langsung dugaan kredit fiktif itu ke Cabang HR Muhammad. “Nanti biar bagian pengawasan saja yang mengecek,” cetus Partono. n team

Berita lainnya
Semalam, Pabrik di Kalianak Terbak...
Lumpuh, Janda Miskin Butuh Bantuan
Ribuan Orang Ikuti Lari 10 K
Keliling Jual Gula Aren, Bisa Naik...
Pdt. Aswin Belum Jalankan Putusan ...
Jemaat Desak Kasus Pdt Aswin Diper...
Pdt. Aswin Kena Batunya
Masih Ada Pejabat Pemkot Terima So...
Tinggalkan Istana, Ani Yudhoyono S...
Embarkasi Surabaya Tingkatkan Laya...
Asma Kambuh, Jangan Diremehkan!
Jual Sawah untuk Berangkat Haji
Alim Markus ‘Sogok’ MK
Sukses Jadi Motivator Dunia
Suhu Madinah Capai 45 Derajat Celc...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  71