Berdasarkan pantauan di lapangan, SPBU di Kabupaten Malang, yaitu sepanjang jalan Kecamatan Lawang, Singosari, Pakisaji, Kepanjen, hingga Sumberpucung, akses menuju Blitar, kehabisan stok karena belum mendapat kiriman lagi dari Pertamina.
Banyak kendaraan bermotor harus keluar lagi setelah masuk areal SPBU karena pengelola SPBU setempat memasang papan bertuliskan 'premium habis'. Demikian pula di SPBU Jalan Panji Suroso, Kota Malang, di kawasan Terminal Bus Arjosari Malang, juga kehabisan stok.
Isyudi, pengawas SPBU 54651.04 di Jalan Panji Suroso, Malang, Minggu (4/1), mengaku kehabisan stok premium sejak Sabtu sore. "Antrean panjang pembelian premium terjadi karena premium di sejumlah SPBU lainnya kehabisan stok," tegasnya.
Ia mengatakan, pengiriman premium dari Pertamina baru dilakukan Sabtu malam sebanyak 16 ribu liter. Persediaan premium itu langsung diserbu pembeli sehingga cepat habis. Selain premium, katanya, solar juga habis.
Untuk memenuhi kebutuhan pada Minggu, katanya, tambahan pasokan premium dari Pertamina dikurangi dari semula 16 ribu liter menjadi 8 ribu liter. "Kelangkaan premium kemungkinan karena DO (delivery order) dikurangi," ujarnya.
Langkanya premium, membuat pemilik kendaraan tak punya pilihan harus membeli BBM yang ada, seperti pertamax. Meski harganya lebih mahal Rp 6.200/liter.
"Terpaksa saja, daripada mogok di tengah jalan," tutur Sutarip, saat mengisi pertamax pada mobilnya, Carry. Termasuk juga sejumlah sepeda motor, juga mengisi pertamax.
Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Hiswanimigas) Malang Rizal Pahlevi menyatakan habisnya stok BBm di SPBU karena terjadi kendala pada penerapan sistem online.
"Akibatnya banyak armada BBM yang tidak bisa keluar dari depo Pertamina karena surat-suratnya belum beres. Kelangkaan bukan akibat pengurangan DO dari Pertamina. Sebab DO itu kan tergantung kemampuan uang dari pengelola SPBU," katanya.
Untuk mengatasi hal itu, lanjutnya, pihak Pertamina pada 2 Januari sempat mengeluarkan premium untuk SPBU tanpa sistem online. "Kami berharap dalam satu minggu ini pasokan BBM lancar kembali," tegasnya.
Sementara itu di Batu, enam SPBU sempat tutup, karena premium habis. Rata-rata SPBU tidak beroperasi sejak pagi hari, sekitar pukul 07.00, tapi pada siang harinya sudah kehabisan stok.
"Siang kemarin banyak para pengemudi angkot di Batu banyak memilih untuk tidak jalan, karena mereka takut kehabisan BBM di tengah jalan," kata Masud, salah satu sopir angkot. "Hari ini saya jalan 3 rit, bensin saya nipis. Mending istirahat," ujarnya.
Kelangkaan BBM ini, membuat pengecer penjulan bensin menjual dengan harga lebih mahal. Tahu konsumen kesulitan, mereka pun menjual dengan harga sekenanya, di atas Rp 6.500/liter/botol. "Kami juga harus keliling ke SPBU untuk mendapatkan bensin, dan belinya juga dibatasi”, kata seorang penjualan bensin eceran. “Jadi, jualnya tentu sedikit mahalan juga”. pus/arw