menu.jpg
 
Kejari Jebloskan Kepala Tata Usaha KPRI Ke Lapas Delta

Sidoarjo (surabayapagi.com) - Kejaksaan Negeri (Kejari) Sidoarjo akhirnya menjebloskan Kepala Tata Usaha (KTU) Koperasi Pegawai Republik Indonesia Departemen Agama (KPRI Depag) Sidoarjo, tersangka Lilik Handayani ke tahanan Lapas Delta, Selasa(10/9). Ia dijebloskan ke penjara karena terlibat korupsi dana koperasi sebesar Rp 3,3 milyar.


Sebelum dijebloskan ke lapas, pihak Kejaksaan sudah berupaya memanggil tersangka untuk dimintai keterangan. Namun, sampai panggilan ke tiga, tersangka tidak menampakkan batang hidungnya. Karena itu pihak kejaksaan kemudian melakukan penangkapan tersangka di tempat kerjanya, yakni KUA Kecamatan Tanggulangi sekitar jam 08.30 wib.


Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejaksaan Negeri Sidoarjo, Irwan Setiawan membenarkan kalau tersangka di jemput tim Kejaksaan di tempat kerjannya. “Terpaksa kita lakukan penangkapan terhadap tersangka karena kita menganggap tersangka tidak koopratif dan itu di buktikan selama
panggilan oleh penyidik, tersangka tidak mau datang,” ujarnya.

Hampir senada juga diungkapkan Wahyu, salah satu penyidik Kejari yang mengantarkan tersangka ke lapas delta. Menurutnya kejaksaan sudah melakukan upaya pemanggilan tersangka sesuai perosedur, namun tidak ditanggapi oleh tersangka dan itu salah satu alasan dilakukan
penahanan terhadap tersangka.


“Sekarang tersangka kita titipkan ke Lapas Delta karena Kejaksaan tidak mempunyai ruang tahanan. Selain menahan tersangka kita sudah memberikan surat pemberitahuan penahanan kepada kuasa hukum dan suami tersangka yakni Lutfi, namun mereka menolak untuk menandatangani surat
tersebut,” kata Wahyu.


Sementara itu Kuasa hukum tersangka Sunarno Edi Wibowa ,membenarkan kalau dirinya menolak menandatangani surat yang diberikan penyidik. Ia berdalih penahanan terhadap tersangka tidak manusiawi terlebih tersangka sedang dalam keadaan sakit. “Selain kesehatan tersangka yang tidak memungkinkan,sebenarnya dalam perkara kliennya ini termasuk dipaksakan mengingat tidak ada kerugian negara akibat ulah tersangka. Dana koperasi yang dari negara sekitar Rp 200 juta masih ada dan bisa di pertanggung jawabkan”,cetusnya.


Dirinya selaku kuasa hukum tersangka, akan menentang keputusan Kejaksaan yang telah menahan tersangka.Dalam waktu dekat dirinya akan mempraperadilkan Kejaksaan. “Lihat saja nanti dalam sidang praperadilan,saya akan buktikan semuanya disana,” pungkas Edi. Diketahui Koperasi KPRI Depag Sidoarjo beranggotakan ratusan pegawai di lingkungan Depag dan setiap anggota dikenakan iuran wajib untuk koperasi. Selain iuran dari anggota, koperasi beberapa tahun kemudian mendapat bantuan dana dari pemerintah. Dari dana tersebut, oleh pengurus diputar dan dijadikan dana simpan pinjam bagi anggota koperasi.Tersangka yang pada tahun 2008 menjadi KTU KPRI diduga mengemplang dana anggota yang melunasi angsuran dalam kurun 3 tahun sejak 2008.


Modus tersangka, bila ada anggota yang mengajukan pinjaman, sementara anggota masih mempunyai tunggakan angsuran, tetap diperbolehkan mengajukan pinjaman asalkan dana yang disetujui nantinya langsung dipotong sisa pinjaman sebelumnya. Gilanya lagi dana pelunasan angsuran pada pinjaman sebelumnya tersebut selama 3 tahun tidak dimasukkan ke buku kas KPRI dan malah diduga digunakan tersangka untuk kepentingan pribadi hingga mencapai nilai sebesar Rp 3,3 miliar.(ltf)


Teks Foto :Tersangka saat di giring petugas Kejaksaan ke lapas delta

Berita lainnya
Perusahaan Dimerger, Karyawan Fina...
Jadi First Lady, Bagaimana Perasaa...
Kompol Simamora Berlebihan
KBS Tambah Bayi Anoa
Rekonstruksi Bethany Ricuh
Harta, Saiful Ilah - Sambari Berli...
Penataan Videotron Masih Rusak Lin...
Bapak Bethany Tersangka
Tokoh NU Juga Gundah Atasi FPI
Mau Lengser, SBY Unjuk Kekuatan
Buruh Minta Upah Naik 30%
Sukses Korban Lapindo Bisnis Pepay...
Pdt Aswin Dilawan
Gandeng Korsel, Produksi Pesawat T...
Pdt Aswin Mbalelo
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  122