menu.jpg
 
Balon nang Njagir Wis Onok Sejak Belanda

Jika kalangan berduit menikmati layanan seks di panti pijat, spa dan salon. Tidak demikian untuk kalangan bawah. Seperti tukang becak dan bakul-bakul pinggir embong, mereka cukup puas ngesek dengan pekerja seks komersial (PSK) di Jagir, Wonokromo, Surabaya. Seperti apa kehidupan malam di sana?

“Sssttt…Gak melebu ta, Mas. Mrene tak pijet nang jero,” cetus seorang perempuan yang sedang duduk di tengah-tengah salah satu bantaran rel di Stasiun Wonokromo, Surabaya, tadi malam. Sembari melambai genit, perempuan berbalut baju seksi dan rok mini itu kemudian meminta rokok. “Minta rokoke po’o. Mari ngene melebu yo,” pinta ia dengan bahasa jawa Suroboyoan.

Perempuan itu sebut saja Marni. Ia salah satu PSK yang menjajakan diri di Jagir, yang letaknya masuk area Stasiun Wonokromo. Di sini, puluhan PSK bertebaran mencar-mencar di semua area stasiun. Laiknya PSK di tempat lain, tampilan PSK Jagir juga seksi mencolok dan menor-menor. Yang membedakan dengan PSK kelas menengah ke atas seperti di Gang Dolly, kebanyakan PSK di lokalisasi Jagir berusia 30-an ke atas alias STW (Setengah Tuwek).

Maklum, di Jagir ini kategori kelas bawah alias kelas becakan. Lelaki hidung belang yang ke sana berkantong pas-pasan. Itu sebabnya, tarif yang dipatok untuk sekali kencan tidak mahal. “Telung puluh ewu (tiga puluh ribu) wae, wis puenak pol,” kata Marni lantas menggelayut-gelayutkan kedua tangannya ke udara.

Lalu di mana mereka melakuka making love (ML)? Ada tenda berderet-deret di sisi timur stasiun. Di dalam tenda itulah ah-ih-uh dilakukan. Deretan tenda terbagi dalam dua area, utara dan selatan. Kedua-duanya mendempeti pagar pembatas sisi timur stasiun. Deretan utara searah dengan ruang tunggu, sementara deretan tenda bagian selatan berada di ujung selatan stasiun. Di tengah-tengah antara tenda utara-selatan, sekitar empat tenda khusus layanan pijat juga berdiri.

Selain itu, di pinggir Kali Jagir juga dijadikan tempat. Ada bangunan gubuk-gubuk kecil berderatan di sini. Untuk menggunakan tempat itu, cukup membayar Rp 5.000. Menurut warga di sana praktik prostitusi di Jagir sudah ada sejak zaman Belanda.

Di sini juga ada jasa penyedia makan-minum. Penyedia kuliner ringan ini rata-rata menjajakan dagangannya di warung-warung, yang berdiri di dekat tenda-tenda “pembantaian”. Semua warung diterangi sinar lampu remang-remang. Bagi yang hanya ingin duduk santai menikmati suasana glamour kelas becak, atau menyulam tenaga sehabis ber-ah-ih-uh, dan atau bersiap-siap melebu sembari mencari PSK untuk dikencani, warung remang-remang inilah biasa ditongkrongi para lelaki hidung belang atau pengunjung. Tak jarang, transaksi syahwati berlangsung di warung yang lebih pas disebut warkop (warung kopi) ini.

“Ayo, ndang melebu. Lapo meneng-menengan wae ket mau,” sergah Marni. Lapo wae mengko nang jero? Marni menjawab,” wes ta lah…puenak-puenak”. Karena ajakannya tak segera dituruti, ia kemudian berpindah dan mendekati seorang lelaki yang berdiri di ujung selatan area penjemputan. Tak lama kemudian, Marni beranjak dari tempat mereka bertransaksi menuju tenda “pembantaian”, yang kemudian disusul oleh lelaki yang dirayunya itu.

Tak sampai lima belas menit, Marni keluar dari tenda, bersama lelaki yang mengencaninya. “Yo opo kemringet to awak dewe. Opo maneh lanangani,” ujar Marni sehabis melayani mangsanya. “Ayo wis melebbu timbangani lungguh-lungguh tok,” ajaknya lagi.

Marni mengaku, ia mulai beroperasi dari jam 19.00 (tujuh malam) hingga subuh. Dalam semalam, lanjut Marni, minimal ia bisa mengantongi duit Rp 100 ribu. “Lumayan lah buat buat makan dan sekolahkan anak,” ujarnya. n en

Berita lainnya
Hari Ini, 89 Ribu Pemudik Serbu Pu...
Pentingnya Kebersamaan dan Gotong ...
Pemudik Padati Tanjung Perak
Mantan Pangdam Brawijaya, Kasad
Terminal Purabaya Mulai Dipadati P...
KASAD Dicopot Mendadak
Foto Mesra Briptu Eka Beredar, Bik...
Arek Surabaya Jadi Korban MH17
Risma Ancam Alim Markus
Alim Markus Ingkari Perjanjian
Kecam Israel, HMI Jatim Luruk KFC ...
Waspadai Jalur 'Black Spot'
Mau Kaya, Jangan Jadi Dokter
Dibuka Sore Ini, Kampoeng Sholawat...
Pocong, Genderuwo , Wewe Gombel Un...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  115