menu.jpg
 
Shalat Maghrib, Imam Masjidilharam Menangis

Pemandangan berbeda menjelang shalat Maghrib di Masjidilharam, Selasa (1/11) lalu. Selain jutaan calon jamaah haji yang sudah memadati masjid, akses dari berbagai penjuru pintu masuk Masjidilharam pun merayap. Padahal saat itu masih pukul 16.00 WAS (Waktu Arab Saudi).

Pintu utama King Abdul Azis di Masjidilharam juga sudah ditutup tak boleh memasuki ruang dalam masjid. Ratusan tentara militer Arab Saudi bersama Laskar dan Kepolisian Kerajaan Arab Saudi juga diterjunkan di 94 pintu masuk Masjidilharam, khususnya di empat pintu utama kerajaan.

500 meter sebelum pelataran masjid pun sudah banyak yang membentangkan sajadah di jalan-jalan aspal atau keramik. Bahkan sisi halaman beberapa hotel yang berdekatan Masjidilharam seperti Hilton International Hotel, Grand Zamzam sudah dipenuhi calon jamaah haji sedunia.

Penutupan pintu lebih dini beberapa jam sebelum Adzan Magrib dikumandangkan kali ini, bukan disebabkan semua lantai di masjidilharam sudah disesaki calon jamaah haji dari seluruh dunia,tetapi ada kehadiran beberapa raja dan pengeran Arab Saudi dan beberapa negara sahabat.

Banyak Tentara di Jalan-jalan
Padatnya arus untuk sholat maghrib di Masjidilharam sore itu, menjadi perhatian sejumlah jemaah. Satu diantaranya adalah Soetikno, jamaah haji Indonesia asal embarkasi SOC (Solo). Pria kurus berbaju batik seragam calhaj ini sama-sama ikut mengantri masuk menuju pintu King Abdul Aziz. Berhubung tidak dapat peluang masuk masjidilharam, berjibaku dengan ratusan ribu calhaj lain untuk mencari tempat sholat di luar masjidilharam. "Sore ini kok banyak tentara yang mengatur calon jamaah haji ya. Awake dewe pasti ora oleh mlebu nang njero masjid sepertinya. Dalan-dalan macete ora iso obah. Rame padet tenan," keluhnya.

Setelah berjuang keras, melihat di depan saya ada beberapa rombongan jamaah India yang langsung membentuk shaf sendiri, duduk bersila seperti kenduren (bancakan). Alhasil, saya bersama keempat kerabat pun langsung mengambil posisi disampingnya. Namun sayang, Soetikno lebih memilih terus melaju mencari tempat shaf lain. Samping saya diduduki jemaah asal Nigeria dan suami-istri asal Kudus.

Sesaat setelah mendapat shaf, barulah saya bergegas menjalankan shalat sunnah ditengah himpitan jamaah dan lalu lalangnya orang melangkahi jamaah (di Arab Saudi, tidak ada sopan santun bershalat. Sedang sujud saja, kadang jemaah asal Turki, Mesir dan Afrika melangkahi kepalanya). Sembari menunggu, ada sepasang suami istri dari Iran yang membuat shaf baru persis di belakang saya dalam bahasa Inggris mengatakan bahwa sore ini di Masjidilharam, didatangangi Raja Arab Saudi Raja Abdullah bersama Pangeran Mahkota Kerajaan Arab Saudi Naif. Jemaah haji Iran ini tidak mengatakan kalau usai Magrib ada sholat Gaib (sholat jenazah).

Dari beberapa informasi yang saya himpun dari media lokal, ada yang menyebutkan bahwa kedatangan Raja Abdullah dan petinggi kerajaan Arab Saudi saat Magrib itu merupakan bagian persiapan masa haji yang Wukufnya adalah hari Sabtu (5/11). Rombongan raja itu juga ingin mengecek sendiri luberan jamaah haji tahun 1432 hijrah secara langsung, meski beberapa hari menyaksikan siaran TV Arab. Baik TV lokal maupun koran lokal tidak satu pun yang menulis kedatangan raja Arab pada saat shalat Magrib itu termasuk sholat Gaib bersama untuk memperingati saudara Raja Abdullah yang telah meninggal.

Benar!. Pada saat Adzan maghrib dikumandangkan, sudah terasa berbeda. Adzan maghrib kali ini terkesan terburu-buru dan agak sengau. Usai mengumandangkan adzan, yang biasanya menunggu sekitar 10-15 menit untuk sholat berjamaah, imam Masjidilharam langsung memulai sholat yang ditandai dengan iqomat.
Pada saat surat Al-Fatihah, dilafalkan, suara Imam Masjid terbata-bata. Memasuki ayat ke-5 dari surat Al-Fatihah, "Iyya kanaa'budu wa-iyyaka nastaa'iin", suara imam berhenti...suaranya terputus-putus dengan sesunggukan. Ia beberapa detik menghentikan meneruskan kalimat berikutnya. Tetapi tangisnya tetap tidak dapat ditutupi oleh ratusan ribu jemaah shalat Magrib sore itu. Beberapa kali ia menahan tangisannya. Suasana masjidilharam sampai luar menjadi hening sejenak oleh isak tangin si Imam.

Meski dari suaranya yang terbata-bata, Imam berusaha mengkontrol emosinya. Ia mencoba kembali melanjutkan bacaan Al-Fatihah yang sempat terhenti beberapa detik. Di ayat terakhir, imam kembali menangis tersedu-sedu, bahkan kali ini lebih kencang dengan bacaan-bacaan agak terbata-bata. Hal ini berlanjut ke surat berikutnya yang kali ini lebih pendek dari shalat magrib biasanya. Meski imam masjid membaca surat pendek, ia tetap belum mampu mengkontrol emosinya. Baru pada rakaat kedua, imam Masjidilharam kembali pulih dan bisa mengendalikan emosinya.

Dan di awal rakaat kedua, imam sudah bisa mengendalikan emosinya, hingga rakaat terakhir (ketiga) usai, bacaan-bacaan surat dan doa lancar tanpa ada kendala.
Usai sholat Maghrib, imam Masjidilharam langsung mengajak sholat jenazah berjamaah, untuk mendoakan saudara Raja yang meninggal itu. "Wajar saja, imam sampai menangis begitu. Mungkin ada kedekatan dengan saudara Raja yang meninggal itu jadi menghayati," kata jamaah asal Surabaya, yang berada di samping saya usai sholat, kemarin.

Hal senada juga dikatakan Sigit Bernanto, jamaah asal Pepelegi Sidoarjo, kloter 46 SUB, yang mengikuti sholat di lantai dua Masjidilharam. "Baru kali ini saya mendengar imam Masjidilharam sampai terharu begitu. Subhanallah," kata Sigit, yang juga seorang konsultan. "Tadi suara Imam Masjidilharam kenapa ya pak kok membaca Al Fatihah diselingi isak-tangis," tanya jemaah ONH Plus dari Surabaya, H. Turino Djunaedy, usai sholat Magrib.

Sementara itu, dari informasi yang dikeluarkan Kementerian Haji Arab Saudi, jamaah haji sudah lebih dari 1,2 juta jamaah yang berkumpul di kota Mekkah. Dan seluruh calhaj Indonesia kuota Kementerian Agama yang berjumlah 210.000 jamaah sudah berada di kota Mekkah.

Dua hari menjelang wukuf di Arafah, mabit di Mudzaliffah dan lempar jumarah di Mina, seluruh jamaah saat ini telah memenuhi tanah suci Mekkah. Dan pemerintah Arab Saudi juga terus memperbanyak dan meningkatkan keamanan di setiap kawasan sampai di Armina (Arafah, Mudzaliffah, dan Mina) dengan mengerahkan 3.500 pasukan anti-teror.

Berita lainnya
Aswin Pidanakan Ayahnya, Pdt Alex
50 Seniman Melukis di Kanvas Raksa...
Muhammadiyah Minta Pemerintah Biki...
Mengapa Monumen Gubernur Suryo Dib...
Festival Rujak Ulek, Icon Terbaik ...
Semalam, Pabrik di Kalianak Terbak...
Lumpuh, Janda Miskin Butuh Bantuan
Ribuan Orang Ikuti Lari 10 K
Keliling Jual Gula Aren, Bisa Naik...
Pdt. Aswin Belum Jalankan Putusan ...
Jemaat Desak Kasus Pdt Aswin Diper...
Pdt. Aswin Kena Batunya
Masih Ada Pejabat Pemkot Terima So...
Tinggalkan Istana, Ani Yudhoyono S...
Embarkasi Surabaya Tingkatkan Laya...
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  69