menu.jpg
 
Kos-Kosan Bebas Disulap Seperti Hotel

Selain menyewa villa di Tretes, Pandaan, sejumlah wanita malam juga menyiapkan kamar kos-kosannya untuk berkencan. Tempat ini dipandang relatif lebih aman dari razia, dibanding hotel short time atau hotel kelas melati. Benarkah demikian? Berikut laporan wartawan Surabaya Pagi.

Di kota Surabaya bertebaran kos-kosan bebas, yang umumnya dihuni para wanita pekerja malam. Mulai purel, gadis panggilan, sales promotion girl (SPG) cabutan hingga istri simpanan. Kos-kosan bebas itu paling gampang bisa ditemui di daerah Dukuh Kupang, Dukuh Pakis, Kris Kencana, Wonorejo, Tempel Sukorejo, Kedung Anyar, Jl Prapanca, Jl Kanwa, hingga Kertajaya.

Tarifnya bervariasi, mulai Rp 1 juta hingga Rp 1,5 juta dengan fasilitas layaknya hotel melati, seperti mesin pendingin (AC) dan kamar mandi dalam. Biasanya penghuni atau penyewa kos di sana melengkapi dengan spring bed, televisi, DVD dan peralatan audio elektronik lainnya.

Pokoknya nyaman sekali. Tak kalah dengan hotel. Seperti terlihat rumah kos di Dukuh Kupang Barat XXXII/5-9 dan Dukuh Kupang Barat VI/19. Rumah besar ini bertarif Rp 1,5 juta per bulan dengan fasilitas springbed, kamar mandi dalam, AC, wastafel, dan lemari pakaian. Sedang di lobby disediakan TV umum. Lokasinya cukup luas dan disedikan parkiran untuk mobil.

“Di sini penghuninya cuek-cuek dan bebas dari warga yang usil. Kita mau pulang sama siapa juga tak ada yang larang dan mobil bisa langsung masuk sehingga orang-orang depan (warga kampung) tak curiga,” ungkap Nonik, purel di salah klub malam Surabaya.

Karena alasan aman itu lah, wanita yang gemar ngineks ini kerap membawa pria-pria kenalannya ke kos-kosannya. Bagaimana saat puasa nanti? Ia mengakui bulan itu memang terasa berat baginya. Sebab, tempat kerjanya tutup selama sebulan. Namun, dia sudah terbiasa dengan keadaan seperti itu, karena sudah dua tahun ini menjadi pekerja malam. Dengan begitu, dia sudah tahu bagaimana mengantisipasi keuangannya.

“Kalau cuma diajak main karaoke, nggak masalah. Tapi kalau minta yang itu (check in di hotel, red), terus terang aku nggak berani. Takut kena razia, mas. Lebih enakan di sini (kos-kosan, red) aja, lebih aman,” tukas purel kelahiran Sidoarjo ini.

Meski begitu, dia mengaku pendapatan selama puasa dipastikan menurun drastis. Jika pada hari-hari biasa bisa mendapatkan uang Rp 500 ribu-Rp 1 juta, maka pada saat puasa penghasilannya tidak menentu. Tergantung ada tidaknya ‘order’ atau bookingan dari relasi-relasinya. “Belum tentu sehari kita dapat uang, mas,” cetusnya.

Kos-kosan bebas lainnya yang disinyalir menjadi tempat prostitusi adalah di Jl Prapanca dan Jl Kanwa. Kos-kosan ini mayoritas dihuni wanita pekerja malam alias purel. Ada juga yang berprofesi therapist atau wanita pemijat. Menariknya kos-kosan di Jl Prapanca. Sebab, umumnya di sini khusus cewek. Tetapi anehnya, cowok bebas keluar masuk. “Saya sendiri pernah “eksekusi” di sana. Waktu itu malah si cewek yang nawarin,” aku seorang teman Surabaya Pagi yang mengaku pernah “membeli” cewek di kos-kosan tersebut. n tim

Berita lainnya
Sosiolog: Hubungan Private Jadi Di...
Setelah Pilih Foto, Deal, Penyewa ...
Nekad Jahili Cewek, KTP Disita dan...
Ceweknya Laris saat Long Weekend d...
Roy Jeconiah Getarkan Surabaya
Lacurkan 23 Purel, Bos Karaoke Dor...
Diskotik Stadium Ndableg
Bos Kafe Red n Blue Lolos
Dekat Kampus, Banyak Kos-kosan Mew...
Dolly Masih Bergeliat, Jual PSK Rp...
Urban Art Fest Surabaya, Wadahnya ...
Ayam Kampus Rp 3,5 Juta, Cewek Sal...
Emoh dengan Pria Lokal, Lebih Nyam...
Sewa Villa Berkelompok, Jajakan Di...
"Saya Hanya Bisa Puaskan Tamu…”
  Komentar Anda :
  Nama * :   Email * :
  Komentar * :
  » :: Disclaimer
   
Auto Loading Records
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  90