menu.jpg
 
Purel Terminal Karaoke Rungkut, Berpraktik Lebih Vulgar

Pantas saja rumah karaoke keluarga menjamur di Surabaya. Ternyata, embel-embel “keluarga” hanya kedok. Ketika di dalam room atau kamar, pengunjung masih bisa mengumbar syahwat. Bahkan, pemilik tempat hiburan itu mendukungnya dengan menyediakan purel secara terselubung. Bagaimana bisa?

Jika karaoke D’Master Jl Nginden Semolowaru menyediakan purel (perempuan pendamping) dengan modus waitress, cara ini ditiru oleh “Terminal Karaoke & Pool” yang berlokasi di kompleks pertokoan Jl Kalirungkut Surabaya. Tepatnya, di sebelahnya Carrefour Rungkut. Bahkan, di Terminal Karaoke ini lebih vulgar.

Konsep rumah entertainment yang dibangun mirip dengan D’Master. Memadukan karaoke dan biliar. Lantai satu untuk biliar, sedang lantai di atasnya untuk room karaoke. Para pengunjung rupanya betah di sini karena desain ruangan cukup menarik berkonsep modern minimalis. Apalagi ditemani cewek-cewek cantik dan seksi.

Kebetulan Surabaya Pagi diundang seorang relasi, tadi malam. Begitu masuk di lantai satu, disambut security yang memeriksa setiap pengunjung. Di lantai ini terlihat beberapa score girl yang menemani tamu main biliar. Ruangannya nyaman dan cukup luas. Suhu dingin dari mesin pendingin (AC) membuat tubuh menjadi segar. Meja-meja biliar di sini juga tampak baru dengan lampu penerangan yang terang.

Surabaya Pagi langsung menuju lantai 3 melalui lift, karena sudah ditunggu seorang relasi. Begitu keluar lift, wartawan media ini cukup kaget. Pasalnya, ad belasan cewek berkaus hitam dan mengenakan hotpen (celana pendek ketat) sedang duduk-duduk di pojok sebelah kiri. Dandanannya tidak begitu menor, tapi nampak sekali jika mereka mengenakan make up.

Usut punya usut, cewek-cewek itu purel yang dipekerjakan “Terminal Karaoke”. Agar tidak kelihatan mencolok, mereka tidak dibuatkan room khusus (show room) seperti di klab malam atau kafe dangdut. Mereka juga tak didandani layaknya purel di tempat dugem lain yang mengenakan gaun. Agar tidak kentara, kostum mereka malah kaus berkerah dengan celana pendek, sehingga tampilannya seperti waitress.

“Kalau booking tarifnya Rp 40 ribu per jam, minimal 2 jam,” ucap Disha (nama samaran), purel “Terminal Karaoke” yang telah bekerja selama 8 bulan di sana.

Cewek berusia 24 tahun ini menjelaskan bahwa cewek-cewek yang duduk di sebelah lift itu sedang menunggu tamu yang membookingnya. Jika sudah kenal, customer tinggal menelepon, lalu masuk room karaoke. Jika tamu yang datang tergolong baru, bisa minta bantuan waitress atau supervisor untuk mencarikan purel.

“Kabeh isok diboking mas, sing penting mbayar. Engkok totalane nang kasir lantai loro (semua bisa dibooking, yang penting bayar. Nanti totalan membayarnya di kasir lantai 2, red),” tutur wanita yang telah memiliki satu anak.

Lalu di dalam room karaoke bisa apa saja? Ternyata, di ruangan ini bisa mengumbar syahwat. Tidak cuma grepe-grepe atau pegang tangan, tapi cipokan/kissing, berpelukan hingga rempon--istilah arek Suroboyo untuk menyebut meremas (maaf) payudara. Bahkan, jika pintar merayu si cewek bisa “ngemut” kepunyaan si pria yang jadi tamunya. Cuma di sini tidak bisa eksekusi alias hubungan intim.

“Kalau pingin gitu lebih baik berdua saja, nggak usah ngajak teman,” aku si cewek berwajah imut-imut tadi. Tak heran di kalangan clubber mulai muncul istilah karaoke plus. Jadi, plus-plus tidak hanya melekat di tempat panti pijat.

Ia tak menampik jika ada cewek yang mau sampai hand job (onani) atau blow job (oral seks). Kalau seperti itu, biasanya si cewek minta tambahan tips Rp 150 ribu-200 ribu.

Seorang relasi Surabaya Pagi, sebut saja Budi, menceritakan pengalamannya. Begitu masuk room, lampu langsung digelapkan. Seperti biasa awalnya hanya menyanyi dan minum beberapa botol bir. Lama kelamaan, mulai berani bermesum ria. Tapi, jika ingin berhubungan intim, harus booking out (BO), menunggu setelah mereka selesai kerja. “Tapi itu pun tidak semua cewek di sana mau. Tinggal rayuannya aja lah,” cetus pria yang hobi mengoleksi batu akik ini.

Agar aktivitas mesum di dalam ruangan aman, lanjutnya, dia “menyogok” supervisor atau pengawas dengan dua bungkus rokok. Sebab, ketika di dalam ruangan tidak terdengar vokal kita, tentu akan dicurigai. Sementara musik diputar dengan vokal sesuai bawaan di komputer.

Sementara itu, pantauan Surabaya Pagi, karaoke ini buka mulai pukul 10.00 pagi hingga 02.00 dinihari, dengan shift cewek ganti dua kali. Ini berarti melanggar jam operasional, sebab karaoke keluarga hanya boleh buka hingga pukul 23.00. Penelusuran wartawan koran ini, ternyata Terminal Karaoke dan D’Master satu pemilik. Ini terlihat dari ijin usaha pariwisata atas nama Wahyudi HS. Basuki.

Menariknya lagi, cewek-cewek “Terminal Karaoke” ini ternyata ditarget oleh manajemennya. Dalam sebulan harus bisa mengisi room selama 90 jam. Artinya, harus mendatangkan tamu yang bisa booking room selama 90 jam. Entah bagaimana caranya. n

Berita lainnya
Jadi First Lady, Bagaimana Perasaa...
Kompol Simamora Berlebihan
KBS Tambah Bayi Anoa
Rekonstruksi Bethany Ricuh
Harta, Saiful Ilah - Sambari Berli...
Penataan Videotron Masih Rusak Lin...
Bapak Bethany Tersangka
Tokoh NU Juga Gundah Atasi FPI
Mau Lengser, SBY Unjuk Kekuatan
Buruh Minta Upah Naik 30%
Sukses Korban Lapindo Bisnis Pepay...
Pdt Aswin Dilawan
Gandeng Korsel, Produksi Pesawat T...
Pdt Aswin Mbalelo
Silikon Meleleh, Payudara Menyusut
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  80