21 Hari Menjadi Agen Perubahan Kebiasaan Sehat
|
| Rabu, 23 Mei 2012 | 11:21 WIB |
|
|
|

Beberapa narasumber dalam acara Gerakan 21 Hari Mempercepat Mencapai MDGs 2015 untuk Indonesia yang lebih sehat.
SURABAYA – PT Unilever Indonesia Tbk melalui brand sabun kesehatan lifebuoy, kembali menggandeng kader PKK seluruh Indonesia untuk menjadi agen perubahan kebiasan sehat. Sosialisasi dan edukasi mengenai pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya cuci tangan pakai sabun (CTPS) melalui gerakan 21 Hari (G21H) diberikan pada workshop perayaan bulan Bhakti Gotong Royong PKK.
Bulan Bhakti Gotong Royong PKK secara nasional diperingati sebagai upaya guna meningkatkan semangat persatuan dan kesatuan serta partisipasi masyarakat menuju kemandirian bangsa. Melalui gerakan 21 Hari ini diharapkan seluruh masyarakat baik individu maupun keluarga bersemangat untuk turut berpartisipasi dalam mewujudkan generasi penerus yang lebih sehat.
Workshop yang di gelar Selasa (22/5/12) di Surabaya, Jawa Timur tersebut mengangkat tema “Gerakan 21 Hari Mempercepat Mencapai MDGs 2015 untuk Indonesia yang lebih sehat”. Sedangkan kemitraan Lifebuoy dengan TP PKK pusat ini telah memasuki tahun ke dua, setelah pada tahun lalu, seluruh kader PKK di Indonesia telah melaksanakan program ini di daerah masing-masing.
Acara workshop di buka oleh ketua umum TP PKK Ny. Hj. Vita Gamawan Fauzi SH, yang juga menjadi keynote speaker. Hadir sebagian narasumber acara tersebut adalah dr. H. Tb. Rachat Sentika, Sp.A., MARS staf ahli menkokesra yang juga pakar kesehatan anak, Ny. Hj. Dra. Nina sukarwo, M.Si ketua TP PKK provinsi Jawa Timur dan Amalia Sarah Santi Senior Brand Manager Lifebuoy PT Unilever Indonesia Tbk. Sedangan peserta workshop yang hadir sekitar 300 kader PKK perwakilan 33 provinsi seluruh Indonesia.
Seperti yang telah diketahui, sejak 2004 hingga sekarang Lifebuoy konsisten untuk terus mengkampanyekan PHBS dan CTPS karena masih rendahnya kebiasaan masyarakat Indonesia untuk mencuci tangan dengan benar yang berdampak pada rentannya penularan kuman melalui tangan. Indeks pembangunan kesehatan Masyarakat (IPKM) 2010 menunjukan presentase rumah tangga yang memenuhi kiteria PHBS dengan kategori baik di jawa timur sebanyak 45,3 % sedangankan untuk CTPS hanya sebesar 27,35%
Rendahnya tingkat PHBS dan CTPS menyebabkan keluarga Indonesia rawan terjangkit berbagai penyakit. Masalah kesehatan yang masih menjadi sorotan karena sering terjadi pada keluarga Indonesia adalah diare. Hasil kajian Morbiditas diare di masyarakat 2010 menunjukan episode kejadian diare pada semua golongan umur masih cukup tinggi rerata 411 per 1.000 penduduk.
Pentingnya edukasi PHBS juga sebagai usaha preventif bagi keluarga Indonesia dalam mengurangi angka kematian bayi baru lahir (neonatal) yang mencapai 56% sebagai penyebab dari seluruh jumlah kematian pada bayi. Dr. H. Tb. Racmat sentika menjelaskan bahwa cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan upaya preventif yang mudah dan murah. CTPS dapat mencegah penyebaran beragam kuman penyebab penyakit, tetapi keluarga Indonesia masih belum sadar dalam hal ini.
Menurut Vita Gamawan Fauzi, ibu memiliki peran penting dalam membudayakan kebiasaan sehat berupa PHBS dan CTPS di keluarga. Tapi untuk suksesnya gerakan tersebut diperlukan partisipasi seluruh anggota menjadi agen perubahan kebiasaan sehat dimana selain mereka melakukan program ini untuk diri sendiri , mereka juga diharapkan dapat saling mengingatkan anggota keluarga lain agar tidak lupa melakukan kebiasaan sehat ini. Amalia Sarah Santi juga menambahkan bahwa Lifebuoy kembali menggelar program gerakan 21 Hari (G21H) untuk kebiasaan CTPS sehari-hari dimasyarakat yang akhirnya dapat mendukung pencapaian target MDGs. Setiap kader PKK dibekali seperangkat materi G21H dengan cara yang menyenangkan namum tetap efektif. (La)
Acara ini terselenggara hasil kerjasama LifeBuoy dengan PKK seluruh Indoensia.