menu.jpg
 
Pancasila, Pemersatu Pluralisme dan Multikulturalisme

Banyak orang kini pesimis tentang Indonesia. Banyak yang tidak berbangga hati menjadi warga Indonesia. Memang, arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat. Pengaruh globalisasi telah membuat masyarakat kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Rasa nasionalisme seolah semakin memudar. Dengan kondisi seperti ini apa yang harus dilakukan agar masyarakat kembali berbangga hidup di Republik Indonesia?

Banyak diantara kita yang tidak menyadari bahwa kita hidup dalam pluralisme dan multikulturalisme, apalagi dalam konteks dinamika sosial-kulturalnya. Dalam kondisi seperti ini, hal yang paling menakutkan adalah lumpuhnya semangat nasionalisme, hancurnya savereighty dan territorial integrity kita serta terpinggirkannya ideologi ber-Pancasila.

“Imperialisme baru seperti di atas yang siap menerkam Indonesia dengan mendikte pola pikir kita,” ungkapkan Prof Sri Edi Swasono, ketika menjadi pembicara dalam Seminar dan Dialog Kebangsaan, Memperingati 83 Tahun Sumpah Pemuda, dengan Tema “Menemukan Kembali Republik Indonesia Kita”, yang diselenggarakan Forum Komunikasi Kader Bangsa, di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Kamis (27/10).

Disinilah Pancasila berfungsi sebagai pemersatu bagi pluralisme dan multikulturalisme. Artinya kita masing-masing saling berbeda-beda namun satu dalam kebersamaan cita-cita dan paham bernegara sebagai sesama wargangara. Oleh karena itu Pancasila adalah asas bersama yang tunggal bagi seluruh warganegara yang bhineka, yang menjadikannya identitas bangsa ini.
Adalah ada benarnya bila kita menegakan Pancasila di samping merupakan nilai budaya, identitas bangsa, filsafat negara, dan ideologi nasional, Pancasila merupakan platform nasional yang dengan penuh toleransi diterima semua agama sebagai konsensus nasional. “Pancasila adalah paham pemersatu sekaligus kebijakan nasional untuk mempertahankan persatuan nasional,” jelas Sri Edi.

Untuk itulah, lanjut Sri, hal yang perlu dilakukan, pertama kita harus bisa mempertebal rasa kebangsaan kita sebagai Bangsa Indonesia. Caranya dengan mengungkap kebesaran, kejayaan, kedigdayaan masa lampau serta sekaligus mengungkap kembali betapa kita mampu merebut kembali kemerdekaan dari penjajah. “Itulah kebanggaan nasional yang membuat kita mampu berjalan tegak, tidak tunduk dan membungkuk,” katanya.

Kedua, pendidikan nasional kita harus bertumpu pada upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan demikian cinta tanah air menjadi dasar dan subtansi proses nation and character building.
Ketiga, kita harus mampu proaktif mendisain wujud globalisasi. Berarti kita harus menjadi bangsa yang digdaya, mampu membedakan antara modernisasi dengan westernisasi, mampu menolak segala dominasi mancanegara yang mengakibatkan kita tersubordinasi. “Untuk itulak kita harus memiliki metastrategi yang jelas dan tegas,” ujarnya.

Keempat, doktrin kebangsaan dan doktrin kerakyaaatan harus memberi warna pada setiap kebijakan nasional dan produk perundang-undangan. Kita harus menjadi tuan di negeri sendiri dan tahta hanyalah untuk rakyat.

Kelima, para pemimpin di badan-badan negara harus mampu menjadi panutan bagi masyarakat. Keenam, pemerintah harus mampu mengatasi ketimpangan antara daerah terutama kemiskinan dan penangguran. Ketujuh, otonomi daerah tidak boleh berubah makna menjadi eksklusivutisme atau isolasionalisme kedaerahan. Dan kedelapan, media massa harus ikut beranggungjawab mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Jika ke-8 hal itu dilakukan, maka eksistensi dan pelestarian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan terus terjaga,” tandasnya.

Perekat Persatuan
Hal senada juga diungkapkan Dr. Asvi Warman Adam. Ahli peneliti utama pada Pusat Penelitian Politik LIPI ini juga mengakui eksistensi dari Pancasila sebagai pemersatu atau perekat persatuan Bangsa Indonesia.

“Bangsa Indonesia saat ini sedang membutuhkan eksestensi Pancasila. Hal itu muncul ketika disintegrasi bangsa begitu kuatnya menghantam Indonesia,” ungkapnya.

Dan hanya dengan mengembangkan ideologi Pancasila-lah persatuan dan kesatuan bangsa ini kembali direkatkan. “Untuk itulah perlunya dilakukan kembali sosialisasi Pancasila. Pancasila harus kembali menjadi dasar kebijakan dari pemimpin. Karena hanya Pancasila-lah satu-satunya konsep unggul pemersatu bangsa,” tegas Asvi.

Untuk itulah, tambah DR. Ir. Siswono Yudho Husodo, dalam arus perubahan yang berjalan sangat cepat ini, nilai-nilai luhur Pancasila harus terus menerus direvitalisasi, agar selaliu sesuai dengan tuntutan zaman, agar dapat menjadi pemandu perilaku dan aktivitas semua elemen bangsa.

Revitalisasi Pancasila ini tambah Siswono, perlu menekankan pada orientasi ideologi yang mewujudkan kemajuan yang pesat, peningkatan kesejahteraan yang tinggi, dan persatuan yang mantap dari seluruh rakyat Indonesia. Dan hanya dengan pencapaian-pencapaian itu pancasila akan semakin menjadi pegangan hidup seluruh rakyat.

“Kita harus memahami Pancasila dalam perspektif ini. Penerapannya untuk kini dan masa depan, dan jangan terjebak pada perdebatan kajian masa lalu, dan jangan terjebak pada retorika,” tandasnya. rum

Berita lainnya
Cara dan Permainan Mafia-Mafia Ind...
Bila Tetap Dilantik, Bisa Hilangka...
Jokowi Harus Konsisten atau Diangg...
Pembebasan Hartati Murdaya, Hukum ...
Bisa Profesional, Bisa Multi Etnis...
Atur Perijinan, Bos Alfamart Ditan...
Bocoran Dokumen Rahasia yang Buat ...
KPU Tak Menjalankan PSU, UU Pilpre...
Diragukan, Rentan Gesekan Dan Seke...
Capres 2014, Miliki Gagasan Dan I...
Suami Ditahan, Minta Bilik Asmara
Anis-Hidayat Bersaing di Pemira PKS
Tantangan berat Sutarman
Lembaga Survei & Kedaulatan Rakyat
Lima Langkah Recovery of Trust MK
Copyright © 2012 surabayapagi.com
  Kontak | Tentang Kami | Kode Etik | Disclaimer | RSS Feed  | User Online :  77